Dinikahi Calon Ipar
Hari Pernikahan
Diana kembali luruh saat tubuhnya sempurna masuk ke dalam kamar. Kejadian demi kejadian yang menimpa akhir-akhir ini membuat fisik dan jiwanya lelah. Belum hilang trauma akibat perbuatan Desta, ia harus menanggung rasa sama akibat pria asing yang berpura-pura menjadi pahlawannya.
Siapa sangka pria itu tega menjebak dirinya. Jiwanya yang belum stabil kini kembali terguncang. Dulu, setiap kali ia memiliki masalah dengan rekan kerjanya karena beda pendapat atau karena ada yang sengaja menjegalnya, ia akan mengadu pada sang ibu.
Dipangkuannya ia akan menceritakan semuanya. Lalu ibu akan membelai surainya sembut dengan nasehat-nasehat yang selalu menenangkan. Namun sepertinya saat ini hal itu tak akan bisa ia lakukan lagi.
Orang yang menjadi sandarannya, telah membenci. Menjauhi dan membangun benteng tinggi-tinggi. Cukup lama ia merenungi nasibnya. Andai ia tak punya iman, mungkin sudah dari awal ia berteriak pada kedua orang tuanya dan mengatakan kalau dia hanya korban. Mengatakan dengan lantang bahwa ia tidak salah.
Sayangnya, ia tak berani berkata lantang pada mereka. Karena Allah melarang seorang anak meninggikan suaranya pada kedua orang tua. Andai dia seperti Meta adiknya yang tak mengenal agama, mungkin ia sudah tak ada di dunia ini karena memilih untuk bunuh diri.
Untungnya ia masih punya Allah. Satu-satunya tempat mengadu dan meminta pertolongan. Meski ia sempat khilaf dan hampir tergoda untuk mengakhiri hidupnya, Allah masih menjaga dengan mengembalikannya pada jalan yang benar.
Seharusnya ia bersyukur. Karena segenggam iman di dada masih mampu membuatnya tetap berjalan di koridor yang benar. Menyadari semua yang menimpa adalah bagian dari ujian, gadis yang selalu menutup auratnya dengan sempurna ini menarik sudut bibirnya. Membasahi lisannya dengan istighfar berulang kali.
Tak terasa kedua matanya telah basah. Menyadari kesalahannya yang pernah mengutuk Sang Pencipta yang dianggap tak adil padanya. Hampir saja ia lepas kendali.
"Yaa Allah, ampuni hamba. Hamba tahu ujian ini belum seberapa bila dibanding saudara-saudaraku di bumi lain. Mereka tak hanya kehilangan harta benda. Bahkan orang-orang yang mereka sayang juga jiwa teranvam setiap saat. Ampuni hamba yang mudah putus asa menghadapi secuil ujian ini. Astaghfirullahal 'adziim. Astaghfirullahal 'adziim. Astaghfirullahal 'adziim. Innallaha ghafururrahiim."
Kumandang azan magrib menyadarkan Diana dari kubangan sesal yang mendera. Ia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menunaikan kewajibannya.
Tak ada sedikitpun niat untuk turun membantu para tetangga yang masih sibuk menyiapkan acara besok pagi. Tubuh dan pikirannya sangat lelah. Setelah menghabiskan satu juz Alquran, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur bermotif mawar miliknya. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke alam mimpi.
***
Ketukan pintu yang semakin kencang memaksa Diana untuk melepas mukenanya. Jam 3 pagi ia sudah terbangun untuk berkhalwat dengan Sang Maha Rahman. Berlanjut hingga subuh, dan tiba-tiba pintunya diketuk berkali-kali.
"Ya, sebentar!" teriaknya dari dalam kamar. Setelah menyambar kerudung instan di balik pintu, ia melangkah dan membuka pintu itu.
"Aduh, mbak Diana lama banget sih bukanya, ngapain aja sih di dalam?"
"Eh," Diana terkesiap kala dua orang perempuan dengan membawa kotak dan gaun pengantin menyeruak masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo, sini, Mbak! Kita harus cepat. Akad nikah dilaksanakan jam 7 pagi. Jadi sekarang Mbak Diana harus segera dirias."
Diana tampak kebingungan dengan kedatangan dua perias ini. Belum sempat ia membantah, salah seorang diantara mereka sudah menariknya dan mendudukkan di kursi yang berada di depan meja rias.
Tanpa aba-aba, keduanya langsung gerak cepat melakukan tugasnya. Seorang yang berbaju hijau meraih tangan Diana dan mencoretkan sesuatu membentuk lukisan indah di telapak tangannya. Diana menduga itu semacam hiena.
Sementara seorang lagi langsung memoleskan sesuatu di wajahnya. Diana yang masih shock dan belum paham dengan apa yang terjadi, hanya bisa bergeming dan mengikuti arahan mereka.
"Mbak Diana ini sudah cantik loh, wajahnya juga bersih alami. Tinggal dipoles dikit aja sudah seperti bidadari," ucap wanita berbaju maroon tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Diana yang memang sudah cantik.
"Eh, bentar deh, Mbak. Kenapa tiba-tiba aku dirias begini? Kalian salah orang. Yang mau menikah bukan aku loh. Tapi Meta, adikku!" seru Diana tanpa sadar.
Ia sudah nggak tahan lagi dengan sekua ini. Seumur hidup ia tak pernah memakai make up apapun. Meski ini hari special adiknya, ia tak berencana untuk ikut di make up. Tapi kenapa dua orang ini ngotot melukis wajahnya?
"Sudah, Mbak, nurut aja. Akan kami buat Mbak Diana sebagai pusat perhatian seluruh tamu nanti. Kupastikan semua mata akan menatap takjub pada Mbak Diana. Karena ini adalah momen sekali seumur hidup."
Diana mengira bahwa keluarganya sengaja di make up dan diberi seragam yang bagus agar terlihat sempurna di pernikahan adiknya ini. Meski baginya ini sangat berlebihan. Mana ada keluarga pengantin memakai gaun yang mirip dengan gaun pengantin. Apa tema pernikahan adiknya ini adalah putri kerajaan seperti di dongeng-dongeng? Ah, pasti begitu.
"Baiklah, demi kebahagiaan adiknya, ia akan menurut sekali ini saja," gumam Diana yang dibalas senyum oleh MUA di depannya.
"Nah, kalau Mbak Diana nurut gini, kan kerjaan kita lebih cepat. Iya kan, Mil?"
"Huum."
"Oke. Tapi tolong make up-nya tipis aja ya. Jangan terlalu menor. Aku nggak suka," ucap Diana akhirnya.
"Siap!"
Terhitung hampir dua jam akhirnya Diana selesai di make over. Dua perias itu berdecak kagum memuji hasil karyanya. Gaun terusan putih sederhana tapi tampak elegan dengan kerudung menjuntai hingga mata kaki dan mahkota kecil di atas kepala, membuat Diana bak putri raja.
Make up minimalis yang mempertegas kecantikannya membuat gadis itu terlihat lebih segar dan cantik.
Seseorang mengetuk pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar Diana.
"Ijab qobul sudah selesai. Mbak Diana disuruh ke bawah sekarang," ucap seorang gadis yang tinggal di sebelah rumahnya.
Entah mengapa, Diana merasa deg-degan. Kakinya lemas seperti jelly saat melangkah menuju pintu. Dua wanita yang telah menyulapnya menjadi "tuan putri" mendampingi di sebelah kanan dan kiri.
"Kenapa aku jadi deg-degan ya, mbak. Kayak aku aja yang nikah," ucap Diana sambil nyengir. Ia mencoba menetralkan degub jantungnya yang berdetak kencang dengan mengajak ngobrol dua wanita di sampingnya.
"Wajar. Karena ini hari special."
Sebelum kakinya menuruni tangga, Diana berhenti sejenak untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya mengedar ke seluruh tamu undangan yang ternyata semua melihat dirinya. Serta merta ia menunduk dan meremas dresnya.
"Mbak, kalau gugup remas tanganku saja, jangan dressnya. Nanti kusut," bisik Mila.
Perlahan Diana menuruni anak tangga satu per satu. Kepalanya menunduk karena malu. Hingga tanpa terasa ia sudah dibawa ke depan meja tempat ijab qobul dilaksanakan. Serta merta ia mendongak. Tatapan matanya beradu dengan mata elang Desta yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Beberapa detik kemudian, ia memutus kontak mata itu dan memalingkan wajah ke samping. Ternyata dua pendampingnya tadi sudah hilang entah kemana. Diana merutuki kebodohannya yang sempat beradu tatap dengan Desta hingga ia tak tahu ke mana perginya dua wanita itu.
"Silahkan pengantin pria menyematkan cincin ke mempelai perempuan," ucap MC mengembalikan fokus Diana pada lelaki di depannya ini.
Lalu ia memutar kepalanya lagi mencari keberadaan adiknya. Ia binggung kenapa Meta duduk di samping ibunya dengan pakaian pesta biasa? Untuk sesaat otaknya blank. Lalu kedua matanya membola kala menyadari sesuatu yang tak beres dengan pernikahan ini.