Dinikahi Calon Ipar

Kurang Semakin Dalam

Dua hari ini Desta disibukkan dengan urusan perusahaan. ya, selain berprofesi sebagai dokter Desta juga merupakan seorang CEO dari perusahaan terkenal yang bergerak di bidang farmasi dan alat kesehatan. 

 

Kemarin saat dia sedang mengistirahatkan diri karena selama ini terlalu sibuk dengan pasien, tiba-tiba mendapat kabar dari perusahaan cabang yang ada di Samarinda bermasalah. Dana yang cukup besar digelapkan oleh seorang oknum dari perusahaan itu sendiri.

 

Mau nggak mau pria itu harus terbang langsung ke Samarinda untuk mengusut kasus penggelapan dana yang merugikan perusahaan. Pikirannya hanya fokus pada pekerjaan sehingga ia melupakan masalahnya yang belum terselesaikan dengan sang istri.

 

Sementara di sisi lain Diana yang sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah mulai membaik mulai bertanya-tanya kemana suaminya selama ini. Bi Ijah yang selalu memberikan informasi padanya juga tak tahu kemana sang majikan sekarang.

 

Padahal besok adalah hari ulang tahun suaminya. Diana sudah mencoba untuk melupakan kejadian waktu itu dan sekarang yang ia sedang menyiapkan kejutan untuk sang suami. Rencananya Ia juga akan meminta maaf kepadanya meski ia sendiri sebenarnya nggak salah. Bagaimanapun ia tak mau rumah tangganya hancur karena kendala komunikasi. Iya harus segera menyelesaikan kan masalah ini agar kembali bersatu.

 

"Bi, apa nggak ada kabar dari Mas Desta?"

 

"Nggak ada, Non. Terakhir bibik lihat Aden pergi dengan membawa sebuah koper. Waktu bibik tanya mau pergi ke mana dia hanya menjawab kalau ada masalah di perusahaan."

 

Diana mendesah kecewa tatapannya memindai ruang tengah yang sudah ia hias sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan sang imam. Iya juga sudah menyiapkan makan malam romantis di tengah ruangan itu dengan sebuah kotak berisi kejutan yang akan diberikan kepadanya.

 

Berkali-kali wanita itu melirik jam dinding. Lalu melihat ponselnya berharap ada sebuah notifikasi pesan atau panggilan. Namun hingga jarum jam menunjukkan pukul 12 malam tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang. Ingin menghubungi orang kantor, Diana tak kenal siapapun di kantor suaminya. Bahkan ia juga belum pernah datangbke kantornya. Berulangkali ia menarik napas berat. Seolah ada bongkahan batu besar menindih dadanya hingga membuatnya sesak.

 

Malam ini Bi Ijah juga diminta untuk menginap sehingga wanita itu tak sendirian lagi di rumah. Sebenarnya nggak cuma malam ini, semenjak pulang dari rumah sakit wanita paruh baya itu memang memilih untuk menemani sang majikan kesayangan. Dan selama Bi Ijah berada di sana tak pernah sekalipun melihat Desta pulang. 

 

Wanita paruh baya itu merasa iba kepada majikan yang sangat ia sayangi layaknya anak sendiri. Lalu melangkah mendekati Diana yang terus memfokuskan pandangannya ke arah pintu. 

 

"Sepertinya Den Desta nggak pulang lagi, Non. Lebih baik non istirahat saja di kamar nanti kalau kalau aden pulang bibik bangunin. Non kan harus banyak istirahat. Kasihan dedeknya di dalam," ujarnya lembut. 

 

"Tapi Bi aku ingin menunggunya pulang. Aku ingin memberinya kejutan indah ini, Bik." Kedua pipi Diana sudah membentuk parit. Air matanya mengalir deras mengingat suaminya yang acuh beberapa hari ini. Bahkan selama ia di rumah sakit, tak sedikitpun ia berkirim kabar. 

 

"Iya, Non. Bibik tahu. Tahu sepertinya Aden nggak akan pulang malam ini. Soalnya ini sudah lewat tengah malam. Ayo, Non, bibik antar ke kamar!" Wanita paruh baya itu menggiring sang majikan menuju kamarnya. 

 

Hatinya ikut nyeri melihat majikannya diperlakukan begitu. Padahal rumah tangga mereka sudah mulai normal kemarin hingga mantan kekasih tuannya menghancurkan semuanya. 

 

Karena merasa letih dan ngantuk Diana akhirnya menuruti ucapan sang ART. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah lalu memejamkan mata meski hatinya nya terasa sakit. Gelas Kenangan bersama sang suami berputar-putar di kepala. Semakin lama wanita itu larut dalam kenangan semakin membuat hatinya nyeri. 

 

***

 

Dua minggu telah berlalu. Masalah perusahaan sudah bisa dikendalikan. Penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu oknum petinggi perusahaan sudah diusut hingga ke akar-akarnya. Dista merasa lega karena akhirnya perusahaan kembali normal. Dan kini saatnya iya untuk pulang.

 

Pria itu sengaja memilih penerbangan tercepat agar bisa segera sampai di rumah. Iya ingin mengistirahatkan kepalanya yang panas selama 2 minggu mengurus perusahaan. 

 

"Mas, kamu sudah pulang? dari mana saja?" tanya Diana yang yang saat itu sedang Bang santai di depan rumah. Mengamati pemandangan taman depan dengan air mancur yang menyegarkan. Hal itu menjadi hobi baru Diana selama mengambil cuti dari mengajar. 

 

"Ya, aku capek mau istirahat tolong jangan ganggu aku!" jawab Desta ketus. 

 

Bagai ditusuk sembilu Diana mendapatkan kan jawaban seperti itu. Apa yang ia bayangkan ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Suaminya masih saja ketus dan dingin terhadapnya. Seolah terdapat jurang pemisah di antara mereka. 

 

Dengan tatapan nanar Diana memandang punggung suaminya yang semakin menghilang ditelan pintu. Sungguh iya ya sangat kecewa dengan sikapnya. Tiga minggu tak bertemu Diana berharap hubungan mereka bisa kembali mencair. Namun nyatanya tetap dingin dan beku.

 

"Ah mungkin dia sedang capek," pikir Diana membesarkan hatinya. Lalu iya berjalan masuk dan membantu pipi membuat makanan. Iya berharap setelah istirahat nanti sikap suaminya akan berubah hangat seperti semula. 

 

Dengan senyum yang terus merekah wanita yang sedang hamil itu menunjukkan aksinya mengolah makanan. Meski bibik sudah melarang dan menyuruhnya untuk beristirahat saja namun wanita itu tak mau menggubris. 

 

Setelah adzan zuhur tiba Diana masuk ke kamar untuk membangunkan sang imam. Perlahan ia mendekat dan mengamati wajah damai suaminya yang sudah lama sangat ia rindukan. 

 

"Mas bangun salat dhuhur dulu, yuk!"

 

Tak ada respon. Pria itu tetap bergeming seolah larut dalam mimpi indah. Sekali lagi Diana mencoba membangunkannya dengan menepuk halus pipinya. 

 

Merasa terganggu perlahan kelopak mata yang ditumbuhi bulu lebat itu membuka. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah cantik Diana. Namun bukannya senyum yang ia berikan pria itu justru menampilkan wajah judesnya. 

 

鈥 Apaan sih, mengganggu saja sana keluar!"

 

Mendapat respon seperti itu Diana hanya bisa mematung. Tubuhnya membeku seolah terpaku dengan bumi. 

 

"Kenapa masih di situ cepat keluar! Kamu sudah mengganggu tidurku," bentak Desta. 

 

Pria itu lalu memunggungi Diana dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dengan perasaan hancur Diana melangkah keluar. Bukan ini yang ia harapkan. Ia hanya ingin membangunkan suaminya untuk melaksanakan ibadah seperti yang ia minta dulu. 

 

Dengan derai air mata wanita itu turun menuju ruang makan. Menumpahkan tangisnya di sana tanpa memedulikan bik Ijah yang memandangnya penuh tanya. Diana tak tahu dimana letak salahnya hingga pria itu berani membentak dan mengusirnya keluar dari kamar. Padahal ia membangunkan dengan sangat lembut. 

 

Setelah mendengar pintu tertutup Desta membuka selimutnya dan duduk bersandar pada ranjang. Iya tahu apa yang ia lakukan sudah sangat keterlaluan. Namun perkataan Mita dan bapaknya beberapa hari lalu membuatnya bimbang dan tak tahu harus mempercayai siapa. 

 

Sebenarnya ada rasa rindu yang menyusup dalam kalbu. Namun lagi-lagi egonya mengalahkan kerinduan yang ia pendam. Inginnya tak percaya meskipun hatinya menyangkal. 

 

Selama 3 bulan ia bersama Diana tak pernah sekalipun ia melihat keburukan dari wanita itu. namun entah mengapa sejak bertemu dengan Meta di klub waktu itu semuanya jadi berubah pikirannya kacau, hatinya gundah, sehingga ia tak mampu untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan dalam waktu dekat.

 

Setiap kali ia memandang mata sendu istrinya hatinya seperti dicubit namun perkataan keluarga Meta terus berputar menghantam sisi lain dari hatinya. Pria itu mengusap rambutnya secara kasar dan mengerang frustasi. "Ya Tuhan aku harus bagaimana?"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!