Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Doaku bukan begini

Apakah sesuatu yang bukan pilihanku bisa menjadi takdir terbaik yang dipilihkan Tuhan?

Kalimat itu menggema di kepalaku kala layar ponselku menyala. Nama Raka Terano terpampang di sana—nama yang dua tahun terakhir tak pernah absen dari doaku. Pesannya singkat, nyaris tanpa ruang untuk ditanya.

["Maaf."]

Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan.

Hanya satu kata yang meruntuhkan semua rencana.

Dadaku sesak, tapi air mata tak juga jatuh. Barangkali tubuhku sedang berusaha kuat lebih dulu, sebelum akhirnya menyerah. 

Aku menekan nama Raka di layar ponselku. Sekali. Tidak diangkat.

"Angkat, Raka… angkat,” bisikku gemetar.

Aku berjalan mondar-mandir di kamar seperti orang kehilangan arah. Langkahku cepat, lalu melambat, lalu cepat lagi. Tanganku dingin. Kakiku lemas. Kutekan dada, seolah bisa menahan jantungku agar tidak runtuh.

Tanganku bergetar hebat sampai ponsel itu hampir terlepas. Dadaku naik turun tidak beraturan. Aku berdiri, berjalan cepat ke jendela, lalu berbalik lagi ke ranjang. Kepalaku penuh.

Aku menelepon lagi.

Langsung ditolak.

Dan di titik itu, sesuatu di dalam diriku runtuh.

“Pengecut!” teriakku sambil melempar ponsel ke kasur.

"Dasar pengecut!”!Suara itu keluar begitu saja, serak, pecah.

Aku mencoba lagi. Jari-jariku kian gemetar, layar ponsel akhirnya buram juga oleh air mata. Nada sambung terdengar lama, terlalu lama, lalu...

Pet. Mati.

Dadaku panas. Tanganku mengepal. Air mata mengalir deras, tidak bisa kutahan lagi.

"Kamu janji apa ke aku, hah?” lanjutku, suaraku meninggi. “Kamu ngajarin aku percaya, lalu pergi begitu aja? Maaf katamu? MAKSUD KAMU APA, RAKA?!”

Aku tersedak. Bukan karena tangis yang kutahan, tapi karena udara yang tidak sempat kuhirup.

“Kamu tega…” suaraku pecah menggenggam ponsel, meski tahu tidak ada siapa-siapa di seberang sana.

"Kamu bikin aku berdiri menanggung malu di depan orang-orang besok!” aku berteriak lagi, suaraku bergetar hebat. “Kamu bikin ayahku dipandang rendah! Kamu pikir ini cuma soal kamu?!"

Aku menutup mulut dengan tangan sendiri, menahan isak yang melonjak. Tenggorokanku sakit. Suaraku habis.

Aku ambruk ke lantai. Lututku menghantam dinginnya keramik kamar. Tanganku tremor, tubuhku seperti kehilangan tenaga.

“Brengsek…” gumamku lirih, nyaris tak terdengar. “Egois.”

Aku menangis tersedu-sedu sekarang, napasku tersengal, dan kepalaku mulai pusing.

Aku telepon lagi.

Dan kini ... Ponselnya tidak aktif.

Tubuhku gemetar, masih duduk di tepi ranjang, kututup wajah dengan bantal, menekan keras-keras agar suaraku tidak keluar kamar. Tanganku mencengkeram kain bantal, kukuku terasa nyeri. Kepalaku langsung penuh dengan bayangan-bayangan yang tidak ingin kulihat.

Aku lalu menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk.

Kuusap cepat air mata di pipi, kurapikan kerudungku sebelum membukanya. Beliau berdiri di depan kamarku.

Wajah Ayah tampak tegang. "Ayla,” katanya pelan, “kamu akan tetap menikah besok.”

Aku menatap wajah ayahku. Kerut di keningnya semakin dalam, matanya lelah, tapi berdiri tegak seperti biasa. Ayah tidak pernah pandai menenangkan dengan kata-kata. Ia hanya menyampaikan keputusan, seolah hidup harus selalu mengikuti kemauannya.

“Bukan dengan Raka,” lanjutnya.

Aku terdiam. Ada rasa dingin merambat dari tengkuk hingga ke ujung jari.

“Namanya Armani Yaris,” kata ayah lagi. “Kamu mengenalnya.”

Aku menggeleng pelan. Aku tahu Arman—begitu ia biasa dipanggil—sebagai sosok pendiam yang sering berlalu-lalang di rumah ini sejak dulu. Ia hadir, tapi seperti bayangan. Tidak menuntut perhatian, tidak dekat dengan kami.

"Aku nggak mau. Ini nggak adil. Aku tidak mau menikah begini. Aku tidak mau hidup dalam ketakutan," kataku lirih, air mataku menetes di depan ayah.

Aku ingin bertanya banyak hal. Tapi wajah ayah membuat semua kata berhenti di tenggorokan. Ia satu-satunya orang tuaku.

Ayah memegang kedua bahuku, mengguncang pelan. “Nama baik keluarga kita dipertaruhkan,” ujar ayah lirih. “Ayah mohon, Ayla.”

Nama baik.

Dua kata itu menekan dadaku lebih keras dari rasa malu.

Aku melangkah mundur, melepas pelan cekalan ayah dan membiarkan pintu kamarku terbuka. Aku jatuh terduduk, menangis lagi sambil mendekap tubuhku. 

Bayangan-bayangan itu datang lagi. Cerita-cerita pernikahan yang gagal. Perempuan yang terjebak KDRT. Istri yang menangis diam-diam karena tersiksa, dan harus melayani dengan terpaksa.

Bagaimana dengan masa depanku? Sampai kapan aku harus bertahan terluka? 

Bukankah seumur hidup itu lama? Apa aku tidak pantas bahagia? 

Suara-suara itu berputar, mendengung di telinga. Aku takut, kututup telinga sambil menggelengkan kepala. 

"Nggak! Nggaaakk!"

"Ayla." Suara ayah serak, aku tau dia juga kecewa dan malu. Tapi kenapa harus mengorbankan aku? 

Ayah berjongkok, sedikit ragu-ragu memelukku, dan akhirnya memilih pergi, seperti biasanya.

Tanganku meraba tasbih di sisi bantal. Bibirku bergerak... astaghfirullah… astaghfirullah… tapi air mata tetap jatuh, satu demi satu, membasahi mukena yang belum sempat kupakai. Aku berzikir sambil terisak, seperti anak kecil yang kelelahan menangis tapi belum juga ditenangkan.

Lalu suara-suara lain mulai menggema lagi. Bisikan tetangga. Tatapan pelanggan di toko ayah.

Nada iba yang menyamar sebagai simpati.

"Kasihan ya, anaknya ditinggal."

"Gagal nikah katanya."

"Ayahnya pasti malu."

Dadaku seperti diremas. Aku membayangkan ayah berdiri di depan orang-orang itu. Menunduk. Menelan hinaan yang tidak ia buat. Semua karena aku.

Aku menangis lagi. Lebih keras kali ini.

Bukan menangisi Raka. Tapi karena ayah.

"Kalau aku lari,” gumamku parau, “ayah yang akan dihina.”

Aku tahu ayah tidak akan berkata apa-apa. Ia akan tersenyum tipis, lalu menanggungnya sendiri. Dan aku tidak sanggup membayangkan itu.

Tangisku mereda pelan, digantikan sesak yang diam. Aku lalu duduk bersandar ke ranjang. Napasku tersengal, mataku perih dan bengkak, kepalaku sangat pening.

Di sela-sela kekacauan itu, satu kalimat tiba-tiba muncul, bukan sebagai penghibur, tapi sebagai peringatan. 

~Allah tahu batas kuatmu.

Namun, hatiku tidak langsung tenang. Aku masih takut. Masih gemetar. Masih ingin kabur.

Akhirnya kucoba menarik napas panjang. Sekali, dua kali.

“Ya Allah,” bisikku, hampir tanpa suara,

“kalau ini jalan yang harus kulewati, tolong jaga aku… dan ayahku.”

Aku menghela napas panjang. Tidak ada pilihan. Bukan karena siap. Hanya karena tak sanggup melihat ayah jatuh sendirian.

Sepanjang malam, aku duduk di depan sajadah. Tidak ada doa panjang seperti biasanya. Tak lagi menyebut nama Raka. Aku hanya menunduk, menggenggam ujung mukena, dan berbisik pelan.

“Ya Allah… tolong ajari aku menerima.”

Ikhlas tidak tiba-tiba menjelma ketenangan. 

Melainkan sebagai keputusan paling sunyi—saat aku memilih bertahan. Karena cinta yang lebih besar dari lukaku sendiri.

Tak terasa, azan subuh terdengar dari kejauhan, dan tahu pernikahanku esok pagi telah gagal bahkan sebelum dimulai.

Aku menunggu. Mungkin ada pesan susulan atau penjelasan. Tapi ponsel itu tetap sunyi.

Raka menghilang bersama semua janji yang pernah kami ucapkan, bangun, pelan-pelan, seolah Tuhan sedang menghapus namanya dari masa depanku dengan satu ketukan ringan.

Setelah subuh, ayah memanggilku ke ruang tengah. Suaranya tenang, entah gejolak apa di dalam hatinya, yang jelas, hatiku remuk.

Aku akan menikah dengan sesuatu yang bukan pilihanku—entah sebagai jawaban doa,

atau sebagai ujian untuk belajar percaya.

"Siap-siap, di make-up." 

"Ta-pi, Yaah..." 

.

.

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!