Ditipu Menantu Benalu

Siapa Mereka

Aku terpaku melihat siapa yang datang. Kupindai penampilannya yang mirip eksekutif muda. Kemeja berlengan panjang, celana bahan dan sepatu mengkilat menjadi penyempurna penampilan tamu ini. Dia tak datang sendiri, melainkan ada dua orang di belakangnya dengan kaos hitam dan celana hitam. Jangan lupakan tubuhnya yang kekar. Mirip seperti bodyguard?

"Boleh kami masuk?" Pria berkemeja denim ini membuyarkan fokusku. Bahkan aku belum sempat bertanya siapa mereka dan mencari siapa. Seolah tahu isi otakku, pria ini mengenalkan diri. Ia mengaku sebagai anak buah juragan sawit. 

Aku mendesah kecewa. Mau apa lagi mereka mencariku? Apa masih belum cukup apa yang kukatakan waktu lalu, hingga mengutus orang yang berbeda. Dari mana pula mereka tahu rumahku? Ah, sepertinya hidupku nggak bakalan tenang selama urusan calon mantan iparku ini selesai. Namun bukan aku yang menyelesaikan. Enak saja, aku nggak tahu urusannya harus ikut menanggung bebannya. 

Ketiga pria ini tampak nggak sabar. Mereka ingin merangsek masuk. Namun kedua tanganku merentang menutupi jalan. Sehingga mereka tak bisa menerobos begitu saja. Ditambah lagi, hanya satu pintu yang kubuka. 

Dari belakang terdengar langkah kaki mendekat. Ternyata Mas Agus. Kedatangannya membuatku sedikit tenang. Setidaknya dia sudah punya senjata ampuh untuk mengusir mereka jika tetap nekat. Tentu saja suamiku sudah mendapat cerita dariku tentang apa yang dilakukan juragan sawit waktu itu. Dan Mas Agus memuji keberanianku untuk melawan mereka. 

Ya, orang-orang seperti mereka tak akan bisa dilawan dengan otot. Karena mereka tentu sudah dibekali dengan ilmu bela diri yang mumpuni. Untuk itu aku harus punya strategi lain untuk melawan mereka. Kecerdasan otak dan kekuatan argumen. Supaya dapat menjatuhkan wibawa dan mental mereka. 

Mas Agus sengaja tak mempersilahkan mereka masuk. Ia keluar dan menemui para tamu tak diundang ini di luar. Duduk di kursi yang ada di teras. Aku berdiri di samping Mas Agus yang duduk dengan tenang menghadapi mereka. 

"Ada perlu apa Bapak-bapak kemari?" tanya suamiku tanpa basa-basi.

"Saya diutus Juragan Narko untuk menagih kembali utang Mas Tisna," ucap pria parlente ini. Ia menunjukkan identitas dari APPI. Hem, rupanya pria yang dikenal sebagai juragan sawit itu berani bayar jasa debt colector asli. Yang memiliki identitas dari assosiasi perusahaan pembiayaan Indonesia. 

Tapi sayangnya ia melupakan sesuatu yang paling penting. Mataku melirik Mas Agus yang kebetulan juga melirikku. Kami tersenyum penuh arti sebelum pria ini menyampaikan maksudnya yang lain. 

"Kartu identitas Bapak sepertinya asli. Bisa tunjukkan KTP-nya?" 

Lelaki itu mengambil dompet dari sakunya, lalu menyodorkan benda pipih mirip kartu ATM yang diminta Mas Agus. Setelah mencocokkan kedua identitas itu, Mas Agus manggut-manggut. Senyumnya mengembang. 

"Bapak tahu nggak, kalau sudah salah alamat?" Ketiga pria utu saling pandang. Alis lelaki yang menjadi ketua penagih ini mengernyitkan alisnya. 

"Loh, tadi katanya benar ini rumah Bu Dewi," ucapnya bingung. 

"Ya, benar ini rumah Bu Dewi. Bukan rumah Mas Tisna," ucap suamiku dengan menekan tiga kata terakhir. "Apa ada surat perjanjian utang yang ditandatangani istri saya, jika jatuh tempo harus menagih ke Dewi, istri saya?"

Pria ini terkesiap. Mungkin ia tidak terpikirkan hal ini. Jelas sekali dari sikapnya yang tiba-tiba gelisah. Fix, dia nggak punya itu. 

"Ti--tidak. Saya tidak punya. Juragan Narko tidak mengatakan hal ini. Beliau hanya bilang untuk datang ke sini untuk menagih utang atas nama Tisna. 

"Itulah yang Bapak lupakan. Yang punya utang itu Tisna, bukan Dewi. Dan di catatan itu, tidak ada perjanjian yang menyebutkan untuk menagih pada Dewi. Jadi, silahkan Bapak pulang. Katakan pada juragan Narko, sampai kapanpun Dewi tidak akan membayar utang yang tak pernah ia lakukan." 

Pria-pria itu akhirnya pergi sambil menunduk. Mungkin malu karena salah sasaran. Mau main brutal salah orang. Main argumen juga kalah bahan. Kami cekikikan setelah kepergian orang-orang itu. Namun tanpa kami sadari, Mbak Citra mendengarkan obrolan kami dari balik pintu. 

Wajahnya pias saat melihat kami masuk rumah. Kukode Mas Agus agar menyingkir dari kami. Aku butuh waktu berdua dengan kakakku untuk bicara serius dengannya.

"Mbak, sudah dengar pembicaraan kami tadi?" Ia mengangguk. Tangannya saling meremas. Aku tahu ia gugup menghadapiku setelah tahu fakta ini. 

"Mbak nggak tahu kalau Mas Tisna utang pada juragan sawit 10 juta?" Kedua matanya melotot sempurna seolah akan lepas dari sarangnya. Hal ini menandakan dia benar-benar tak tahu menahu soal ini. Lalu untuk apa uang sebanyak itu kalau istrinya nggak tahu? 

"Yakin? Mbak benar-benar nggak tahu?"

Lagi, ia menggeleng lemah. Namun kedua netranya berkaca-kaca. Mungkinkah ia menyesal menjadi istri raja utang itu?

"Aku nggak tahu. Bahkan sepeser pun aku nggak tahu gambar uangnya. Apa mungkin ... dia memberikan uang itu pada selingkuhannya?" Tubuhnya bergetar mengatakan itu. Kaca-kaca yang terlihat dimatanya audah pecah sempurna membanjiri pipi tirusnya. 

"Sekarang Mbak sudah tahu orang macam apa yang menjadi suamimu, kan? Apa Mbak Citra masih ingin memperjuangkannya?

"Aku nggak tahu. Anak-anak butuh sosok ayah. Bagaimana kalau mereka kehilangan kasih sayang ayahnya?" Tangisnya semakin pecah. 

Kupejamkan mata sesaat. Lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba mendera. Nggak salah memang, anak-anak butuh sosok ayah. Tapi ayah yang seperti apa? Apakah seperti Mas Tisna yang ringan tangan, hobi utang dan suka main perempuan? 

Anak-anak butuh sosok panutan yang mampu mendidik dan membimbingnya agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Karena itulah bekal orang tua di akherat kelak. Bukankah anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak? Lalu kalau orang tuanya saja model Mas Tisna, apa bisa mengantarkan anaknya menjadi shaleh? 

"Tolonglah, mengertilah keadaanku. Kenapa semua orang selalu menghakimiku?" Kedua mata Mbak Citra berkilat. Ada kemarahan tercetak jelas di sana. "Hidupku sudah cukup menderita, jangan bebani lagi dengan nasehat kalian yang membuatku seolah jadi manusia paling bodoh sedunia!" 

Napas perempuan ini memburu. Dadanya naik turun. Apa aku salah kalau meluruskannya? Bukankah seharusnya dia berterimakasih pada kami yang sudah banyak membantunya keluar dari situasi tak menyenangkan itu? Ya Allah, terbuat dari apa hati kakakku ini sebenarnya. 

"Kalian orang-orang yang sok kaya dan sok pintar. Nggak pernah merasakan sakitnya dihina dan kekurangan. Coba kamu jadi aku, Wi! Apa kamu masih bicara begitu padaku?"

Oh, jadi dia merasa nasehat dan pertolonganku selama ini sebagai bentuk penghinaan baginya. Apa yang yelah kulakukan selama ini nggak berarti apa-apa. Andai dia bukan kakakku, sudah pasti kubiarkan ia menderita dengan suaminya yang raja utang itu. 

"Mbak, maaf kalau selama ini omonganku menyinggung perasaanmu. Aku ini adekmu, Mbak. Satu-satunya saudaramu yang nggak ingin melihatmu terpuruk seperti ini." Aku menjeda kalimat, mengamati reaksinya. "Coba pikirkan, apa yang selama ini dilakukan suami tercintamu itu untukmu. Sudahkah ia menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga? Siapa yang selama ini membiayai hidup anak-anak kalian? Bahkan ketika Mbak melahirkan saja, dia hanya diam nggak memilirkan biaya persalinan!" 

Intonasi suaraku meninggi. Entah apa yang merasukiku hingga rasanya seperti ada yang mendorong untuk mengungkapkan fakta bahwa suaminya tak memiliki andil sedikit pun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang ada hanya menyakiti begitu dalam. 

Kujelaskan pula bagaimana aku harus menghadapi para penagih utang itu pasca kepergian mereka, agar perempuan berstatus kakak ini bisa membuka mata hatinya. Semua yang telah kulakukan untuknya ikhlas, tapi dia terus saja kekeh dengan kesalahannya. 

"Maaf." Kata itu yang akhirnya meluncur dari mulutnya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!