Doaku tetapi Bukan Pilihanku
OTW
Aku sudah bangun bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Rumah masih gelap, udara dingin sisa hujan semalam, merayap dari pintu kamar yang kubuka lebar.
Aku duduk di tepi ranjang sambil menekan ponsel ke telinga, berbicara pelan agar tidak mengganggu Arman.
“Iya, Bu… bukan demam,” kataku sambil menarik selimut tipis ke bahu. “Cuma masuk angin sedikit.”
Seolah semesta ikut berkonspirasi, hidungku tiba-tiba gatal. Aku bersin sekali. Lalu sekali lagi.
“Maaf, Bu,” ujarku cepat.
Di seberang sana, atasan tertawa kecil. “Ya sudah. Istirahat dulu saja. Jangan dipaksakan, Ay.”
Aku menghela napas lega. “Terima kasih, Bu.”
Telepon kututup pelan. Belum sempat aku bangkit, sosok Arman sudah berdiri di ambang pintu kamar. Handuk tersampir di bahunya, rambutnya masih berantakan, jelas hendak ke kamar mandi.
“Bersin, demam lagi, Dek?” tanyanya.
“Iya. Dingin aja.” Aku mengangkat wajah. “Aku oke. Jangan nyegah aku ikut.”
Dia menatapku beberapa detik. Lalu, tanpa berkata apa-apa, sudut bibirnya tertarik melukis senyum samar. Tangannya terangkat ke atas seperti menyerah.
“Oke. Nggak jadi,” katanya ringan, lalu berbalik menuju kamar mandi.
Aku tersenyum sendiri, 'enak saja mau larang Ayla ikut,' batinku.
Setelah itu semuanya berjalan cepat. Arman mandi, lalu kami subuhan di kamar masing-masing. Aku mengganti pakaian dengan cepat—jaket tipis, celana panjang, pashmina senada kemeja, ransel hitam sudah siap di atas kasur.
Saat aku keluar kamar, Arman sudah siap. Ransel hitam tergantung di punggungnya.
Melihat itu, aku refleks mengecek tasku sendiri. Ransel. Teringat janjiku yang takkan merepotkannya.
“Aku lagi pesan mobil,” kata Arman sambil menatap layar ponsel.
"Oh. Stasiun?"
"Bandara." Dia menjawab singkat.
Aku duduk di sofa. Semalam sudah izin ke ayah juga. Itu yang membuat langkahku terasa lebih ringan—setidaknya pamit meski aku masih kesal padanya gegara obrolan kemarin.
Di ruang tamu, aku hanya menunggu instruksi Arman. Diam sambil main game ~cute the rope. Aku kadang kesal sendiri saat gagal mencapai level dan tak jarang terkekeh kala Om Nom, si monster hijau kecil itu, berhasil kukalahkan.
Tiba-tiba, Arman menerima telepon. Aku melirik sekilas.
“Iya,” katanya singkat. “Ini mau berangkat.” Dia berdiri membelakangiku.
Aku tidak tahu kenapa pandanganku tertahan di sana. Dari ujung rambut sampai telapak kakinya. Tinggi, tegap, kaos hitam polos membingkai tubuh Arman dengan pas. Tidak seperti Raka yang punya six pack dan selalu parlente. Arman berpenampilan santai, tapi justru itu yang membuatnya terlihat… tenang. Cool.
Kok jadi kagum begini, sih, batinku.
Tak lama, mobil datang. Arman langsung mengambil ranselku di atas meja.
“Duluan, Dek,” katanya.
Aku menurut, keluar rumah lebih dulu. Dia mengunci pintu dan memastikan sekitar rumah aman ditinggal beberapa hari.
Supir membantu menata barang di bagasi, lalu Arman menyusul masuk ke mobil. Duduk di baris kedua. Berdekatan denganku.
Sepanjang jalan, ponselnya tidak lepas dari tangan. Telepon masuk, lalu dibalas. Lagi. Lagi.
Kali ini dia mengangkatnya tanpa menunggu berdering lama. Nada suaranya berubah sedikit—lebih sopan, lebih tertata.
“Iya, Yah.”
Sebentar jeda.
“Kerjaan aman. Aku sudah atur semua sebelum berangkat.”
Aku menoleh sekilas. Tidak berniat menguping, tapi suaranya terdengar jelas di kabin mobil yang sempit. Ternyata dari ayahku. Cara Arman berbicara berbeda saat berhadapan dengan orang yang ia hormati. Tidak banyak kata, tapi jelas. Tidak menjelaskan berlebihan, tapi cukup memberi kepastian.
“Iya, nanti aku kabari lagi,” katanya singkat.
Telepon ditutup.
Aku tidak tahu kenapa meliriknya. Pandanganku tertahan lebih lama dari seharusnya. Dari caranya duduk tegak, bahunya yang rileks, sampai raut wajahnya yang kembali tenang setelah panggilan itu berakhir. Tidak ada kegugupan. Semuanya seperti sudah ia pegang kendalinya.
Dalam hati, aku bergumam pelan—pantes ayah percaya sama dia.
Arman sepertinya bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Tapi justru karena itu, kehadirannya terasa kokoh. Seperti orang yang kalau berkata aman, ya memang aman.
Dia lalu mengetik sesuatu di ponselnya. Tersenyum kecil. Menunduk sedikit. Wajahnya terlihat… ceria.
Lalu, tanpa benar-benar menatapku, dia melirik sekilas dan bergumam, “He em… cantik lah.”
Dadaku menegang tanpa aba-aba.
Deg.
Aku menoleh, tapi dia sudah kembali menatap layar ponsel. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku bersandar di kursi, menatap keluar jendela. Lampu jalan sebagian masih menyala, langit belum sepenuhnya terang. Tapi pikiranku justru semakin keruh.
Siapa?
Siapa yang membuat Arman tersenyum seperti itu pagi-pagi begini?
Aku ikut ke Surabaya bukan untuk membakar diri karena cemburu. Aku tahu itu. Tapi perasaan seringkali tidak minta izin untuk membuat mood berantakan.
Aku sadar, perjalanan ini mungkin akan menguji lebih dari sekadar lelah fisik. Kuputuskan memejamkan mata, masih 30 menit lagi sampai di Bandara.
*
Bandara masih lengang saat kami tiba. Langit di balik dinding kaca mulai memucat, tapi matahari belum benar-benar meninggi.
Pendingin ruangan membuat lenganku merinding.
Aku duduk di kursi tunggu, membuka botol minum yang kubawa dari rumah. Air dingin mengalir ke tenggorokanku, menenangkan sedikit rasa kering sejak tadi.
Arman berdiri beberapa langkah dariku. Masih dengan ponsel di telinga.
“Iya. Nanti aku cari,” katanya. Suaranya stabil. Seolah sudah terbiasa melakukan perjalanan dari bandara ini.
Aku memperhatikannya tanpa sadar. Dia tidak terlihat canggung. Tidak kikuk. Justru membaur dengan sekitar. Cara berdirinya santai tapi yakin. Seperti tahu ke mana harus melangkah dan apa yang harus dilakukan.
Bos muda, pikirku tiba-tiba. Dan entah kenapa, itu terasa masuk akal.
Beberapa pasang mata wanita muda meliriknya. Ada yang terang-terangan, ada yang pura-pura melihat papan jadwal tapi kepalanya berbelok mengikuti langkah Arman. Bahkan seorang ibu-ibu mendekat, menegurnya ramah, entah bertanya apa.
Arman menurunkan ponsel sebentar. Tersenyum sopan dan menangkupkan tangan di depan dada. Kemudian melihatku.
Aku mendengus pelan. “Cih.”
Suara itu ternyata cukup keras. Arman menoleh ke arahku, masih dengan senyum yang sama. “Kenapa, Dek?”
Entah kenapa, suaranya terdengar lebih berat. Lebih rendah. Dan—aku benci mengakuinya—lebih seksi dari biasanya.
“Hm. Gak,” jawabku cepat. “Sebel aja.”
“Sebelnya ke siapa?” Dia mendekat, berdiri di depanku sekarang.
Aku meneguk air lagi, pura-pura fokus pada botol. “Entah.”
Dia tertawa kecil.
'Tebar pesona teruuuuussss,' aku membatin. 'Lagian ngapain juga mereka mengagumi stranger,' sambungku dalam hati.
Panggilan boarding mulai terdengar. Kami berbaris. Saat itulah tiba-tiba Arman meraih tanganku. Menyelipkan jarinya di sela jariku. Gerakannya tenang, alami.
Aku refleks terkejut. Tapi tidak menarik tangan. Kami berjalan berdampingan. Diam. Tapi langkah kami sejajar.
Di dalam pesawat, Arman memilihkan tempat duduk untukku di dekat jendela. Dia di sebelahku. Ransel disimpan rapi di atas, sabuk pengaman sudah terpasang.
Mesin mulai menyala. Suaranya berdengung lembut.
Entah kenapa, dekat dengannya selalu membuatku mengantuk. Badanku yang masih pegal, perlahan melemas. Aku menguap sekali. Lalu sekali lagi. Kepalaku hampir menyandar ke bahu kirinya.
“Bobok aja,” katanya pelan. “Masih satu jam lagi.” Dia sedikit memajukan duduk, seolah menyiapkan bahunya untuk sandaranku.
Mataku memberat. “Di Surabaya,” gumamku setengah sadar, “mau ketemu siapa dulu?”
“Bukan siapa, Dek,” jawabnya.
“Terus?”
“Tempat.”
Aku membuka mata sedikit. “Tempat?”
“Iya.” Suaranya lebih pelan sekarang.
"Apa?"
Dia tidak langsung menjawab. Tangannya mengencang sebentar di sandaran kursi. Pesawat mulai bergerak naik. Perlahan meninggalkan landasan.
Aku memejamkan mata. 'Rumah pacarmu?'
.
.