Dinikahi Calon Ipar
Ternyata Dia Pelakunya
"Ma--mas,"
Untuk sesaat pria ini menegang. Tak menyangka sang istri akan membuka mata saat ia akan mencuri kecupan darinya. Memalukan. Wajahnya sudah memerah. Pria ini sangat menggemaskan kalau sedang salah tingkah.
"Kenapa posisi tidurmu begitu? Lehermu bisa sakit nanti." Desta duduk di pinggir ranjang.
"Tadi aku menunggumu." Wanita ini ikutan duduk. Rasa kantuk yang menggelayut telah sirna begitu saja.
"Ada apa?" Pria ini kembali ke mode datar. Ekspresinya selalu kaku seperti kanebo kering.
"Terimakasih."
"Untuk?"
"Sudah membebaskanku." Senyum Diana mengembang. Andai ia memiliki keberanian lebih, ia ingin menubruk tubuh kekar suaminya. Sayang ia tak punya nyali untuk itu. Padahal sah-sah saja, kan? Mereka sudah halal.
"Bukankah Daniel yang membebaskanmu? Dia selalu jadi pahlawan buatmu, kan?"
Wanita bermata bening itu menggeleng lemah. Mengatur napas untuk menetralkan degub jantungnya yang menggila.
"Bang Daniel baru membawa pengacara. Dia bilang baru mau berdiskusi dengannya. Tadi kulihat, Mas ada di halaman kantor polisi. Aku yakin Mas lah yang membebaskanku."
Diana menunduk sambil meremas sprei hingga kusut. Tak berani menatap mata elang suaminya.
"Kupikir kamu akan selalu menganggap Daniel pahlawanmu."
"Terimakasih. Maaf, sudah membuatmu susah," lirihnya.
Pemuda tampan yang masih memakai pakaian kerja ini merubah posisinya. Menaikkan satu kaki menghadap sang istri. Kini mata mereka bertemu. Ada rasa asing kembali mengganggu. Datak jantung keduanya bekerja seirama. Sangat cepat hingga terasa menyesakkan.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah bebas." Desta mengulurkan tangannya mengelus perut Diana yang sudah membuncit. Gerakan tiba-tiba dari dalam membuat pria itu melotot.
"Dia aktif sekali!" serunya. "Apa dia menyusahkanmu selama di sana?"
Lagi-lagi Diana hanya menggeleng. Iya tak mampu berkata-kata lagi karena sibuk menetralkan jantungnya yang sudah tak karuan.
"Dia memang aktif akhir-akhir ini. Tapi tidak sampai membuatku susah, kok."
Desta beranjak dari duduknya, namun belum sempat ia melangkah tangan kanannya dicekal oleh sang istri.
"Mau ke mana?"
"Membuatkan susu untukmu kamu pasti lupa belum minum susu, kan?"
"Sudah."
"Kalau gitu kamu tidur lagi Ini sudah malam." Desta membaringkan tubuh sang istri. Lalu menata selimut hingga menutupi seluruh tubuh istrinya kecuali kepala.
"Mas, aku sudah nggak ngantuk. Em ... bisakah Mas ceritakan gimana caranya membebaskanku? Soalnya Daddy dan bang Daniel nggak berhasil bernegosiasi dengan polisi."
"Aku membawa bukti-bukti kalau kamu memang tidak bersalah."
"Benarkah? Jadi siapa pelakunya?" Binar di mata Diana kembali bersinar setelah beberapa bulan terakhir tak ada cahaya. Ia sangat penasaran siapa yang tega memfitnahnya. Dan apa sebenarnya motif pelaku?"
"Sudahlah, Di. Besok saja, ya. Besok pasti beritanya akan viral di TV."
Diana mendesah kecewa. Padahal ia sangat ingin tahu. Ia yakin malam ini tidak akan bisa tidur nyenyak karena penasaran. Lalu membiarkan suaminya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Berbagai pertanyaan berputar di kepala. Inginnya kembali tidur seperti perintah suaminya. Tapi matanya seolah enggan tertutup.
Lima belas menit Diana hanya menatap kosong langit-langit kamar. Hingga merasakan sisi lain ranjangnya bergerak-gerak. Memutar posisi menghadap sang suami, wanita ini kembali bersuara.
"Kemana saja Mas selama ini? Kenapa nggak pernah datang ke kantor polisi?"
Pria yang terlihat segar sehabis mandi ini menghadap sang istri. Menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan kepala. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyingkirkan anak-anak rambut Diana dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Saat aku dengar berita tentangmu dari salah satu karyawanku yang kebetulan ibu dari salah satu korban, aku langsung menuju ke rumah sakit. Membantu para dokter untuk menyembuhkan mereka."
Tangan kiri Desta meraih pinggang sang istri. Lalu menarik tubuhnya agar mendekat, hingga kepala wanita itu masuk dalam dekapan hangat sang suami.
Ada rasa haru menyelimuti. Juga seperti ribuan kembang api meledak dalam dadanya. Ini adalah momen yang sudah lama dinantikan keduanya. Saling berbagi cerita sebelum tidur. Sayangnya masalah yang mendera rumah tangganya membuat mereka harus menahan egonya masing-masing.
"Aku memang nggak pernah ke kantor polisi. Untuk apa? Toh kalau aku ke sana tanpa membawa bukti, kamu tidak akan bisa bebas. Lagipula salah satu polisi di sana adalah temanku sekolah. Aku tahu kalau Mommy dan Daddy serat Daniel kerap mengunjungimu. Aku bisa fokus pada anak-anak didikmu yang berjuang nyawa di rumah sakit."
Diana semakin mengeratkan pelukannya. Nyaman. Kehangatan mengalir ke setiap pembuluh kapilernya hingga ke ubun-ubun.
"Keselamatan anak-anak itu menjadi kunci. Kalau mereka tidak tertolong, mungkin kamu akan mendekam di sana lebih lama."
"Terus bagaimana keadaan Sisil, Nina, dan Susi?"
"Mereka sudah melewati masa kritisnya. Bahkan Sisil sudah sadar dan memberi kesaksian kalau makanan yang mereka makan bukan buatanmu. Melainkan bekal yang diberikan ibumu."
"Yah. Itu memang benar. Tapi bukan ibu, kan yang meracuninya?"
Desta tak langsung menjawab. Ia mendaratkan kecupan ringan di kepala istrinya untuk menahan gejolak emosi yang tiba-tiba merajai.
"Sudahlah. Besok kamu tahu sendiri siapa pelakunya. Sekarang mari kita tidur. Aku sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Beberapa hari kurang tidur karena harus memantau kondisi anak didikmu."
Tak mau membantah lagi, akhirnya Diana ikut memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Ajaib, dalam waktu beberapa detik saja ia sudah mampu terlelap ke alam mimpi.
***
Pagi hari Diana sengaja stand by di depan TV untuk melihat sendiri berita tentang kasus yang menimpanya.
Iya begitu fokus sehingga tak menyadari suaminya sudah duduk di sebelahnya sambil menyodorkan segelas susu hamil.
"Minumlah!"
Diana memutar lehernya dan mendapati senyum cerah dari wajah suaminya yang biasanya kaku. Meraih gelas dari tangan kekar pria itu dan menyesap isinya hingga tandas.
Saat itulah berita di TV menayangkan gambar seseorang yang tidak pernah terpikir dalam benaknya. Di sana seorang gadis muda tengah digelandang polisi karena terbukti telah membubuhkan racun dalam makanan yang diberikan kepada Diana.
"Meta. Jadi dia yang sengaja meracuniku?"
Dari penjelasan yang diberikan kepada para wartawan, ia mengungkapkan bahwa dirinya sengaja menaruh racun ke dalam bekal yang dibuatkan ibu untuk kakaknya. Hal itu sengaja ia lakukan supaya janin yang ada di dalam kandungan kakaknya mengalami keguguran. Motif utamanya adalah karena cemburu.
Sebulir kristal menetes di kedua sudut mata Diana. Lalu saling berlomba membentuk sungai kecil di kedua pipinya. Ia tergugu melihat fakta itu. Karena dirinya, Meta nekat menjadi kriminal. Rasa bersalah tetiba mengganjal hatinya. Ia memang nggak suka dengan adiknya akhir-akhir ini. Karena dia, Diana harus menahan luka. Bahkan hampir keguguran waktu itu.
"Maaf," lirihnya.
Desta menatap tak percaya pada wanita di sebelahnya ini. Apa dia tak salah dengar? Bukankah dia hampir saja kehilangan nyawa karena perbuatan jahat adiknya? Kenapa justru dia yang minta maaf? Terbuat dari apa hati wanitanya ini?
"Maaf untuk apa?" Desta menaikkan satu alisnya.
"Karena aku, Meta jadi nekat."
"Bukan urusanku. Dia memang jahat. Dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Tapi ... kalau saja aku nggak masuk dalam kehidupanmu, mungkin dia nggak akan berubah seperti ini."
"Apa kamu lupa justru akulah yang menyeretmu masuk dalam kehidupanku? Aku telah melemparmu ke dalam masalah yang membuatmu menderita selama ini!"
Desta meraih kepala istrinya dan menarik ke dalam dekapan. Mendaratkan ciuman ringan ke puncak kepala itu bertubi-tubi.
Ia tak menyesal telah menjebloskan Meta ke penjara. Satu fakta yang baru saja ia ketahui kemarin, mampu mengubah pandangannya pada gadis itu 180 derajat. Rasa cinta yang dulu sangat besar, berganti benci yang kian dalam.
"Andai aku tahu kalau aku akan dinikahkan denganmu waktu itu, aku memilih kabur biar Meta tak nekat berbuat jahat."
"Kamu menyesal menikah denganku?" Suara Desta terkesan dingin dan tajam mencipta ketegangan di hati Diana.
"Bu--bukan begitu," lirihnya.
Selanjutnya, Desta melakukan sesuatu yang membuat wanita itu hampir jantungan.