Dinikahi Calon Ipar

Dendam Tak Berkesudahan

"Rasakan ini wanita jahat!" Meta semakin mengeratkan tarikannya. Lalu melempar Diana dengan sekuat tenaga. Untung Desta sigap menagkap tubuh sang istri hingga wanita hamil itu tak jatuh menubruk lantai.

 

Sepasang mata elang Desta menatap nyalang pada mantan kekasihnya itu. Tak habis pikir dengan gadis yang pernah dicintainya itu. Kenapa sangat tega pada kakaknya. Meski bukan kakak kandung, tapi Desta tahu bahwa Diana sangat menyayanginya. 

 

Ia sendiri heran, apa yang dilihatnya dari gadis bar-bar ini dulu, hingga membuatnya terjerat terlalu dalam padanya. Ah, sepertinya Desta sedang kerasukan saat itu sampai-sampai tak bisa membedakan cinta dan ambisi.

 

Melihat usahanya untuk mencelakai Diana gagal, gadis itu semakin bringas. Ia melompat secara tiba-tiba dan meninju perut buncitnya. Naas, bukannya mengenai perut itu, Meta meninju udara kosong karena secara gesit Desta berputar dengan membawa istrinya dalam dekapan. Akibatnya gadis berpakaian orange khas penjara itu tersungkur dan mencium lantai. 

 

Emosinya semakin naik kala menyadari mantan kekasihnya mati-matian membela sang istri. Ia kembali bangkit tapi belum sempat menyerang Diana lagi, dua sipir penjara datang dan memegang kedua tangannya. Suara gaduh itu mengundang para sipir untuk mencari tahu apa yang terjadi. 

 

"Lepaskan! Aku hanya ingin membalas dendam pada wanita jahat itu!"

 

"Kalau kamu masih bersikap seperti ini, masa tahananmu akan bertambah. Kamu mau menghabiskan sisa umurmu di balik jeruji besi ini!" bentak salah seorang sipir tepat di samping telinganya. 

 

"Aku nggak peduli! Hidupku sudah hancur sekarang, aku mau wanita sia**n itu juga ikut hancur bersamaku! Bayi itu tak boleh hidup! Aku pasti akan membun*hnya!"

 

Mendengar ucapan Meta tubuh Diana gemetar. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Hal itu itu tak lepas dari perhatian sang suami. 

 

"Tenang, Sayang. Dia nggak bisa melakukan itu. Dia hanya sedang frustasi atas nasibnya. Biarkan dia menerima karma atas kejahatannya," ucap Desta lembut. 

 

Ia mengelus punggung Diana untuk menenangkannya. Membasuh peluh yang menetes dan sesekali mengecup puncak kepala tertutup kerudung itu. 

 

Mata elangnya tak lepas dari Meta yang terus meronta dan meracau saat diseret kembali ke dalam ruangannya. Tempat ia akan menjalani masa tahanan sesuai kesalahan yang ia perbuat. 

 

Meta dijerat hukuman dengan pasal percobaan pembunuhan. Tentu hal itu tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh gadis manja tapi ambisius itu. Ia hanya berpikir untuk menggugurkan kandungan Diana. Siapa sangka justru tiga murid tak berdosa itu yang memakan bekal buatan ibunya. 

 

Secara diam-diam ia menaruh racun dalam makanan itu saat tahu ibunya akan memberikannya pada Diana. Ia sangat marah melihat sang ibu kembali menyayangi kakak angkatnya. 

 

"Kita pulang sekarang?" 

 

Diana tak beruara. Meski sudah tak lagi gemetar, jelas sekali dari tatapannya, kalau dia masih shock dengan kejadian tak terduga itu. 

 

Masih tetap merangkul sang istri, Desta membawanya keluar kantor polisi. Membukakan pintu dan mendudukkan wanitanya dengan lembut. Memasangkan sabuk pengaman lalu menutup pintu perlahan. 

 

Sebelum melajukan mobilnya, sekali lagi pria itu menoleh ke samping. Menggenggam lembut tangan dingin itu dan membawanya ke bibir. Mengecup ringan memberi kekuatan pada calon ibu dari anaknya itu. 

 

"Apa kita perlu ke dokter lagi?" 

 

"Nggak, Mas. Maaf, aku masih nggak percaya dengan kejadian barusan. Maaf," lirih Diana.

 

"Tidak, Sayang. Untuk apa meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu." Diana menatap sendu suaminya. "Karena keegoisanku, kamu harus mengalami semua ini. Maafkan aku Diana. Sungguh aku sangat menyesal."

 

Keduanya berpelukan. Saling menyalurkan kekuatan. Meski tanpa diucapkan, Diana tahu kalau suaminya telah kembali. Seperti pada bulan kedua pernikahannya dulu. Lembut dan penyayang. 

 

Mungkin Allah telah mengabulkan doa-doanya. Dengan kejadian ini, pria yang hampir saja terjerumus pada kemaksiatan, mendapat petunjuk kebenaran. Benar kata guru ngajinya, bahwa cinta yang didasari jawa nafsu akan berakhir luka. Dan cinta karena Allah sudah pasti akan bahagia. Karena Allah yang memberikan cinta. Allah pula yang akan menyatukan mereka dengan cara-Nya.

 

***

 

Aroma masakan Diana memenuhi dapur. Menguar ke seluruh penjuru ruangan. Pagi ini, Desta akan mengajak sang istri berjalan-jalan ke suatu tempat. Ia sengaja mengambil cuti seminggu untuk menebus waktu yang hilang sebelum ini. 

 

Ia turun dengan pakaian casualnya. Menambah kadar ketampanan pria itu meningkat beberapa kali lipat. Ditambah senyum yang tak pudar membuat semua penghuni rumah tertular aura bahagia yang ia taburkan. 

 

"Hem, wangi sekali aromanya, masak apa?" ucap Desta yang tiba-tiba sudah berada di belakang Diana. Melilitkan sepasang tangan kokohnya ke perut buncit wanita itu dan mengelusnya pelan. Mengantarkan sensai nyaman pada wanita itu. 

 

Diana tak menjawab pertanyaan sang imam. Ia sibuk menetralkan degub jantungnya yang berdentam-dentam tak karuan. Matanya terpejam menikmati gerakan aktif calon buah hatinya. 

 

"Wow, dia aktif sekali! Apa dia sedang mengajakku bicara?" ucap Desta antusias. 

 

Tendangan-tendangan dari dalam perut istrinya terasa begitu kuat saat telapak tangannya berputar-putar di sana. 

 

"Sepertinya begitu."

 

Diana mematikan kompor dan berbalik hingga posisi mereka berhadapan. Desta menurunkan kepalanya dan berjongkok di depan Diana. Menatap perut buncit itu dan mengecupnya lembut sambil memejamkan mata.

 

"Apa anak papa sudah nggak sabar ingin melihat dunia?" tanya Desta seolah bayi dalam kandungan itu paham pertanyaannya.

 

"Ia, Papa. Dedek sudah nggak sabar ingin dipeluk Papa sama Mama," ucap Diana dengan menirukan suara anak kecil. Menimbulkan segaris senyum di wajah Desta.

 

"Dedek harus jadi anak yang pintar. Jangan menyusahkan Mama di dalam sana, ya! Nanti saat keluar, Dedek juga nggak boleh menyakiti dan merepotkan Mama. Mengerti jagoan Papa?" 

 

Sebuah tendangan keras kembali dirasakan Desta. Ia menganggap itu sebagai jawaban atas permintaannya. Rasa bahagia ini begitu nyata. Desta tak pernah merasakan dadanya membuncah begini rupa. Seperti ada ribuan kembang api yang meledak-ledak di dalam sana. 

 

"Hem! Apa tidak ada tempat lain untuk bermesraan? Kalian sudah membuat mataku sakit harus melihatnya pagi-pagi!" ucap Daniel yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh dari mereka. 

 

Diana menyembunyikan rona merah di pipinya dengan menelusupkan kepala ke dada bidang suaminya. 

 

"Ck, mengganggu aja! Makanya cari istri biar tahu rasanya dimanjakan istri pagi-pagi!"

 

"Gaya, Lo!" Daniel menarik kursi dan duduk di depan meja makan. Beberapa menu sarapan pagi sudah tersedia di atasnya. 

 

Desta pun mengikuti jejaknya. Menarik kursi untuk sang istri lalu untuk dirinya sendiri. 

 

"Kenapa Lo nggak pernah bilang kalau Diana itu adik Lo yang hilang," ucap Desta setelah menyamankan posisi duduknya. 

 

Saat hendak menjawab, bik Ijah menginterupsi dengan meletakkan menu buatan Diana yang baru selesai dimasaknya. 

 

"Lo nggak nanya!"

 

"Ya, kan Lo bisa bilang ke gue!"

 

"Apa Lo punya waktu untuk itu? Lo sibuk dengan gad--"

 

"Cukup! Jangan sebut dia lagi," ucap Desta dingin. 

 

Diana yang berada di sampingnya berusaha menenangkan suaminya yang mulai emosi. Ya, sejak kejadian di penjara waktu itu, Desta makin membanci Meta. Bahkan mendengar namanya saja ia tak mau. 

 

Nggak salah jika ada yang mengatakan, cintai sesuatu sekadarnya saja dan jangan memembenci sesuatu berlebihan. Karena jika hati berubah, sakitnya akan lebih dalam. 

 

"Mulai sekarang, Lo harus panggil gue Abang! Sebenarnya nggak rela adik kesayangan gue jadi istri Lo yang salat aja masih bolong-bolong!"

 

"Kayak Lo-nya udah bener aja!" Desta menimpuk iparnya dengan sehelai roti tawar tepat ke wajahnya. 

 

"Nggak sopan Lo, ya! Jangan ngadi-adi jadi ipar! Gue bawa Diana ke Aussie tahu rasa Lo!"

 

"Apa? Diana mau dibawa ke Aussie?"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!