Ditipu Menantu Benalu

Sepertinya Dugaanku Benar

"Apa yang kalian lakukan?" 

Suara Mas Agus yang tiba-tiba membuat semakin terbatuk-batuk. Sepertinya aku tersedak ludah sendiri disaat perih akibat tersedak sebelumnya masih terasa. Sungguh sangat menyiksa. 

Sementara pria yang menjadi penyebab aku begini terlihat santai menanggapi. Ia meletakkan kembali gelas yang belum sempat kuterima. Kurasakan sebuah tangan menepuk-nepuk halus punggungku. Lalu Mas Agus memberiku minum dan duduk di sebelahku. 

"Saya hanya kebetulan makan di sini. Karena semua kursi telah penuh dan hanya tersisa yang di sini, maka saya ikut duduk di sini. Maaf kalau membuat Anda nggak nyaman," ucap Pak Bos dengan tenang. 

Mas Agus hanya mengangguk sekilas. Lalu mengajakku pergi setelah berpamitan pada pria itu. Tangan Mas Agus tak lepas dari pundakku hingga kami sampai di mobil. 

"Sepertinya dugaanku benar," ucap suamiku tiba-tiba. Matanya fokus pada jalanan dengan kedua tangan mengendalikan setir. 

Kepalaku menoleh padanya memastikan apa yang dikatakan. Dari nada bicaranya, seperti tersimpan cemburu yang sedang ditahan. 

"Dugaan apa, Mas?" 

"Dia ada rasa sama kamu."

Aku tak bisa menahan tawa mendengar ucapannya. Atas dasar apa Mas Agus mengatakan hal itu. Kalau soal tadi, bukankah sudah dijelaskan alasannya duduk di depanku? Dan jika karena alasan hadiah kemarin, aku sudah mencoba mengembalikan meski akhirnya gagal. 

"Mas, dia itu tahu saya sudah punya suami. Dan dia tahu kalau Mas itu suamiku. Berapa kali kalau harus kukatakan kalau hubungan kami hanya sebatas bos dan karyawan." Aku sedikit memiringkan tubuh agar bisa melihat reaksinya. "Lagian kami bertegur sapa juga baru beberapa hari ini, kok. Pas Pak Pramu dipindah ke kanan cabang."

Kulihat lelakiku ini menghembuskan napas panjang. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. 

"Masih soal hadiah itu?" Aku mencoba menelisik pikirannya. Dia mengangguk. 

"Aku sudah menanyakannya tadi. Katanya itu murni hadiah. Sudah kukembalikan tapi dia nggak mau. Katanya itu bentuk apresiasinya atas prestasiku." 

Aku nggak mungkinkan mengatakan kalau dia menyuruhku membuang jam tangan itu kalau aku nggak mau menerimanya. Oh, Ya Allah ... kenapa suamiku jadi terlihat cemburu begini? Padahal biasanya juga nggak. 

Lagipula aku sadar sebagai wanita bersuami, tidak boleh bermain hati dengan pria lain. Aku nggak mungkin mengulang kesalahan Mbak Citra. Aku juga paham ada batasan jelas antara karyawan dengan bos. Izin yang diberikan Mas Agus, adalah izin untuk bekerja. Jangan sampai ia mencabut izinnya karena kesalahanku. 

Aku sangat mencintai dunia kerjaku. Menjadi editor membuatku memiliki banyak wawasan. Dari tulisan yang kuedit, banyak sekali ilmu yang bisa kupetik yang tidak bisa diperoleh dari bangku sekolah. Karena rata-rata tulisan yang masuk berdaaarkan pengalaman hidup, meski fiksi. 

Rencananya kami akan pulang besok pagi. Menambah sehari lagi di sini untuk keliling kita Malang. Namun kabar dari Emak tentang Mbak Citra membuat kami harus memajukan jadwal pulang. 

 

***

Harusnya setelahnya menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami istirahat dulu di rumah untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Namun itu tak bisa kami lakukan. Setelah mandi, kami langsung gegas ke rumah Emak. Dan inilah yang terjadi sekarang. 

Mbak Citra meraung-raung karena karena selalu diteror oleh Mas Tisna. Terkadang ia tampak ketakutan dan mendekap kedua buah hatinya. Terkadang pula tampak emosi dan membuang barang-barang yang bisa dijangkaunya, menyebabkan dua bocah itu menangis ketakutan. 

Sepertinya tingkat depresi Mbak Citra sudah menghawatirkan. Kutinggalkan kamar Mbak Citra untuk menghubungi temanku yang berprofesi sebagai psikolog. Kemarin aku sudah membuat janji. Tapi baru nanti sore dia punya waktu luang. Untungnya dia bersedia untuk datang ke rumah Emak. 

"Apa sejak saat itu Mbakk Citra selalu begini, Mak?" tanyaku pada Emak yang terus menyusut air matanya. Perempuan yang telah melahirkan kami ini tampak begitu sedih melihat Mbak Citra yang seperti ini. 

Kata Bapak, setiap malam Mbak Citra teriak-teriak sendiri dalam tidurnya. Mungkin mimpi buruk. Emak memilih tidur di kamarnya untuk menemani. Khawatir kalau malam tanpa sadar Mbak Citra melakukan hal-hal yang tak diinginkan. 

Pengaruh Mas Tisna ternyata sangat luar biasa. Meski pria itu telah pergi dari kehidupan kakakku, tapi efeknya masih sangat terasa. Entah dia seperti ini karena nggak terima ditinggalkan atau karena takut kehilangan anak-anaknya. 

Suara salam yang menyeruak dari balik pintu membuat kami semua menoleh ke arahnya. Seorang perempuan seumuranku masuk setelah kupersilahkan. Aku menyongsongnya dan meminta duduk di ruang tamu. Beberapa saat setelah menceritakan kondisinya, aku mengantar Elia, sahabatku ini ke kamar Mbak Citra.

Pertama kali saat dia masuk, pemandangan pertama yang dilihat adalah Mbak Citra yang duduk di pojokan dengan kepala tersembunyi di balik lutut dengan kedua tangan memeluk kaki. Kedua anaknya tertidur pulas di atas ranjang. 

Elia berjalan mendekat lalu mengelus kepalanya. Perlahan perempuan yang terlihat sangat mengenaskan itu mendongak. Wajahnya terlihat pucat dengan lingkar mata hitam seperti panda. Bibirnya pucat dan sedikit bergetar. 

Elia memberiku kode kewat mata untuk keluar. Aku meninggalkan mereka berdua dan menutup pintu dari luar. 

Cukup lama kami menunggu Elia. Sudah dua jam dia masih betaj di dalam sana. Emak sudah mondar-mandir nggak jelas. Tercetak jelas dari raut wajahnya kekhawatiran yang begitu dalam. Kuhembuskan napas panjang menghalau sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. 

Kasih sayang Emak pada Mbak Citra begitu dalam. Bahkan terkadang aku berpikir kalau aku sering dibedakan. Namun cepat-cepat aku menghentikan pemikiran konyol itu. Mana ada seorang ibu yang pilih kasih terhadap anaknya. 

Suara langkah mendekat membuatku mendongak. Elia keluar dari kamar Mbak Citra setelah 2,5 jam lamanya. Entah apa yang dilakukan di dalam sana. Itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang psikolog. 

"Bagaimana, Em?" tanya setelah perempuan berhijab pasmina ini menjatuhkan bobot tubuhnya di sampingku. 

Wanita ini menghela napas panjang sebelum bicara. Lalu menatap kami satu per satu. 

"Apa Mbak Citra pernah mengalami kekerasan fisik atau ancaman?" 

Kami saling berpandangan. Lalu mengangguk kompak. 

"Dugaan sementara saya dia mengalami post traumatic stress disorder dan tekanan batin." 

Lagi. Kami saling berpandangan. Karena nggak paham dengan istilah itu, kami hanya menunggu penjelasan darinya.

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.

"PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual," jelas Emilia. 

"Meski demikian, tidak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti terserang PTSD. Ada kriteria khusus yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami PTSD atau tidak. Untuk kasus Mbak Citra, saya perlu mempelajari lebih lanjut." 

Aku mengantarkan Emilia sampai gerbang. Perempuan ini akan segera pulang karena seharusnya dia sudah jadwalnya pulang tiga jam lalu. Namun karena ke sini atas permintaanku, ia memundurkan jadwal pulangnya. 

"Makasih banyak ya, Mil."

"Santai aja, Wi. O ya, tolong itu diawasi terus ya. Soalnya emosinya aangat nggak stabil. Dia sempat bilang pengen mati saja daripada hidupnya hancur seperti ini." 

Ucapan Emil membuatku bergidik. Sampai separah itukah kakakku. Ya Allah, tolong sembuhkan kakakku. 

"Besok, aku akan ke sini lagi," ucap Emilia, lalu masuk ke mobilnya. 

Setelah kepergian Emilia, terlihat sosok lelaki mencurigakan di seberang jalan. Sepertinya ia mengawasi rumah ini. 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!