Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Hei Kak
Tidak ada jawaban jelas. Mobil terus melaju. Suara mesin menyatu dengan sunyi di antara kami. Dan aku tahu, ada cerita yang belum siap dibuka hari ini.
Kami kembali ke hotel saat langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu kota terlihat seperti kunang-kunang raksasa yang dipaksa berbaris lurus.
Badanku terasa lengket oleh debu, keringat, dan sisa emosi yang belum sepenuhnya turun.
Begitu sampai kamar, Arman langsung masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara. Aku menaruh tas di kursi, melepas sepatu, lalu berdiri sebentar di tengah kamar, mencoba menormalkan napas.
Single bed.
Satu ranjang. Tidak ada sofa panjang agar bisa rebahan.
Dia mau tidur di mana?
Atau… aku?
Air dari kamar mandi terdengar mengalir, gemericik panjang.
Setelah mandi bergantian, kami turun ke restoran hotel. Makan malam nyaris tanpa obrolan penting. Arman lebih banyak diam. Sesekali ponselnya menyala, tapi dia hanya melirik lalu mematikannya kembali.
Aku tidak bertanya.
Kepalaku masih menyimpan pertanyaan tentang rumah itu. Kata disita. Tentang ayahnya. Tapi hari ini rasanya bukan waktunya buat mengorek cerita dari Arman. Hatinya belum stabil.
Kami memutuskan kembali ke kamar, saat Arman menerima telepon.
Aku tak menggubrisnya, memilih membuka pintu balkon ketika suaranya mulai terdengar pelan.
“Iya…” “Hm.” “Nanti besok aku coba cari.” “Iya, tadi aku ke Mama dulu.”
Nada suaranya rendah, tapi ada kesedihan jatuh di setiap jeda katanya. Aku tidak tahu dia bicara dengan siapa. Dan entah kenapa, aku tidak ingin tahu sekarang.
Aku duduk di kursi balkon, memeluk lutut. Udara malam mulai sedikit dingin, meski hawa panas Surabaya masih ada. Lampu-lampu kota di bawah terlihat bagai titik kecil kuning di kejauhan.
Kejadian hari ini berputar lagi di kepalaku. Rumah megah itu. Lemari ibunya. Kamarnya yang kosong. Cara Arman berdiri—tegak tapi rapuh. Cara dia bilang “ditarik paksa”. Tentang ketakutan ayahnya dan fitnah yang belum sempat ia ceritakan.
Aku menarik napas panjang, lalu masuk ke kamar karena dingin mulai menusuk. Jam tanganku kulirik tanpa sengaja—nyaris pukul dua belas malam.
Arman sudah berbaring. Miring. Menghadap tembok.
Aku berdiri canggung di samping ranjang. Menimbang. Tidak mungkin aku membangunkannya hanya untuk bertanya soal tempat tidur. Badanku juga lelah. Kepalaku berat, meski tidur sebentar di mobil tadi lumayan menyegarkan.
Pelan-pelan, aku naik ke sisi ranjang yang kosong. Sangat hati-hati. Seolah ranjang ini bisa berbunyi kalau aku salah bergerak.
Baru saja aku merebahkan badan—Aku tersentak.
Arman telentang. Lalu miring menghadapku. Matanya tertutup, tapi napasnya teratur. Satu lengannya terlipat di dada, kausnya sedikit terangkat memperlihatkan garis perut yang naik turun pelan.
Sejak kapan dia berubah posisi?
Aku menahan napas, tidak berani bergerak. Beberapa detik berlalu. Jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Lalu suara Arman terdengar. Serak. Pelan.
“Nggak mau, Ayaaahh.”
Aku terdiam sesaat, menoleh ke arahnya. Arman kembali tenang. Dia mengigau. Aku mulai menguap saat menatap langit-langit.
Sunyi lagi.
Aku masih berbaring telentang. Merasa canggung dengan keberadaan tubuh lain di jarak sedekat ini. Kehangatan Arman terasa jelas, meski kami tidak bersentuhan.
Tiba-tiba, ranjangnya bergerak. Tubuh Arman seperti terkejut, tapi tidak membuatnya bangun. Lalu suara isak itu mulai terdengar lagi. Arman meringkuk, membuatku kuatir.
"Kak?" Suaraku keluar pelan, hampir berbisik.
Tubuh Arman benar-benar bergetar sekarang. Nafasnya tersengal pendek, tidak beraturan. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang berat bahkan di alam mimpinya.
Dadaku mengencang. Ini… sering terjadi, ya?
Aku menelan ludah. Ingatannya tentang masa lalu kembali menghantamnya. Isaknya keluar lagi. Tertahan. Patah-patah.
“Mama…” gumamnya lirih.
“Jangan…"
“Ayah…”
Tanganku refleks bergerak, tapi berhenti di udara. Aku ragu. Takut salah dan kehadiranku justru mengganggu. Tapi getaran itu makin kuat.
Aku akhirnya bergeser pelan, mendekat. Masih menjaga jarak beberapa senti. Aku berbaring miring menghadapnya, napasku kutahan, seolah suara tarikannya bisa membuatnya terbangun.
Belum sempat aku berbuat apa-apa, tangan Arman tiba-tiba bergerak cepat. Refleks. Seperti orang yang takut kehilangan. Lengannya melingkar ke tubuhku dan menarikku masuk ke dadanya.
Aku tersentak. “Kak—!”
Pelukannya erat. Dadaku terhimpit lengannya. Tanganku spontan melipat di depan dada, jantungku hampir meloncat keluar.
“Ayah… Mama…” suaranya pecah di dekat telingaku.
Aku kaku.
Ini bukan pelukan biasa. Seperti orang yang tenggelam dan akhirnya menemukan sesuatu untuk dipegang. Tubuh Arman menempel penuh, hangat, napasnya masih berat, dadanya naik turun cepat.
Aku sesak, tapi… aku tidak bisa mendorongnya.
Rasanya ada ketakutan di pelukan ini. Ada kehilangan yang terlalu lama dipendam. Kalau aku bergerak kasar sekarang, rasanya seperti mendorong Arman yang sedang gelisah dalam traumanya.
Perlahan… sangat perlahan… tubuhku melemas. Tanganku yang semula kaku, turun sendiri.
Getaran itu berangsur pelan. Napas Arman mulai teratur. Masih berat, tapi tidak lagi tersengal. Kepalanya menyandar di bahuku. Hangat tubuhnya menular. Bau sabun hotel menguar di hidungku.
Aku menguap tanpa sadar. Canggung… iya. Tapi juga anehnya… tenang.
Ini pertama kalinya aku tidur dalam pelukan Arman. Bukan sebagai istri di atas kertas. Tapi sebagai seseorang yang sedang dibutuhkan, tanpa diminta.
Entah kapan mataku terpejam. Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Saat kesadaranku mengambang, aku merasa pelukan itu masih ada.
“Ay…” Suara Arman pelan, kudengar, dekat sekali.
“Dek.”
Aku bergumam samar. Tidak membuka mata. Tapi setengah sadar.
“Izin malam ini aja ya,” katanya lirih. Hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri. “Boleh?”
“Hmm…” suaraku keluar tanpa kusadari maknanya.
Aku merasakan tubuhku diputar pelan. Pelukannya kembali mengencang, tapi terasa pas. Aku langsung pulas lagi.
Cahaya pagi menembus kelopak mataku. Aku terbangun lebih dulu. Kesadaranku kembali perlahan. Tapi ... Sebentar ... Kenapa terasa hangat, sekaligus berat.
Aku membuka mata pelan-pelan. Melirik ke kananku ragu-ragu.
Wajah Arman ada di depan wajahku. Terlalu dekat. Nafasnya menyentuh kulitku. Tangannya masih melingkar di pinggangku.
Aku membeku satu detik. Lalu panik menyerbu. Aku gegas bangun.
“Kak!” Aku mendorong dadanya reflek. Terlalu keras membuat tubuh Arman limbung, nyaris jatuh dari ranjang.
“Hah?!” dia terbangun kaget. Rambutnya acak-acakan, matanya setengah terbuka. “Kenapa?!”
Aku duduk tegak, menarik selimut ke dadaku dengan kedua tangan.
“Kak! Ngapain sih?!” seruku, wajahku panas bukan main.
Arman menatapku. Lalu melihat posisi kami. Lalu mengucek wajahnya kasar.
“…Eeh.”
Sunyi beberapa detik. Kami saling diam. Aku memasang wajah kesal. Alisku bertaut nyaris menyambung. Bibirku mengatup rapat dan tatapanku menuduhnya.
"Omes!" rutukku turun dari ranjang sambil menarik selimut seolah tubuhku telanjang, padahal aku tidur memakai pakaian lengkap, kaos dan celana panjang.
Aku menghentakkan kaki masuk ke kamar mandi. BRAK!
Arman masih bengong. "Kenapa sih?" gumamnya sambil menggaruk kepala meski tak gatal.
.
.