Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Selesai denganmu

Ayla?”

Aku menoleh. Sapaan tadi datang dari arah bar. Lelaki setengah baya itu berdiri sambil membawa gelas, senyumnya samar tapi matanya tajam—mata orang yang terlalu sering melihat pelanggan datang dan pergi.

“Om Ardi,” sapaku. Suaraku terdengar lebih ringan daripada dadaku.

“Masih ingat,” katanya. “Kupikir kamu sudah lupa tempat ini.”

Aku tersenyum tipis. “Mana mungkin.”

Dia melirik kursi di depanku. Meja yang sama. Sudut yang sama. Bahkan retakan kecil di kayunya masih di situ.

“Sendirian?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tidak menjelaskan.

Om Ardi menuangkan air panas ke cangkirnya dan satu cangkir baru. “Kamu masih pesan yang pahit tanpa gula?”

Aku terdiam sesaat, lalu mengangguk lagi.

Beberapa hal rupanya tidak berubah—atau mungkin aku yang tidak pernah benar-benar mengubahnya.

“Kapan hari,” katanya sambil mendorong cangkir ke arahku, “Raka juga ke sini.”

Kalimat itu terucap begitu saja. Tidak dibuat dramatis. Tapi tetap menghantam. Tanganku refleks mengencang di pinggir meja. “Sendirian?” tanyaku balik, lebih cepat dari yang seharusnya.

Om Ardi mengangkat bahu. “Sendirian.”

Aku menunduk. Uap kopi naik pelan, mengaburkan pandanganku.

“Kukira,” lanjutnya santai, “kamu sudah menikah dengan Raka.”

Deg.

Aku mengangkat wajah. Tersenyum kecil, tanpa menjawab. Beberapa hal terasa terlalu panjang untuk dijelaskan pada tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

“Kadang, hidup jalan ke arah yang beda, Om.”

Om Ardi berhenti bergerak. Menatapku. “Ah,” katanya singkat.

Tidak menghakimi. Tidak ingin tahu lebih jauh. Hanya suara orang dewasa yang tahu kapan harus berhenti bertanya.

Aku menyesap kopi. Pahitnya langsung menempel di lidah. Sama seperti dulu. Bedanya, dulu selalu ada suara Raka yang mengeluh di seberang meja.

“Dia sekarang S2 di Bandung,” kata Om Ardi lagi, seolah mengingat sesuatu. “Masih suka duduk lama di sini. Masih pesan yang sama.”

“Di sini?” tanyaku refleks, telunjukku menekan meja.

“Bukan. Kadang pindah-pindah. Katanya lagi nyari kampus yang cocok.”

Aku mengangguk pelan. Tidak bertanya kampus mana. Tidak bertanya lebih jauh. Ternyata aku tidak butuh detail. Cukup tahu bahwa dia masih hidup dengan caranya sendiri.

Ponselku bergetar di meja.

Dari Arman. ["Udah sampai penginapan?"]

Aku menatap layar itu lama. Sangat lama.

Di satu sisi meja, kopi pahit, kursi kosong, masa lalu yang tiba-tiba terasa dekat. Di sisi lain layar, pesan sederhana, orang yang tidak banyak bicara tapi selalu bertanya.

Aku mengetik balasan.

"Belum, bentar lagi. Baru ngopi sebentar."

["Jangan malam-malam ya, Ay. Istirahat."]

Aku tersenyum kecil. Mengetik: "Iya."

Om Ardi memperhatikanku dari balik bar. “Suamimu?”

Aku mengangguk.

“Baik?” tanyanya singkat.

Aku terdiam sejenak. Lalu menjawab jujur, “Nyata.”

Om Ardi tersenyum. Kali ini lebih hangat. “Itu jarang.”

Aku menyesap kopi lagi. Tidak segetir tadi. Ketika aku berdiri untuk pergi, Om Ardi berkata, “Titip salam kalau suatu hari Raka ke sini lagi?”

Aku berhenti. Lalu menggeleng pelan. “Tidak perlu, Om.”

Dia mengangguk. Mengerti.

Aku melangkah keluar kafe dengan langkah lebih pelan dari saat masuk. Udara Bandung terasa dingin, tapi tidak menusuk.

Di belakangku, masa lalu tetap di tempatnya.

Di tanganku, ponsel masih terasa hangat oleh perhatian Arman.

Aku sadar, tidak perlu berlari menjauh dari kenangan, tapi tidak perlu kembali ke sana. Penting aku tahu, dimana aku berdiri saat ini.

"Kak..." Aku mengetik pelan untuk Arman. Jariku berhenti beberapa detik di atas layar, seolah kata berikutnya perlu dipilih dengan hati-hati. “Aku masih di kafe bentar. Habis ini balik.”

Balasan datang tidak sampai satu menit.

["Jangan malam-malam pulangnya."]

Aku menatap layar itu. Dulu, pertanyaan semacam ini akan membuatku merasa diawasi. Sekarang tidak. Hanya terasa… diperhatikan.

“Iya. Ini mau pulang.”

["Oke. Hati-hati ya. Berkabar."]

Tidak ada nada kecewa. Tidak ada desakan. Hanya kalimat sederhana.

Aku menyimpan ponsel ke dalam tas. Saat berjalan menyusuri trotoar, aku menyadari langkahku tidak lagi terburu-buru. Bandung malam itu ramai. Lampu-lampu toko memantul di aspal basah sisa hujan sore, membuat kota terasa lebih temaram dari biasanya.

Di kamar penginapan, aku menaruh tas, melepas sepatu, lalu duduk di tepi ranjang tanpa langsung rebahan. Ada jeda kecil sebelum tubuhku benar-benar ingin istirahat—jeda yang biasanya diisi pikiran ke mana-mana.

Aku membuka ponsel lagi. Ada satu pesan dari grup diklat. Jadwal besok dimajukan setengah jam. Aku membalas singkat, lalu menutup aplikasi itu.

Pesan Arman belum kubalas. Aku akhirnya mengetik, “Aku sudah sampai.”

["Syukurlah. Capek?" ]

Aku menghela napas pendek sebelum menjawab. “Lumayan. Tapi gak begitu.”

Ada jeda beberapa detik.

["Mau ditelepon sebentar atau istirahat aja?"]

Aku tersenyum tanpa sadar. Pertanyaan itu sederhana, tapi memberiku ruang memilih.

“Telepon bentar gapapa.”

Nada sambung terdengar, lalu suara Arman menyapa. Tenang seperti biasanya dan entah kenapa aku mulai suka caranya bicara.

“Kedinginan nggak?” tanyanya.

“Sedikit. Bandung selalu gitu kalau musim hujan.”

“Hm. Bawa tumbler air hangat ke kamar, Dek.”

Aku bersandar ke sandaran ranjang. “Iya, Kak.”

Kami tidak langsung bicara hal penting. Dia cerita singkat soal pekerjaannya hari itu. Aku menanggapi seperlunya. Lalu aku bercerita soal kelas, soal dosen tamu yang terlalu cepat bicara dan ngasih tugas. Dan anehnya, aku merasa lega.

“Besok pulang jam berapa?” tanyanya.

“Sore.”

“Aku jemput di stasiun?”

Aku terdiam sejenak. Kali ini bukan ragu, tapi menimbang. “Boleh.”

“Ya sudah. Kamu istirahat. Jangan memaksakan diri.”

Setelah telepon ditutup, kamar kembali sunyi. Aku berbaring, menatap langit-langit. Ingatanku kembali sekilas ke kafe tadi—ke kursi kosong, kopi pahit, dan nama yang masih bisa membuat dadaku menegang meski tak lagi menyakitkan seperti dulu.

Raka adalah bagian dari jalan yang pernah kulewati. Tapi Arman adalah orang yang berjalan bersamaku sekarang. Tidak tergesa, tidak menarik, tidak mendorongku untuk lupa—hanya memastikan aku tidak sendirian saat melangkah.

Ponselku kembali bergetar. Pesan singkat dari nomor tak dikenal. “Besok kita satu kelompok diskusi. Aku Aruna.”

Aku menghela napas kecil, membalas seperlunya, lalu meletakkan ponsel ke meja. Hari ini rasanya cukup panjang.

Sebelum memejamkan mata, aku menyadari satu hal yang sederhana tapi penting. Aku tidak lagi menoleh ke belakang setiap kali ada suara yang membicarakan masa lalu kami.

Dan mungkin, itu tanda bahwa aku sudah berdiri di tempat yang benar—meski belum tahu pasti ke mana langkah berikutnya akan membawaku.

"Armani Yaris. Aku masih penasaran kenapa mau menikah denganku..." 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!