Dinikahi Calon Ipar
Gamang
"Terus adik Lo kemana emangnya?"
Seketika wajah Daniel berubah mendung. Ada setitik kristal yang jatuh dari sudut matanya. Hal itu tak luput dari pandangan Desta.
"Dia ... hilang saat aku tinggalkan membeli es krim," ucapnya penuh penyesalan.
Daniel menerawang. Mengingat kejadian saat ia berumur lima tahun. Meski belum ingat sepenuhnya, tapi ia tahu kalau hilangnya sang adik karena ulah cerobohnya. Dulu saat satu keluarga pergi ke kebun raya untuk melihat beranekaragam hewan.
"Daniel sayang, tolong jagain adek dulu ya. Mama mau ke toilet sebentar."
Setelah mengusap pelan kepala Daniel, sang mama berlalu menuju toilet umum yang ada di kebun binatang. Namun karena sedikit antre, tiga puluh menit nggak kembali juga.
Daniel kecil yang melihat es krim tak jauh dari tempatnya duduk, langsung membeli. Sebenarnya nggak bisa dikatakan membeli juga, karena ia tak bawa uang. Namanya anak kecil, ketika melihat anak-anak lain makan es krim, langsung tergiur untuk makan juga. Maka tanpa pikir panjang bocah berusia lima tahun itu meninggalkan sang adik dan ikut berkerumun mengelilingi penjual es itu.
"Begitulah, Des. Selanjutnya ... adikku hilang entah kemana. Berhari-hari mama mencarinya, hingga mengerahkan polisi. Tapi nggak pernah ketemu hingga sekarang," ucap Daniel sendu.
Desta merasa iba mendengar cerita sahabatnya. Baru kali ini ia melihat wajah sedih Daniel.
"Terus, seandainya kamu ketemu dengan adikmu, emang kamu bisa mengenalinya? Bahkan kamu nggak tahu wajahnya seperti apa kan?"
"Entahlah. Tapi ada ciri khusus di tubuhnya. Aku pasti bisa mengenalinya."
Daniel menyesap minumannya yang tinggal beberapa tetes. "Sudah ah, gue jadi melow kalau membicarakan masalah ini. Selama puluhan tahun gue dihantui rasa bersalah."
Desta menepuk pelan bahu sahabatnya. Selanjutnya mereka pergi dari kafe itu.
***
Pukul empat sore semua pekerjaan mengoreksi hasil ulangan siswa telah selesai. Diana menoleh ke kiri dan kanan. Tinggal beberapa orang guru yang masih tersisa. Dengan santai ia memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas dan pamit pulang.
Sebenarnya ia enggan pulang. Suasana rumah yang begitu dingin, ditambah semua orang yang masih mendiamkannya membuat gadis berjilbab itu merasa tak nyaman di rumahnya sendiri. Bagai orang asing yang tak mengenal siapapun.
Ia tersenyum miris mengingat nasibnya. Andai waktu bisa diputar kembali, ia akan memilih untuk menginap di rumah sahabatnya saja waktu itu. Ah, tapi semuanya sudah terlambat.
Dengan langkah gontai, Diana melangkah menuju parkiran motor. Menstaternya dan bergabung dengan para pengendara lainnya untuk membelah jalanan. Jam pulang kerja memang sedikit macet. Namun hal itu sudah biasa ia lalui setiap hari.
Tepat di dekat pom bensin, motor yang ditumpangi Diana mati. Rupanya tadi pagi ia lupa mengisi bahan bakar. Dengan sedikit tertatih karena kondisi tubuh masih belum terlalu fit, gadis itu mendorong kendaraan roda duanya untuk di isi bahan bakar.
"Ngisi berapa, Bu?" tanya petugas pom bensin.
"Dua puluh saja, Pak."
Nggak sampai lima menit, bahan bakar telah mengisi tangki motornya. Gadis itu mengubek-ubek tasnya. "Kok nggak ada? Perasaan tadi pagi dompetku ada di tas. Aduh, bagaimana ini?"
Supaya tak menghalangi yang lainnya, Diana memajukan motornya sedikit. Lalu kembali mencari uang di tasnya. Namun nihil. Jantungnya sudah bertalu-talu membayangkan ia tak membawa uang. Dengan perasaan cemas, gadis itu mencoba peruntungannya sekali lagi. Membongkar semua isi tas, barangkali menemukan uang terselip di dalamnya.
Namun lagi-lagi ia harus menelan kecewa.
Tanpa ia sadari, sejak tadi ada seseorang yang mengawasinya. Senyum smirk tercetak jelas dari bibir penuhnya.
"Biar saya saja yang bayar, Pak. Sekalian dengan punya saya."
Diana menoleh. Sedikit terkejut melihat seorang pria yang tak dikenal menyelamatkan dirinya dari rasa malu.
"Terima kasih. Nanti saya bayar, tolong beri nomor teleponnya," ucap Diana lembut.
"Tidak usah, Nona. Saya ikhlas kok."
"Tidak, tidak. Saya tetap akan membayarnya nanti. Anggap saja saya berhutang pada anda."
"Baiklah kalau itu maumu." Daniel meminta HP Diana, lalu mengetikkan nomornya. "Namaku Daniel, siapa namamu Bu guru?"
Setelah mengambil kembali HP-nya, ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Saya Diana. Sekali lagi terimakasih, Mas. Insyaallah saya ganti. Saya permisi."
Daniel menatap punggung Diana hingga menghilang dari pandangan. Apa yang diceritakan sahabatnya tak seperti yang dilihat. Gadis itu terlihat sangat sopan dan lembut. "Sepertinya nggak mungkin kalau dia gadis seperti itu. Tapi ... Belum tentu juga kan? Jangan pernah tertipu dengan penampilannya." Daniel berbicara sendiri.
"Ah, sungguh pertemuan yang sempurna. Tunggu saja cantik, apa yang akan terjadi setelah ini," gumam Daniel dengan senyum misterius.
Pria ini terbiasa hidup bebas. Ia sangat benci dengan perempuan gampangan. Itulah sebabnya ia sering memainkan perempuan. Baginya semua perempuan sama saja. Hal itu bermula saat ia bertunangan dengan seorang gadis yang dicintainya. Namun saat hari pernikahannya tinggal menghitung minggu, gadisnya kepergok selingkuh dengan pria lain. Sejak saat itu, ia menjadi player.
***
Suara azan berkumandang dari masjid terdekat. Diana yang baru saja terlelap, mengerjapkan matanya. Semalaman ia tak bisa memejamkan mata akibat pikiran yang terus berkecamuk.
Perlahan ia menurunkan kakinya. Saat kaki telanjangnya melantai, rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuh. Namun ia tetap harus ke kamar mandi untuk berwudlu.
Salat subuh telah tertunaikan. Diana berniat untuk membantu ibunya di dapur. Membuat sarapan kesukaan keluarga mungkin ide yang bagus untuk memperbaiki hubungan yang mulai retak.
"Diana bantu ya, Bu."
Ibu yang sibuk dengan bumbu berjingkat mendengar suara Diana yang tiba-tiba. Tubuhnya menegang. Namun hanya sesaat, karena selanjutnya ia tetap fokus pada masakannya tanpa merespon putrinya sedikit pun.
Tak mau menyerah, Diana tetap membantunya. Namun setiap kali ia mendekat, ibunya selalu menjauh dan meninggalkan apapun yang disentuh Diana.
"Bu, maafin Diana," lirihnya.
Kedua netranya telah basah. Dadanya nyeri. Sang ibu masih mendiamkannya hingga saat ini. Sungguh, Diana lebih memilih ibunya marah dan memaki-maki dirinya dari pada diam seperti ini.
"Sudahlah. Kamu minta maaf seribu kali pun tak akan mengembalikan semuanya seperti semula. Lebih baik kamu urus saja dirimu sendiri. Jangan sampai membuat malu keluarga."
Sakit. Sangat sakit mendengar ucapan ibu. Orang yang selama ini menyayanginya sepenuh hati tak mau membuka pintu maafnya. Lalu apa lagi yang bisa ia lakukan di dunia ini?
Dengan perasaan hancur, Diana berlari menuju kamarnya. Ia tergugu. Menangis dalam diam. Dia hanya korban. Tapi kenapa seolah dialah yang salah. Cukup lama ia menumpahkan air matanya di depan pintu. Tubuhnya luruh di lantai yang dingin. Tak peduli jika ia kembali jatuh sakit karena ini. Hidupnya sudah tak berarti.
Dengan gontai ia melangkah menuju kamar mandi. Lalu mengguyur tubuhnya di bawah sower tanpa melepas bajunya. Kilasan kejadiaan naas itu kembali membayang di pelupuk mata. Tubuhnya menggigil hebat. Meski air yang memancar suhunya hangat, tetap saja ia kedinginan.
Dari ekor matanya, ia melihat sebuah gunting yang ada di wastafel. Haruskah aku mati saja agar keluargaku bahagia? Untuk apa aku hidup jika orang-orang yang kusayangi semua menbenciku?
Bersambung....
Hi, Reader. Salam kenal ya. Baca juga novelku yang lain yang berjudul: Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan