Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Pengakuan Ayla
Aku terbangun saat cahaya pagi menyelinap tipis lewat sela gorden. Kepalaku masih berat, tapi tidak lagi berdenyut seperti semalam. Tenggorokanku kering. Tubuhku lemas, masih ada sisa demam yang pelan-pelan turun.
Aku mengerjap. Mengatur napas.
Di meja kecil dekat ranjang, ada segelas air hangat. Kuminum sampai separuh. Di sampingnya, obat demam tersusun rapi, dengan secarik kertas kecil.
Jam 08.00 — minum lagi. Jangan lupa makan. Tulisan Arman. Aku mengenalnya.
Aku duduk perlahan. Selimut merosot dari bahuku. Punggungku pegal, mungkin gegara posisi tidurku tidak berubah sampai pagi.
Dari luar kamar, terdengar suara panci kecil beradu. Tidak berisik. Aktivitas orang yang sengaja dibuat pelan.
Aku bangkit. Kaki terasa dingin menyentuh lantai. Aku berjalan ke pintu, membukanya sedikit.
Arman ada di dapur. Pagi ini masih pakai kaos, Rambutnya tersisir rapi, meski matanya tampak kurang tidur. Dia mengaduk sesuatu di panci kecil, lalu mematikan api.
“Dek? Ayla?” suaranya sampai lebih dulu sebelum aku benar-benar masuk ke dapur.
Aku mengangguk kecil. "He em."
“Udah bangun?” Dia menoleh. Menatap sebentar. Seperti memastikan aku benar-benar berdiri, bukan sekadar muncul karena mimpi. Lalu mengangguk balik.
“Supnya masih hangat,” katanya. Bukan menyuruh hanya memberi tahu.
Aku duduk di kursi makan. Tubuhku terasa ringan seolah akan melayang. Arman menuang sup ke mangkuk. Gerakannya biasa saja, tapi entah kenapa aku merasa sedang diperhatikan dengan cara sederhana.
Mangkuk diletakkan di depanku. “Makan dikit dulu,” ucapnya.
Aku mengangguk. Mengambil sendok. Tanganku masih sedikit gemetar. Sup itu sederhana—bening, hangat, rasanya pas. Bukan masakan istimewa. Tapi membuat hatiku menghangat.
Kami makan dalam diam. Seperti dua orang yang sama-sama capek dan memilih tidak merusaknya dengan pertanyaan.
Aku menyelesaikan setengah mangkuk. Lalu berhenti. Nafasku terasa berat lagi, bukan karena sakit.
“K-kak,” kataku pelan. Ragu memanggilnya dengan sebutan Kak. Selama ini hanya ~kamu saja atau tanpa sebutan apapun, asal dia melihatku, aku langsung bicara.
Arman menoleh.
Aku menatap meja. Urat-urat kayu di permukaannya terlihat jelas. Lebih mudah menatap itu daripada wajahnya.
“Aku… ketemu dia kemarin.” Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak kubuat-buat agar terdengar sendu.
Sunyi turun sebentar. Aku menunggu reaksi. Degup jantungku terasa di telinga.
Arman tidak langsung bicara. Dia menghentikan makannya, seolah siap mendengarkan sampai selesai.
“Aku tahu,” katanya akhirnya.
Aku mendongak cepat. “Tahu?”
“Iya.”
Hanya itu. Tidak ada nada marah. Tidak ada kaget yang dibuat-buat.
Dadaku bergetar. “Kok…?”
“Keliatan,” jawabnya singkat. “Dari caramu pulang. Dari suara tangismu, dari caramu sakit.”
Aku menelan ludah. Ada rasa malu yang merayap, bercampur lega yang aneh. Aku selama ini mengira bisa menyembunyikan semuanya dengan diam.
“Maaf,” ucapku lirih. Entah untuk apa. Entah untuk siapa.
Arman menggeleng pelan. “Kamu nggak salah.”
Aku menatapnya. Matanya tenang, meneduhkan.
“Kamu cuma capek nahan,” lanjutnya. “Dan ketemu orang dari masa lalu itu… memang nggak pernah semudah itu mengabaikan efeknya.”
Air mataku naik tanpa aba-aba. Aku mengusapnya cepat, tapi tetap jatuh satu-dua.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” kataku tergesa, seolah perlu membela diri. “Aku cuma… ketemu. Ngobrol. Terus aku pulang.”
“Aku percaya.” Suara Arman masih lembut, tidak menuduh.
Jawaban itu menghentikanku.
Aku menatapnya lama. “Lalu… kenapa nggak nanya?”
Arman terdiam sebentar. Tangannya bertumpu di meja. Jarinya saling bertaut.
“Karena kalau aku nanya sekarang,” katanya pelan, “kamu bakal nangis lagi. Demam lagi. Dan aku nggak mau kamu sakit karena makin merasa bersalah padaku tidak jelasin apapun.”
Dadaku terasa sesak. Tapi bukan sesak yang menyakitkan. Lebih seperti sesuatu yang lama tertahan, akhirnya diberi ruang.
“Aku cuma mau kamu sehat dulu,” lanjutnya. “Sisanya… nanti.”
Aku mengangguk kecil. Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini tanpa isak.
Kami kembali diam. Tapi tidak lagi tegang. Perasaanku jauh lebih ringan.
Setelah aku selesai makan, Arman berdiri. Mengambil mangkuk. Membilasnya. Gerakannya tetap pelan.
“Tidur lagi, Dek,” katanya. “Aku di ruang depan.”
Aku berdiri juga. Ragu sebentar. Lalu berkata lirih, “Makasih, Kak.”
Arman menoleh. Tersenyum tipis. “Istirahat aja,” ucapnya. “Nggak usah mikir apa-apa dulu.”
Aku kembali ke kamar. Berbaring. Selimut kutarik sampai dada.
Di luar kamar, terdengar langkah Arman menjauh. Lalu suara kursi ditarik. Duduk. Aku memejamkan mata.
Di antara masa lalu yang belum selesai dan hari ini yang belum utuh, ternyata ada seseorang yang memilih tinggal—tanpa memaksa, tanpa bertanya berlebihan.
*
Arman benar-benar kerja dari rumah hari itu.
Sejak pagi, suaranya bolak-balik terdengar dari ruang depan. Nada tegas, singkat, tanpa banyak basa-basi.
“Iya, besok jangan dulu kirim.”
“Mandor tolong bilang ke anak-anak, kerjain yang lain dulu.”
“Kalau alatnya belum siap, stop.”
Aku mendengarnya sambil berbaring, menatap langit-langit. Sesekali dia menurunkan volume suaranya saat melewati depan kamarku, seolah takut mengganggu istirahatku. Kadang langkahnya cepat, kadang berhenti sebentar di depan kamar, mengintip.
Pintu kamarku dibuka lebar oleh Arman, mungkin agar tak berisik jika dia bolak balik masuk. Aku tidak tidur sepenuhnya, masih bisa kurasakan dia memegang dahiku, memastikan suhu tubuh, juga mengisi gelas minum di atas nakas.
Aneh. Aku baru sadar… selama ini aku tidak pernah benar-benar melihat Arman bekerja di pabrik ayah.
Menjelang siang, aroma masakan menyelinap masuk ke kamar. Bukan bau tumisan berat. Bukan juga bumbu tajam. Wangi yang ringan.
Aku bangkit pelan. Duduk di tepi ranjang. Kepalaku sudah jauh lebih ringan.
Di dapur, Arman berdiri dengan celemek seadanya. Bubur putih di panci kecil. Sayur bening di sampingnya. Wortel, bayam, irisan jagung.
Aku menelan ludah. “Ibu,” kataku refleks sambil memejamkan mata, membaui masakan khas ibuku.
Arman menoleh cepat. Sedikit kaget. Aku ikut kaget pada diriku sendiri. Kata itu keluar begitu saja. Tidak sempat kupikirkan.
“Hah?” Arman mendekat. “Kenapa?”
Aku menggeleng pelan, menunjuk panci. “Baunya… mirip masakan ibu.”
Arman terdiam sebentar. Lalu tersenyum kecil. Dia menarikku duduk. “Diajarin Mbak Erti,” katanya. “katanya, kalau orang rumah sakit, biasanya dibuatin beginian.”
“Oh,” gumamku. “Pantesan.”
Kami diam sejenak.
Arman menyodorkan bubur ke hadapanku. Kusendok perlahan, rasanya memang sederhana. Tapi hangatnya sampai ke dada.
“Aku baru kepikiran,” kataku pelan.
"Apa?" Arman mengangkat alis.
Aku menatapnya. Lama. Tak berkedip, mungkin wajahku pun ikut datar. “Kamu siapa, sih?” tanyaku tiba-tiba.
Arman melongo. “Hah?”
Air mataku jatuh. Satu. Lalu dua. “Kamu datang dari mana?” suaraku bergetar. “Aku nggak tahu apa-apa soal kamu. Hidupmu sebelum ini. Kebiasaanmu.”
Arman tidak langsung menjawab. Dia berdiri di depanku. Wajahnya tenang, tapi matanya bergerak pelan, seperti sedang memilih kata yang aman.
“Aku bukan siapa-siapa,” katanya akhirnya. “Cuma orang beruntung… yang masih dikasih kesempatan hidup. Dikasih identitas baru. Dijaga, dirawat dengan baik sama ayah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tidak kuketahui, dan—anehnya—tidak kutanyai lebih jauh.
Aku mengangguk. Air mataku masih menetes. “Terima kasih,” ucapku lirih.
Arman menatapku lama. Dadanya naik turun pelan. Lalu tangannya terulur, ragu sepersekian detik, sebelum akhirnya menyeka air mataku dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut. Hati-hati.
“Aku… yang terima kasih,” katanya. “Ayla Al Phardia Livin. Karena sudah mau nerima aku jadi suamimu. Setidaknya… nggak kabur, dan nggak jijik lihat aku.”
Senyumnya getir. Bukan bercanda. Tapi juga bukan mengasihani diri sendiri. Dadaku terasa nyeri.
“Lekas sehat ya,” lanjutnya, berusaha ringan. “Aku lebih suka kamu yang cuek. Ada judes-judesnya dikit.”
Aku tersenyum. Tipis. Kaku. Tapi… terhibur.
“Aku nggak ke mana-mana,” katanya lagi. “Sampai kamu sembuh.”
Aku menatapnya. Ada dorongan kecil di dadaku yang tidak kupahami.
“Emang mau ke mana,” tanyaku pelan, “setelah aku sembuh?”
Arman tidak langsung menjawab.
Dia masih berdiri. Menatapku sebentar. Tatapan yang sulit kubaca—seperti seseorang yang ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih menahannya.
Lalu dia berbalik. Mematikan kompor dan menyeduh kopi. Tidak menjawab.
"K-kak?"
.
.