Dilamar Mokondo yang SALEH
Menolak Tunduk
“Halo?” Suara Tuan Arsyad terdengar lagi. Dia menekan pengeras suara di ponsel Zizi.
Zizi menahan napas. Matanya bergeser ke pintu. Alina masih di sana… bersandar santai, seolah ini tontonan.
Di seberang, Fikri akhirnya menjawab, “Saya masih di sini, Pak.”
Tuan Arsyad mengangguk kecil, meski tak terlihat. “Bagus,” ucapnya datar. “Berarti kamu dengar jelas.”
Zizi merasakan dadanya makin sesak.
“Kalau kamu mau cepat,” lanjut ayahnya tanpa basa-basi, “datang saja, gak usah janji muluk. Dan ikut semua aturan kami.”
Hening.
Zizi menoleh cepat ke arah ayahnya. Ucapannya terdengar bukan sekadar syarat. Tapi seperti… ujian yang sengaja dibuat berat untuk menjatuhkan mental Fikri.
Alina terkekeh pelan. “Ambil aja, Fik. Lumayan… shortcut,” celetuknya santai tapi sinis.
“Alina," sebut Tuan Arsyad.
Alina mengangkat bahu, tidak pergi. Hanya diam… menunggu di tempat yang sama.
Zizi ingin bicara. Tapi tenggorokannya seperti terkunci. Ia hanya bisa melihat… dari sisi ini.
“Gimana?” ulang Tuan Arsyad.
Kali ini, Fikri menarik napas. Terdengar samar dari seberang. “Maaf, Pak.”
Tuan Arsyad menyipitkan mata sedikit. “Maaf?”
“Kalau harus bawa badan saja…” lanjut Fikri pelan, “saya pertimbangkan.”
Zizi menahan napas.
“Tapi kalau harus terima semua syarat… harga diri saya sebagai laki-laki,” lanjutnya, suaranya tetap rendah tapi jelas, “saya nggak bisa, Pak.”
Sunyi.
“Kamu menolak?” tanyanya datar.
“Bukan menolak Zizi, Pak,” jawab Fikri cepat. “Saya menjaga harga diri. Datang baik-baik secara pantas. Bukan… sekadar diterima karena saya nurut semuanya.”
Zizi menunduk. Matanya mulai panas.
Alina mendecak pelan. “Idealis banget…” gumamnya.
Tuan Arsyad mengabaikan. “Kamu sadar posisimu?” tanyanya lagi.
“Iya, Pak.”
“Dan tetap jawab seperti itu?”
“Iya.”
Zizi bisa merasakan… ini bukan lagi soal cepat atau lambat. Ini soal harga diri yang sedang dipertanyakan.
“Kalau begitu,” ucap Tuan Arsyad akhirnya, “jangan buru-buru.”
Zizi langsung mengangkat wajah. “Yah—”
Tangan tuan Arsyad terangkat sedikit. Menahan agar Zizi tak ikut bicara.
“Buktikan dulu,” lanjutnya. “Ke saya. Bukan ke Zizi.”
Deg.
Zizi terdiam. Di seberang, napas Fikri terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Baik, Pak.”
Tuan Arsyad menatap kosong sesaat. Lalu ponsel itu diturunkan sedikit. “Assalamu’alaikum.”
Sambungan terputus.
Zizi masih berdiri di tempatnya, ponsel itu dilempar sang ayah ke atas kasur. Dunia seperti berhenti di satu titik.
Alina mendorong pintu sedikit lebih lebar. “Yah… serius?” tanyanya santai. “Dia ditantang gitu tapi malah dilepas?”
Tuan Arsyad tidak menoleh. “Kalau dia lari, berarti memang tidak pantas buat Zizi.”
“Kalau dia tetap datang?” sela Arina.
Tuan Arsyad menjawab pelan, “…baru kita bicara lagi.”
Zizi menunduk. Air matanya jatuh satu tanpa suara.
Alina mengamati itu lalu tersenyum tipis. Sementara Tuan Arsyad melangkah menjauh. Pintu kamar kembali setengah terbuka. Tinggal Zizi… mematung di sisi ranjang.
“Ya ampun…” ia terkekeh, melangkah masuk tanpa diundang. “Emang bener ya… MoKonDo.”
Zizi tidak langsung menoleh. Tapi bahunya menegang.
Alina menyandarkan tubuh di pintu. Tangannya terlipat di depan dada. “Mau numpang hidup sama kamu?” lanjutnya ringan. “Berani banget sih dia.”
Zizi menarik napas pelan.
“Lagian kamu juga, Zi,” sambung Alina, kini menatapnya lurus. “Kemakan omongan sendiri kan? Katanya mau yang alim…” ia mengangkat alis, “taunya miskin.”
“Dan sombong pula.”
Zizi menoleh, sorot matanya berubah.
Alina belum selesai. “Ayah, Mama nanti pasti ikutan repot,” ucapnya seolah logis. “Belum lagi aku… ditanya adik iparku kerja apa.” Ia tertawa kecil, hambar. “Duh, Ziziiii… kapan sih kamu nggak bikin malu?”
Sunyi.
Kali ini Zizi tidak menunduk meski masih berdiri lebih tegak. Jemarinya yang tadi gemetar… kini perlahan mengendur.
“Udah?” tanyanya singkat.
Alina berhenti sejenak. Tidak menyangka adiknya melawan kali ini.
“Aku tanya… udah?” ulang Zizi, suaranya menegas.
Alina menyipitkan mata. “Kamu nggak terima?”
Zizi menggeleng kecil. “Enggak. Aku cuma heran.”
Alina terkekeh. “Heran apa?”
Zizi menatapnya lurus. “Kok Kakak bisa segampang itu nilai orang… dari posisi dia sekarang.”
Alina langsung berdiri tegak. “Lah emang salah?”
“Kalau cuma itu yang Kak Alin lihat… ya salah,” jawab Zizi.
Alina mendecak. “Realistis aja, Zi. Dunia itu lihat hasil nyata, bukan cuma niat.”
Zizi mengangguk kecil. “Iya.”
Alina sempat tersenyum. Merasa menang dengan opininya.
“Tapi aku nggak hidup buat dunia kamu,” lanjut Zizi.
Senyum Alina berhenti, sudut bibirnya melengkung kaku.
“Aku yang bakal jalanin,” ucap Zizi pelan. “Bukan Kak Alin, ayah atau mama. Bukan siapa-siapa. Dan aku tahu persis dia kayak apa sekarang.”
Alina masih melipat tangannya, tubuhnya condong ke depan. “Dan kamu tetap pilih itu?”
Zizi mengangguk. “Iya.”
“Dengan semua risikonya?” tekan Alina.
Zizi tidak langsung jawab. Ia melangkah satu langkah mendekat. “Iya.”
Hening.
“Karena aku nggak lagi cari yang kelihatan siap,” lanjut Zizi, matanya tidak lepas. “Aku pilih yang mau belajar tanggung jawab.”
Alina tertawa pendek. “Naif.”
“Mungkin,” jawab Zizi. "Tapi setidaknya… aku nggak ngerendahin orang yang lagi berusaha.”
Alina langsung mendekat. Wajahnya berubah ketus, “Jadi sekarang aku yang salah?”
Zizi menggeleng. “Aku nggak bilang Kak Alina salah.”
“Terus?” desak Alina.
“Aku cuma nggak sama denganmu.”
Alina menatapnya lama. Ada emosi yang mulai naik. “Nanti kalau kamu susah… jangan nangis ke rumah.”
Zizi mengangguk pelan. “Kalau aku susah… aku tanggung sendiri. Tapi kalau aku berhasil,” lanjutnya, “aku juga nggak butuh pengakuan siapa-siapa.”
Alina terdiam.
Zizi mundur satu langkah. Mengambil ponselnya yang tadi masih di tempat tidur. Jemarinya menggenggamnya lebih kuat.
“Dan satu lagi, Kak,” ucapnya.
Alina menoleh.
Zizi menatapnya dalam. “Jangan hina pilihan aku… cuma karena Kakak nggak berani ambil risiko yang sama.”
Alina menghela napas kasar. Wajahnya mengeras. Tanpa kata, ia berbalik melangkah cepat keluar kamar.
Zizi berdiri. Dadanya masih naik turun. Tangannya sedikit gemetar karena keputusannya tetep berada di sisi Fikri.
***
Di sisi lain kota, Fikri masih berdiri di tempatnya. Ponsel sudah turun dari telinga.
MoKonDo. Benalu. Bawa badan saja.
Kata-kata itu masih berputar di kepalanya. Ia menghembuskan napas panjang. Kepalanya menunduk sebentar… lalu terangkat lagi.
Fikri meraih kunci motornya dan keluar kamar. Jarinya masih bergetar… tapi langkahnya justru makin pasti ingin mencari udara segar. Malam belum terlalu larut.
Ia berhenti sejenak di depan pintu, menarik napas panjang, lalu bergumam pelan, “Kalau harus dibuktikan… ya dibuktikan.”
Saat akan melangkah, tiba-tiba terdengar suara. "Mau kemana? Kalau putus asa, jangan sok pengen bundir, aib!"
Dhuar!
.
.