Dinikahi Calon Ipar

Salah Paham Lagi

"A--apa maksudmu, Diana?" tanya Desta gelagapan.

 

"Bukankah Kamu sendiri yang bilang kalau pernikahan kita hanya satu tahun?" Diana mendongak menatap wajah suaminya yang tak terbaca. 

 

"Aku hanya mengingatkan pada diriku sendiri untuk tidak terlena dengan pernikahan ini, Mas. Sekarang aku mulai sadar di mana posisiku saat ini di hatimu. Aku tak lebih hanya seorang yang mengisi hidupmu untuk sementara waktu. Ada saatnya aku harus kembali ke asalku."

 

Setelah mengatakan itu Diana memutar kursi rodanya dengan menggunakan jemari dan menjauh dari 2 orang itu. Sepanjang lorong menuju kamar tak henti air matanya berlomba membasahi pipi. Dadanya terasa sesak setelah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan.

 

Sesampainya di kamar Diana termenung di depan jendela. Membayangkan nasib kehidupan dengan sang buah hati kedepannya. Ada rasa yang menyayat di dalam hati memikirkan anaknya kelak tidak bisa memiliki kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.

 

Seseorang masuk tanpa mengusik lamunan Diana. Ia tahu kondisi sang istri sedang tidak baik-baik saja. Terlebih setelah apa yang ia lakukan selama ini. Sepeninggal wanita itu, tadi Daniel mengatakan bahwa istrinya sempat terpuruk bahkan sampai hampir keguguran. Dan itu semua karena kesalahannya. 

 

Perlahan pria itu melangkah ke samping sang istri. Berdiri bersisian dengan Diana yang masih di kursi roda. Menatap luar jendela yang menampilkan lalu lalang perawat dan pengunjung pasien. Tak ada suara yang keluar. Hanya deru nafas masing-masing yang terdengar berat di telinga. 

 

"Nanti dokter akan ngecek kandunganmu," ucap Desta tanpa menoleh. 

 

Lalu kembali senyap. Diana tak suka dengan suasana seperti ini. Namun ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Pria disampingnya ini sangat sukar ditebak. Kadang perhatian, kadang dingin dan cuek. 

 

"Bu Diana, dokter mau memeriksa kandungannya. Berbaring, yuk!" ajak perawat lalu memutar kursu roda Diana. 

 

"Bisa naik sendiri, kan?" 

 

Wanita itu mengangguk. Namun ketika hendak berdiri, Desta langsung mengangkat dan membaringkan tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat Diana terpekik kaget. 

 

"Kita USG ya, Bu."

 

Lagi-lagi Diana hanya mengangguk. Entah mengapa ia tak berselera untuk bicara kala pria yang selalu memorakporandakan hatinya ada di sini. 

 

Perawat mengoleskan gel ke perutnya. Dokter yang memerhatikan wanita itu tersenyum dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang sambil menempelkan alat USG ke perut bawahnya. Netra hitam berbingkai kacamata milik dokter wanita itu menatap monitor dengan fokus. Sementara tangan kanannya bergerak-gerak memainkan alat pemindai itu di atas perut Diana. 

 

"Nah, ini dia calon bayinya. Masih kecil, tapi terlihat sehat," ucapnya kepada Diana yang menatap takjub pada layar monitor. 

 

Ada yang membuncah dalam dada Diana melihat makhluk kecil yang menghuni rahimnya. Seketika rasa haru tak bisa ia tahan. Begitupun Desta yang menatap penuh kagum pada darah dagingnya. Hatinya berdesir melihat calon jagoannya itu. Entah apa jenis kelaminnya. Namun yang pasti, hati pria itu menghangat membayangkan ia akan menjadi ayah sebentar lagi. 

 

"Apa anakku baik-baik saja, dok?" tanya Desta membuat dokter dan perawat menoleh serempak. Pasalnya mereka tak tahu jika Desta telah menikah. 

 

Meski perawat itu sering melihat Desta di ruangan ini semenjak Diana dirawat, tapi ia tak menyangka kalau Desta adalah suaminya. 

 

"Maksud dokter, anak di kandungan bu Diana ini anak dokter?" tanya dokter kandungan itu dengan raut yang tak terbaca.

 

"Ya. Emang anak siapa lagi? Diana istri saya, Dok." 

 

Desta menekan kata istri seolah menegaskan bahwa ia adalah pemilik dari wanita yang mengandung buah hatinya ini. 

 

"Dokter sudah menikah? Kapan? Saya pikir dokter masih pacaran sama Meta. Soalnya seminggu lalu gadis itu--" 

 

"Anda tak berhak mencampuri urusan pribadi saya, dokter!" ucap pria yang masih memakai sneli itu dingin. Ia tak mau Diana tahu kalau dirinya sering mengajak Meta ke sini. Entah karena dorongan apa.

 

Merasa tak enak hati dengan Diana yang hanya mengatupkan bibirnya sejak tadi, dokter dan perawat itu langsung keluar setelah membereskan alat USG dan membawa serta dengan mendorongnya.

 

Setelah kepergian dua wanita itu, Diana memutar tubuhnya memunggungi Desta. Hatinya yang sempat melambung karena Desta telah memamerkan calon anaknya, tiba-tiba sakit kala dokter itu mengatakan hubungan terlarang suaminya.

 

"Di, bisa kita bicara?"

 

"Maaf, Mas. Aku mau istirahat. Kepalaku pusing," elak Diana mencoba menghindari percakapan dengan Desta. 

 

Ia masih belum siap mendengar apapun dari pria yang telah tersemat namanya dalam hati itu. Ia butuh waktu untuk menata hati agar bisa menerima kenyataan jika pria itu akhirnya akan jujur dengan apa yang ia lakukan selama ini. 

 

****

 

Merasa kesal karena tak boleh melakukan pekerjaan apapun oleh Mommy, Diana bangun dan memilih untuk duduk di depan TV. Tiba-tiba ia ingin sekali makan salad buah segar. 

 

Dengan santai ia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Ada beberapa jenis buah yang bisa ia gunakan sebagai bahan untuk membuat salad. 

 

Satu per satu jenis buah ia keluarkan. Ada apel merah, anggur merah, kiwi, strawberry, pear, dan buah naga. Pertama-tama ia mencuci buah-buah itu dan mengupasnya. Lalu memotong kecil-kecil dan dimasukkan dalam wadah. Ia yang tak suka mayonaise mencampur potongan buah-buahan itu dengan yogurt. Lalu menambahkan parutan keju di atasnya. 

 

Sesekali ia mecolek susu fermentasi itu dan memasukkan ujung jarinya ke mulut. Memejamkan mata sambil menikmati sensasi asam bercampur manis itu dengan penuh penghayatan. Ia tak menyadari ada soson yang memerhatikannya sejak tadi. 

 

Salad itu cukup banyak jika ia makan sendirian. Maka ia membagi dua wadah dan menyimpan satunya ke dalam freezer. Lalu membawa satu wadah kembali ke ruang TV. 

 

Diana tampak menikmati makanan sehat itu hingga tak memerhatikan sekitar. Seseorang duduk disampingnya dan menyodorkan segelas susu rasa mocca kepadanya. 

 

"Minum!"

 

"Apa ini?" tanya Diana ragu-ragu. Pasalnya ia tak tahu kapan pria ini membuatnya.

 

"Susu ibu hamil. Aku nggak tahu rasa apa yang kamu suka. Kalau Meta, sudah pasti dia suka sama mocca, jadi aku belikan saja kamu susu rasa mocca," ucapnya datar. 

 

Tangannya masih mengawang di udara sambil memegang gelas berisi cairan merwarna mocca itu. 

 

Mencium aromanya, Diana sudah hampir muntah. Perutnya bergolak seperti ada yang mendorong dari dalam. 

 

Dia membelikanku susu rasa kesukaan Meta dengan alasan nggak tahu kesukaanku? Apa ia tak bisa bertanya dulu? Kenapa harus mengikuti selera Meta? 

 

Wajah Diana sudah memerah. Semenjak hamil, emosinya semakin tak terkontrol. Mudah sekali ia menangis hanya karena hal-hal sepele. 

 

"Cepetan minum! Capek nih, megangin dari tadi," ucap Desta ketus. 

 

"Aku nggak mau. Minum aja sendiri," lirih wanita yang matanya sudah dipenuhi kaca-kaca itu.

 

"Gila apa? Ini tuh susu khusus ibu hamil. Aku tadi muter-muter nyari susu terbaik ini ke minimarket 24 jam. Jangan membuat usahaku sia-sia!"

 

"Aku nggak mau!" 

 

"Ck. Kenapa sih? Susah banget diatur!" geram Desta.

 

"Aku alergi mocca!" Wanita itu berdiri dan melangkah cepat ke kamarnya.

 

Sungguh ia sudah tak tahan dengan sikap kasar suaminya. Kalau memang tidak ikhlas, untuk apa ia membelikannya? Lagian apa susahnya sih, bertanya apa kesukaannya?

 

Desta menatap punggung kecil istrinya dengan nanar. Ada penyesalan menyusup dalam hatinya. Hendak mengejar tapi tubuhnya seolah terpaku di kursi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!