Dinikahi Calon Ipar

Kangen Diana

"Abang!" Pria itu menoleh. Matanya membola melihat sang adik sudah berdiri di belakangnya. 

 

"Loh, Diana?"

 

Wanita itu tak mengindahkan keterkejutan abangnya. Ia langsung menubruk tubuh kejar itu dengan perasaan haru. 

 

"Makasih, Bang. Makasih sudah berjuang untuk membebaskanku. Aku yakin Abang pasti bisa mengumpulkan bukti-bukti."

 

Daniel menjauhkan wajahnya. Meraih bahu adiknya dan menjatuhkan tatapan penuh tanya. 

 

"Bebas? Kamu beneran bebas?"

 

"Iya, Bang ... dan ini semua berkat Abang! Makasih, ya. Aku sayang banget sama Abang." Diana kemali memeluk Daniel. Rasa bahagianya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bahkan melebihi bahagianya mendapat hadiah dari bapak saat ia mendapat juara satu waktu sekolah dulu. 

 

"Tapi ... Abang belum melakukan apa-apa untukmu. Ini baru saja mau diskusi sama pengacara. Tapi kamu sudah bebas saja."

 

Ucapan Daniel sukses membuat Diana melepaskan diri dari pelukan hangat sang kakak. Kalau bukan abangnya, lalu pria yang dimaksud pak polisi tadi siapa? 

 

Diana memindai seluruh lingkungan kantor polisi. Tak ada tanda-tanda pria lain di sekitar sini kecuali mereka dan beberapa polisi yang lalu lalang. Hingga netranya menemukan sebuah mobil yang ia kenal terparkir indah di sana. 

 

Di dalam mobil itu terlihat sosok yang menghilang beberapa hari ini. Ketika tatapan mata Diana bertemu dengannya, pria itu buru-buru menaikkan kaca mobilnya dan melaju meninggalkan Diana dengan senyum mengembang. 

 

Ternyata, pria itulah yang membebaskan Diana. Meski sering ketus dan dingin, ternyata dia masih peduli padanya. Entah karena ia adalah istrinya atau karena ia malu memiliki istri yang dituduh kriminal. Namun wanita hamil ini tak ingin mengotori otaknya untuk berpikir buruk tentangnya. Apapun alasan kebebasannya, ia harus berterimakasih padanya. 

 

"Ayo pulang, Bang! Aku sudah rindu kasur empuk yang di rumah. Beberapa hari tidur tanpa kasur, pinggangku sakit semua. Dedek juga semakin aktif di dalam sana," rengek Diana membuat sang kakak tak bisa menolak. 

 

"Baiklah, mari kita pulang!" 

 

Setelah berpamitan pada pengacara yang gagal membela adiknya karena sudah keduluan dibebaskan seseorang, Daniel meninggalkan pria itu dengan maaf berkali-kali. 

 

***

 

"Nya, mau sampai kapan melamun terus? Nyonya juga harus makan, biar tetap sehat," ucap bik Ijah yang sedang memijit kaki majikannya. 

 

Semenjak Diana ditahan, nyonya besar ini sering melamun. Emangat hidupnya semakin redup. Setiap hari ia menatap foto pernikahan anaknya dan menangis diam-diam. Bahkan makanan yang diberikan sang pembantu jarang sekali disentuhnya. Sang suami juga tak mampu membujuk. 

 

"Nyonya mau bibik buatin martabak manis kesukaan Nyonya? Bibik buatin ya, Nya?" 

 

"Bibik mau bikin gulaku naik?"

 

"Oh, iya ya. Bibik lupa kalau Nyonya sudah seumuran bibik. Pasti harus mengurangi makanan yang manis-manis. Kalau gitu bibik buatin karedok aja gimana? Siang-siang gini pasti seger makan karedok, Nya. Hm, bibik udah ngeces duluan bayanginnya."

 

Marini melirik bik ijah dengan raut kesal. Lalu menarik kakinya yang selonjoran dan menekuknya hingga menyentuh lantai. 

 

"Gimana, Nya?"

 

"Apanya?"

 

"Karedok. Bibik lagi semangat, nih. Atau mau salad aja?"

 

"Bibik! Jangan terus-terusan menawariku makan. Aku tuh lagi rindu sama mantuku, bukan pengen makan!" 

 

Wanita yang terlihat lebih kurus itu mencebikkan bibirnya. Bayangan sang menantu yang sedang meringkuk di sel sempit dan dingin menciptakan rasa nyeri di dadanya. 

 

"Diana, mantu Mommy yang paling cantik dan saleha, kamu yang sabar ya, Sayang. Mommy yakin kamu tidak bersalah. Tunggu Daddy membebaskanmu ya, Nak," ucap Marini meratap. 

 

Melihat majikannya sesedih itu, sudut hati bik Ijah ikutan nyeri. Tak terasa ujung matanya basah, menitikkan sebutir bening kristal air mata. 

 

"Sudah, Nya, jangan bersedih terus. Nanti Nyonya sakit. Lebih baik kita doakan saja supaya Non Diana cepat bebas."

 

Kedua wanita beda kasta itu menangis bersama. Meratapi nasib satu orang yang mereka cinta. Diana. Hingga suara bel berbunyi mengalihkan mereka. Satu kali, mereka tetap larut dalam tangisan. Dua kali, mereka saling pandang. Hingga ketiga kali bel berbunyi, akhirnya wanita sedikit tambun itu melangkah menuju pintu. 

 

Matanya membelalak lebar dengan mulut menganga kala melihat siapa yang ada di hadapannya. Untuk sesaat, bik Ijah lupa caranya berkedip. Tangannya mencubit lengannya sendiri. Sakit. Berarti ini nyata. Bukan mimpi. 

 

"Non! Non Diana? Benar ini Non Diana?"

 

"Assalamu'alaikum, Bik."

 

"Wa--wa'alaikumsalam, Non. Eh, beneran ini bukan mimpi. Ya Allah, Non. Akhirnya, Non bebas. Bibik yakin Non nggak bersalah. Ayo, Non kita masuk!"

 

Bik Ijah heboh sendiri melihat orang yang ditangisi sudah ada di depannya. Memutari tubuh Diana seolah meneliti adakah luka di tubuhnya. 

 

"Non Diana baik-baik saja, kan? Pak polisi atau tahanan lain tidak menganiaya Non, kan di sana? Non juga makan kenyang kan?"

 

Lagi-lagi bik Ijah tak memberi kesempatan pada Diana untuk bicara. Padahal dia sudah sangat lelah dan ingin segera berlabuh ke kasur empuknya. 

 

"Bik, bolehkah aku masuk dulu? Pinggangku sakit ini berdiri terus," ucap Diana memelas. 

 

Wanita paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tersenyum canggung mendengar ucapan majikannya. Saking bahagianya, ia sampai tak memikirkan kalau Diana butuh istirahat. 

 

"Apa Mommy ada, Bik? Ada, Non. Tuh di ruang tengah lagi menangis."

 

"Menangis? Emangnya kenapa, Bik? Bertengkar sama mas Desta? Atau sama Daddy?"

 

Kini giliran Diana yang heboh sendiri mendengar mertuanya menangis. Tanpa menunggu bik Ijah, wanita muda itu langsung melesat ke ruang tengah. Benar yang dikatakan pembantunya, Mommy sedang tergugu sambil memeluk bantal sofa. 

 

"Mommy!" Wanita itu terdiam. "Mom?" Pada panggilan kedua, dia mendongak. Lalu kedua bola matanya mengerjap-ngerjap lucu. Untuk sesaat wanita itu seperti bermimpi. Baru saat Diana meraih tangan dan menciumnya, wanita yang masih terlihat sembab itu tersadar. 

 

"Diana sayang, beneran ini kamu, Nak?" Marini langsung menghujani Diana dengan ciuman bertubi-tubi. Lalu membawa tubuh kurus Diana dalam dekapan hangat sang mertua. 

 

"Mommy yakin, kamu memang tidak bersalah. 

Alhamdulillah, akhirnya kamu bebas," ujarnya. "Kamu tidak diapa-apakan setelah waktu itu, kan?"

 

"Tidak, Mom. Setelah Mommy pulang, Diana langsung dipindah ke ruangan lain yang tidak ada penghuninya."

 

Cukup lama keduanya larut dalam kebahagiaan. Saling melepas rindu akibat terpisah beberapa waktu. 

 

"Kamu pulang sama siapa?" Apa Desta sudah menjengukmu?"

 

Diana tersenyum lebar. Meski pria itu tak menjenguk sekalipun, tapi ia sangat terkesan dengan apa yang sudah ia lakukan. Daddy dan Daniel tak bisa membebaskannya. Tapi pria itu memberi kejutan tanpa dinyana. 

 

"Diana pulang sama bang Daniel, Mom. Mommy tahu siapa yang bebasin Diana?"

 

"Daniel juga, kan?"

 

Diana menggeleng. "Bukan. Anak Mommy yang membebaskan Diana."

 

"Benarkah? Manusia kutub itu yang telah mengeluarkanmu dari ruang sempit itu? Ah, ternyata meski sedingin freezer, anak itu punya sisi malaikat juga." 

 

Diana terkekeh geli melihat ekspresi mertuanya yang mirip dengan ABG labil. 

 

***

 

Diana membaca buku yang entah sejak kapan ada di kamarnya. Buku berjudul "Ensiklopedia Kehamilan" itu seperti telah dibuka berulang kali. Sambil bersandar di kepala ranjang ia menunggu kedatangan Desta dengan membaca. 

 

Dasar memang Diana, baru membaca beberapa lembar saja, kelopak matanya tak mampu terbuka. Lama-lama ia tertidur dengan posisi bersandar sambil mendekap buku hingga ia tak tahu tak lama setelahnya sosok yang ditunggu datang. 

 

Desta melangkah memupus jarak. Mengamati wajah damai sang istri yang selama ini ia sia-siakan. 

 

"Maaf. Kamu begitu banyak menanggung derita hidup bersamaku," lirih Desta sambil memindahkan buku ke tempat asalnya. 

 

Ada rasa rindu yang susah ia ungkapkan. Melihat istrinya terlelap dengan posisi yang kurang nyaman, ia berusaha membetulkan supaya lehernya nggak sakit saat bangun nanti. Namun hal itu justru membuat sesuatu dalam dirinya memberontak. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Namun saat jarak mereka tinggal dua inchi, mata indah Diana terbuka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!