Dilamar Mokondo yang SALEH
Nyonya Fikri
“Nekat nyicil?” Suara Bu Amira memuat Zizi refleks menoleh.
Deg.
Zizi langsung melirik ke Fikri yang berdiri tenang di tempatnya.
“Iya, Ma,” jawabnya akhirnya, pelan tapi jelas.
Bu Amira menyilangkan tangan di depan dada, matanya masih menyapu isi rumah itu sekali lagi. Dari kulkas, TV, sampai mesin cuci yang masih ada plastiknya.
“Berapa lama?” tanyanya lagi.
“Lima tahun,” jawab Fikri.
Bu Amira mengangkat alis sedikit. “Lima tahun…” ulangnya pelan.
“InsyaAllah bisa dipercepat kalau ada rezeki lebih,” tambah Fikri, tetap dengan nada yang sama.
Zizi mulai merasa tidak enak. Tangannya saling menggenggam di depan perut. Mau bicara… tapi bingung mulai dari mana.
“Tahu kan tanggung jawabnya?” lanjut Bu Amira lagi, kali ini suaranya lebih pelan.
Fikri mengangguk. “Tahu, Ma.”
“Gajinya cukup?” tanya beliau tanpa basa-basi.
Zizi langsung menoleh cepat. “Ma…”
Fikri sedikit tersenyum, menenangkan tanpa kata. “Cukup, Ma. InsyaAllah cukup,” jawabnya.
“Setengahnya buat cicilan?” lanjut Bu Amira.
“Nyaris,” jawab Fikri jujur.
Zizi makin nggak enak. “Ma, tapi—”
“Aku tanya ke dia,” potong Bu Amira, menatap dingin putrinya.
Fikri tetap berdiri tegak. “Saya masih ada pemasukan lain, Ma. Dari ngajar juga. Yang penting kebutuhan rumah tetap aman.”
Tuan Arsyad yang dari tadi diam, akhirnya angkat suara.
“Yang penting bukan cuma cukup buat hari ini,” ucapnya pelan. “dan kamu paham bahwa kebutuhan kalian harus aman seterusnya.”
Fikri mengangguk. “Iya, Yah.”
“Dan jangan sampai Zizi kekurangan,” tambah beliau lagi.
Fikri menoleh ke Zizi sebentar. “InsyaAllah, Yah.”
Bu Amira menghela napas pelan. Tangannya turun, tidak lagi menyilang. Matanya kembali ke arah Zizi.
“Kamu gimana?” tanyanya.
Zizi langsung kaget ditanya balik. “Aku?”
“Iya. Kamu ikhlas hidup begini?” lanjut ibunya.
Zizi diam sebentar lalu mengangguk pelan. “Iya, Ma…” suaranya lembut, tapi yakin. “Aku ikut aja… sama Mas.”
Fikri menunduk tapi sudut bibirnya naik sedikit. Bu Amira menatap Zizi beberapa detik. Seolah memastikan… ini bukan sekadar patuh karena kasmaran, tapi pilihannya.
Akhirnya beliau mengangguk samar, “Ya sudah,” ucapnya pelan. “Dijalanin yang baik.”
Zizi tersenyum lega. Bahunya yang tadi tegang pelan-pelan turun. Tuan Arsyad menepuk bahu Fikri sekali lagi. “Kalau butuh apa-apa, bilang.”
“Iya, Yah. Terima kasih.”
Suasana berubah lebih hangat. Bu Amira mulai mendekat ke dapur kecil, membuka lemari, lihat-lihat isi. “Ini piringnya masih dikit,” gumamnya.
Zizi langsung nyusul. “Iya, Ma… nanti pelan-pelan nambah.”
“Kompor sudah ada?”
“Ada, Ma. Dari Ibu.”
“Hm.” Bu Amira mengangguk, tangannya mulai otomatis merapikan posisi barang.
Fikri berdiri di ruang tengah, memperhatikan dua perempuan itu. Tanpa sadar… dia tersenyum sendiri.
Menjelang magrib, Tuan Arsyad dan Bu Amira pamit. Zizi mengantar sampai depan.
“Jaga diri baik-baik,” pesan Bu Amira, tangannya menyentuh pipi Zizi sebentar.
“Iya, Ma…”
“Jangan sungkan pulang.
Zizi mengangguk. “Iya.”
Mobil orang tuanya mulai menjauh. Zizi berdiri di teras, memandang sampai mobil itu benar-benar hilang di ujung jalan.
“Kenapa?” tanyanya.
Zizi menggeleng kecil. “Enggak… cuma…”
Dia menoleh, tersenyum. “Ini beneran ya…”
Fikri ikut melihat ke depan. Lalu menoleh balik ke Zizi. “Iya,” jawabnya singkat. Tangannya meraih tangan Zizi, menggenggam pelan.
Angin sore lewat pelan, mengibaskan ujung bajunya.
“Mas…” panggil Zizi pelan.
“Iya?”
“Aku masih agak aneh,” ucapnya jujur. “Tadi… Mama nanya kayak gitu…”
Fikri menoleh. “Takut?”
Zizi menggeleng kecil. “Bukan takut…” dia berhenti sebentar, mencari kata yang pas. “Lebih ke… kayak nggak rela aku pisah sama mereka. Seperti belum percaya bahwa aku memilihmu.”
Fikri tidak langsung menjawab. Dia cuma mengangguk pelan. “Iya,” ucapnya singkat.
Zizi tersenyum kecil, lalu menarik tangan Fikri. “Masuk, yuk.”
Di dalam, rumah itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Cuma mereka berdua. Zizi masuk kamar lebih dulu, lalu langsung duduk di kasur. Badannya direbahkan pelan, tangan terbuka lebar seperti orang yang akhirnya baru bisa beristirahat.
“Hhhh…” dia menghela napas panjang. “Capek…”
Fikri masuk beberapa detik kemudian. Dia berdiri sebentar di dekat pintu, melihat Zizi yang sudah rebahan.
Senyumnya tipis. Pelan-pelan dia mendekat, lalu ikut duduk di samping Zizi.
“Kamu kuat juga ya,” ucapnya ringan.
Zizi menoleh. “Kuat gimana?”
“Seharian ini,” jawab Fikri. “Dari kemarin malah beberes.”
Zizi nyengir kecil. “Kan ada Mas.”
Fikri diam sebentar. Dia menunduk sedikit, tangannya naik merapikan rambut Zizi yang sedikit berantakan di dahi.
“Kita pelan-pelan aja ya, saling kenal, belajar memahami,” ucapnya.
Zizi mengangguk. “Iya…”
Zizi menatap langit-langit kamar. Catnya masih polos. Lampunya juga masih sederhana. Tapi entah kenapa… rasanya ini sudah cukup.
“Mas…” panggilnya lagi.
“Hm?”
“Kamu dulu kepikiran nggak sih… bakal sampai di sini?” tanyanya.
Fikri sedikit bersandar ke tembok. “Kepikiran,” jawabnya jujur. “Tapi nggak tahu sama siapa.”
Zizi langsung menoleh cepat. “Ih…”
Fikri ketawa kecil. “Serius. Aku cuma kepikiran… pengen punya rumah sendiri. Nggak besar nggak apa-apa.”
Zizi diam, mendengarkan.
“Yang penting… ada yang nungguin aku pulang di dalamnya,” lanjut Fikri.
Dada Zizi menghangat. Pelan-pelan dia geser sedikit, mendekat ke Fikri. Kepalanya disandarkan di bahu suaminya.
“Sekarang ada,” bisiknya.
Fikri menoleh sedikit. Matanya turun ke arah Zizi. “Iya,” jawabnya pelan.
Tangannya naik, merangkul bahu Zizi membuat Zizi merasa… dimiliki. Zizi memejamkan mata sebentar. Di dalam hatinya, ada rasa yang sulit dijelaskan.
“Mas…” sebutnya lirih.
“Iya?”
“Kita nanti bakal sering ribut nggak, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Fikri mengernyit. “Lah?”
Zizi ketawa kecil. “Serius nanya.”
Fikri berpikir sebentar. “Mungkin iya, bisa jadi nggak."
Zizi langsung buka mata. “Hah?”
Fikri senyum tipis. “Namanya juga dua kepala. Pasti beda.”
Zizi cemberut sedikit. “Ih…”
“Tapi…” Fikri lanjut, “jangan lama-lama.”
Zizi diam.
“Kalau kamu marah dan capek, mau diem bentar… bilang,” kata Fikri. “Jangan diem-dieman.”
Zizi mengangguk pelan. “Mas juga,” balasnya. “Jangan sok kuat menanggung sendiri.”
Fikri ketawa kecil. “Siap.”
Zizi menggeser posisinya. Kini dia setengah menghadap Fikri, tangannya pelan memegang kaos Fikri di bagian dada. “Mas…”
“Iya?”
“Makasih ya.”
Fikri menatapnya. “Buat?”
“Banyak hal,” jawab Zizi singkat.
Fikri tidak tanya lagi. Dia cuma menunduk sedikit… lalu mengecup kening Zizi pelan.
Zizi membeku, hangatnya terasa sampai ke dada. Fikri menarik Zizi mendekat lagi. Kali ini benar-benar masuk ke pelukan Fikri. Tangannya mengusap pelan punggung Zizi.
Zizi mengangkat wajahnya sedikit. Mata mereka bertemu.
Tidak ada yang bicara.
Fikri mendekat duluan. Pelan dan hati-hati seolah memberi waktu untuk Zizi mundur kalau mau.
Tapi Zizi tidak mundur. Matanya justru perlahan terpejam. Dan jarak itu… akhirnya hilang. Ciuman pertama mereka di rumah itu, lembut ... membuat keduanya sama-sama diam setelahnya.
Zizi menunduk, pipinya memerah. Fikri tersenyum kecil. Tangannya naik lagi, mengusap pelan pipi Zizi.
“Mau lagi?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Zizi menggeleng malu-malu. “Enggak…”
Fikri melepas senyumnya, lalu menarik selimut sedikit, memaksa Zizi menghadapnya.
Lampu kamar dimatikan.
Zizi tahu… malam ini mungkin berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada suami yang pelan-pelan menunggunya siap melayani.
Ruangan jadi gelap. Hanya ada suara napas mereka berdua, yang kini terasa lebih jelas dibanding dengung pelan pendingin ruangan.
Tidak ada yang buru-buru. Hanya dua orang… yang sedang belajar saling memahami, selangkah demi selangkah, di awal perjalanan panjang mereka.
.
.
Tamat.