Dinikahi Calon Ipar
Tunggu Tanggal Mainnya
Suara pintu tertutup membuat pasangan ibu dan ayah berjangkit kaget. Mereka menatap putrinya yang datang dengan wajah kesal. Tak lama kemudian terdengar suara benda-benda dibanting dari kamar putrinya. Lalu cerita tangis gadis itu memenuhi ruang kamarnya.
"Pak, kenapa kenapa dengan putri kita?" tanya ibu dengan raut khawatir.
Bapak yang tak tahu hal itupun hanya bisa menggeleng. Lalu keduanya berjalan menuju kamar sang putri.
"Meta, ada apa nak? Buka pintunya, sayang!" teriak ibu.
"Meta! Meta sayang buka pintunya!" Kali ini bapak yang memanggil. Namun hingga gedoran pintu semakin keras gadis itu tak sedikitpun terpengaruh. Teriakan demi teriakan menggema dari dalam kamar.
Merasa khawatir dengan kondisi putrinya, bapak berinisiatif untuk membuka pintu kamar itu dengan menggunakan kunci cadangan. Alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan yang sudah mirip kapal pecah.
Gadis itu meringkuk di pojok kamar dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Rambut acak-acakan, mata sembab, dan baju kusut.
Orangtua mana yang hatinya tak hancur melihat putri semata wayangnya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ibu mendekati gadis itu dan merengkuhnya dalam dekapan hangatnya.
"Kenapa bisa seperti ini, Nak? apa sebenarnya yang terjadi padamu?"
Bukannya menjawab gadis itu justru mengeraskan suara tangisnya. Tubuhnya bergetar hebat. Kedua tangannya mencengkeram baju ibunya. Nafas gadis itu tersengal, dadanya sesak akibat menahan gejolak yang kian menjadi.
"Nak, Jangan seperti ini, tolong katakan pada ibu apa sebenarnya yang terjadi?"
"Desta Bu. Desta menghianatiku. Dia sudah jatuh cinta pada wanita itu. Aku nggak terima, Bu. Ini nggak adil buatku," teriak gadis itu dalam dekapan ibunya.
"Sabar sayang. Belum tentu itu benar. Hanya kamu yang dicintai Desta. Nggak mungkin perempuan itu bisa memiliki Desta. Karena kamu jauh lebih sempurna darinya."
"Tapi, Bu ... Desta yang mengatakannya sendiri padaku kalau dia mencintainya. Aku sudah kehilangannya, Bu. Apa yang harus kulakukan?"
Di hadapan mereka, Bapak sudah menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangan hingga menampakkan buku-buku jarinya yang memutih. Pandangan matanya menggelap. Ada emosi tertahan yang siap menghancurkan apa saja.
"Kurang ajar! Dasar anak tidak tau diuntung! Kalau tahu begini balasannya, nggak mungkin aku mau membesarkannya! Dia sudah merenggut segalanya dari keluarga ini. Tak kan kubiarkan dia merenggut kebahagiaan putriku."
Pria paruh baya itu berjalan menuju nakas lalu mengambil benda pipih yang masih tercolok dengan soket listrik dan menyerahkannya kepada Meta.
"Telepon Desta sekarang suruh dia kesini saat ini juga! Bapak mau bicara padanya!" perintah bapak pada anak gadisnya mutlak.
Ia tahu hati putrinya sedang hancur saat ini. Namun masalah ini harus segera diselesaikan. Iya ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Pria yang telah menghancurkan putrinya.
Dengan tangan bergetar gadis itu meraih benda pipih yang disodorkan kepadanya dan memencet tombol telepon untuk menghubungi Desta.
Pada panggilan pertama terlewatkan begitu saja. Lalu ia kembali melakukan panggilan selanjutnya namun lagi-lagi panggilannya diabaikan. Tak hilang akal gadis itu menuliskan sesuatu melalui aplikasi hijau dan mengirimkannya kepada pria yang saat ini membuat hatinya kecewa.
[Datang ke rumah sekarang, bapak mau bicara]
Terlihat centang dua. Namun hingga beberapa menit ia menunggu tidak juga berwarna biru. Ia merasa kesal dan langsung membanting benda itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
"Bapak lihat kan, dia sudah tak mempedulikanku lagi sekarang? Ini semua salah Bapak, kalau saja waktu itu tak menikahkannya dengan wanita perebut itu, pasti sekarang dia sudah bersamaku."
Meta menangis pilu. Tangannya memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa kian sesak berharap dengan begitu semua beban yang menghimpitnya hilang tak berbekas.
"Sudahlah, Nak, kamu itu gadis yang pintar. Datanglah ke rumahnya dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Bapak percaya kamu bisa mengatasinya."
Seperti mendapat angin segar gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang misterius.
"Terima kasih Pak, Meta tahu apa yang harus Meta lakukan sekarang. Mungkin satu-dua hari ini Meta akan membiarkan mereka bersenang-senang dulu."
Seperti artis profesional, gadis itu sangat pandai mengubah emosinya. Air mata yang semula mengalir deras kini berhenti berganti dengan tawa jahat yang mengerikan.
***
Desta, pria berbadan tegap dengan mata setajam elang itu terus menatap pintu. Terhitung sudah dua jam sejak kedatangannya dari mall tadi, ia duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu sang istri.
Sesekali ia memutar lehernya untuk menatap jam dinding. Ia sudah menyiapkan banyak kalimat untuk berbicara dengan wanita itu. Bahkan saking fokusnya, ia mengabaikan panggilan dari Meta.
Ah, ngomong-ngomong soal gadis itu, kini tak ada lagi getaran halus di dadanya setiap kali bertemu dengannya. Tak ada lagi rasa rindu yang dulu selalu menggebu setiap kali berjauhan darinya. Semuanya tergantikan oleh sosok wanita yang semula ia benci.
Apa dia sudah termakan ucapannya sendiri yang tidak akan pernah jatuh cinta pada sosok wanita yang ia nikahi sebulan lalu? Lelaki itu menggeleng. Mencoba menepis rasa yang kembali hadir memenuhi ruang hatinya. Namun ia selalu gagal setiap mengingat betapa cantiknya dia.
Perempuan yang selalu menutup tubuhnya dengan jilbab dan kerudung itu ternyata berbeda. Dalam semalam semua prasangkanya terpatahkan. Tak butuh waktu lama baginya untuk terseret dalam pusara cinta yang membuatnya hilang kendali. Bahkan ia hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri.
Suara deru mobil memacu detak jantungnya lebih cepat. Ia tahu, sebentar lagi wanita yang ia tunggu-tunggu masuk dan melihatnya duduk di sini. Menarik napas panjang sambil memejamkan mata sejenak, rupanya mampu menetralkan rasa gugup yang menderanya.
"Assalamu'alaikum."
Pria yang sedang sibuk menata debaran jantungnya itu menoleh. Senyumnya mengembang melihat sang istri datang dengan banyak barang belanjaan.
"Wa'alaikumsalam." Pria itu bangkit dan mengambil alih bawaan Diana tanpa menatapnya.
"Terimakasih. Mas nggak ke rumah sakit?" Diana duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Desta.
"Nggak. Nggak ada pasien yang perlu perawatan khusus. Sudah ada dokter jaga yang stanby."
Hening. Setelah basa-basi itu, keduanya saling diam. Hanya bunyi detik jarum jam yang mendominasi ruangan itu. Sebenarnya Diana ingin segera masuk kamar dan membersihkan tubuh. Namun melihat pria ini yang sepertinya hendak mengucapkan sesuatu, ia urung melakukan.
"Di,"
"Mas,"
Mereka bicara bersamaan. Suasanya yang hampir mencair kembali beku.
"Mas mau bicara serius sama kamu," ucap Desta tanpa jeda. Sengaja ia segera mengambil alih keadaan agar apa yang sudah ia susun dalam benaknya tidak menguap begitu saja.
"Ya, bicaralah, Mas. Tapi ... apa boleh aku mandi dulu? Sebentar lagi masuk waktu asar juga."
Pria yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa itu menghembuskan napas berat. Ia hanya ingin bicara dari hati ke hati dengan sang istri, tapi kenapa rasanya sulit sekali.
"Sebentar saja. Apa tidak bisa?"
Mau tak mau Diana menuruti perkataan sang suami. Meski ia sudah sangat gerah dan ingin segera masuk ke air, tapi demi menjaga perasaan pria di hadapannya, ia mencoba bertahan.
Dengan senyum merekah, wanita berjilbab maroon itu mengangguk. "Baiklah."
"Maaf," ucap Desta. "Awalnya pernikahan ini memang suatu kesalahan. Tapi setelah kupikirkan masak-masak, tidak ada salahnya kalau kita menjalaninya seperti pernikahan pada umumnya."
Diana tak ada niat untuk menjeda. Tatapannya fokus pada sang suami meski dalam hati sudah ketar-ketir tak karuan. Ia takut sesuatu yang tak diinginkan terucap oleh lisan suaminya. Mengingat tadi di mall pria ini masih terlihat mesra dengan kekasihnya.
"Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku berperan sebagai suami dan kamu berperan sebagai istri yang sesungguhnya."
"Tap--tapi bagaimana dengan perjanjian kalian?"
"Itu ... bisa kubatalkan. Perjanjian itu salah. Aku tahu ini terlalu cepat mungkin. Tapi asal kamu tahu, aku sayang sama kamu."
Semburat merah muncul di pipi Diana. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Ya Allah, apa ini nyata? Suamiku menyayangiku. Benarkah?"
"Apa Mas yakin? Mas nggak takut dengan keluarga Meta? Maksudku dengan bapak dan ibuku?"
"Tidak. Asal bersamamu, kita hadapi bersama-sama. Gimana?"
"Aku ... "