Dinikahi Calon Ipar
Calon Ayah
Acara makan malam berlangsung kaku. Desta terlihat lebih banyak melamun. Hanya Mommy yang sesekali bercanda dengan menantunya tanpa digubris oleh Desta. Ucapan mommy tentang cucu sedikit banyak memengaruhi pikiran pria itu.
Apakah benar Diana hamil? Tapi kenapa dia nggak pernah mengatakannya padaku?
Membayangkan hal itu ada yang berdesir dalam dada Desta. Entah mengapa hatinya terasa gembira mendengar bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Kamu mau ke mana Des? Apa tidak rindu sama mommy? Kenapa buru-buru sekali masuk kamar?"
"Sorry, Mom, Desta sangat capek. Lebih baik Mommy juga istirahat, besok kita baru ngobrol, oke?"
Tanpa menunggu jawaban mommy, pria itu langsung melangkah menuju kamarnya. Segera ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh sekaligus mendinginkan pikirannya. Tepat pukul 10 malam ia membaringkan tubuh di ranjang dan mencoba memejamkan mata meski pikirannya terus melayang pada ucapan mommy.
Suara pintu terbuka membuat pria itu sedikit membuka kelopak matanya. Dari ekor mata ia bisa melihat sang istri berjalan ke arahnya dan duduk termenung di sana. Ada rasa rindu yang ingin Ia sampaikan namun lagi-lagi egonya mengalahkan.
Tangan kanannya terulur untuk membelai punggung kecil sang istri, namun hanya bisa mengawang di udara. Lalu menarik kembali tangan itu dan bersedekap sambil merapatkan kelopak matanya lagi. Hingga ia merasakan adanya pergerakan di sebelah ranjangnya.
Aroma vanila menguar dari sebelahnya menusuk hidung dan tiba-tiba membuat kepalanya yang pening terasa lebih rileks. Aroma ini adalah aroma yang ia rindukan selama beberapa minggu terakhir ini. Hingga tanpa terasa kesadarannya terenggut membuatnya terjatuh ke alam mimpi.
Pukul 3 pagi Desta terbangun karena mendengar suara muntah-muntah dari dalam kamar mandi. Matanya terbuka dan melihat ranjang sebelahnya telah kosong. Dengan gerakan cepat pria itu segera menyusul ke kamar mandi dan melihat sendiri bagaimana sang istri berusaha menahan gejolak di perutnya.
Dari pantulan cermin ia bisa melihat wajah pucat istrinya. Lalu kembali wanita itu memuntahkan isi perutnya hingga membuat Desta merasa iba.
Tangan kanan pria bertubuh kekar itu terulur mengelus lembut punggung Diana. Untuk sesaat tubuh itu menegang. Namun setelahnya kembali rileks kala menyadari orang yang dirindukan telah bersiri di belakangnya. Melalui pantulan cermin di depannya ia bisa melihat raut khawatir sang suami. Seperti sebuah keajaiban, rasa mual yang membuatnya susah tidur dan harus bolak-balik ke kamar mandi tiba-tiba hilang mendapatkan sentuhan itu.
"Apa masih pengen muntah lagi?" tanya Desta mengagetkan Diana.
"Enggak, Mas sekarang sudah mendingan, terima kasih."
Desta menatap tubuh istrinya yang semakin kurus dengan mata cekung dan wajah pucat. Hatinya terasa teriris menyaksikan penderitaan sang istri selama ini. Ketika ia hendak memapah tubuh Diana yang lemas, tiba-tiba tubuh itu ambruk dalam dekapannya. Tanpa aba-aba pria itu langsung mengangkat tubuh ringkih sang istri dan membawanya kembali ke ranjang.
Dengan telaten pria yang sebentar lagi akan menjadi Ayah ini membalurkan minyak kayu putih ke kaki dan telapak tangan Diana yang terasa dingin. Lalu mengelus perutnya yang terasa sedikit menonjol itu. Dadanya bergetar merasakan kulitnya menempel pada perut Diana yang berisi calon anaknya.
"Maaf. Maaf. Maafkan Aku." Hanya itu yang bisa ia katakan meskipun sang istri mungkin tak bisa mendengarnya karena pingsan.
Pria itu lalu mengambil alat medisnya yang ada di dalam tas dan mengukur suhu serta tensi sang istri. Lalu menyorot matanya dengan senter khusus miliknya. Dari sana ia tahu bahwa istrinya mengalami darah rendah dan mungkin juga anemia. Setelah mengganti baju tidurnya dengan setelan hem dan celana bahan, pria itu meraih kerudung instan dalam lemari dan memakannya pada yang iatri. Lalu langsung keluar menuju kamar mommy.
"Mom, Mommy bangun!" teriak Desta dari luar pintu. Tak berselang lama pintu terbuka menampilkan sang mommy yang baru bangun tidur.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat begitu khawatir Desta?"
"Diana, Mom. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Ada apa dengan Diana?"
Tanpa menjawab pertanyaan mommy Desta langsung berbalik ke kamar dan mengangkat Diana ke bawah. Sambil berlari dia berteriak pada Mommy untuk membuka pintu garasi agar ia bisa masuk ke dalam mobil.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Desta melajukan mobilnya menuju Rumah sakit tempatnya bekerja. Sampai di sana ia langsung masuk ke UGD dan membaringkan tubuh ringkih istrinya di salah satu brankar yang ada di sana.
"Tolong periksa istri saya, Dok!" ucapnya kepada dokter Vera yang sedang berjaga.
"Baik, dokter bisa keluar dulu supaya saya leluasa memeriksanya?"
Pria itu mengangguk dan keluar lalu menutup pintu UGD. Di depan ruangan itu terlihat Mommy sedang duduk menantinya. Wajahnya tak kalah khawatir dengan dirinya.
"Duduklah, sayang kamu membuatku pusing!"
Desta mengangguk dan duduk disamping mommynya. Kepalanya menunduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Sesekali ia mengacak rambutnya sambil mengerang frustasi.
"Ini salahku, Mom. Aku terlalu sibuk hingga tak tahu kalau dia hamil. Bahkan tak pernah memperhatikan makannya," lirih pria itu masih dengan menunduk.
"Sudahlah sayang lebih baik kita berdoa saja semoga mantu dan cucu Mommy baik-baik saja."
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Serentak keduanya berdiri dan mendekati dokter Vera dengan harap-harap cemas.
"Bagaimana kondisinya, Dok?"
Sebelum menjawab dokter Vera menghela nafas panjang dan menatap Desta serta Mommy bergantian.
"Tekanan darahnya sangat rendah dari hasil pemeriksaan lab Hb-nya juga sangat rendah. Apa dokter sudah tahu kalau bu Diana hamil?"
Pria itu mengangguk. Lalu kembali bertanya. "Bagaimana dengan bayinya?"
"Syukurlah Jalan bayi dokter sangat kuat. Tapi sekarang Dokter harus cari pendonor untuk menambah darahnya karena kebetulan stok darah AB di rumah sakit ini sedang kosong."
Desta tampak berpikir, sejenak pandangannya kosong. Iya tak tahu harus minta bantuan kepada siapa karena berdasarkan cerita dari Meta Diana bukan saudara kandungnya sehingga kemungkinan golongan darah mereka sama sangatlah kecil. Tapi nggak ada salahnya dicoba bukan?
Sebagai dokter ia tahu bahwa jenis golongan darah AB di Indonesia memang tidak sebanyak golongan darah lainnya. maka wajar jika rumah sakit ini mengalami kekosongan jenis golongan darah itu.
Jemarinya dengan cekatan membuka gawainya dan menghubungi seseorang yang yang kemungkinan bisa menolongnya.
[Ada apa Sayang kenapa pagi-pagi sekali menelponku?]
Entah mengapa mendengar nada suara manja si Meta perut Desta terasa mual. Dulu dia sangat menyukai suara ini. Namun sekarang rasanya iya sangat membencinya entah karena alasan apa. Namun demi sang istri dan calon buah hatinya Ia harus rela berhubungan lagi dengan wanita yang beberapa hari ini selalu mengganggunya.
"Met, apa keluargamu ada yang bergolongan darah AB?" tanya Desta tanpa basa-basi.
[Memangnya kenapa? Apa ada yang sedang sakit?]
"Ya, salah satu pasien di rumah sakit ini ada yang butuh donor AB. Tapi stop di rumah sakit dan PMI sedang kosong. Apa ada yang bergolongan darah sama di keluargamu?"
[Sayangnya tidak ada kami semua bergolongan darah O]
Desta mendesah kecewa lalu menutup panggilan tanpa mengucap salam. Seketika ingatannya tertuju pada Daniel sahabatnya. Pria itu juga bergolongan darah AB. Dulu saat Daniel kecelakaan dan mengalami pendarahan ia pernah menolong membawanya ke rumah sakit, sehingga ia tahu kalau pria itu bergolongan darah AB.
[Sayangnya tidak ada kami semua bergolongan darah O]
Desta mendesah kecewa lalu menutup panggilan tanpa mengucap salam. Seketika ingatannya tertuju pada Daniel sahabatnya. Pria itu juga bergolongan darah AB. Dulu saat Daniel kecelakaan dan mengalami pendarahan ia pernah menolong membawanya ke rumah sakit, sehingga ia tahu kalau pria itu bergolongan darah AB.
Tanpa menunggu lama Ia lalu menghubunginya dan meminta untuk datang ke rumah sakit karena Diana sedang butuh transfusi darah.
Entah bagaimana caranya pria yang dipanggil Daniel itu sampai di rumah sakit dalam waktu 15 menit. Padahal jarak antara tempat tinggalnya dengan rumah sakit cukup lumayan jauh dan biasa ditempuh dalam waktu 30 menit.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa Diana bisa sampai membutuhkan darah?" cecarnya begitu melihat Desta di depan UGD.
"Hb-nya sangat rendah. Dia butuh transfusi darah. Bisakah kamu menolongnya?"
Daniel terkejut mendengar penjelasan Desta. Rahangnya mengeras dengan wajah yang sudah memerah.
"Puas kamu sekarang? kamu terlalu sibuk dengan wanita manja itu sehingga tak pernah memperhatikan istrimu sendiri! Kalau terjadi apa-apa sama Diana akan ku tuntut kau!" ucapnya sambil mencengkram kerah baju Desta.
"Kau! Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan! Jangan bertindak seolah-olah kaulah suaminya!" Desta mencengkeram kembali tangan Daniel dan menghentaknya kasar. Tatapannya berubah dingin. Kalau dia sedang tak butuh bantuannya sekarang, sudah pasti ia melayangkan tinjunya pada pria yang selalu membakar hatinya ini.
"Kalau kau memang tidak bisa membahagiakannya lepaskan saja dia daripada menderita hidup bersamamu! Aku pasti Bisa membahagiakannya!" tegas Daniel lalu menjauh darinya.