Dinikahi Calon Ipar

Berbeda

Pria tua yang dipanggil paman oleh Diana ini berdiri. Tatapannya nyalang seperti hendak memakan orang. Diana yang sudah biasa diperlakukan demikian olehnya tak merasa heran. 

 

 

Sejak dulu adik kandung bapak angkatnya ini memang terlihat nggak suka padanya. Selalu saja mengatakan jika Diana sebagai anak pembawa sial. Entah apa maksud dari ucapannya itu. Kini, Diana paham. Yang dimaksud pamannya itu adalah karena Diana mendapat bagian harta yang lebih banyak. 

 

Padahal jika dipikir-pikir, bagiannya sama rata. Karena selain mendapat lahan sawit, bapak dan paman mendapat saham perusahaan masing-masing lima puluh persen. 

 

"Tolong, Pak, jaga sikap. Semua pembagian sudah dihitung secara adil. Selain lahan sawit, bapak-bapak masih mendapat saham perusahaan."

 

"Ya, tapi seharusnya perempuan pembawa sial ini nggak perlu dapat bagian. Kenapa tidak Meta saja yang mendapatkannya? Dia putri kandung keluarga ini!"

 

"Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan perintah almarhum. Keputusan ini sah dan dilindungi hukum."

 

Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya Diana memilih untuk segera pergi dari rumah yang penuh kenangan itu. Di sini ia dibesarkan. Di sini pula ia mendapatkan hujan kasih sayang dari ibu. Meski belakangan itu semua palsu. 

 

Dengan langkah ringan, Diana berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pagar. Kedua pria yang sekarang menakdi bodyguard-nya sudah menunggu di dalamnya.

 

"Bagaimana?" tanya Daniel to the point. Bahkan ia bertanya sebelum adik semata wayangnya duduk.

 

"Sempat nggak terima, tapi akhirnya pasrah. Karena pengacara bilang keputusan ini tidak bisa diganggu gugat."

 

Desta yang sudah siap di balik kemudi tak ikut menanggapi. Hanya mendengarkan percakapan istri dan iparnya saja. 

 

"Setelah ini, mau kamu apakan lahan itu?" 

 

Diana menghela nafas panjang. Bingung harus berbuat apa dengan kekayaan itu. Namun selintas ide menarik berkelebat di benaknya. 

 

"Separuh dari hasilnya mau kusumbangkan ke pondok pesantren dan panti asuhan. Separuhnya lagi aku mau investasikan."

 

Desta menatap tak percaya pada istrinya ini. Biasanya cewek sangat suka dengan kekayaan. Bahkan demi hal itu ia bisa melakukan segala cara. Meski terkadang harus mengorbankan harga dirinya. Contoh nyata saja Meta, mantan kekasihnya. Ia terobsesi padanya karena harta. Demi harta ia tega meracuni kakaknya. Sayangnya, Desta baru tahu hal itu setelah tiga tahun menjalin hubungan dengannya. 

 

Waktu yang cukup lama untuk disia-siakan sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, kalau hati sudah bertaut. Bahkan ia tak mampu membedakan apa itu cinta atau sekadar obsesi. 

 

Kehadiran Diana, orang yang dianggap salah, karena telah berani masuk dalam kehidupan Desta, justru telah membuka wawasannya tentang kebenaran. Bahkan ia mulai percaya kalau tidak semua perempuan gila harta. Diana contohnya. 

 

Jika dulu ia merasa kehadiran Diana sebagai musibah, kini ia merasa kehadirannya justru membawa berkah. Berkat istri shalehah ini, ia kembali mengenal Tuhan yang telah lama ia tinggalkan. Bahkan berkat dia juga, ia jadi mengerti arti cinta yang sesungguhnya. 

 

"Kita mampir makan dulu, ya!" 

 

Daniel menentukan tempat makan mana yang akan mereka datangi. Alasannya ia yang paling tua di sini, dan dia berhak memilih sesuai keinginannya. Padahal secara usia, dia tak lebih tua dari Desta. Mereka hanya selisih dua bulan. Desta lahir bulan Mei dan Daniel lahir bulan Juli tahun yang sama. 

 

Memang sejak Desta mengetahui kalau Daniel kakak kandung istrinya, pria berjambang tipis ini semakin semena-mena pada suami adiknya. 

 

Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke restoran seafood yang ada di pinggir pantai. Diana berjalan lebih dulu ketika mobil telah berhenti. Memilih tempat dengan view yang menarik. Dia sangat suka laut. Maka tak heran ia memilih saung yang berhadapan langsung dengan laut. Dari sini mereka bisa melihat matahari terbenam secara langsung. 

 

Sayangnya, saat mereka sampai, surya masih bersinar terang dan belum condong ke barat. 

 

"Mau pesan apa, Sayang?" tanya Desta saat bobot tubuhnya mendarat sempurna di samping sang istri. 

 

"Aku mau cumi asam manis, udang krispi, sama ca kangkung aja." 

 

"Ok. Minumnya?"

 

"Es degan."

 

"No! Wanita hamil tak boleh minum es." 

 

"Kata siapa?"

 

"Kata suamimu yang paling ganteng," ucap Desta narsis. 

 

Daniel memeragakan akting memuntah pada sohib sekaligus iparnya itu yang ditanggapi dengan gelak tawa. 

 

Wanita hamil yang sejak tadi fokus pada deburan ombak di laut, bahkan ketika menyebutkan menu yang diingini, menoleh pada sumber suara. Menatap takjub pada pria tampan yang untungnya sudah menjadi imam masa depannya. 

 

Bahkan ia tak berkedip menatap wajah tampan di sampingnya. Entah, sudah berapa lama ia tak mendengar gelak tawa itu. Mungkin sejak pertengkarannya dengan Meta waktu itu. Ah, mengingat hal itu selalu membuat lukanya kembali mengaga. 

 

Tak ingin larut pada pada kenangan buruk, Diana segera memalingkan wajah dan kembali menatap kumpulan air yang membiru. 

 

"Ok, degan tanpa es aja, ya?" ucap Desta akhirnya. 

 

Daniel sendiri lebih suka memesan kepiting dan ikan bakar. Sementara Desta memilih untuk menyamakan menu dengan sang istri. 

 

Lima belas menit mereka menunggu pesanan datang. Desta mengisi waktu dengan mengajak sang istri untuk mengabadikan momen ini dengan ber-swafoto berdua. 

 

Diana yang jarang berfoto tampak kaku dan malu-malu setiap kali wajah suaminya mendekat dan menempelkan pada pipinya. 

 

"Makanan sudah datang, woy! Jangan foto-foto terus, kasihan adik gue mati gaya nanti!" teriak Daniel kesal. 

 

Dari tadi ia seperti obat nyamuk yang diabaikan. Sementara pasangan suami-istri itu seperti pasangan kasmaran yang tidak tahu tempat. Lebih tepatnya, Desta yang tak tahu tempat. Karena Diana masih sama. Malu-malu meong. 

 

Acara makan berlangsung khidmat. Tak ada yang bersuara kecuali kecapan dari mulut mereka saat mengunyah. 

 

"Diana?"

 

"Eh?" Wanita yang dipanggil namanya langsung menoleh ke sumber suara. Diikuti dua pria di sampingnya. 

 

"Diana! Apa kabar?" 

 

Belum hilang keterkejutan wanita berhijab ini, orang yang menyebut namanya sudah duduk di samping Daniel. Menimbulkan tanda tanya pada dua pria yang sangat berarti dalam hidup Diana. 

 

"Kamu siapa?" 

 

"Oh, kenalkan," pria itu mengulurkan tangan pada Daniel. "Saya Eldi, teman SMA Diana!" 

 

Desta menatap istrinya seolah bertanya 'apa yang dikatakan itu benar?' 

 

Namun sama seperti yang lain, Diana juga tampak bingung. Ia bahkan tak ingat sama sekali dengan pria ini. Karena seingatnya, ia tak pernah berteman dengan cowok semasa SMA. 

 

"Maaf, Eldi siapa ya? Sepertinya kita nggak saling kenal," jawab Diana yang dibalas pelototan eh pria itu. 

 

Antara malu dan gemas, pria yang mengaku Eldi itu menatap Diana dengan mata membola. Lalu dengan santainya, ia mencomot udang krispi milik Diana dan memasukkan ke dalam mulut. 

 

"Kamu Diana si kutu buku, kan? Anak rohis yang selalu menghindari cowok dan tak mau pacaran? Selalu memakai kerudung besar dengan baju lebar dan kaca mata. Aku benar, kan?"

 

Daniel dan Desta saling berpandangan. Sementara Diana menunduk malu menyembunyikan rona merah di pipinya. Ah, kenapa ada yang mengenalnya waktu SMA, sih. Padahal ia tak pernah tampil menonjol di sekolah dulu. 

 

"Aku benar, kan?"

 

"Emang kalau benar mau apa?" Bukan Diana yang jawab. Melainkan Desta yang mulai geram dengan cowok sok kenal ini. 

 

"Kamu ingat nggak, setiap pagi selalu ada cokelat di lokermu?"

 

Spontan Diana mendongak dan menatap Eldi dengan tatapan yang sulit diartikan. 

 

"Apa itu darimu?"

 

Pria itu terkekeh. Mencondongkan badannya ke depan dan berbisik di samping telinga Diana.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!