Ditipu Menantu Benalu

Ketiban Sial

Kedua pasangan ini tampak gelisah. Duduknya seperti tak nyaman. Mereka saling sikut satu sama lain. Aku berusaha sabar untuk menunggu apa yang hendak dikatakan. 

"Gini lo, Mbak." Wanita paruh baya itu menegakkan duduknya. "Dua Minggu lalu, saya kedatangan seorang tamu laki-laki yang menawarkan kerjasama bisnis." 

"Oh, terus? Hubungannya dengan saya apa, Bu?" Aku berusaha mengenyahkan pikiran negatif yang melai merajai hati. Dua kali ketiban sial akibat ulah ipar tak tahu diri, kini aku sudah mulai waspada. Jangan-jangan ada hubungannya dengan pria itu lagi. 

"Ya, karena penawarannya menarik, saya sama suami sepakat untuk ikut bergabung. Kami sebagai pemodal, dan laki-laki yang datang itu sebagai pengelola." 

Perasaanku sudah mulai tak enak. Kupejamkan mata sesaat untuk menetralkan detak jantung yang mulai tak beraturan ini. 

Kudengarkan penjelasan wanita berkerudung hitam ini dengan saksama. Dan intinya tamu ini merasa tertipu karena sudah dua minggu tidak ada kabar lagi dari pria yang dikatakannya. Karena bingung mau menghubungi siapa, dia akhirnya datang kemari. Karena merasa lelaki itu ada hubungan kekerabatan denganku. 

"Ibu tahu namanya?" 

Mereka saling pandang. Lalu mengangguk. "Namanya Bayu Permana, mbak."

Alhamdulillah. Aku bernapas lega. Karena apa yang terpikirkan oleh otakku ternyata salah. Keperhatikan dua pasangan ini, kasihan sekali mereka. Sudah menjual sapi-sapinya untuk modal usaha, ternyata kena tipu. Tega sekali dia yang menipu itu. Siapa pun orangnya, tindakan itu tak bisa dibenarkan. 

Wanita ini sesekali menyusut matanya yang mulai berair. Nggak bisa dipungkiri memang, apa yang kita jaga akhirnya hilang begitu saja. Pria disampingnya berusaha menenangkan sang istri. Mengelus bahu wanita itu sambil membisikkan sesuatu. 

Cukup lama wanita ini larut dalam kesedihannya. Dan aku tetap bersabar sebagai penonton. Bukannya tak simpati, hanya saja aku masih belum jelas alasan yang sebenarnya mereka datang kemari. Jangan-jangan mau minta gantu rugi seperti yang sudah-sudah. 

Kusodorkan air putih yang ada si meja, lalu menuangkannya pada gelas kosong. Kuberikan pada tamu itu agar sedikit tenang. Sementara teh hangat yang kusuguhkan sepertinya sudah dingin. 

"Mbak yakin nggak mengenalnya?" Perempuan itu masih ingin memastikan. Mungkin dia berpikir aku menyembunyikan laki-laki yang dimaksud. Ya Allah, apa aku ada tampang suka menyembunyikan orang jahat ya? Kok hampir semua penagih utang mencari padaku. 

"Maaf, Bu, kalau yang Ibu sebutkan tadi namanya benar itu, saya beneran nggak kenal. Apa Ibu punya fotonya?"

Wanita ini semakin meraung. Tangannya yang gendut memukul-mukul pria di sampingnya. Aku semakin bingung dibuatnya. Ada apa, bukankah aku cuma bertanya soal foto? Siapa tahu aku mengenalnya. Tapi sebenarnya dalam hati juga takut kalau ternyata pria itu mas Tisna. Bisa saja kan dia memakai nama palsu supaya tak mudah dilacak?

"Sayangnya kami nggak punya fotonya." 

Aku bernapas lega. Setidaknya aku nggak harus berurusan dengan orang lain lagi gara-gara suami Mbak Citra itu. 

Dari penjelasan pria yang sedari tadi hanya diam dan menenangkan istrinya itu, aku dapat menyimpulkan bahwa mereka hanya menduga kalau pelaku penipuan itu adalah iparku. Karena berita tentang penagih utang beberapa hari lalu sudah menyebar ke seantero desa. 

Atas saran orang-orang, mereka datang kemari untuk meminta ganti rugi. Naas, orang yang dicari tak ada, dan orang yang dianggap memiliki hubungan kekerabatan juga tak mampu membantu apa-apa. 

Akhirnya mereka pulang dengan tangan hampa. Namun hatiku tak serta merta tenang. Seperti ada yang mengganjal yang harus segera dituntaskan. 

 

***

Pulang dari kantor, aku langsung ke rumah Emak. Mas Agus sudah mengizinkan tadi. Katanya nanti akan menyusul jika urusannya sudah selesai. 

Dalam perjalanan, aku mampir ke toko buah untuk membeli beberapa kilo buah segar. Emak dan Bapak yang sudah tua butuh asupan gizi yang banyak supaya tetap sehat. Tak lupa membeli makanan ringan untuk Dian. Anak Mbak Citra dengan suami pertama. 

Kasihan anak itu. Akibat keegoisan mamanya, ia harus menjadi korban. Kehilangan kasih sayang orang tua dan sering diperlakukan tak adil oleh Mbak Citra. Apalagi setelah menikah dengan Mas Tisna, rasa sayang perempuan itu seolah hilang terhadap Dian. 

Wajar jika akhirnya anak itu tak ada rasa hormat pada papa tirinya. Rasa cemburu pada adik-adiknya, membuat ia menjadi anak yang tempramen. Suka bikin masalah jika mamanya di rumah. Namun akan kembali jinak jika sama aku dan kakek neneknya. 

Emak terlihat sedang termenung di teras, hingga tak menyadari kedatanganku. Wajahnya yang dihiasi kerutan-kerutan halus terlihat redup. Mungkin ia sedang memikirkan nasib cucu-cucunya yang pergi entah kemana. Belum lagi fakta yang ia saksikan langsung akibat ulah menantunya. 

Masih segar dalam ingatan ketika tiba-tiba Mbak Citra membawa pria itu ke rumah. Ia mengenalkan sebagai teman kerja. Awalnya kami sudah curiga, ada hubungan di antara mereka berdua. Pasalnya, Mbak Citra masih berstatus sebagai istri Mas Adi, papanya Dian waktu itu.

Kami tak pernah tahu jika hubungan rumah tangga Mbak Citra sudah diambang kehancuran. Komunikasi mereka tak jalan, karena Mas Adi memberatkan pekerjaannya di Malaysia, sedang kakakku tak mau ditinggal terlalu lama. 

Benar kata orang, jika suami istri berjauhan, maka hubungannya akan hambar. Nyatanya Mas Adi yang selalu setia kalah dengan Mas Tisna yang selalu ada. Itulah awal kehancuran nahkoda rumah tangga mbak Citra. Dan bodohnya kami, tak mengetahui apa pun soal ini. Kami percaya jika mereka masih keluarga bahagia. 

Aroma penghianatan mulai tercium ketika lelaki yang sekarang menjadi sumber masalah di keluarga kami ini datang. Barangkali sudah lama ia berhubungan dengan kakakku itu. Ah, rasanya ingin melempar piring atau gelas supaya hati ini puas. Amarah ini makin memuncak saat Mas Adi bilang kalau dia sudah dibuang. Mbak Citra menikah diam-diam tanpa persetujuan keluarga. 

Aku yang selama ini menjadi saksi perjuangan Emak dan Bapak dalam membesarkan Dian, menjadi orang pertama yang menentang hubungan tak halal itu. 

Tujuh bulan berikutnya ia datang dengan kondisi berbadan dua. Emak hancur. Bapak hancur. Dan aku, hanya mampu mengelus dada sambil menyelamatkan kedua orang tua yang langsung jatuh sakit. Keluarga kami tercoreng. Tetangga mencibir. Semua itu akibat ulah kakak kandungku. 

"Semuanya sudah terjadi, tolonglah, Wi, bantu Mbak meyakinkan Emak dan Bapak kalau hidupku akan lebih baik dengan Mas Tisna," mohon perempuan ini.

Aku bergeming. Apa otak kakakku ini sudah cidera? Bagaimana mungkin aku membantu meyakinkan Emak dan Bapak sementara aku sendiri paham apa yang sedang terjadi adalah dosa besar. Ingin sekali aku berteriak di depan perempuan yang lahir dari rahim yang sama denganku ini. Membuka pikirannya bahwa dia sudah melakukan kesalahan besar. 

Semenjak itulah, hubunganku dengan Mbak Citra semakin renggang. Persaudaraan kami seperti tak berarti. Ia lebih memihak suami yang tak jelas asal-usulnya itu. Bahkan hingga sekarang, kami tak tahu di aman alamat pria itu. 

"Dewi?"

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!