Dinikahi Calon Ipar
Cemburu Tapi Gengsi
"Jadi ini yang kamu lakukan di luar?!"
Seketika Diana membeku. Jantungnya jumpalitan nggak karuan. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitnya. Suara itu, dia sangat mengenal suara dingin itu. Perlahan ia memutar lehernya dan mendapati sosok pria tinggi dengan tubuh atletis berdiri di belakangnya.
Sorot mata pria itu begitu tajam menusuk hingga ke tulang belulang Diana.
"Ma--mas, kenapa bisa ada di--sini?" ucap perempuan berkerudung syar'i itu gugup. Ia menelan ludah susah payah melihat betapa garangnya pria yang telah menjadi imamnya itu.
"Kenapa? Kamu kaget karena tertangkap basah sedang selingkuh dengan sahabatku sendiri? Kupikir kamu wanita alim yang akan menjaga kehormatanmu. Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi. Kamu nggak ada bedanya dengan perempuan murahan yang suka menggoda pria kaya. Cih!"
"Jadi itu yang ada di dalam pikiranmu, Mas? Kenapa tak bertanya dulu?"
Pria dengan mata elang itu tertawa sumbang. Entah mengapa dadanya terasa panas menyaksikan kedekatan istrinya. Istri yang tak diinginkan tepatnya.
"Mata kepalaku sudah melihat sendiri apa yang kalian lakukan."
"Emang apa yang Lo lihat?" Kali ini Daniel yang bersuara. Dalam hatinya bersorak gembira melihat kilat cemburu di mata sahabatnya. Inilah tujuan mereka. Membuat Desta terbakar api cemburu.
"Lo juga sama saja, munafik!" Desta mendorong dada Daniel dengan telunjukknya.
Bukannya marah, pria itu justru tertawa lebar. Ia menertawakan sahabatnya yang cemburu buta. Kalau saja nggak ingat umur, pria itu ingin guling-guling di tanah untuk mengekspresikan suasana hatinya yang gembira.
"Cemburu, heh?"
"Apa? Gue cemburu sama perempuan kampungan ini?" Desta terkekeh geli menutupi hatinya yang nyeri. "Nggak ada dalam kamus hidup gue. Terserah kalian mau berbuat apa. Asal kalian ingat, jangan sampai mencemarkan nama baik gue!"
Setelah mengatakan hal itu, Desta pergi meninggalkan dua orang itu dengan perasaan sakit. Sakit yang tidak disadari karena hatinya telah terpaut pada sang istri.
Otaknya selalu menyangkal jika ia telah jatuh cinta pada wanita yang dianggap kampungan itu. Gengsinya sangat tinggi. Dia yang begitu kaya dan tampan, menjadi idola para wanita di luaran sana, jatuh cinta pada wanita yang tidak ada seksi-seksinya sama sekali? Tentu saja hatinya bersikeras menolak meski pada akhirnya harus merasakan sakit setiap kali diabaikan oleh wanita itu.
Diana masih menatap kepergian suaminya dengan hati yang luka. Ia memang ingin membuat imamnya itu cemburu dan mengakui perasaannya padanya. Namun ucapan pedas lelaki yang telah menjajah hati dan pikirannya itu terlalu tajam untuk diabaikan.
Nyeri. Sangat nyeri. Ingin ia berteriak dan mengatakan pada pria itu kalau Daniel adalah kakak kandungnya. Namun ia harus tetap menyimpan rahasia itu sampai jelas perasaan pria itu padanya. Dia masih ingin berjuang. Demi rumah tangganya. Demi ikatan suci yang awalnya tak diinginkannya.
Tanpa terasa air matanya sudah menganak sungai. Tubuhnya bergetar hebat.
"Sudahlah, Di. Kamu harus kuat. Kamu tahu ada kilat cemburu di mata suamimu tadi? Abang yakin ia sudah mencintaimu."
"Tapi, Bang, dia sangat marah. Dia ...."
"Ssttt, harusnya kamu senang kalau dia marah karena cemburu. Sudah, lebih baik kamu pulang. Ikuti saja permainannya dulu. Jangan goyah dengan tujuan kita."
***
Motor matic yang dikendarai Diana telah terparkir sempurna di garasi. Ia melangkah menuju kamarnya yang berada di samping kamar Desta. Langkahnya terhenti ketika sampai di depan pintu kamar pria itu. Menatap sejenak dengan pikiran yang sangat kacau.
Ia menggelengkan kepala lalu masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri dan melaksanakan salat asar. Kebetulan waktu asar telah tiba. Seperti biasa ia akan menyempatkan diri membaca Alquran meski hanya satu lembar.
Di kamar sebelah, pria yang merenung meresapi perasaannya itu kembali sadar. Suara merdu Diana terdengar dari speaker penyadap yang dipasang di bawah meja rias sang istri.
Perasaan tenang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedamaian yang beberapa hari ini ia rindukan akhirnya datang. Cukup lama Desta hanyut dalam setiap ayat-ayat yang dibacakan sang istri. Hingga melupakan kejadian yang beberapa waktu lalu membuatnya emosi.
Senja perlahan bergulung digantikan pekatnya malam. Pukul 19.30 bik Ijah mengetuk pintu sang majikan yang tidak keluar kamar sedari pulang kantor siang tadi.
"Den, makan malam sudah siap," ucapnya dari balik pintu.
Tanpa menjawab, pria itu membuka pintu dan berjalan menuruni anak tangga. Lagi-lagi dadanya berdebar-debar kala hendak bertemu sang istri. Entah apa yang akan dia katakan nanti.
Sesampainya di ruang makan, Desta tak mendapati siapapun kecuali bik Ijah yang sibuk membersihkan dapur. Ruang makan memang terhubung langsung dengan dapur yang hanya disekat dengan partisi yang terbuat dari kayu jati sepanjang tiga meter. Sehingga pria itu bisa melihat kondisi dapur dari tempatnya duduk.
Sebenarnya lelaki berpakaian santai itu bertanya-tanya, di mana Diana berada. Kenapa tidak turun dan makan bersama?
"Bik, Diana sudah makan?" tanya Desta akhirnya.
"Belum, Den. Tadi cuma minta dibuatin salad buah dan susu hangat."
"Terus kenapa nggak turun?" Pria itu urung menyuapkan nasi ke mulutnya. Berharap wanita yang tadi membuatnya emosi turun dan makan bersama.
"Katanya sedang mengerjakan proposal apa gitu lo, Den. Nggak sempat makan ke bawah. Itu aja tadi bibik yang nganter ke kamarnya."
"Ck, apa dia lupa kalau punya magh akut," gumam pria itu yang masih bisa didengar oleh bik Ijah.
Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum. Ia yakin sebentar lagi tuannya akan jatuh pada pesona Diana. Ya, bik Ijah lebih suka majikannya bersama Diana daripada Meta. Ia juga selalu mengabarkan kondisi rumah termasuk pernikahan sang majikan pada nyonya besar, maminya Desta.
"Sudah, Den, makan saja sendiri. Bibik temani di sini, ya. Tadi bibik lihat non Diana lagi sibuk banget di depan laptop. Mungkin nggak akan turun."
Seketika nafsu makan pria itu hilang. Ingin sekali ia masuk ke kamar wanita itu, namun rasa gengsinya mengalahkan keinginan yang menggebu dalam kalbu.
"Kalau aku ke kamarnya membawakan makanan, dia bisa besar kepala nanti. Berpikir kalau aku perhatian dan suka sama dia."
"Bik, tolong bawakan makan malam untuknya ke kamar. Pastikan dia makan sampai habis, ya." Desta menuang nasi beserta sayur dan lauk pauk ke piring baru. Lalu menyerahkannya pada bik Ijah.
"Baik, Den."
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Diana yang sedang serius di depan laptop.
"Non, boleh bibik masuk?"
"Masuk aja, Bik. Pintunya nggak dikunci kok."
Perempuan paruh baya itu masuk dengan hati-hati. Bibirnya tertarik melihat istri majikannya begitu cantik dengan rambut hitam tergerai lurus. Ya, ini pertama kalinya wanita itu melihat Diana tanpa hijab. Jika dibandingkan dengan Meta, Diana jauh lebih cantik.
Rambut hitam luruh sepinggang, kulit putih mulus, wajah alami tanpa polesan dan jangan lupakan hidung mungilnya yang proposional dengan bentuk wajahnya.
"Itu apa, Bik?" tanya Diana menyadarkan asisten rumah tangga itu dari keterpesonaan terhadapnya.
"Eh, ini Non, Den Desta menyuruh bibik mengantar makan malam buat Non. Dimakan ya, Non, harus dihabiskan katanya," ucap bibik dengan senyum jahilnya.
Bukannya menerima nampan itu, Diana malah melongo mendengar penuturan bik Ijah. Seperti mimpi mendapat perhatian sedemikian dari suaminya. Bukankah tadi siang dia marah besar padanya, kenapa sekarang memberinya makan malam? Atau ... jangan-jangan dia menaruh sesuatu pada makanan itu. "Astaghfirullah, aku nggak boleh suuzon pada suami sendiri," gumamnya dalam hati.
"Non! ladalah, kok malah bengong. Ini, dimakan. Nanti bibik dimarahi Aden kalau Non nggak mau makan."
"Tapi, Bik. Diana masih kenyang. Tadi kan baru makan salad buah buatan Bibik, mana muat perut ini, Bik."
"Aduh, Non, ... dimakan ya, nanti kalau ketahuan nggak dimakan, bibik yang kena marah. Katanya magh Non Diana bisa kambuh."
Diana tersedak ludahnya sendiri. Ini benar-benar ajaib. Pria dingin dan kaku macam kanebo kering itu memerhatikan kesehatannya? Tidak. Pasti ini hanya inisiatif bik Ijah saja supaya kami berdamai. Ya. Pasti begitu.
"Ya udah, Bik. Taruh aja di situ, nanti Diana makan kalau sudah agak lapar."
"Beneran dimakan loh, Non." Wanita itu masih belum beranjak dari posisinya. Memastikan sang majikan memakan makanan itu.
"Apa lagi, Bik?"
"Makan dulu lah, Non. Bibik nggak mau keluar kalau belum melihat piring ini kosong."
Diana menghembuskan napas lelah. Ternyata majikan dan pembantunya sama saja. Pemaksa. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok pria yang sedang memenuhi pikirannya.
Tatapan keduanya saling beradu. Tubuh mereka menegang. Untuk sesaat, waktu serasa berhenti berputar. Diana tak bisa bergerak, terpaku di tempatnya.