Ditipu Menantu Benalu

Ternyata Punya Dua Istri

"Mbak, suami Mbak ini ..." Pria itu langsung melotot padaku sebelum kalimat yang kuucapkan selesai. Aku tertawa dalam hati. Berpikir gimana ya, kalau aku jujur dihadapan istrinya ini. Menarik.

"Sudahlah, Wi. Nanti aku segera ke sana. Kita bicarakan saja nanti semuanya. Nggak enak ngobrol di sini," ucap Mas Tisna mengalihkan pembicaraan. Lisa, wanita cantik itu masih kebingungan. Namun tak ayal tetap tersenyum sambil menggandeng suaminya dan pamit untuk pergi dari sini. 

Kerumunan orang-orang yang penasaran itu ikut bubar bersamaan masuknya kami ke mobil. Sepanjang jalan kami membicarakan rencana untuk kehidupan Mbak Citra ke depannya. Mengingat siapa Mas Tisna dan juga status pernikahan mereka yang masih dipertanyakan. 

Kami juga perlu cari informasi alasan Mas Tisna menikahi Mbak Citra kalau faktanya dia sudah memiliki istri yang cantik dan kaya. Lalu utang-utang itu. Kalau nyatanya Mbak Citra juga tak tahu menahu soal utang yang selama membuatku pusing tujuh keliling. 

"Mas ada kenal seseorang yang dekat dengan Juragan Narko atau dengan perempuan itu?" 

Mas Agus mengetuk-ngetukkan jarinya ke setir. Matanya fokus pada jalanan meski sekali-kali menatapku. 

"Nggak ada. Tapi kita kan bisa bertanya pada temanmu to? Dia yang ngasih kamu undangan pasti tahu juga soal Lisa, mengingat Lisa itu saudaranya mempelai laki-laki. Ya, kan?" 

"Iya juga, ya. Kok aku nggak kepikiran ke sana ya, Mas?" ucapku nyengir. Terkadang, Mas Agus ini memang lebih cepat dalam berpikir dan mengambil keputusan. Tidak sepertiku yang agak lambat ini.

 

***

Bau tanah bekas hujan menusuk hidungku ketika jendela kamar terbuka sempurna. Dedaunan masih tampak basah. Udara sejuk menyergap kulitku yang hanya terbungkus bajubtidur berbahan satin tipis. 

Sarapan sudah siap di meja makan. Rumah sudah bersih dan kinclong. Habis subuh tadi, aku langsung terjun ke dapur. Sementara Mas Agus bagian bersih-bersih. Sinar emas mentari mulai menyorot ke seluruh penjuru. Seolah hendak membuktikan bahwa sang raja siang telah siap untuk mengguyur bumi dengan cahayanya yang menghangatkan setelah semalaman dingin membalut sunyi. 

Dari arah belakngku berdiri, terdengar puntu terbuka menampilkan sosok imamku yang terlihat segar sehabis mandi. Gantian aku yang memanjakan tubuh ini dengan guyuran air hangat. 

Lima belas menit kemudian aku telah siap dengan baju semi formal untuk ke kantor. 

"Hari ini Mas mau kirim ke luar kota, Dek. Hadi Izin istrinya melahirkan, jadi nggak bisa menemani Ratno. Mungkin pulang agak malam," ucap suamiku di sela-sela sarapannya. 

"Ya, hati-hati ya, Mas. Boleh nitip sesuatu nggak?" 

"Boleh. Asal jangan yang susah nyarinya aja."

"Laptopku kemarin jatuh pas mau pulang. Karena buru-buru pas mau masukin tas, ternyata meleset. Layarnya retak dan nggak bisa nyala. Untuk semua file ter-back up di hardisck."

"Oh, kok bisa sih, Dek. Ya dah, mau yang seperti apa?" Mas Agus meletakkan sendoknya. Piringnya sudah bersih. Tak ada makanan tersisa. Dia ini cepat sekali kalau makan. 

"Sesuaikan budgetnya ajalah. Aku cuma punya uang segini," ucapku sambil menyodorkan uang lima juta rupiah kepadanya. Mas Agus hanya menatap uang itu tanpa mengambilnya. 

"Simpan aja uangnya buat keperluan lain. Nanti Mas aja yang beliin. Di toko biasa kan?" 

"Ya. Makasih ya, Mas. Sering-sering aja kek gini," ucapku nyengir. Mas Agus mengusak kepalaku yang tertutup kerudung. Soal uang, dia memang nggak pernah itung-itungan. Bahkan hasil tambak yang sudah bersih setelah dikurangi biaya operasional semua diserahkan padaku. Dan akulah yang harus mengaturnya. 

Meski begitu, aku tak serta merta menggunakan uang itu sesuak hati. Aku hanya mengambil beberapa untuk kebutuhan bulanan. Sisanya kutabung bersama gajiku. Dia juga tahu berapa jumlah tabungan di rekening kami. Karena bagi kami nggak ada uang istri atau uang suami. Semua jadi satu. Semua kebutuhan rumah tangga juga kami sama-sama tahu. 

Pukul 8.00 aku sampai di kantor. Kebetulan hari ini ada meeting untuk membahas proyek baru. Beberapa buku yang diterbitkan bulan lalu mengalami pelonjakan penjualan yang cukup signifikan. Kantor hendak mencetak ulang buku-buku best seller yang kebetulan masih banyak di cari. 

Dan dari event besar dalam rangka mencari bibit penulis baru yang diselenggarakan dua bulan lalu sudah terpilih beberapa nama dengan tulisan yang menjual. Penerbit kami hendak mengontrak beberapa penulis baru ini. Dan sekarang kami sedang membahasnya. 

Dua jam meeting selesai. Bagian editor harus kerja rodi karena deadline yang sangat dekat. Bos besar menginginkan awal bulan depan semua buku-buku baru sudah harus launching. Tentu saja aku sebagai salah satu editor di sini ikut ketiban sampur untuk mengedit beberapa buku. Padahal kerjaanku sebelumnya masih belum tuntas. 

Semua divisi sibuk kejar tayang. Nggak ada yang bisa bercanda seperti biasanya. Kami fokus pada tanggung jawab masing-masing.

"Wi, sudah jam istirahat nih, yuk maksi dulu!" ajak Yola yang entah sejak kapan sudah ada di sampigku. Perempuan ini mendapat tanggung jawab dalam hal lay out. Semua naskah yang selesai kuedit, larinya ke dia. 

Kulirik pergelangan tangan. Benar sudah jam 12 lewat 5 menit. Setelah menekan tombol ctrl S, kututup komputer dan beranjak mengikuti wanita yang masih seksi meski sudah memiliki dua anak ini. 

"Ke kantin aja, ya. Hemat waktu!" ucapku yang diangguki oleh perempuan berkerudung navi ini. 

Kami memilih tempat duduk di pojok yang agak sepi. Setelah memesan beberapa makanan aku mencondongkan tubuh ke depan. Menatap Yola agar dia juga fokus padaku. 

"Yol, kamu kenal Lisa, kan?" 

"Lisa anaknya Juragan Narko?" Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.

"Ya."

"Kenal. Kami kan masih ada hubungan kerabat. Cuma, ya ... gitu deh. Kami kurang dekat. Tahu sendirilah. Gaya hidupnya kan hedon banget. Nggak level lah sama kita-kita yang sederhana." 

"Berarti kamu tahu dong, siapa suaminya?" 

"Tahu! Mas Tisna, kan?" Allahu rabbi ... jadi benar kakakku tertipu. Kok bisa, sih kami nggak tahu. Padahal kami tetangga kecamatan. "Sudah lama mereka nikah?" tanyaku penasaran.

"Sudah lima tahunan lah. Tisna itu kan orang Bandung. Dia jarang di rumah. Katanya punya bisnis di sana, makanya jarang pulang."

Pembicaraan kami berhenti saat pelayan datang membawa pesanan kami. Aroma makanan yang baru saja datang membuat cacing-cacing di perut makin meronta. Yola begitu tak sabar menyantap makanan favoritnya. Seblak sayur level 7. 

"Mereka sudah punya anak?" Yola menghentikan makannya. Lalu menatapku aneh. 

"Kenapa sih ingin tahu banget dengan kehidupan mereka. Aku aja males!" ketusnya. 

"Karena keluargaku telah tertipu oleh Mas Tisna!" Makanan yang tadi begitu lezat, kini seolah hambae dimulutku. Nafsu makanku terjun bebas, mengingat perlakuan pria itu pada keluargaku. 

"What?! Khok visa?" Wanita ini membulatkan matanya. Mulutnya yang masih terisi penuh oleh makanan menganga mendengar ucapanku. 

Kuhembuskan napas panjang sebelum menceritakan kronologinya. Meneguk air putih untuk membersihkan kerongkongan yang masih tersumbat oleh makanan. 

"Mas Tisna itu orang yang menikahi kakakku, yang pernah kuceritakan padamu waktu itu. Dia yang banyak utang, tapi aku yang diuber-uber rentenir."

"Apa?!" Lagi, wanita ini terkejut mendengar pengakuanku. Aku hanya bisa melotot menyaksikan reaksinya yang lebay itu. 

"Wah. Parah, nih. Parah, sumpah!" Wanita ini bereaksi sangat berlebihan seolah ia tahu seberapa besar kejahatan pria itu. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!