Dilamar Mokondo yang SALEH

Menggalau

Lampu gang di luar berpendar kekuningan, menimpa aspal yang mulai sepi. Kadang ada motor lewat, lalu sunyi lagi. Rumah kecil itu kembali tenang seperti biasa, tapi isi kepala Fikri justru semakin ramai.

Ia menyandarkan bahu ke dinding dekat jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa-apa.

"Kalau Zizi menyadarinya… apa yang akan dia lakukan?"

Fikri menutup mata sebentar, menghela napas pelan, lalu tertawa kecil. “Belum mulai saja sudah mikir sejauh ini,” gumamnya.

Ia berjalan pelan kembali ke tengah ruang tamu. Lututnya masih sedikit terasa nyeri ketika melangkah, tapi pikirannya terasa jauh lebih berat daripada luka kecil itu.

Ibunya benar. Perjuangan seperti ini tidak selalu berakhir menang.

Zizi datang sendirian sore tadi. Kalau benar tidak peduli… dia tidak akan ke sini. Pikiran itu membuat dada Fikri terasa sedikit lebih hangat. Namun ucapan ibunya kembali terngiang.

Fikri menunduk, kedua tangannya bertaut di depan lututnya. Kalau suatu hari ada laki-laki lain yang datang. Lebih mapan. Lebih selevel dengan keluarga Zizi. Lebih pantas di mata orang-orang di sekelilingnya. Apa yang bisa ia lakukan?

Fikri mengangkat kepala, menatap kosong ke arah televisi yang masih menyala tanpa benar-benar ia tonton.

Pertanyaan itu berputar lama di kepalanya.

Ia tidak bisa mengatur masa depan Zizi, apalagi keputusan keluarganya. Bahkan tidak tahu Zizi sendiri nanti akan memilih siapa.

Fikri menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi. “Ya sudah,” gumamnya pelan.

Kalau suatu hari Zizi benar-benar harus pergi… setidaknya ia tidak akan menjadi laki-laki yang hanya berdiri diam dan menonton dari jauh. Ia akan datang dengan versi terbaik dirinya.

Ia mengambil ponselnya yang retak di meja, menatap layar yang masih mati.

Besok ia harus kembali ke kampus. Bertemu Zizi lagi. Berbicara seperti biasa. Bersikap normal. Dan entah kenapa, mulai besok… hal itu mungkin justru akan menjadi yang paling sulit.

Malam makin larut, tapi Fikri belum juga masuk kamar.

Ia duduk di kursi ruang tamu, kedua siku bertumpu di lutut, menatap lantai yang kosong. Rumah sudah sunyi, tapi pikirannya justru semakin penuh.

Fikri sekarang bukan lagi sekadar mahasiswa tingkat akhir. Magang yang dulu ia jalani di BMT ternyata berlanjut. Mereka menawarinya tetap bekerja setelah lulus nanti.

Sesuatu yang seharusnya membuatnya lega. Tapi malam ini justru terasa sebaliknya.

Ia sudah tahu gajinya. Cukup untuk dirinya sendiri hidup sederhana. Bahkan mungkin cukup untuk membantu orang tua sedikit.

Tapi untuk hidup berdua? Fikri menghela napas panjang, menekan wajahnya dengan kedua tangan. “Ah…”

Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah yang mulai kusam dimakan waktu.

Bayangan tentang Zizi datang lagi, tanpa diminta.

Awalnya ia tidak pernah berpikir jauh. Zizi hanya salah satu panitia waktu acara besar kampus itu. Gadis yang sibuk mondar-mandir mengatur orang, mencatat sesuatu di buku kecilnya, sesekali tersenyum ketika sesuatu berjalan lancar.

Fikri masih ingat pertama kali benar-benar memperhatikannya.

Zizi berdiri di samping panggung, wajahnya sedikit berkeringat, tapi matanya berbinar ketika acara yang mereka siapkan berbulan-bulan akhirnya berjalan mulus.

Senyumnya waktu itu… tidak dibuat-buat. Senyum orang yang benar-benar bahagia karena sesuatu yang ia kerjakan berhasil.

Sejak saat itu, tanpa sadar Fikri mulai sering melihat ke arahnya.

Zizi bukan tipe yang menonjol. Pakaiannya sederhana. Warna-warna lembut. Bahkan sering duduk di barisan belakang kalau ada kajian kampus.

Kalau ke perpustakaan, kadang Fikri baru sadar mereka duduk di ruangan yang sama setelah satu jam berlalu.

Ritme mereka anehnya mirip.

Fikri menutup mata sebentar. Dulu semua itu terasa biasa saja. Ia bahkan tidak tahu Zizi berasal dari keluarga seperti apa. Sampai suatu hari ia melihat sendiri rumahnya.

Saat itu Fikri baru benar-benar sadar. Zizi hidup di dunia yang berbeda. Dan sejak hari itu, perasaan yang tadinya ringan mulai terasa berat.

Apalagi setelah ia mendengar cara Zizi berbicara tentang masa depan. Tentang pernikahan.

Bahwa rumah tangga bukan soal siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling siap memimpin dan menjaga.

Kalimat-kalimat seperti itu seharusnya menenangkan. Tapi justru membuat dada Fikri terasa makin sempit. Karena semakin ia mengenal cara berpikir Zizi… semakin ia tahu perempuan itu tidak akan memilih sembarangan.

Fikri menunduk, kedua tangannya saling menggenggam sekarang. “Gajiku segini…” gumamnya pelan.

Ia bahkan belum punya tabungan yang cukup.

Belum punya rumah. Selain pekerjaan yang masih terasa rapuh. Dan di tengah semua itu… hatinya sudah terlanjur berjalan terlalu jauh.

Fikri tertawa kecil, pahit. “Aaah, Zii…” Ia mengusap wajahnya pelan. “Aku ini gimana, sih.”

Kalau saja ia tidak terlalu sering memperhatikan senyum itu. Cara Zizi menunduk malu ketika dipanggil. Atau bagaimana gadis itu selalu datang ke kajian tanpa pernah ingin dilihat orang. Mungkin semuanya akan lebih mudah. Tapi sekarang perasaan itu sudah berubah bentuk. Dari sekadar suka… menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Dan ketika ia mulai memahami siapa Zizi sebenarnya… ia sadar betapa jauhnya jarak di antara mereka.

Fikri menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap kosong ke depan. “…Aku bahkan belum mulai.” Ia menghela napas panjang. “Tapi kenapa rasanya… sudah jatuh terlalu dalam.”

Beberapa detik terdiam, Fikri tersenyum tipis, seolah baru sadar kebodohannya sendiri.

“Aaah, Zizi…” Ia menutup mata, merasakan debar di dadanya.

Tiba-tiba.

“Daritadi senyam-senyum, kamu anget atau kesambet?”

Suara tenang itu terdengar. Fikri membuka matanya lagi, terkejut melihat sosok yang berdiri di ambang pintu ruang tamu.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!