Dilamar Mokondo yang SALEH
Heboh
Menjelang siang, suasana mulai sedikit longgar. Tamu yang hadir saat akad nikah bersiap pulang, begitupun sebagian dari pihak keluarga Fikri.
Di luar ballroom, kendaraan mereka berjejer rapi. Beberapa mobil sewaan, dua angkot, dan satu pick up, sudah diisi penuh oleh para tetangga yang sejak pagi ikut hadir.
Zizi sempat melirik dari sisi Fikri, melihat Bu Rahma berdiri dengan tas kecil di tangan, Pak Joko berbincang santai dengan beberapa orang. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul… kekeluargaan.
Fikri yang berdiri di sampingnya ikut menoleh. “Kayaknya mereka mau jalan,” ucapnya pelan. Zizi mengangguk kecil.
Beberapa menit kemudian, suasana di parkiran mendadak berubah.
“Lho… lho… ini kenapa?” suara Fadlan terdengar cukup keras.
Zizi refleks maju sedikit. Fikri ikut melangkah mendekat.
Salah satu angkot di depan… tidak menyala. Sopirnya sudah mencoba berkali-kali menstarter. Mesin cuma bunyi seret, lalu diam lagi.
Fadlan berdiri di samping pintu, tangan di pinggang. “Aduh… ini timingnya bagus banget ya…” gerutunya.
Beberapa tetangga bapak-bapak langsung mendekat. “Coba dorong aja, Lan,” celetuk salah satu dengan santai.
“Dorong?” Fadlan menoleh cepat. “Ini isinya orang semua, Pak!”
"Loh iya, masa buntelan nangka, mentang-mentang bajunya krem," gelak salah satunya, diikuti Fadlan dan lainnya.
Belum sempat dia lanjut, beberapa tamu dari pihak Zizi malah sudah bergerak ke belakang angkot.
“Ayo Pak, kita bantu!”
“Sekalian olahraga!”
Tiba-tiba suasana berubah seperti kerja bakti dadakan.
Salah satu tamu nyeletuk sambil cekikikan, “Ini angkot isinya emak-emak dimensi kapal selam apa ya? Berat amat…”
“Hahahahaha!” tawa langsung pecah.
Dari dalam angkot, seorang ibu menjawab cengengesan, “Gak biasa makan daging, timbangan langsung naik dua kilo, Pak!”
"Itu makan daging atau mangku sapi, Bu?" Timpal mereka.
Tawa makin ramai.
Fadlan sampai geleng-geleng kepala, setengah pusing setengah pasrah. “Ya Allah… ini nikahan apa latihan fisik…” gumamnya, tapi tetap ikut ambil posisi di belakang.
“Siap ya! Satu… dua… tiga!” Dorongan pertama… belum berhasil.
“Yang kompak, Pak!”
“Sekali lagi!” Dorongan kedua, mesin mulai bunyi sedikit.
“NAH! NAAH!” teriak sopirnya semangat.
Dorongan ketiga—BRRRRMMM! Mesin akhirnya hidup.
“WOOOHH!” sorak langsung pecah. Tepuk tangan riuh dari teras.
Angkot itu maju pelan. Semua yang tadi dorong langsung mundur sambil tertawa dan mengusap keringat. Apalagi di belakang angkot tadi ada hiasan kaleng bekas susu yang sengaja menyentuh aspal sehingga berbunyi nyaring. Klotang-klotang...
Di sampingnya, pick up yang penuh tetangga juga ikut riuh, beberapa malah berdiri sambil tepuk tangan.
Salah satu tetangga nyeletuk sambil kipas-kipas, “Yah… habis makan enak, tenaga habis lagi gara-gara dorong beginian!”
“Paket lengkap ini, Pak!” sahut yang lain. “Datang kenyang, pulang kurusan!”
Teras ballroom jadi ramai oleh tawa. Di sisi lain, salah satu karib Tuan Arsyad yang ikut menyaksikan dari dekat menggeleng sambil tersenyum. “Seru ya… dapat dari mana kayak ginian?”
Tuan Arsyad menyahut singkat, “Adalah pokoknya,” jawabnya seperti anak muda.
Zizi yang berdiri di dekat pintu tidak bisa menahan senyumnya. Matanya berbinar melihat pemandangan itu.
Fikri di sampingnya hanya menggeleng kecil, senyum tipis terulas. “Selalu ada aja,” ucapnya pelan.
Zizi melirik. “Tapi seru.”
Fikri mengangguk. “Iya.”
Di tengah semua yang mungkin terlihat tidak sempurna… justru di situ rasanya hidup. Kadang perjalanan memang tidak mulus. Ada yang mogok di tengah jalan. Tapi selama masih ada yang mau berhenti, dorong bareng, lalu ketawa setelahnya… Perjalanan itu tetap berlanjut.
*
Setelah riuh kecil di parkiran itu perlahan mereda, panitia mulai mengingatkan waktu. Resepsi akan segera dimulai. Zizi ditarik pelan oleh Alina menuju ruang rias. Langkahnya agak cepat, gaunnya sedikit diangkat agar tidak terseret.
Di dalam ruang itu, udara terasa lebih sejuk. Zizi duduk di depan cermin, napasnya masih hangat oleh tawa barusan. Perias mulai melepas siger dan merapikan kembali rambutnya untuk tampilan resepsi.
Kebaya akad yang sederhana diganti dengan gaun yang sedikit lebih berkilau berwarna keemasan dengan detail yang lebih hidup di bagian lengan dan pinggang. Zizi melihat bayangannya di cermin, lalu tanpa sadar tersenyum manis.
Di sisi lain, Fikri juga berganti pakaian. Beskapnya diganti dengan setelan yang lebih ringan, senada dengan gaun Zizi. Fadlan sempat masuk sebentar, menepuk bahu adiknya sambil nyengir, “Tadi lumayan juga, ya. Sekalian jadi kenangan nikah,” ucapnya.
Fikri hanya mengangguk, bertanya apakah saudara atau tetangga ada yang terluka? Fadlan bilang tidak ada, semua tampak puas meski tak bisa berlama-lama hadir.
Menjelang siang ke sore, orang tua Fikri masih bertahan. Fadlan juga masih hilir mudik, membantu sebisanya, meski sesekali tetap nyeletuk kecil kalau ada yang tidak sesuai.
Menjelang waktu asar, mereka akhirnya pamit. Pak Joko menitipkan Fikri sebab kesibukan lain menunggu mereka. Besok malam akan ada pengajian dan ngunduh mantu di rumah Fikri. Acara yang lebih sederhana, tapi justru lebih dekat. Hanya tetangga, lingkungan sekitar, dan orang-orang yang belum sempat terundang di acara besar hari ini.
Dari total undangan yang terbatas, sebagian besar memang diprioritaskan untuk keluarga besar dan lingkar dekat. Sisanya baru akan disapa di acara rumah nanti.
Bu Rahma sempat menyampaikan langsung ke beberapa tetangga, meminta maklum dengan cara yang halus dan ramah. Namun, tidak semua menerima dengan lapang dada. Ada saja yang berbisik, menyinggung soal pilih kasih, soal siapa yang diundang duluan. Tapi Bu Rahma hanya tersenyum tipis, mengangguk pelan, memilih tidak memperpanjang. Baginya, yang penting semua tetap terjaga baik.
Sore mulai turun saat tamu resepsi berdatangan lebih ramai. Musik pelan mengisi ruangan. Zizi dan Fikri masih berdiri di pelaminan, menyambut satu per satu tamu yang datang.
Di antara keramaian itu, satu sosok muncul.
Langkahnya tenang seperti biasa. Jasnya pas di badan. Senyumnya pun menawan. Ia berhenti di depan pelaminan, menatap Zizi lebih dulu.
“Selamat, Zi,” ucapnya, suaranya halus tapi terdengar jelas.
Zizi tersenyum sopan. “Makasih.”
Rasyid tidak langsung bergeser. Tatapannya sempat bertahan sedikit lebih lama dari sewajarnya. “Akhirnya… sampai juga ya,” lanjutnya.
Baru kemudian Rasyid menoleh ke Fikri. “Selamat juga,” ucapnya.
Fikri mengangguk. “Terima kasih.”
Rasyid sedikit mendekat, suaranya diturunkan. “Lumayan cepat ya… langkahnya,” katanya lagi.
Fikri tidak berubah. “Kalau sudah yakin, memang tidak perlu lama,” jawabnya tenang.
Rasyid tersenyum tipis. “Iya… semoga sepadan sama yang kamu ambil.”
Kalimat itu menggantung di udara. Zizi menahan napas kecil. Tapi Fikri tetap berdiri tegak.
“Aamiin,” jawabnya singkat.
Rasyid akhirnya mundur, memberi jalan untuk tamu berikutnya. Tapi sebelum benar-benar pergi, matanya sempat kembali ke Zizi sekali lagi. Lalu ia berbalik.
Di sisi lain ruangan, ayah Rasyid berdiri bersama beberapa tamu lain. Fadlan yang kebetulan lewat disapa.
“Mas, ini kakaknya pengantin ya?” tanyanya ramah.
Fadlan mengangguk. “Iya, Pak.”
“Kerja di mana sekarang?”
“Kalau saya di bidang marketing farmasi, Pak,” jawab Fadlan santai.
Pria itu mengangguk. “Oh bagus. Kalau yang pengantin pria?”
Fadlan melirik sekilas ke arah pelaminan, lalu kembali ke lawan bicaranya. Kali ini nadanya sedikit naik percaya diri.
“Adik saya pegang usaha juga, Pak. Lagi bantu kelola beberapa lini bisnis,” bebernya, “Termasuk catering dan aqiqah yang cukup besar. Sistemnya juga dia yang bangun dari awal sampai rapi sekarang.”
Pria itu terlihat sedikit tertarik. “Oh ya?”
Fadlan mengangguk. “Iya. Dia memang nggak banyak ngomong.”
Di kejauhan, Fikri masih berdiri di samping Zizi, menyambut tamu satu per satu. Tangannya sesekali bergerak ke pinggang, memijat pelan di sana, memastikan Zizi nyaman berdiri di sisinya.
.
.