Dilamar Mokondo yang SALEH
Rasyid Shock
Fikri yang baru saja menutup pintu mobil itu berhenti. Tangannya masih menggenggam dompet, belum sempat berbalik.
“Eh… Loh, kamu?”
Fikri menoleh. Rasyid berdiri beberapa langkah di belakang. Tatapannya langsung mengunci Fikri.
“Kamu?” ulangnya, alisnya sedikit berkerut. “Ngapain di sini?”
Hening tipis menggantung.
Fikri berdiri tegak menghadap Rasyid. “Ngambilin dompet Bu Amira,” jawabnya singkat.
Rasyid melirik ke mobil, lalu ke Fikri. “Bu Amira?” ulangnya, memastikan sesuatu yang belum ia pahami.
Langkahnya mendekat satu tapak. “Sejak kapan kamu…” ia menggantung kalimatnya, matanya menelusuri Fikri dari atas ke bawah. “…dekat sama keluarga Zizi?”
Fikri membalas tatapannya tenang. “Baru,” ucapnya jujur.
Rasyid tersenyum tipis, gurat wajahnya menegaskan bahwa dia terusik dengan jawaban Fikri.
“Baru,” ulangnya pelan. Ia mengangguk kecil, tapi sorot matanya kembali tajam. “Terus langsung bisa pegang kunci mobil beliau?” sindirnya ringan.
Deg.
Fikri tidak terpancing. Ia hanya mengangkat sedikit dompet di tangannya. “Cuma diminta tolong.”
Rasyid menatap benda itu sekilas, “Gue ke sini mau jemput Zizi,” ucapnya datar.
Fikri berjalan pelan, meninggalkan Rasyid. “Oh.”
Rasyid akhirnya melangkah duluan. Melewati Fikri. Tapi tepat saat sejajar, ia berhenti sebentar, menoleh sedikit.
“Fik,” panggilnya ringan. Rasyid menatapnya dari samping. “Hati-hati ya,” ucapnya pelan. “Rumah itu… nggak gampang dimasukin.”
Kalimat itu terdengar seperti peringatan. Atau mungkin… penegasan posisi. Rasyid langsung melangkah masuk ke dalam aula.
Fikri terpaku, tangannya masih memegang dompet. Napasnya ditarik pelan sambil berjalan kembali ke dalam.
Suasana aula masih ramai. Tapi begitu Rasyid masuk—beberapa kepala kembali menoleh.
Zizi yang berdiri di dekat ibunya langsung melihat.
Langkah Rasyid tidak ragu. Ia berhenti tepat di depan mereka. “Assalamu’alaikum, Tante,” sapanya sopan, senyum tipis kembali muncul seperti biasa.
Amira menoleh. Sedikit terkejut… tapi cepat menutupinya. “Wa’alaikumussalam.”
“Bang Rasyid?” suaranya pelan. “Kok ke sini?”
Rasyid mengalihkan pandangannya ke Zizi. “Mau jemput kamu,” jawabnya ringan. “Katanya kamu lagi sibuk di aula.”
Fikri muncul tepat di belakangnya. Dengan dompet di tangan dan menyerahkannya langsung ke Amira. “Ini, Bu.”
Hening.
Amira mengambil dompet itu tanpa ragu. “Iya, makasih, Nak.”
Nak.
Rasyid menoleh pelan. Tatapannya bergeser… dari dompet itu… ke tangan Fikri… lalu naik ke wajahnya. Tidak ada senyum seperti tadi, hanya diam yang… terlalu lama.
“Ma?” suara Zizi pelan, menyenggol lengan ibunya. Tapi sudah terlambat, Rasyid menatap Amira.
Dia bertanya, datar, “Maaf, Tante…” Rasyid melirik ke arah Zizi. “…aku ketinggalan sesuatu ya?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Amira justru bangkit dengan tenang.
Zizi menunduk karena tahu sedang ditatap intens oleh Rasyid. Diamnya Zizi, Amira anggap sudah cukup menjelaskan pertanyaan tadi.
Amira melangkah sedikit ke samping, merapikan tasnya. “Kita harus segera jalan,” katanya singkat pada Zizi. “Udah ditunggu.”
Rasyid mengernyit. “Jalan? Ke mana, Tante?”
Amira menoleh. Kali ini ia menatap Rasyid tanpa basa-basi. “Fitting.”
Rasyid tampak terkejut, dia terdiam, mungkin sedang mengulang dalam hati. Fitting?
Alisnya sedikit berkerut. “Untuk apa?”
Zizi menggenggam ujung bajunya lebih erat. Dan sebelum ia sempat bicara—Amira menjawab, “Baju tunangan.”
Deg.
Suara di aula seperti langsung meredup, meski orang-orang masih bergerak sibuk. Rasyid membeku. Matanya beralih cepat ke Zizi lalu… ke Fikri dan kembali lagi ke Zizi. Seolah sedang mencari satu tanda bahwa ini semua salah dengar.
“Tunangan?” ulangnya pelan.
Suasana yang tadi riuh perlahan berubah jadi bisikan. Mata-mata mulai mengikuti arah pandang mereka.
Amira keluar lebih dulu, langkahnya tenang seperti biasa. Zizi menyusul di belakangnya, sementara Fikri menenteng tas dan map miliknya dan Zizi, berjalan mengekori Zizi.
Rasyid mengikuti mereka hingga ke samping mobil Amira.
Amira tersenyum tipis, “Oh, maaf lupa ngabarin,” ucapnya ringan. “tapi emang belum ada yang dikabarin.” Jeda sebentar. Senyumnya merekah. “soal pertunangan ini.”
Deg.
Udara seperti berhenti bergerak.
Rasyid tidak langsung bereaksi. Tatapannya jatuh ke Fikri lagi dan satu kata keluar, “Dia?”
Amira menjawab tanpa ragu. “Iya.”
Rasyid mengalihkan pandangan ke Zizi. Alisnya berkerut, suaranya lebih rendah, tapi jelas. “Zi, nggak salah?”
Zizi yang sejak tadi diam… akhirnya mengangkat wajah. “Iya.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tapi cukup membuat sesuatu di wajah Rasyid berubah.
Sementara itu, Amira sudah melangkah mendekat ke Fikri. Tangannya menyerahkan kunci mobil padanya. “Supirin Mama,” ucapnya ringan.
Fikri mengangguk, menerimanya dengan tenang.
Rasyid mengernyit. Tatapannya berpindah cepat antara mereka. “Tante… nggak becanda kan?”
Amira menoleh, kali ini benar-benar menatapnya. “Nggak,” jawabnya datar. Lalu, seolah menyederhanakan semuanya untuk Rasyid, ia menambahkan, “Mereka saling suka. Fikri menjamin Zizi. Ya sudah… mau apa lagi?”
Rasyid membeku. “H-ah?” Suaranya terbata.
Di depannya, Zizi berdiri dengan tenang. Fikri sudah membuka pintu mobil. Dan Amira… sudah melangkah masuk lebih dulu, seolah kehadirannya tak ada bahkan sebelum Rasyid sempat memahaminya.
***
Ruang fitting itu dipenuhi cahaya hangat. Kain-kain tergantung rapi seperti barisan warna. Di tengah ruangan, cermin besar memantulkan dua sosok yang… diam-diam saling mencuri pandang.
Zizi berdiri di depan cermin. Gaun yang ia kenakan jatuh lembut mengikuti bentuk tubuhnya, sederhana tapi elegan. Tangannya sempat merapikan bagian lengan… lalu berhenti.
Dari pantulan kaca—Fikri berdiri tidak jauh di belakangnya, sedang menatap tidak sengaja, bagai menemukan sesuatu yang terlalu indah untuk dilihat lama-lama.
Fikri cepat menunduk. Tangannya masuk ke saku celana, lalu keluar lagi. Gugupnya tidak disembunyikan.
Zizi yang menyadari itu… ikut menunduk. Sudut bibirnya bergerak kecil, menahan senyum yang hampir ketahuan.
“Bagus…” suara Fikri akhirnya keluar, lirih.
Zizi mengangkat wajah sedikit. “Apa?”
Fikri menggeleng cepat, salah tingkah. “Nggak… maksudnya…” ia menarik napas pelan. “…cocok.”
Satu kata tapi cukup membuat Zizi menunduk lagi. Kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Tangannya menggenggam ujung kain di sisi gaun. “Kakak juga… rapi,” balasnya pelan.
Fikri tertawa kecil, singkat. “Ini cuma beskap biasa.”
“Tapi beda,” ucap Zizi tanpa sadar.
Hening sebentar. Keduanya sama-sama tidak berani melanjutkan.
Di sudut ruangan, Amira memperhatikan tanpa ikut campur. Matanya tenang, tajam dengan cara yang berbeda. Ia tidak hanya melihat apa yang tampak… tapi membaca yang tidak diucapkan.
Cara Zizi menunduk lebih sering dari biasanya. Saat senyumnya muncul… lalu disembunyikan.
Dan Fikri yang jelas-jelas menahan dirinya. Tidak menatap terlalu lama atau mendekat lebih dari yang seharusnya. Bahkan pujiannya… hampir seperti ia saring dulu sebelum keluar.
Amira menarik napas pelan. Pilihan anaknya memang… tidak biasa. Tapi laki-laki yang bisa menahan diri di saat seperti ini—itu bukan hal kecil. Fikri memiliki self control sebagai pria normal yang gak bisa dipisahkan dari napsu.
Ia melangkah mendekat. “Coba lihat yang ini,” ucapnya sambil merapikan sedikit bagian bahu Zizi.
Zizi menurut. Fikri ikut melihat. Amira mengamati dari depan. Lalu sedikit memiringkan kepala.
“Bagus sih…” katanya pelan.
Zizi mengangkat wajah, berharap persetujuan dari ibunya.
“Tapi…” lanjut Amira ringan, “terlalu tertutup.”
Deg.
Zizi berkedip.
Amira melanjutkan santai, “Coba bagian belakangnya dibuka sedikit. Atau dada…” Ia menggerakkan tangan memberi gambaran. “Biar lebih kelihatan bentuknya.”
Fikri langsung menoleh cepat. Matanya melebar refleks. “Bu!”
.
.