Dilamar Mokondo yang SALEH
Kok Aku
Zizi masih berdiri di dekat pintu dengan tas masih menggantung di bahu. “Hah?” Zizi melongo. “Kok aku?”
Alina mengangkat bahu kecil, seolah tidak merasa mengatakan sesuatu yang aneh. Ia mengambil lagi salah satu brosur di meja, membaliknya sebentar lalu menjatuhkannya kembali.
“Yang tadi nganter kamu.” Nada suaranya ringan, sambil melirik Zizi.
Ayah mereka tidak langsung berkata apa-apa. Tatapannya justru beralih dari Alina ke Zizi, menunggu.
Zizi menelan ludah. “Itu bukan—”
Alina memotong tanpa menoleh. “Namanya Fikri, kan?”
Zizi langsung menatap kakaknya tidak percaya. “Kak!”
Alina akhirnya menoleh. Ada senyum kecil di sudut bibirnya, dia sengaja memancing reaksi Zizi.
Ayah mereka bersandar sedikit ke sofa. “Teman?”
Pertanyaannya pendek, tapi cukup membuat Zizi merasa seperti sedang diinterogasi. “Iya,” jawab Zizi cepat. “Teman.”
Alina terkekeh pelan dari tempatnya berdiri. “Teman yang nganter sampai rumah?”
Zizi memejamkan mata sebentar. Ia tahu betul kalau kakaknya mulai menyebalkan. “Motorku mogok waktu itu,” katanya, mencoba menjelaskan dengan tenang. “Dia cuma bantu.”
Alina tidak langsung membalas. Ia berjalan ke meja, merapikan brosur yang tadi berantakan, lalu menepuk-nepuknya pelan seperti sedang merapikan pikiran sendiri.
“Hm.”
Ayah mereka masih memperhatikan Zizi. “Sudah lama kenal?”
Zizi ragu sebentar. “Belum.”
“Dia kuliah di kampus kamu?”
Zizi menggeleng kecil. “Aku juga nggak tahu. Cuma ketemu di kajian kampus saja.”
Beberapa detik ruangan itu kembali sunyi. Alina tiba-tiba tertawa kecil. Ayah mereka meliriknya. “Apa?”
“Enggak apa-apa,” kata Alina santai. “Cuma lucu saja.”
Nada suaranya ringan, tapi Zizi langsung tahu kakaknya tidak benar-benar sedang bercanda. Alina jarang tertawa tanpa alasan, apalagi dengan ekspresi seperti itu—tenang, tapi matanya seperti sedang mengamati sesuatu.
Ayah mereka menoleh sedikit ke arahnya. “Lucu gimana?”
Alina mengangkat bahu kecil, lalu melirik Zizi sekilas. “Biasanya Zizi kalau ditanya soal laki-laki langsung kabur ke kamar.” Tatapannya kembali ke brosur di tangannya seolah tidak terlalu peduli. “Sekarang malah jawab jelasin panjang.”
Zizi mengerutkan dahi. Ia berdiri canggung di dekat pintu, merasa seperti tiba-tiba menjadi pusat perhatian tanpa sempat mempersiapkan diri. “Aku cuma jawab.”
“Iya,” sahut Alina tenang. “Makanya.”
Jawaban singkat itu justru membuat wajah Zizi terasa makin hangat. Ia melepas tas dari bahunya, menaruhnya di kursi dekat pintu, lalu mengusap tengkuknya sebentar. Suasana ruang tamu terasa tidak nyaman, Zizi merasa terintimidasi.
“Aku ke kamar dulu.” Ia tidak menunggu jawaban. Langkahnya sudah berbalik menuju tangga.
Namun baru dua anak tangga ia naiki, suara ayahnya terdengar memanggil. “Zizi.”
Ia berhenti, menoleh sedikit ke belakang. “Iya, Yah?”
Ayahnya masih duduk di sofa, tangan bertumpu di sandaran, wajahnya menatap lurus putri bungsunya. “Kalau memang teman…”
Zizi menunggu.
Ayahnya berkata pelan, tapi terdengar jelas di telinga Zizi. “Bawa ke rumah lain kali.”
Zizi terdiam berdiri di tangga, mencoba memproses kalimat itu. Di belakangnya, Alina menutup mulut dengan tangan, bahunya sedikit bergetar menahan tawa.
Zizi hanya bisa menatap ayahnya dengan ekspresi tidak percaya. “Iya.” Berbalik lagi dan naik tangga dengan langkah cepat.
Begitu pintu kamar tertutup, Zizi menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Ya Allah…”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Bayangan motor Fikri yang berhenti di depan rumah tadi kembali muncul di kepalanya. Suara mesin yang perlahan menjauh. Cara Fikri menatap lurus ke jalan sebelum kalimat itu muncul.
~Dunia kita beda.
Zizi membuka tangannya dan menatap langit-langit kamar. “Padahal aku kira dia beda…” gumamnya pelan.
Di lantai bawah, Alina masih berdiri di dekat meja dengan senyum tipis yang belum hilang dari wajahnya, lalu ia menoleh pada ayahnya. “Ayah penasaran?”
Ayah mereka tidak menjawab. Tapi cara pandangnya yang diam dan berpikir sudah cukup menjadi jawaban.
Malam itu rumah kembali tenang seperti biasa.
Namun di kamar lantai dua, Alina belum tidur.
Laptopnya terbuka di atas meja. Cahaya layar memantul di wajahnya yang serius. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, sementara satu tangannya menopang dagu.
Nama itu kembali terlintas di kepalanya. Pria yang tadi dilihatnya hanya sekilas itu terlihat biasa saja. Jaket sederhana, motor lama, helm ojek online yang bahkan tidak terlalu baru. Tapi cara dia menunggu Zizi di depan gerbang rumah… Ada sesuatu yang tidak pas.
Zizi memang sering terlihat santai dengan siapa saja, tapi jarang sekali ada pria yang berani sampai mengantar ke rumah. Apalagi sampai membuat adiknya menjelaskan panjang di depan ayah mereka.
Alina menutup laptop perlahan. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Baik.” Ia meraih ponselnya dari meja. “Akan kucari tahu.”
***
Sementara itu, pagi di kampus berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang di koridor. Suara motor memenuhi parkiran, dan di depan gedung fakultas beberapa kelompok mahasiswa duduk di tangga sambil bercanda.
Zizi berjalan melewati mereka dengan tas di bahu.
Langkahnya terlihat biasa saja. Tapi matanya sesekali menyapu sekitar tanpa sadar. Parkiran. Jalan kecil di samping masjid.
Ia bahkan berhenti sebentar di depan papan pengumuman, pura-pura membaca jadwal kegiatan. Padahal sebenarnya ia hanya menunggu beberapa detik.
Namun sampai bel kuliah hampir berbunyi, orang yang ia cari tidak terlihat juga. Zizi menghela napas pelan. “Ya sudah.”
Ia memaksa dirinya masuk kelas. Sepanjang kuliah, pikirannya tidak benar-benar fokus. Setiap kali pintu kelas terbuka karena ada mahasiswa terlambat masuk, Zizi tanpa sadar ikut menoleh.
Beberapa hari berlalu seperti itu. Fikri tidak terlihat di kajian. Tidak juga di sekitar gerbang kampus. Seolah pria itu benar-benar menghilang.
Zizi mencoba bersikap biasa, tapi kadang tanpa sadar ia kembali melirik ke arah parkiran. Lalu ia memarahi dirinya sendiri dalam hati.
Ngapain juga nyari dia?
Di sisi lain kota, seseorang sedang menutup aplikasi di ponselnya. Helm ojek online yang tadi dipakai kini tergantung di setang motor.
Fikri duduk di bangku warung kecil di pinggir jalan, segelas teh hangat di depannya. Uap tipis masih naik dari permukaan gelas.
Ponselnya masih menyala. Di layar terpampang peta aplikasi ojek online dengan beberapa titik penjemputan. Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mematikan layar.
Angin sore lewat pelan, menggerakkan ujung jaketnya. Warung itu tidak terlalu ramai. Hanya ada seorang bapak penjual gorengan yang sibuk membalik tempe di wajan, dan seorang ibu tua yang terlihat kesulitan menurunkan dua kardus dari sepeda motornya di pinggir jalan.
Fikri memperhatikan sebentar. Kardus itu tampak cukup berat. Ibu itu mencoba menariknya turun sendiri, tapi salah satu kardus hampir jatuh. Fikri langsung berdiri, membantunya.
Setelah memastikan kardus yang satunya juga sudah aman, ia kembali duduk di kursinya, meraih gelas tehnya lagi.
Pikirannya kembali pada satu wajah. Cara gadis itu berbicara tentang masa depan, imam dan seseorang yang bisa menjadi tempat pulang.
Fikri tersenyum kecil, tapi ada sesuatu yang pahit di sana. “Anak konglomerat…” gumamnya pelan.
Ia mengambil helm dari setang motor, memutarnya pelan di tangan. Orang yang melihatnya mungkin hanya akan mengira ia pengemudi ojek online biasa.
Namun di dalam tas ransel yang tergantung di bahunya, terselip beberapa buku tebal. Buku ekonomi syariah dan sebuah kartu mahasiswa.
Fikri menutup ritsleting tas itu kembali, mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju pergi.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Dia menepi. "Ya?"
"Dimana kamu?"
.
.