Ditipu Menantu Benalu

Ada yang Janggal

"Tolong dong ceritain tentang mereka, kamu pasti tahu, kan?" Kutatap mata sahabat sekaligus partner kerja ini dengan mengiba. Satu titik sudah terlihat. Kuharap dengan cari informasi pada Yola, aku bisa membongkar semua kedok pria itu. Dengan begitu, hidup kakakku bisa diselamatkan dari kehancuran. 

Cewek penyuka makanan pedas ini menghembuskan napas berat. Mengusap mulutnya dengan tisu, lalu meneguk es jeruk beberapa tegukan. 

"Lisa itu dulu pernah menikah sebelum dengan Mas Tisna. Lima tahun pernikahan mereka kandas karena belum dikaruniai keturunan." Yola memainkan sedotan dengan cara memutar-mutar seperti sedang mengaduk minuman. "Lalu setahun pasca cerai, dia nikah lagi dengan Tisna. Hingga kini belum juga dikaruniai keturunan. 

"Padahal bapaknya butuh penerus untuk melanjutkan bisnisnya. Gaya hidup yang tinggi juga membuat Mas Tisna harus memenuhi semua keinginan istrinya. Untuk biaya ke salon aja butuh berjuta-juta. Dia selalu menuntut Mas Tisna untuk memberikan biaya perawatan setiap bulan." Yola menyeruput esnya lagi. "Kalau tidak dituruti, dia menuntut cerai. Padahal juragan Narko sudah menjanjikan untuk memberikan setengah dari usahanya untuk Mas Tisna kalau tetap bertahan menjadi menantunya." 

Aku manggut-manggut. Ada yang janggal dari Lisa menurutku. Melihat dia anak orang kaya dengan kecantikan paripurna, kurasa tidak sulit untuk cari suami lagi kalau ditinggal Mas Tisna, tapi kenapa bapaknya sampai rela memberikan setengah usahanya demi mempertahankan Mas Tisna? Padahal track record lelaki itu sudah buruk. Bahkan mertuanya tahu kalau pria itu punya banyak utang. Dan ... Jangan-jangan ....

Tiba-tiba pikiranku mengatakan jika waktu itu hanya skenario mereka saja. Tidak mungkin seorang mertua mau-maunya menagihkan utang menantunya dengan menbawa bodyguard segala. 

"Eh, Yol. Menurutmu aneh nggak, sih bapaknya Lisa segitunya mempertahankan Mas Tisna sampai rela membahi usahnya?"tanyaku penasaran. Kusingkirkan piring bekas makan ke samping agar leluasa berbicara tanpa penghalang bekas-bekas makan ini.

Lisa mencondongkan tubuhnya. "Karena lisa terkena gangguan jiwa!" bisiknya membuatku melotot. Masa iya, sih? Padahal pas ketemu kemarin nggak ada tanda-tanda wanita itu gangguan jiwa.

"Yang bener? Jangan ngarang deh, Yol. Bisa fitnah!" 

"Ih, aku nggak ngarang. Itu fakta. Siapa pun yang baru pertama lihat nggak akan percaya. Karena dia seperti wanita normal lainnya. Dia itu dulu ... maaf, ya, jelek, hitam, dan sering di-bully. Akhirnya terobsesi untuk jadi cantik. Dia melakukan operasi beberapa kali sampai bisa secantik sekarang. Makanya dia harus perawatan mahal tiap bulan untuk mempertahankan bentuk tubuh dan juga kulitnya agar tetap mulus."

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Masuk akal sih jika Mas Tisna sampai utang-utang ke mana-mana untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Tapi ... bukankah bapaknya kaya raya, kenapa harus utang-utang untuk memenuhinya. Sedangkan sebagian usahanya akan dikasihkan dia kan? Ah, kenapa kepalaku tiba-tiba berdenyut memikirkan hal itu. Bukan urusanku sebenarnya. Tapi karena sudah melibatkanku, mau tak mau aku juga harus ikut berpikir keras untuk mengeluarkan kakakku dari jeratan buaya darat itu. 

"Dan kabarnya, demi mempertahankan bentuk tubuhnya tetap ideal, ia tak mau punya anak!" 

Kalimat Yola selanjutnya menyadarkanku dari lamunan. Kembali pada percakapan kami yang semakin membuatku pusing. Tapi sampai sini, aku mulai bisa menarik kesimpulan bahwa sosok yang menjadi ipar palsuku bukan orang yang baik. 

Ya, kukatakan ipar palsu karena pernikahan mereka yang tidak sah di mata agama dan negara. 

"Btw, sudah jam berapa nih? Istirahat sudah selesai, woy! Yuk, kita naik, nanti kena semprot big bos kalau telat!" Yola melambaikan tangan untuk memanggil pelayan. Menanyakan tagihan kami, lalu memberikan selembar uang merah kepadanya. 

Dengan langkah tergesa, kami menuju ke lift yang sedang terbuka. Tepat saat kaki melangkah, seorang pria menahan pintu lift yang hampir menutup. Kami bernapas lega karena masih bisa masuk. Kalau tidak, kami harus menunggu beberapa menit lagi untuk bisa naik. 

Namun kelegaan itu hanya berlangsung beberapa detik. Karena ternyata pria itu adalah big bos. Sedikit mundur, lalu kami kompak menunduk tanda hormat. Pria itu hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus pada gawainya. 

Perjalanan lift yang biasanya sangat cepat terasa begitu lambat. Berada satu lift dengan pria dingin ini rasanya seperti satu ruang dengan seekor harimau. Mencekam. Tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Bahkan untuk bernapas saja kami harus sangat hati-hati supaya tak terdengar olehnya. 

Bunyi ting yang terdengar seperti sebuah oase di padang pasir. Sangat menyejukkan. Karena kami tidak harus berlama-lama menahan napas di dalam lift itu. Kamu menunggu big bos keluar duluan. Karena kebetulan ruangan kami berada pada lantai yang sama dengan CEO penerbit ini. 

Dengan tergesa-gesa, kami segera berjalan menuju ruang masing-masing sesaat setelah pria tampan tapi dingin itu melangkah. 

"Dewi!" 

Langkahku terhenti. Jantung ini berdegub kencang saat tiba-tiba pria itu memanggil ku. Kuhirup napas sebanyak-banyaknya sebelum berbalik. Setelah mampu menetralkan detak jantung ini, aku balik badan. 

"Ya, Pak?" 

"Ikut ke ruangan saya sebentar!" 

Aku terkesiap. Jantung yang sudah normal kini kembali berdetak lebih cepat. Kuteolehkan kepala menatap Yola untuk mencari tahu apa yang membuatku dipanggil. Namun cewek itu hanya menggedikkan bahu tanda tahu. 

Dengan dada berdebar-debar, aku mengekor pria itu sambil menunduk. Pikiranku berkelana, mengingat-ingat apa pernah berbuat salah. Namun sepanjang aku bekerja di sini, rasanya belum pernah melakukan kesalahan dalam menjalankan amanah kerja. 

"Sialahkan duduk!"

Lelaki itu memutari meja dan duduk di kursi kebesarannya. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Tatapan elangnya menatap lurus padaku membuat diri ini semakin gelisah. 

"A--ada apa, Pak?" tanyaku terbata. Jujur saat ini aku seperti seorang terdakwa yang menunggu putusan hakim. Sedang terdakwa itu tak tahu apa kesalahannya. 

"Begini, selama ini saya melihat kerjamu selalu sempurna dan on time. Pak Pramu selaku chief editor, saya minta untuk mengurus cabang yang di Malang. Jadi posisinya sekarang sedang kosong." Pria itu menyandarkan tubuhnya, lalu mengambil sebuah map dan menyodorkannya padaku. 

"Jadi, saya mengangkatmu menjadi chief editor. Ini surat kontraknya, silahkan ditandatangani!"

Aku hanya bisa menutup mulut tak percaya. Dalam hati ucapan syukur tak lepas kulantunkan. 

"Ba--bapak yakin memilih saya?" 

"Ya, saya sudah mempertimbangkannya masak-masak. Ini juga berdasarkan hasil rapat direksi." 

"Ta--tapi masih ada yang lebih senior dari saya, Pak," ucapku. Bukannya tak mau dapat jabatan ini. Hanya saja aku merasa belum layak. Lagi pula masih ada Bu Ema yang lebih senior dari saya. Bagaimana kalau nanti dia nggak terima?

"Keputusan saya sudah bulat, silahkan tandatangani kontrak ini." 

Dengan tangan gemetar, kuraih map itu dan membubuhkan tanda tangan di sana. Lalu menyodorkan kembali salinannya untuk disimpan kembali. 

Setelahnya aku pamit. Namun belum juga mencapai pintu, pria itu kembali memanggilku. 

"Dan satu lagi!" ucapnya membuatku berbalik.

"Hari senin ikut saya ke Malang!" 

Aku membeku. Ke Malang? Bersama Pak Bos? Pikiranku berkecamuk. Mana mungkin aku bisa pergi dengannya. 

"Tenang saja, kita tidak pergi berdua. Semua kepala divisi akan ikut serta!" Aku bernapas lega mendengar kalimat terakhir. Meski belum tahu akan mendapat izin atau tidak, setidaknya aku nggak bakal pergi berdua saja. Sehingga aku bisa memberi alasan pada suami nanti ketika meminta izin. 

Langkah kaki ini membawaku kembali ke ruangan. Mataku terbelalak saat mendapati tempatku sudah ada yang menduduki. Seorang pria asing yang masih muda. Dan dia belum pernah ada di sini sebelumnya. Siapa dia?

Melihat kedatangnku, semua mata menatap iba ke arahku. Bahkan barang-barangku sudah berganti dengan barang miliknya. Cepat sekali mereka memindahkan barang-barang itu. 

Melihatku kebingungan, teman satu timku mendekat. Menatapku dengan pandangan iba. Apa mereka semua belum tahu kalau aku naik jabatan? Dan oh, pria itu pasti editor baru. 

"Wi, maafkan kami. Kami nggak mampu mencegah mereka untuk memindahkan barang-barangmu. Dan kami juga nggak tahu dimana semua barangmu dipindahkan." 

Lela, salah satu editor yang se-tim denganku menjelaskan. Yang lain ikut membenarkan dengan anggukan kepala mereka kompak. 

Aku hanya tersenyum menanggapi itu dan pamit kepada mereka. Meninggalkan tanda tanya di benak orang-orang yang pernah berjuang bersamaku ini. Biarlah waktu yang akan menjelaskan. Atau besok saja aku jelaskan pas istirahat. Sekarang aku harus kembali bekerja.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!