Dilamar Mokondo yang SALEH
Yeaaaaayyy
Langit sudah mulai turun warna ketika mobil sewaan Fikri berhenti di halaman depan rumah Zizi. Suara mesin yang dimatikan terasa kontras dengan langkah Zizi yang ringan tapi penuh hati.
Kantong belanja di kedua tangannya terasa berat, tapi entah kenapa… perasaannya justru terasa lebih ringan.
Pintu rumah terbuka. Dari dalam, Alina yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. Matanya menyipit, lalu melebar sedikit saat melihat Zizi masuk dengan beberapa paper bag di tangan.
“Kok banyak banget?” komentarnya spontan, tubuhnya ikut condong ke depan.
Zizi belum sempat jawab. Di belakangnya, Fikri masuk sebentar, menaruh beberapa tas lain ke lantai dekat pintu.
“Ini, Bu… titipan,” ucap Fikri singkat ke arah Bu Amira yang baru keluar dari dalam.
Amira hanya menatap sekilas ke tumpukan tas itu lalu mengangguk.
Fikri tidak lama. Setelah memastikan semua barang turun, ia mundur sedikit. “Saya pamit dulu, Bu,” ucapnya sopan.
Zizi menoleh sebentar. Tatapannya bertemu Fikri hanya satu detik tapi dia mengerti maknanya.
“Iya,” jawab Amira singkat.
Pintu kembali tertutup. Dan ruang tengah itu… langsung terasa berbeda.
Zizi duduk di lantai, satu per satu tas dibuka. Kertas pembungkus dilipat rapi di sampingnya. Tangan bergelang emas itu bergerak pelan menyusun barang-barang.
Alina bergeser mendekat. Tangannya mengambil salah satu kotak, membuka sedikit, lalu mengangkat alis. “Kamu… pakai brand ini emang biasanya?”
Zizi melirik sebentar. “Iya.”
Alina memutar kotak itu, membaca nama brand di kemasannya. “Dari mana duitnya? Jangan-jangan kamu yang bayar,” tuduhnya ringan tapi menusuk.
Zizi tidak tersinggung. Ia hanya menunjuk ke salah satu struk yang masih terlipat di dalam tas. “Kak Fikri semua yang bayar. Pakai QRIS. Tuh.”
Alina mengambil struk itu. Matanya bergerak cepat membaca angka-angka di sana. Lalu dia terkekeh kecil, meremehkan.
Di sisi lain, Bu Amira masih berdiri, tapi pandangannya jatuh pada satu kotak beludru biru. Tangannya mengambil benda itu dan dibukanya pelan.
Kilau emas langsung menyentuh mata. “Kalung… anting… cincin?” gumamnya pelan. Lalu menoleh ke Zizi. “Nggak satu set?”
Zizi menggeleng kecil, masih sibuk merapikan barang lain. “Nggak, Ma. Gelang kan udah kupakai dari tunangan. Kalau cincin nikah… katanya dari perak aja. Biar Kak Fikri bisa pakai juga.”
Tangannya berhenti sebentar, lalu lanjut lagi. “Kalau set yang ini… buat pendamping mahar aja.”
Alina melirik cepat ke arah Amira, lalu kembali ke Zizi. “Maharnya apa emang?”
“LM,” jawab Zizi ringan. “Katanya sih… udah beli.”
“Berapa?” kali ini ibunya yang tanya.
Zizi berpikir sebentar, alisnya sedikit mengernyit. “Yang waktu tunangan itu kan udah di aku 17 gram… disimpan buat mahar," ucapnya pelan. “Sama nambah lagi… tapi dia nggak bilang berapa.”
Tangannya menutup salah satu kotak. “Makanya perhiasannya dia suruh aku pilih sendiri. Sama… nambah uang juga sih, sesuai tanggal kita nikah.”
“Hmm,” gumam Alina, pendek. Lalu matanya kembali ke kotak perhiasan tadi. “Yang ini berapa gram?”
“Lima belas totalnya,” jawab Zizi santai.
Hening sebentar.
Zizi berdiri, menunjuk beberapa kotak yang tersisa di lantai. Lalu menoleh ke arah ibunya.
“Aku titipin ke Mama buat dihias hantaran, ya,” ucapnya ringan. “Ini kan… amanah dari Kak Fikri buat aku.”
Langkahnya sudah mengarah ke tangga. Tapi sebelum naik, ia berhenti sebentar. “…kata Mama kan,” lanjutnya pelan tanpa menoleh, “kita nggak boleh ikut campur soal konsepnya.”
Alina diam. Amira juga tidak menyahut. Zizi naik tangga perlahan. Langkahnya terasa lebih mantap dari biasanya. Ia benar-benar merasa sedang dijemput ke masa depan yang sedang dibangun… bukan hanya dijanjikan.
***
Pagi itu terasa tenang tapi rumah Zizi ramai.
Zizi duduk di depan cermin. Gaunnya putih, jatuh sederhana, membuatnya terlihat berbeda. Tangannya terasa dingin, saling menggenggam di pangkuan. Dadanya berdegup pelan-pelan naik turun.
Di ballroom sebuah hotel kenamaan, semuanya sudah siap. Dekorasi putih, hijau muda, dan sentuhan emas terlihat bersih dan elegan. Kursi tersusun rapi. Meja akad di tengah, berhias ronce bunga mawar, Lily, juga anggrek... Berwarna senada, menambah kesan sakral.
Fikri sudah duduk di sana mengenakan beskap coklat tua, dan kain jarik. Punggungnya tegak. Dari luar, ia terlihat tenang. Tapi jari-jarinya sesekali bergerak kecil di atas lutut.
Pak Joko duduk di belakangnya. Wajahnya kalem. Sesekali melirik Fikri, ada bangga di sana.
Di sampingnya, Bu Rahma sudah berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung kerudungnya sendiri. Menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh.
Fadlan berdiri di sisi barisan kursi keluarga, mengatur orang-orang dengan isyarat kecil. Suaranya pelan tapi tegas. Ia memastikan semuanya rapi. Tamu dari pihak mereka terlihat kompak, warna krem dan coklat susu menyatu dengan keluarga inti yang pakai coklat tua.
Rendra duduk di kursi saksi. Punggungnya tegak. Wajahnya serius tapi terlihat segar, berbeda dari biasanya. Sesekali ia melirik Fikri, seperti masih tidak percaya bisa ikut di momen sepenting ini.
Lalu… Zizi dituntun Alina keluar, langkahnya pelan. Siger perak mengilap di kepalanya, juntai melati menambah ayu wajah yang memang sudah cantik paripurna.
Semua menoleh. Fikri mengangkat wajah. Matanya langsung menemukan Zizi. Dan seketika… ia diam.
"Allahumma baariik, Sayang," lirihnya. Rendra yang mendengar itu hanya menyimpul senyum.
Fikri… tidak bisa berpaling, meski pandangannya terhalang kain tipis yang membentang di barisan keluarga wanita.
Zizi duduk di tempatnya, di belakang tuan Arsyad yang menjadi wali, di samping ibunya. Dia menunduk sedikit. Tangannya kembali saling menggenggam di atas pangkuan.
Prosesi dimulai.
Suara penghulu mengalir tenang sampai akhirnya ke inti. Mahar pun dibacakan.
“Logam mulia dua puluh gram, uang 3.042.026, dan satu set perhiasan emas lima belas gram.”
Lalu Fikri menjawab saat tautan tangan penghulu dan dirinya dihentak pelan, “…saya terima nikahnya Azzima Rahmadani binti Arsyad Rahmadani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Suaranya jelas dan tegas dalam satu tarikan napas.
“Sah.”
Satu kata itu membuat ruangan bergema karena doa yang dilantunkan.
Bu Rahma langsung menutup mulutnya, air matanya jatuh. Pak Joko menunduk sebentar, menarik napas panjang. Rendra mengangguk kecil, matanya ikut mengembun.
Setelah itu, Fikri diminta menjemput Zizi. Tangannya pelan menyentuh ubun-ubun Zizi lalu membaca doa kebaikan.
Zizi memejamkan mata. Napasnya tertahan kala Fikri mengecup singkat keningnya. Pipi Zizi langsung hangat.
Fikri tersenyum, lalu dengan lembut menuntunnya untuk menandatangani dokumen. Tangannya tidak menggenggam erat, tapi cukup untuk memberi rasa aman.
Setelah itu, prosesi sungkeman dimulai.
Zizi berlutut di depan Mamanya. Tangannya menggenggam tangan Amira. “Ma… makasih,” suaranya pelan, sudah bergetar. “Maafin Zizi ya…” Air matanya jatuh.
Amira diam beberapa detik. Lalu tangannya membalas genggaman Zizi. Lebih erat dari biasanya. “Jaga diri kamu baik-baik,” balasnya lirih.
Zizi mengangguk, masih menunduk. Ia bergeser ke ayahnya. “Tanggung jawabmu menjadi istri yang tahu batas,” ujar sang ayah singkat.
“Iya, Yah…” jawab Zizi pelan. Setelah itu, bergantian dengan keluarga Fikri.
Keduanya berlutut di depan Bu Rahma. “Bu…” suaranya rendah, “terima kasih.”
Bu Rahma tidak sanggup menahan diri. Ia memeluk Fikri lebih lama. Air matanya jatuh di bahu anaknya.
“Jaga dia baik-baik, ya,” ucapnya lirih. “Perempuan itu titipan. Jangan kamu sakiti.”
Fikri mengangguk. “Iya, Bu.”
Air mata Bu Rahma jatuh lagi. Fikri lalu bergeser ke Pak Joko. Beliau menatapnya sebentar lalu menepuk bahu Fikri pelan.
“Jadi laki-laki itu bukan cuma kerja,” ucapnya tenang. “Tahan capek, tahan emosi, tahan ego.”
Fikri diam, mendengarkan. “Kalau ada masalah, jangan lari. Hadapi. Jangan biarin istrimu ngerasa sendirian.”
Fikri mengangguk. “Iya, Yah.”
.
.