Dinikahi Calon Ipar
Warisan
Melihat kekagetan mommy, Diana berdiri dan membimbingnya untuk duduk. Ada yang perlu dijelaskan di sini.
Diana menatap suaminya lalu beralih ke abangnya seolah ingin meminta persetujuan untuk menjelaskan statusnya. Kedua pria itu kompak mengangguk.
"Mom, sebenarnya aku dan Bang Daniel kakak adik."
"Apa?!"
Wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tak lagi muda itu membelalak. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya, Tan. Maaf, kami baru bisa memberi tahu sekarang. Karena kami juga baru tahu sesaat setelah Diana menikah dengan Desta."
Daniel berinisiatif untuk menjelaskan mewakili adiknya. Dengan santai ia menjelaskan kronologis hilangnya Diana waktu masih bayi. Lalu menjelaskan bagaimana dia bisa tahu kalau Diana adalah adik kandungnya.
"Jadi keluarga yang berusaha untuk mencelakaimu itu bukan keluarga kandungmu? Oh syukurlah Diana Mommy sangat senang mendengarnya. Karena kamu bukan keturunan keluarga kriminal." Mommy tampak bersungguh-sungguh.
"Awalnya tante sangat shock mendengar kabar bahwa yang meracuni 3 muridmu itu dari keluargamu sendiri. Meski sangat kecewa tapi Mommy berusaha untuk tidak menunjukkannya padamu. Karena Mommy yakin kamu berbeda dengan mereka. Dan nyatanya kamu memang bukan bagian dari keluarga mereka."
Memang benar apa yang dikatakan Marini. Diana berbeda dengan keluarga yang mengasuhnya. Terlebih dengan Meta. Gadis itu terlalu manja dan kekanakan. Apa yang diinginkan harus dituruti oleh ayah dan ibu. Bahkan kerap kali Diana harus mengalah dan berkorban untuk gadis itu.
Kini ia tahu, kalau dirinya adalah bayi yang diculik keluarga kaya karena tidak memiliki keturunan. Sosok bapak yang selama ini ia hormati adalah pewaris tunggal perkebunan sawit milik Haji Damiri. Saat itu pernikahan bapaknya sudah berlangsung selama 5 tahun dan belum dikaruniai keturunan.
Haji Damiri memaksa putra tunggalnya untuk mencari bayi adopsi. Sejak saat itu Diana yang diculik dari kebun binatang karena ditinggalkan oleh orang yang mengasuhnya diambil diam-diam dan dibawa pulang.
Semenjak kehadiran bayi Diana, keluarga itu sangat memanjakannya. Bahkan Diana dianggap anak emas. Di usianya yang masih sangat belia ia sudah diberikan bagian separuh harta dari haji Damiri. Siapa sangka 3 tahun berikutnya lahir Meta.
Karena merasa iri terhadap Diana, orang tua Meta berusaha untuk membuat Diana tak mengetahui tentang harta bagiannya. Hingga saat ini sertifikat kepemilikan ladang sawit seluas 20 hektar masih atas nama Diana.
Sayangnya hingga kini Diana nggak pernah tahu akan hal itu. Justru Desta lah yang mengetahuinya karena pada saat dia mengabaikan Diana, pria itu dikasih tahu oleh Meta.
"Di, Abang nggak tahu kalau ternyata kamu kaya raya," ucap Daniel dramatis.
"Nggaklah, Bang. Diana nggak mau mempermasalahkan soal itu. Lagipula Diana nggak punya hak untuk mendapatkannya."
"Kata siapa enggak punya hak? Kamu sangat berhak Diana, anggap saja itu adalah kompensasi kamu diculik selama ini. Selama 20 tahun lebih kamu dipisahkan dari keluarga dan tidak tahu ibu kandungmu. Bahkan kebun sawit itu tak sepadan dengan apa yang kamu alami selama ini, Diana," ucap Desta meyakinkan istrinya.
"Tapi ... Aku bahkan tidak tahu soal itu, Mas. Aku juga tak tahu di mana letak kebun sawit serta sertifikatnya berada."
Desta menggenggam tangan istrinya. Mengusap lembut dan menatapnya teduh.
"Aku sudah menghubungi pengacara yang ditunjuk kakekmu untuk mengatur masalah ini. Besok, kita temui dia ya? Sudah saatnya kamu mendapatkan hakmu!"
"Tapi nanti keluarga itu akan semakin membenciku," lirih Diana sambil menunduk.
Bagaimana pun dia sudah dibesarkan dengan sangat layak oleh keluarga itu. Dikuliahkan hingga ia bisa mengejar impiannya menjadi guru. Dia tak mengharap apapun dari mereka sebenarnya.
"Tanpa mengungkit masalah ini pun mereka sudah membencimu sejak dulu, Di. Kebaikan dan ketulusan mereka selama ini hanya topeng. Mereka menginginkan bagianmu. Karena untuk mengalihkan nama menjadi nama Meta butuh persetujuan dan tanda tanganmu."
Diana memijat pelipisnya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut mendengar hal ini tiba-tiba. Ia tak menginginkan harta itu. Baginya berkumpul dengan keluarga sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia sudah cukup senang dengan menjadi guru dan mendapatkan hasil darinya.
Sarapan pagi yang seharusnya dilakukan dengan santai, kali ini justru diliputi keseriusan. Diana berharap apapun yang terjadi nanti keluarga yang telah membesarkannya tidak semakin membenci dirinya.
"Apa tidak masalah kalau aku mengambilnya?"
"Tentu saja tidak. Itu hakmu!"
"Tapi bagaimana kalau mereka semakin membenciku?" Lagi, Diana mengatakan itu.
"Apa itu penting bagimu? Sudahlah, Sayang ... kamu nurut saja. Biarkan kami para lelaki yang mengurus hal ini. Kami akan mengembalikan kebahagiaanmu yang terbelenggu selama ini."
***
Di kediaman Meta, kini telah berkumpul semua anggota keluarga. Bapak, Ibu, dan paman. Mereka sedang membahas bagian harta untuk Diana. Mencari segala cara agar kebun sawit itu tak jatuh ke tangan Diana.
Suara ketukan pintu menginterupsi perdebatan mereka. Seorang pria berjas hitam dengan menenteng tas, masuk dan duduk di hadapan mereka.
Dia adalah pengacara yang diberi amanah oleh Haji Damiri untuk mengurus harta warisannya. Mengatur pembagian sesuai wasiat darinya sebelum meninggal.
Kenapa baru dilakukan sekarang, karena syarat pembagian itu baru dilakukan ketika Diana sudah menikah. Dan sebelumnya, kabar pernikahan Diana belum diketahui oleh pengacara ini hingga ia mendengar kabar dari suami wanita itu sendiri belum lama ini.
"Selamat siang, Pak, Bu, saya Erlangga. Pengacara yang ditunjuk almarhum Haji Damiri untuk mengurus pembagian hartanya."
Mereka bertiga saling pandang. Lalu mengangguk kompak.
"Baik, Pak. Silakan duduk," ucap bapak basa basi.
"Baik. Langsung saja saya sampaikan terkait dengan kebun sawit yang ada di Sumatera. Almarhum sudah membaginya menjadi tiga. Dan masing-masing sudah atas nama penerima."
Lagi-lagi ketiga orang itu saling pandang. Lalu Bapak segera menjawab dengan antusias.
"Baik, langsung saja dibacakan, Pak!"
Erlangga tampak mencari seseorang. Kepalanya celingak-celinguk memindai ruangan.
"Bapak mencari siapa?" tanya Ibu.
"Diana. Dia harus ada di sini!"
"Tidak perlu. Kami anak-anak bapak. Dia hanya orang luar!" ucap Bapak setengah emosi.
Sudah pergi saja Diana masih menyusahkan. Kebenciannya kepada wanita itu semakin dalam kala tiba-tiba dari pintu muncul sosok yang disebutkan.
"Apa saya terlambat?" ucap Diana basa-basi.
Sebenarnya ia sudah sangat gemetar. Hatinya ragu melihat wajah-wajah tak bersahabat di depannya.
"Tidak, tidak. Saya juga baru datang, kok."
Pengacara itu membacakan pembagian harta milik almarhum. Jelas tercetak ketidaksetujuan dari wajah ketiga orang itu. Terlebih kala mendengar bagian Diana separuh dari seluruh kebun sawit. Sementara separuhnya lagi dibagi berdua. Untuk Bapak dan Paman.
鈥Ini tidak adil!" teriak Paman di hadapan Diana. Pancaran mata kebencian dari pria itu terlihat mengerikan baginya. Ingin rasanya ia mundur dan merelakan itu semua untuk mereka. Namun ketika mengingat apa yang diucapkan suami dan abangnya itu, kembali mengurungkan niatnya.
"Silakan semua tanda tangan di masing-masing kertas yang sudah saya berikan!"
"Tidak! Saya tidak terima! Wanita ini harus menyerahkan bagiannya pada kami! Dia bukan anak kandung. Nggak berhak untuk mendapatkan hasil jerih payah ayah kami!"
"Sayangnya, ayah anda sendiri yang memberinya. Dan surat perjanjian ini dilindungi payung hukum secara sah. Anda tak bisa menuntutnya!"
"Kurang ajar! Kamu memang pembawa sial!"