Dilamar Mokondo yang SALEH

Rumah Kita

Sebentar,” jawab Fikri santai.

Tak lama kemudian, mobil masuk ke area pemukiman. Jalanannya masih rata, nggak terlalu besar. Ada anak-anak main sepeda, ibu-ibu ngobrol di depan rumah salah satu warga.

Letaknya hanya satu kilometer dari jalan utama. Zizi melihat ada minimarket, sekolah juga klinik 24 jam sepanjang jalan ke sini.

Fikri berhenti di depan salah satu bangunan. Fasadnya minimalis. Catnya biru laut, ada halaman kecil di depan, beberapa tanaman hias sudah tumbuh subur di sana.

Zizi melirik, “Ini…?” tanyanya.

Fikri membuka seatbelt, “Rumah kita.”

Zizi langsung bengong. “Rumah?” dia mengedipkan matanya beberapa kali. “Ngontrak?”

Fikri geleng, santai. “Bukan, Sayang. Aku beli.”

Zizi langsung nengok cepat. “Hah?!”

“Nyicil,” tambah Fikri, masih tenang.

Zizi makin melongo. “Nyicil?” Dia mikir cepat..“Berapa lama, Kak?” suaranya mulai serius. “Sekarang kan… cicilan rumah bisa sampai 20 tahun…”

“Hmmm…” jawabnya, santai banget.

Zizi langsung deg-degan.

Fikri sempat diam sebentar, lalu menjawab lebih serius, tapi tetap tenang. “Lima tahun,” jelasnya.

Zizi langsung tarik napas panjang, tidak selama yang dia takutkan… tapi tetap bukan waktu yang sebentar.

Fikri melanjutkan, “Tapi itu maksimal. Kalau ada rezeki lebih, kita percepat.”

Zizi mengangguk pelan, masih mencerna. Fikri kemudian turun, memutari sisi mobil dan membukakan pintu.

“Nyicilnya ke Pak Rendra,” jelasnya sambil jalan ke arah pagar. “Beliau dapat harga murah dari temannya, pembeli pertama. Makanya bisa ambil yang di blok depan.”

Zizi ikut jalan di sampingnya, memperhatikan.

“Ini juga bukan lewat bank,” lanjut Fikri. “Langsung ke pemilik. Jadi cicilannya flat, nggak ada bunga.”

Zizi langsung menoleh. “Oh…”

“Makanya perumahan ini jadi favorit,” tambah Fikri. “Nggak terlalu memberatkan. Dan full sampai blok belakang.”

Pintu rumah dibuka. Mereka masuk. Ruangan dalam masih di cat putih. Ruangan kosong sehingga ada gema kecil saat langkah mereka menyentuh ubin.

“Pak Rendra yang nawarin ke aku,” kata Fikri lagi. “Katanya rumah ini kekecilan buat beliau, wajar sih ya, tipe standar, 36/72.”

Zizi mengangguk pelan, matanya mulai berkeliling. “Makanya diambil?” tanyanya.

“Iya,” jawab Fikri singkat. “Menurutku cukup buat kita sementara ini.”

Zizi jalan ke arah kamar, mengintip sebentar, lalu keluar lagi. “Cicilannya gimana?” tanyanya lagi, sambil melihat jendela dan ceiling.

Fikri menarik napas sebentar. “Nyaris setengah dari gajiku.”

Zizi langsung menoleh.

“Tapi aku masih ada pemasukan lain,” Fikri cepat menjelaskan. “Dari asdos sama ngajar di LPK.”

Zizi diam, mendengarkan.

“Yang di BMT pelan-pelan aku lepas,” lanjut Fikri. “Soalnya makan waktu juga.”

Zizi mengangguk, jadwal pekerjaan Fikri sudah padat. Kalau dipaksa nambah penghasilan, waktu untuk dirinya akan kian minim. Dia tak mau itu terjadi.

"Nggak usah nambah kerjaan. In sya Allah cukup," pintanya diangguki Fikri.

Mereka berkeliling rumah. Kamar depan cuma ada dipan dan AC. Selebihnya masih kosong. Fikri ikut melihat ke arah yang sama dengan pandangan Zizi.

“Ibu mau ngasih kompor sama alat dapur,” ungkapnya. “Katanya biar sama kayak waktu ngisi rumah Kak Fadlan dulu.”

Zizi langsung menoleh, senyum mulai muncul.

“Terus Ayah sama Kak Fadlan patungan ngasih kulkas dua pintu. Di tempat Mbak Farah kerja, ada promoan tv lumayan besar, dia nawarin kali aku mau ambil... Brand kenamaan sih, minus dus doang makanya murah.”

Senyum Zizi makin lebar. Tak mengatakan apa-apa, tapi kelihatan senang. Dia kembali ke ruang tengah, melihat sekeliling. “Masih banyak yang harus dibeli…” gumamnya pelan. “TV… lemari… sofa…”

Fikri mendekat, merengkuh pinggangnya. “Nggak harus sekarang,” bisiknya, “Pelan-pelan aja.”

Zizi menoleh.

“Kita isi sesuai yang kita mau,” lanjut Fikri.

Zizi diam sebentar, anggukan kecil sebagai jawabannya, “Iya…”

***

Zizi masih berdiri di tengah ruang tamu itu beberapa detik. Matanya menyapu lagi tiap sudut, seolah sedang mengingat bentuk awal rumah ini.

Fikri melirik jam di tangannya. “Kita ke rumah dulu ya,” katanya. “Lihat persiapan buat nanti malam.”

Zizi mengangguk. Mereka keluar, mengunci pintu, lalu kembali ke mobil.

Rumah Fikri sudah ramai saat mereka sampai.

Tenda sudah berdiri di depan rumah. Kursi-kursi ditata rapi. Beberapa ibu-ibu terlihat sibuk menata meja prasmanan, aroma masakan mulai keluar pelan.

Suasana di rumah itu berbeda. Lebih ramai, lebih hangat oleh canda tawa beberapa saudara yang sudah datang.

“Eh, pengantin datang!” seru salah satu saudara.

Zizi baru aja masuk ruang tengah, membungkuk dan menyalami mereka satu per satu, saat seseorang memanggil.

“Neng Zizi…”

Zizi menoleh.

Seorang pria paruh baya, saudara dari pihak ayah Fikri, berdiri sambil mendorong satu kotak besar.

“Ini buat kalian,” katanya sambil nyodorin.

“Aduh… nggak usah repot-repot, Wa…” ucap Fikri, membantunya.

“Nggak apa-apa,” jawabnya santai. “Moga sesuai seleranya, ya.”

Kotaknya cukup besar, dibungkus rapi dengan pita sederhana. Zizi sempat melirik ke Fikri, ragu-ragu.

“Ayo buka,” ulang sang uwa sambil tersenyum.

Fikri ikut mengangguk kecil. “Buka, Sayang.”

Zizi berjongkok pelan di depan kotak itu. Tangannya hati-hati membuka pita, lalu menarik lapisan kardusnya. Begitu bagian dalam terlihat, manik matanya langsung membesar.

“Loh…” suaranya pelan, setengah kaget. Fikri ikut mendekat, menunduk sedikit untuk melihat lebih jelas. “Mesin cuci?” ulangnya.

“Bagus nggak?” sahut sang uwa ringan. “dari saudara-saudara pihak Ayah Fikri.”

Zizi langsung berdiri lagi, masih agak bingung harus bereaksi bagaimana. “Ini… buat kami?” tanyanya, memastikan.

“Iya lah,” jawab sang uwa santai. “Biar nggak capek nyuci manual. Apalagi nanti sudah mulai ngurus rumah sendiri.”

Zizi langsung tersenyum lebar, tapi tetap ada canggung di wajahnya. “Makasih… ehm…” ucapnya pelan, masih agak kaku menyebut.

Sang uwa langsung menggeleng, tapi senyumnya makin lebar. “Panggil uwa aja,” katanya lembut.

Zizi mengangguk cepat. “Iya… uwa. Makasih ya…”

Fikri yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum. “Makasih banyak, Wa. Kepake banget ini.”

“Alhamdulillah kalau kepakai,” balasnya singkat. “Jangan cuma jadi pajangan.”

Beberapa orang di sekitar ikut tertawa kecil.

Zizi melirik lagi ke mesin cuci itu. Tangannya tanpa sadar menyentuh bagian atasnya pelan. Rasanya aneh… tapi menyenangkan. Satu per satu, rumah yang tadi kosong mulai terisi. Bukan cuma barang… tapi perhatian dari orang-orang di sekitar mereka.

Fikri mengusap pelan bahu Zizi. “Nambah satu lagi,” bisiknya ringan.

Zizi menoleh, senyumnya masih belum hilang. “Iya…”

Menjelang sore, suasana rumah Fikri makin ramai. Beberapa tetangga sudah mulai datang, membantu menyambut tamu, menyajikan kue, dan menata tempat untuk pengajian nanti malam.

Farah kemudian muncul dari arah dapur, menghampiri Zizi. “Zi, ikut aku bentar, yuk,” ajaknya.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya Zizi.

“Ke tempat kerjaku. Yang TV kemarin itu loh, masih ada. Mumpung kalian di sini,” jawab Farah cepat.

Zizi sempat melirik ke Fikri. Fikri langsung mengangguk. “Pergi aja, Sayang. Sekalian lihat. Nanti QR code nya kirim ke aku.”

Akhirnya Zizi ikut. Perjalanan tidak jauh, hanya 20 menit naik motor. Sampai di tempat kerja Farah, Zizi melihat langsung TV yang dimaksud. Ukurannya lumayan besar, kondisinya masih bagus.

“Ini ... Gimana?” tunjuk Farah.

Zizi mengangguk. “Ini aja.”

“Besok sekalian dikirim sama kulkas ya,” tambah Farah sambil mencatat dan berpesan ke rekan kerjanya.

Zizi tersenyum. “Makasih ya, Mbak.”

Setelah itu, mereka kembali ke rumah. Matahari sudah mulai lingsir. Suasana makin terasa hangat. Orang-orang hilir mudik, suara obrolan bercampur tawa kecil.

Zizi berdiri sebentar di teras, memperhatikan semuanya.

Kemarin… ia masih duduk di kamarnya. Hari ini… ia sudah punya rumah lain, keluarga lain, dan kehidupan yang mulai berjalan pelan-pelan di depannya.

Fikri muncul di sampingnya, berdiri merangkul bahunya. “Capek?” tanyanya singkat.

Zizi menggeleng kecil. “Enggak… cuma… lagi lihat-lihat aja.”

Tiba-tiba... Suara seseorang memanggil Fikri. "Mas Fikri!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!