Ditipu Menantu Benalu
Ending
Setelah bertemu dengan istri sahabat Mas Agus, Mbak Citra berangsur-angsur membaik. Setiap hari kelakuannya semakin berubah positif. Ia juga telah menyadari kesalahannya selama ini. Hari-harinya digunakan untuk memperbaiki diri dengan menimba ilmu agama.
Kini, ia tak lagi mengumbar auratnya setiap kali keluar rumah. Ia juga tak berani berkata kasar sama Emak dan Bapak. Emosinya sudah stabil. Kepribadiannya kembali seperti dulu. Baik dan sopan.
Hari ini, Emak mengadakan acara syukuran kecil-kecilan atas kesembuhan Mbak Citra. Mengundang tetangga kanan kiri untuk sekadar untuk ikut menikmati hidangan yang kami buat.
Ucapan selamat dan doa atas kesembuhan Mbak Citra mengalir deras dari para tetangga dan saudara. Nasehat-nasehat kebaikan tak lupa tersemat untuknya.
Tepat menjelang shalat dhuhur, semua tetangga telah pulang. Tinggallah kami, keluarga inti yang masih tersisa di rumah ini. Agar segera beres kembali seperti sedia kala, aku langsung membereskan sisa-sisa makanan yang masih berserak di lantai. Dibantu Emak dan Mas Agus, akhirnya kondisi rumah kembali bersih tepat adzan dhuhur berkumandang.
Sementara Mbak Citra membersihakn dapur yang juga tak kalah berantakan habis dipakai masak-masak.
"Wi, makasih ya atas semuanya," ucap Mbak Citra yang tiba-tiba duduk di sampingku. Saat ini aku sedang bersantai setelah shalat dhuhur sambil ngemil.
"Makasih untuk apa, Mbak?"
"Semuanya. Mbak sudah banyak menyusahkanmu selama ini. Maafin Mbak juga yang selalu berpikir buruk padamu." Mata Mbak Citra sudah mulai berkaca-kaca. Suaranya sengau menahan tangis yang akan pecah.
"Kalau bukan karena perjuanganmu membantu Mbak keluar dari masalah ini, mungkin sekarang Mbak sudah gila," ucapnya gemetar.
"Sudahlah, Mbak. Nggak perlu disesali. Semua sudah terjadi. Jadikan ini sebagai pengalaman berharga buatmu. Yang penting jangan mengulangi kesalahan yang sama."
Perempuan yang berstatus janda ini, memegang erat kedua tanganku. Tatapannya terus mengunciku. Ada penyesalan yang mendalam di dalam sorot mata itu.
"Mengenai anak-anak ..."
"Tenang saja, Mbak. Aku akan membantu membiayai mereka. Nggak usah berpikir terlalu keras."
Tiba-tiba ia menghambur ke pelukanku. Menumpahkan bendungan air mata yang mulai jebol membasahi khimarku. Beberapa langkah dari tempat kami duduk, Emak terlihat menyusut air matanya dengan ujung lengan. Alhamdulillah ya, Allah. Akhirnya badai ini telah berlalu.
Jika ada yang bertanya bagaimana nasib Mas Tisna selanjutnya, kukatakan bahwa kami sudah nggak peduli. Dia bukan bagian dari keluarga kami. Biarkan dia hidup dengan jalannya sendiri.
Dari awal dia sudah masuk ke Keluarga kami tanpa mengetuk. Ia menerobos begitu saja dengan cara yang salah. Dan perhi pun meninggalkan luka yang menganga di keluarga kami. Dan kami sendiri yang menyembuhkan luka itu.
***
"Dek, ayo cepetan, sudah jam berapa ini!"
Mas Agus terus saja memanggilku dari luar. Saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke pernikahan Yola. Dengan mengenakan gamis ceruty polos warna maroon dan kerudung pasmina warna dusty, aku keluar dari kamar.
Mas Agus tersenyum melihatku akhirnya keluar juga. Setengah jam aku bersiap karena bingung mau memakai pakaian apa. Dan pilihanku jatuh pada gamis dan khimar ini.
Sebuah hotel bintang lima sudah dipadati tamu undangan. Aku dan Mas Agus terus berjalan menuju ballroom yang telah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan yang begitu indah. Bunga-bunga memenuhi berbagi sudut. Sebuah kue pengantin yang tingginya setinggi manusia dewasa menyambut mata tamu di tengah ruangan.
Di sana, di pelaminan itu sudah bersanding pasangan pengantin yang terlihat layaknya raja dan ratu sehari. Yola dan Pak Vino, bosku. Mereka akhirnya menikah setelah beberapa minggu ta'aruf. Dan akulah yang menjadi mak comblangnya.
Alhamdulillah, meski awalnya penuh drama, akhirnya mereka bersatu juga. Senyum merekah menghiasi kedua pasangan bahagia itu.
"Selamat menempuh hidup baru ya, Yol. Semoga sawama," ucapku sambil memeluk tubuhnya yang harum melati itu. Setelah selesai memberi beberapa petuah padanya, aku beralih mengucap selamat pada Pak Vino.
Tatapan mata itu masih sama seperti beberapa minggu lalu. Namun hanya sesaat.
"Selamat ya, Pak. Tolong jaga dan lindungi sahabat saya," ucapku padanya yang hanya dibalas dengan anggukan kepala.
"Doakan aku bisa melupakanmu dari hatiku," bisiknya yang membuatku membeku.
Namun tak lama, aku segera mengatur napasku dan mencoba untuk tak menanggapi.
"Yuk!"
Mas Agus meraih pinggangku dan mengajak turun dari pelaminan. Kami berjalan dengan sangat ringan. Seolah beban yang menghimpit kami selama ini telah hilang. Harapku, Allah selalu melindungi dan memberkahi rumah tanggaku.
End
Akhirnya, cerita ini telah usai. Terimakasih banyak atas dukungan dan partisipasi para pembaca semuanya. Terutama yang membaca hingga tuntas. Maaf sekali jika kurang memuaskan. Semoga di cerita lainnya, author bisa menghadirkan cerita yang lebih seru dan bermanfaat. Love u all