Dinikahi Calon Ipar

Bekal Dari Ibu

Pagi ini Diana sudah terlihat sehat. Perutnya juga sudah tak lagi bergejolak. Wajah yang biasanya pucat kembali tampak berseri. Bahkan sekarang terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

 

Ia sudah sangat rindu kembali ke sekolah. Bertemu murid-murid yang cerewet tapi menggemaskan. Bersama mereka, ia bisa tertawa lepas. Apalagi ketika bersama trio ceriwis yang selalu mengikutinya kala makan ke kantin. Selalu ada saja tingkah polah mereka yang membuatnya mengocok perut. 

 

Sekali lagi ia mematut diri di depan cermin. Gamis longgar yang selalu ia kenakan, tak mampu menutupi perutnya yang sudah sedikit membuncit. Setelah memastikan semua barang bawaannya lengkap, wanita berseragam keki dengan model gamis itu turun lebih dulu menuju ruang makan. 

 

Tak perlu menunggu sang suami selesai bersiap. Hatinya masih dongkol mengingat soal susu hamil semalam. Namun ia tetap menyiapkan pakaian kerja suaminya. Katanya hari ini pria dingin itu akan pergi ke kantor. Ada beberapa berkas penting yang harus ditandatangani.

 

Di meja makan sudah tersedia beberapa menu sarapan. Ada roti bakar, nasi goreng seafood, dan salad buah untuk dirinya. Sisa semalam yang masih satu wadah sengaja ia minta kepada bik Ijah untuk menyiapkan. 

 

Diana menjatuhkan bobot tubuhnya di depan Mommy. Mata beningnya terpaku pada segelas susu berwarna putih di samping salad. Seingatnya ia belum beli susu. Mungkin saja bik Ijah yang membelikannya seperti waktu itu. Emang siapa lagi yang akan membelikannya? 

 

"Bibik mampir ke minimarket tadi?" tanya Diana menatap sang ART yang sedang menuang air putih ke dalam gelas. 

 

"Nggak, Non. Apa Non Diana butuh sesuatu?"

 

Wanita cantik berkerudung lebar itu menatap bik Ijah tak percaya. Seolah bertanya siapa yang membelikan susu itu. 

 

"Terus siapa yang beliin susu ini, Bik? Soalnya hari ini rencana aku baru mau beli setelah pulang dari sekolah."

 

Suara kursi berderit membuat Diana memutar lehernya. Tatapannya beradu pada mata elang pria yang membuatnya kesal akhir-akhir ini. Diana yang semula berbicara langsung kicep. Tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan. 

 

"Susunya diminum. Jangan sampai calon anakku kurang gizi dan kurus kayak kamu," ucap Desta ketus. 

 

"Oh, jadi dia yang membelikan susu ini? Kenapa? Bukankah semalam sudah membelikan dengan rasa kesukaan kekasihnya?"

 

Diana menyesap susu itu ragu-ragu. Interaksi keduanya tak luput dari tatapan Mommy yang sejak tadi hanya bergeming, menyaksikan tingkah anak dan menantunya. 

 

Namun belum habis susu itu diminum, wanita yang sudah berpakaian dinas itu tiba-tiba menutup mulut dengan keringat mengucur. Perutnya bergejolak lagi. Spontan ia berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. 

 

Lima menit lebih Diana masih belum kembali ke meja makan membuat pria itu gusar. Dengan langkah panjang ia menyusul sang istri dan menemukan wanita itu sedang menunduk bertumpu pada wastafel. 

 

"Kenapa, apa kamu alergi juga dengan vanilla?"

 

Diana hanya menggeleng lemah. Entah mengapa perutnya nggak mau menerima sesuatu yang berasa vanilla sekarang. Padahal itu dulu favoritnya sebelum hamil. Kemarin juga, ketika ia makan es krim rasa vanilla perutnya langsung menolak. 

 

Setelah membersihkan mulut, wanita hamil ini melangkah gontai meninggalkan suaminya yang masih bergeming. Menatap kepergiannya hingga bayangan tubuh Diana hilang ditelan pintu kamar mandi. 

 

"Bik, bekal yang kuminta sudah disiapin?" 

 

"Sudah, Non. Ini!" Bik Ijah menyerahkan kotak makan yang dimasukkan dalam paper bag ke tangan Diana yang sudah bersiap berangkat. 

 

"Kamu tetap mau berangkat, sayang? Apa tidak sebaiknya dibatalkan saja? Kelihatannya masih lemes gitu," ucap Mommy setelah sekian menit hanya diam. 

 

"Iya, Mom. Diana butuh hiburan. Kalau di rumah terus, bikin suntuk." 

 

"Baiklah. Kamu minta antar suamimu aja ya, biar aman."

 

Diana menggelang. Ekor matanya melirik sang suami yang baru keluar dari kamar mandi. Lalu memutar meja untuk mencium tangan mertuanya dengan takzim. Setelahnya ia melakukan hal yang sama pada suaminya. 

 

"Diana naik motor saja, Mom." Tanpa menunggu respon mertuanya, Diana langsung melenggang pergi menuju garasi. 

 

Dengan langkah lebar, Desta menyusul. Tangannya mencekal lengan kecil sang istri. 

 

"Aku antar!"

 

"Nggak perlu."

 

"Mau membantah suami?"

 

Diana menghembuskan nafas lelah. Ia binggung dengan sikap suaminya yang mirip bunglon. Berubah-ubah. 

 

Di dalam mobil, keduanya hanya diam. Diana memilih untuk menatap jendela, sementara Desta fokus menyetir. Suasana seperti ini membuat keduanya kembali canggung seperti awal pernikahan. 

 

Bunyi dering HP mengalihkan fokus Desta. Menggunakan satu tangan untuk menyetir, satu tangan lainnya untuk membuka gawainya yang terus menjerit minta diangkat. 

 

Belum sempat ia mengucap salam, orang di seberang telepon sudah memberondong dengan berbagai pertanyaan. Pria itu tampak gusar. Alisnya mengernyit dengan rahang terkatup rapat seperti sedang menahan emosi. 

 

"Sudahlah, Met. Nanti aku jelaskan. Sekarang aku sedang menyetir. Tutup dulu telponnya."

 

[...]

 

"Ya. Aku bersamanya." Ekor mata pria itu melirik ke samping. 

 

Diana tahu siapa yang sedang menghubungi suaminya. Bahkan ia yang resmi bergelar istri saja tak memiliki waktu lebih lama dengan suaminya. Sudut hati wanita penyuka buku itu terasa nyeri. Ia semakin yakin untuk menjaga jarak dari pria di sebelahnya. Supaya tidak tergantung padanya hingga sulit melepaskan ketika waktunya tiba. 

 

"Turunkan saja aku di sini kalau kamu mau segera menemuinya," ucap Diana datar. 

 

Tanpa terasa, jemari panjang Desta mencengkeram setir kuat-kuat. Namun ia tetap melajukan mobilnya tanpa mengindahkan perintah sang istri. Untuk ke sekian kalinya ia merasa tertolak oleh istri sendiri. Dan itu telah melukai egonya. 

 

Lima menit kemudian mobil sampai di depan gerbang sekolah. Diana melepas sabuk pengaman, lalu meraih tangan kanan suami dan menciumnya. Ada yang berdesir dalam dada Desta diperlakukan seperti ini lagi. 

 

Setelah wanitanya turun, ia segera melajukan kendaraan menuju kantor. Mengabaikan permintaan Meta untuk datang ke butiknya. Ia sudah bosan dengan tingkah kekanakan gadis itu. Apalagi setelah tahu benihnya berkembang di rahim Diana, seperti ada rantai kuat yang mengikatnya dengan wanita yang selalu menutup aurat itu. 

 

Seninggal suaminya, Diana termenung di depan gerbang. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga sebuah tepukan di pundak membuatnya berjengkit. 

 

"I--ibu?" Kedua mata Diana membola. Wanita yang dirindukannya berdiri di hadapan menampilkan senyum tulus. 

 

"Diana, maafkan ibu, Nak. Maaf, kalau ibu relah mengabaikannmu. Ibu sudah menyakitimu," ucap wanita setengah baya itu. 

 

Diana menggeleng. Segera meraih tubuh tuanya ke dalam dekapan. Menyalurkan kerinduan yang terpendam. Rasanya masih seperti mimpi, orang yang selama ini melimpahi kasih sayang ada di sini. Dia pikir tak akan pernah bisa memeluknya lagi. 

 

"Terimakasih, Bu. Ibu sudah nggak marah lagi sama Diana. Diana minta maaf telah membuat Ibu malu."

 

"Tidak, Nak. Ibu yang minta maaf karena tidak percaya sama kamu." Wanita dengan wajah yang sudah dipenuhi keriput halus itu merenggangkan tubuhnya. Menatap sendu Diana dengan mata berkaca-kaca. 

 

Tangannya terulur menyerahkan kotak makan. "Makanlah! Ibu buatkan rica-rica kesukaanmu," ucapnya lembut. 

 

Lalu tangannya mengelus perut Diana yang sedikit menonjol dari balik gamisnya. 

 

"Sudah berapa bulan?"

 

Selarik senyum terbit dari bibir Diana. "Jalan empat bulan, Bu."

 

"Jaga dia baik-baik. Ini cucu pertama Ibu. Sekarang Ibu pulang dulu, ya. Takut adikmu curiga," ucapnya sambil mengecup kening Diana. 

 

"Hati-hati, Bu!" 

 

Wanita setengah baya itu berjalan cepat menuju seberang jalan. Lalu menyetop taksi dan menghilang dari pandangan Diana. 

 

***

 

Waktu istirahat Diana membawa dua kotak bekal makanannya ke kantin. Rencananya Ia akan memberikan satu kotak untuk ketiga muridnya. Ia tak mungkin memakan dua kotak itu. 

 

Sampai di kantin ia celingak-celinguk mencari keberadaan tiga muridnya. Senyum manis mengembang kala netranya menangkap sosok Sisil sedang duduk bertiga bersama gengnya. 

 

"Boleh ibu gabung di sini?" 

 

"Bu Diana ...! Sini, Bu, duduk di samping Nina!" ajak siswa berkerudung putih. 

 

"Kalian sudah makan? Padahala Ibu mau ngasih bekal ibu untuk kalian," ucap Diana pura-pura sedih. Bibirnya cemberut menyempurnakan sandiwaranya. 

 

Ketiga siswa itu saling berpandangan. Lalu Sisil langsung tersenyum cerah menampilkan deretan giginya yang dipasang behel. 

 

"Nggak papa kok, Bu. Kami masih sanggup memakannya. Iya, kan?" ucapnya riang meminta persetujuan kedua temannya.

 

"Iya, Bu! Kita pasti akan makan sampai habis. Ibu bawa rica-rica masakan ibunya Ibu seperti biasa, kan?" 

 

"Iya. Tadi ibunya Ibu datang mengantarnya. Nih, kalian aja yang makan. Ibu sudah bawa bekal sendiri dari rumah." Diana membuka bekal pemberian ibu dan meletakkan di depan Susan. 

 

Ketiga muridnya itu langsung menyerbu dan memakannya. Ada bahagia menyeruak melihat betapa lahapnya ketiga bocah ini makan rica-rica buatan ibunya. Ia berpikir, besok akan membawakan bekal lagi dari rumah. Namun tiba-tiba, ketiga siswa ini mengeluh pusing bersamaan. Lalu kepalanya tergeletak di atas meja. 

 

"Sisil, Nina, Susan!" teriak Diana panik.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!