Dilamar Mokondo yang SALEH

Gubrak

Brak.

Ban motor Fikri menyeret aspal saat ia membanting setang ke kiri. Sebuah mobil hitam melesat dari arah kanan, menerobos lampu merah tanpa melambat sedikit pun.

Angin keras dari bodi mobil itu hampir menyerempetnya. Motor Fikri tergelincir. Tubuhnya terlempar sedikit ke samping sebelum akhirnya jatuh di sisi jalan. Helmnya menghantam aspal dengan bunyi tumpul.

Beberapa detik dunia terasa sunyi. Baru kemudian suara orang-orang mulai terdengar.

“Mas! Mas nggak apa-apa?”

“Sabar, sabar… bangun dulu pelan!”

Fikri membuka mata. Dadanya naik turun cepat. Tangannya refleks meraba aspal, memastikan tubuhnya masih bisa digerakkan.

Lututnya perih. Siku kirinya terasa panas seperti terbakar. Ia duduk perlahan. Motor tergeletak beberapa meter dari tempatnya jatuh.

“Mobilnya kabur,” kata seseorang di dekatnya.

Fikri hanya mengangguk kecil. Napasnya masih belum stabil. Ia menunduk sebentar, mencoba mengatur napas. Helmnya masih menempel di kepala, sedikit miring.

Beberapa detik kemudian ia melepasnya. Angin malam terasa lebih dingin sekarang.

Seseorang membantu menegakkan motornya. “Mas kuat bawa motor?”

Fikri berdiri perlahan. Lututnya sedikit gemetar, tapi masih kuat. “Iya… makasih, Pak.” Ia menerima motornya kembali. Mesin masih bisa menyala.

Beberapa orang yang tadi mengerubunginya mulai bubar setelah memastikan ia tidak terluka parah.

Jalan kembali sepi. Fikri berdiri sebentar di pinggir trotoar.

Baru sekarang pikirannya mengingat kejadian barusan. Kalau tadi ia terlambat menarik setang sedikit saja…

Ia menghela napas panjang. Entah kenapa, wajah yang muncul di kepalanya justru Zizi. Ekspresi kaget gadis itu.

Fikri menunduk, lalu tertawa getir meski lututnya masih terasa nyeri. “Baru bayangin gitu aja… sudah hampir ditabrak.”

Ia menggeleng pelan. Saat hendak naik ke motor lagi, sesuatu bergetar di saku jaketnya.

Ayahnya menelpon. Fikri memberi tahu bahwa dia baru saja selamat dari kecelakaan sehingga tiba di rumah lebih lama sebab mengendarai motornya perlahan.

***

Keesokan paginya ruang BEM cukup ramai. Beberapa panitia wisuda sudah duduk mengelilingi meja panjang dengan laptop dan tumpukan kertas di depan mereka. Zizi duduk di sisi kanan, membuka file catatan sambil sesekali melihat pintu.

Biasanya Fikri sudah datang lebih dulu, tapi pagi ini dia belum muncul.

Ketika pintu ruangan terbuka, semua kepala menoleh hampir bersamaan.

Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu dengan map cokelat di tangannya. Wajahnya tenang, berpenampilan sederhana, tapi sorot matanya tegas.

“Permisi,” katanya sopan.

Ketua panitia langsung berdiri. “Iya, Pak?”

“Saya ayahnya Fikri.” Pria itu mengulurkan map yang ia bawa. “Laporan dokumentasi yang harus dia setorkan hari ini.”

Beberapa mahasiswa saling pandang. Zizi yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat kepala.

“Ayahnya Fikri?” ulang ketua panitia.

Pria itu mengangguk pelan. “Semalam Fikri jatuh dari motor. Tidak parah, tapi ponselnya rusak dan belum bisa dipakai. Dia minta saya mengantarkan ini.”

Ruang rapat yang tadinya riuh tiba-tiba sedikit sunyi. Zizi merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

Ketua panitia menerima map itu. “Oh… iya, Pak. Terima kasih banyak.”

Pria itu hanya mengangguk kecil, lalu berpamitan. “Kalau begitu saya permisi.”

Begitu beliau keluar ruangan, Zizi refleks berdiri. Ia izin keluar beberapa detik kemudian.

Lorong kampus masih cukup sepi. Pria itu sudah berjalan beberapa langkah menjauh.

“Pak…!” panggil Zizi.

Beliau berhenti dan menoleh. Zizi mempercepat langkahnya sedikit sampai akhirnya berdiri di depan beliau.

“Bagaimana Kak Fikri, Pak?” tanyanya pelan, napasnya masih sedikit terburu karena berjalan cepat.

Ayah Fikri tersenyum tipis, menenangkan.

“Tidak parah, Nak Zizi,” katanya lembut. “Cuma jatuh menghindari mobil semalam. Sekarang istirahat saja di rumah.”

Zizi mengangguk ragu, wajahnya masih terlihat khawatir. “Wisuda tinggal sebulan lagi…” katanya ragu. “Kak Fikri nanti sudah pulih belum ya?”

Ayah Fikri tertawa pelan, hangat. “Sudah. Dia kuat.” Beliau menatap Zizi sebentar, seperti memahami kekhawatiran itu lebih dari yang diucapkan. “Kalau mau ke rumah, silakan.”

Zizi sedikit tertegun.

“Barangkali masih ada yang perlu didiskusikan soal wisuda,” lanjut beliau ringan.

“Oh.” Zizi mengangguk pelan. “Iya, Pak.”

Pria itu lalu mengangguk sekali lagi sebelum melanjutkan langkahnya menuju tangga.

Zizi tetap berdiri di lorong beberapa detik.

Entah kenapa, sejak mendengar kabar kecelakaan itu, pikirannya tidak bisa berhenti memutar satu kalimat yang semalam ia dengar.

Angin dari jendela lorong berhembus pelan melewati rambutnya. Dan tiba-tiba saja Zizi sadar satu hal kecil yang membuat dadanya kembali berdebar. Ia diizinkan main ke rumah Fikri.

*

Beberapa jam setelah rapat selesai, Zizi masih memikirkan percakapan di lorong tadi. Kata-kata ayah Fikri sederhana saja, tapi entah kenapa menempel di pikirannya.

Kalau mau ke rumah, boleh saja.

Sore itu langit mulai meredup ketika motor Zizi berhenti di ujung gang yang tidak terlalu lebar. Rumah-rumah berdiri rapat, sebagian dengan pagar sederhana, sebagian lagi hanya pot tanaman di depan teras.

Zizi turun dari motor sambil membawa kantong kecil berisi buah. Ia sempat berdiri sebentar di depan pagar rumah yang dicari. Rumahnya sederhana, cat dindingnya bersih, dan ada pohon jambu kecil di samping teras.

Dari dalam terdengar suara televisi pelan. Zizi menarik napas kecil sebelum mengetuk pagar.

Seorang wanita keluar beberapa saat kemudian. Usianya sekitar lima puluhan, wajahnya lembut, kerudungnya terpasang rapi.

“Ya, Nak?”

Zizi sedikit menunduk sopan. “Assalamu’alaikum, Bu. Saya Zizi… teman kampus Kak Fikri.”

Wanita itu langsung tersenyum ramah. “Wa’alaikumussalam. Oh, dari kampus?” Ia membuka pagar. “Masuk, Nak.”

Zizi melangkah masuk pelan. Suasana rumah itu hangat dan rapi, dengan ruang tamu kecil yang sederhana tapi terawat.

“Fikri di kamar,” kata wanita itu. “Sejak pagi disuruh istirahat.”

Zizi mengangguk kecil. Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.

Fikri muncul dengan kaus rumah dan celana santai. Di siku kirinya ada plester kecil, dan jalannya sedikit lebih hati-hati dari biasanya.

Begitu melihat siapa yang berdiri di ruang tamu, ia langsung berhenti. “Zi?”

Zizi mengangkat kantong yang dibawanya sedikit. “Cuma mau lihat… Kak Fikri masih hidup atau nggak.”

Fikri tertawa pendek. “Hidup.”

Ia berjalan mendekat, masih dengan ekspresi heran. “Kamu ke sini?”

“Ayahmu yang bilang boleh,” jawab Zizi ringan.

Fikri mengangguk kecil, lalu bersandar sedikit ke kusen pintu, seperti masih menyesuaikan tubuhnya yang agak pegal.

Ibunya berdiri beberapa langkah dari mereka sambil memperhatikan. Zizi lalu menyerahkan kantong buah itu.

“Terima kasih,” kata ibunya sambil menerimanya.

Beberapa menit kemudian mereka duduk di ruang tamu. Obrolannya ringan saja, seputar rapat wisuda, laporan dokumentasi, dan file video yang masih harus disusun.

Sesekali Fikri mengerutkan wajah ketika menggerakkan siku kirinya.

Zizi langsung menatapnya. “Sakit?”

“Sedikit.”

“Kak Fikri ceroboh?” gumam Zizi pelan.

Fikri hanya tersenyum tipis, tak menjawabnya.

Beberapa saat kemudian Zizi pamit pulang. Ibunya mengantar sampai ke teras.

“Terima kasih sudah datang, Nak.”

Zizi mengangguk sopan. “Iya, Bu.”

Motor Zizi perlahan meninggalkan gang itu.

Ketika suara motornya sudah tidak terdengar lagi, ibunya kembali masuk ke rumah.

Fikri masih berdiri di ruang tamu.

Wanita itu menatap anaknya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Tumben ada perempuan diizinkan ke sini?”

Fikri mengangkat bahu ringan. “Dia panitia. Perwakilan jenguk kali, Bu.”

Ibunya tidak langsung menjawab, hanya memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup, lalu kembali menatap Fikri.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Jangan jatuh cinta dengannya, Dek.”

Fikri mengerutkan dahi. “Kenapa?”

Ibunya menghela napas pelan. “Zizi itu...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!