Dinikahi Calon Ipar
Fakta Memilukan
"Andai aku tahu kalau aku akan dinikahkan denganmu waktu itu, aku memilih kabur biar Meta tak nekat berbuat jahat."
"Kamu menyesal menikah denganku?" Suara Desta terkesan dingin dan tajam mencipta ketegangan di hati Diana.
"Bu--bukan begitu," lirihnya.
Selanjutnya, Desta melakukan sesuatu yang membuat wanita itu hampir jantungan.
"Mas!" Diana memekik kala tubuhnya tiba-tiba terasa melayang. Serta merta ia mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
Wajah wanita itu memerah dengan jarak sedekat ini. Ia menelusupkan kepalanya pada dada bidang sang imam untuk menyembunyikan rona di ke dua pipi. Saat itulah ia mendengar degub jantung Desta sama cepatnya dengan jantung miliknya.
"Kita mau ke mana, Mas? Kenapa membawaku ke mobil?"
Terlalu sibuk menetralkan debar-debar dahsyat di dalam dada, Diana sampai tak menyadari kalau kini ia sudah di dudukkan dalam mobil.
"Kita ke rumah sakit. Kita harus memeriksakan kandungan, karena aku nggak yakin selama dipenjara kamu makan dengan benar."
Menyadari perubahan suaminya Diana menampilkan senyum terbaik yang selama ini hampir saja hilang. Rasanya bagai mendapat durian runtuh ketika tiba-tiba sang imam berubah menjadi sangat perhatian. Terlebih setelah mendengar penjelasannya bahwa selama ini pria yang yang selalu dingin itu justru berjuang keras untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit Diana tak henti-hentinya mengumbar senyum. Pun sebaliknya dengan dusta yang selama ini ini hampir tak pernah tersenyum di depannya.
"Mas, nanti habis dari rumah sakit kita tengok Meta, ya."
"Untuk apa? Apa kamu masih peduli sama orang yang hampir mencelakaimu? Terbuat dari apa sebenarnya hatimu, Di?"
"Aku hanya ingin mengunjunginya saja, Mas. Bagaimanapun dia itu adikku. Aku sangat menyayanginya karena dia satu-satunya adik yang kupunya. Bahkan aku rela mengorbankan apa saja untuk nya termasuk kebahagiaan ku sendiri."
"Apa kamu akan tetap menyayanginya kalau kamu tahu fakta yang sebenarnya?"
Desta mengurangi kecepatan laju kendaraannya. sesekali ia menatap wajah sang istri yang mulai saat ini menjadi candu bagi dirinya. Senyum yang dimiliki Desta mampu merobohkan dinding es yang menyelimuti nya selama ini.
Iya memang buta selama ini, tak mampu membedakan ketulusan dengan kemunafikan. Iya terlalu buta dengan cinta yang dijanjikan oleh mata sehingga tak bisa mengenali cinta tulus dari sang istri.
Mungkin benar kata orang bahwa kita akan mampu membedakan fakta ketika telah diuji dengan berbagai peristiwa. Termasuk perasaannya pada dua kakak beradik itu. Ia terlalu sibuk mengejar Cinta pertamanya hingga lupa dengan cinta yang sesungguhnya yaitu istri yang telah dinikahi.
"Maksudmu fakta apa Mas? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?"
Desta menyalakan lampu sen kiri. Perlahan ia menepi dan menghentikan mobilnya. Membuka sabuk pengaman lalu memutar tubuhnya menghadap wanita cantik yang duduk di sampingnya.
Helaan nafas panjang terdengar nyaring di telinga, seolah ada beban berat yang harus ia keluarkan dari dalam dadanya. Tangan kanannya terangkat dan membenahi kerudung sang istri yang sedikit miring akibat ia membopongnya tadi.
Tatapan mereka bertemu. Saling menyalurkan perasaan lewar binarnya.
"Kamu sudah siap mendengar kenyataan ini meski menyekitkan? Kamu yakin sanggup mendengarnya?"
Mendapat pertanyaan demikian, Diana ragu-ragu. Apa ia sanggup? Sepertinya Desta tahu banyak sesuatu yang ia tak pernah tahu.
Menarik nafas panjang, mencoba mencari kekuatan dan meyakinkan hatinya untuk kuat dengan apapun yang akan Desta katakan.
"Aku siap, Mas."
"Diana bukan adik kandungmu. 2 bulan lalu dia memperlihatkan dokumen tentang keluarganya. Kamu ternyata bukan anak kandung dari bapak dan ibumu," ucap Desta lirih. Ia ingin melihat reaksi sang istri mendengar fakta ini.
Desta pikir wanita salehah ini akan shock dengan fakta yang baru saja ia katakan. Nyatanya dia terlihat biasa saja. Tak ada keterkejutan sama sekali meski wajhnya sedikit sendu.
"Aku tahu."
"Apa?!"
Kini jutru Desta lah yang terkejut. Tak menyangka kalau istri lembutnya ini sudah lebih dulu mengetahuinya. Tapi dari mana? Bukankah semua data dirinya sudah diubah menjadi anak kandung keluarga itu.
"Aku tahu beberapa hari setelah pernikahan kita." Diana tersenyum tipis. "Awalnya aku menyangkal. Karena Bapak dan Ibu tak pernah memperlakukan aku seperti anak pungut sebelumnya. Baru setelah kejadian itu mereka berubah sikap. Menjadi lebih dingin dan ketus."
"Kenapa kamu diam saja?"
"Terus aku harus bagaimana? Mereka yang selama ini kuanggap keluargaku ternyata bukan. Bahkan mereka sangat membenciku. Katakan, apa yang harus kulakukan?"
Benar. Apa yang harus Diana lakukan? Selama ini tak ada yang benar-benar peduli padanya. Bahkan dirinya yang sudah menjadi suami wanita ini, tak mau peduli. Ia lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya yang ternyata palsu.
Meta tak benar-benar cinta padanya. Ia hanya mengincar hartanya saja. Karena tahu dia adalah pewaris tunggal keluarga Wijaya. Ada berkah dibalik musibah. Itulah yang Desta tahu sekarang. Justru dari musibah yang baru saja dialami sang istri, ia bisa mengambil banyak pelajaran. Kebenaran akhirnya terungkap.
"Dari mana kamu tahu kalau kamu bukan anak kandung mereka?"
"Bang Daniel."
"Apa?!"
Diana akhirnya menceritakan kejadiaan yang menimpanya di apartemen Daniel. Sampai akhirnya pemuda itu melihat kalung yang ia pakai dan diam-diam nelakukan tes DNA.
"Nakal!" Desta mencubit hidung mancung sang istri.
"Jadi aku cemburu pada iparku sendiri selama ini? Kenapa kalian merahasiakan hal sebesar ini padaku?"
"Itu ... itu karena Mas tak mungkin percaya begitu saja. Mas sudah cinta buta pada Meta."
Pria dengan kaos polos warna hitam itu meraih kepala sang istri dalam dekapannya. Ia sungguh bersyukur akhirnya kisah hidup mereka tak jadi berakhir. Ia harus banyak berterima kasih pada sahabat sekaligus kakak iparnya nanti.
***
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Diana. Saat ini ia sedang di-USG oleh dokter kandungan.
Desta tak berkedip melihat calon bayi mungil yang bergerak aktif di dalam perut Diana. Rasa haru menyeruak dalam dadanya. Setitik air menetes di sudut mata pria itu.
""Bayinya sangat aktif dan sehat." Dokter meletakkan kembali alat pemindai perut itu ke tempatnya semula. Lalu berdiri dan duduk ke kursi kebesarannya diikuti Desta dan Diana yang duduk berhadapan.
"Nggak ada keluhan apa-apa kan, Bu?"
"Nggak, Dok."
"Baik, saya kasih vitamin saja ya. Tolong kurangi aktivitas berat."
Setelah selesai dengan urusan itu, pasangan calon ibu dan ayah ini menuju ke penjara. Diana ingin bertemu dengan Meta. Meski Desta sudah membujuknya untuk tidak usah oergi ke sana, wanita ini tetap kekeuh untuk menjenguk.
"Untuk apa kemari, mau menertawakanku?" tanya Meta dingin.
Kebencian gadis itu pada Diana sudah sampai ke ubun-ubun. Beberapa bulan ia menahan, kini rasanya tak perlu disembunyikan lagi. Toh semuanya telah terbongkar. Dunia sudah tahu tentang dirinya.
"Kenapa kamu tega melakukan itu, Ta?"
Suara tawa gadis itu menggema. Seperti kerasukan, ia berdiri dan menarik kerudung Diana. Kejadiannya begitu cepat, hingga Desta tak mampu menghalanginya. Gadis itu benar-benar sudah hilang akal. Melihat perut buncit Diana yang baik-baik saja membuat hatinya terbakar dendam.
"Rasakan ini wanita jahat!"