Dibalik Seragam Sekolah

Kebenaran Yang Terungkap

Keesokan harinya, suasana sekolah masih belum pulih dari guncangan gosip tentang Raka. Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda Clara tidak lagi hanya diam dan menelan ketidakadilan, ada tekad baru dalam sorot matanya, dia yakin pasti ada yang sengaja mau mencelakakan Raka.

 

Sejak pagi, ia sudah duduk di depan ruang keamanan sekolah, menunggu petugas membuka akses rekaman CCTV. Wajahnya serius, meski hatinya berdebar kencang. Viola duduk di samping Clara, menggenggam tangannya.

 

“Kamu yakin mau lihat sendiri?” tanya Viola ragu.

 

Clara mengangguk pelan. “Kalau bukan aku yang bergerak, siapa lagi? Raka nggak mungkin membela diri. Dan kata Bayu, kejadian itu harus dibuktikan.”

 

Tidak lama kemudian, petugas keamanan datang. “Kalian mau lihat rekaman hari kemarin, ya?”

 

Clara berdiri. “Iya, Pak. Jam istirahat, waktu Raka terkunci di toilet.”

 

Petugas itu mengangguk lalu memutar rekaman sesuai waktu yang dimaksud.

 

Clara menahan napas ketika layar menampilkan koridor menuju toilet lantai dua. Beberapa siswa keluar masuk, tapi kemudian…

 

Tiga anak lelaki berjalan bergerombol. Salah satunya yaitu Rendi. Clara dan Viola langsung saling pandang. 

 

Di rekaman itu terlihat jelas tiga anak mengikuti Raka dari kejauhan. Setelah Raka masuk ke toilet, mereka menunggu beberapa detik, lalu salah satu dari mereka, Rendi sendiri mendorong pintu dari luar dan mengganjalnya dengan tongkat pel. Ia tertawa kecil, lalu kabur bersama kawan-kawannya.

 

Clara merasakan dadanya panas, wajahnya memerah antara marah dan kecewa.

 

“Inilah buktinya, Pak,” kata Clara tegas, dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Rendi.

 

Petugas keamanan mengangguk. “Iya, ini jelas. Saya laporkan ke wakasek dan Guru BK.”

 

Clara menghela napas panjang, merasa lega sekaligus sedih. Viola menepuk pundaknya.

 

“Kamu hebat, Cla. Raka pasti berterima kasih kalau tahu, tapi bagaimana kamu akan menyikapi Rendi setelah tahu ini perbuatannya?" tanya Viola dia tahu betul jika Rendi menyukai Clara.

 

Clara hanya tersenyum samar. Ia tidak melakukan ini demi dipuji, ia hanya tidak tahan melihat ketidakadilan. Untuk masalah Rendi dia akan pikirkan nanti yang terpenting sekarang dia sudah mengetahui siapa yang sudah mencelakakan Raka.

 

***

 

Siang itu, pengumuman mendadak menggema melalui speaker sekolah.

 

“Rendi, Aldi, dan Vino harap menuju ruang wakasek sekarang.”

 

Seluruh kelas serentak menoleh, sebagian kaget, sebagian berpura-pura tidak peduli tapi telinganya tajam.

 

Rendi yang duduk di pojok kelas mematung. Ia tahu ini pasti tentang kejadian kemarin. Ia menatap Clara dengan tatapan kesal bercampur kecewa, wanita yang dicintainya malah membela cowok lain.

 

Clara mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdetak cepat.

 

Saat Rendi bangkit, temannya menepuk bahunya. “Bro… gimana nih?”

 

Rendi tidak menjawab, hanya mengepalkan tangan. 

 

*** 

 

Di ruang wakasek, suasana hening menegangkan.

 

Guru BK, wakasek, dan petugas keamanan berdiri menatap Rendi dan dua temannya.

 

“Rekaman CCTV sudah kami lihat,” kata wakasek membuka pembicaraan. “Kalian bertiga mengikuti Raka ke toilet, lalu mengunci pintunya dengan sengaja. Kalian sadar tindakan itu sangat membahayakan?”

 

Aldi dan Vino menunduk dalam ketakutan. Sementara Rendi mencoba tetap tegar, tapi sorot matanya sudah tidak berkedip.

 

“Saya… saya cuma bercanda, Pak…” suaranya bergetar.

 

“Itu bukan candaan,” tegas Guru BK. “Itu perundungan. Dan sekolah tidak bisa menoleransinya.”

 

Akhirnya, keputusan dibacakan: Piket membersihkan kamar mandi selama satu bulan, Lari keliling lapangan 20 kali sebelum jam masuk selama dua minggu, Poin pelanggaran berat ditambahkan dan Surat pemanggilan orang tua. 

 

Ketiga anak itu langsung pucat, Rendi pasrah dia mengakui jika perbuatan salah.

 

“Ada pertanyaan?” tanya wakasek.

 

Tidak ada yang berani menjawab. Bahkan Rendi hanya bisa menggigit bibirnya.

 

Saat mereka keluar dari ruang wakasek, beberapa siswa mencuri-curi pandang. Rendi merasa seluruh dunia menatapnya seolah ia seorang penjahat. Rasa malu berubah menjadi amarah yang membara.

Rendi tidak takut akan hukumannya, surat pemanggilan orangtua? Bagaimana jika dia dipindahkan keluar negeri jika sampai Papa nya tahu dia sudah membuat masalah.

 

***

 

Ketika mata pelajaran terakhir selesai, Viola menghampiri Clara dengan tergesa-gesa.

 

“Cla, Rendi baru saja ngomong ke temannya… dia marah banget sama kamu.”

 

Clara berhenti memasukkan buku ke tas. “Marah sama aku?”

 

“Iya. Katanya kamu ngadu ke guru. Dia nggak nyangka kamu bela Raka.”

 

Clara terdiam. Ada sedikit rasa takut, tapi lebih banyak rasa sedih.

 

“Aku cuma bilang yang sebenarnya… aku cuma pengen kejadian itu nggak keulang lagi.”

 

Viola menatapnya prihatin. “Aku tau. Tapi buat Rendi, itu sudah melukai hatinya, dia juga tadi mendapat surat pemanggilan orangtua,"

 

"Surat pemanggilan orangtua? Dia mau di skors?" Clara terkejut mendengarnya, dia menghela napas. 

 

"Aku kurang tahu deh, tapi dia sudah mendapatkan hukuman dari guru," terang Viola yang selalu menjadi informan Clara.

 

Sementara itu, Bayu baru pulang sekolah dan langsung mengayuh sepedanya menuju rumah Raka. Udara sore terasa lembut, tapi pikirannya masih panas mengingat pertengkaran dengan Rendi, gosip kelas dan semua kekacauan yang muncul gara-gara satu perbuatan bodoh.

 

Rumah Raka sederhana, dengan halaman kecil tempat ibunya menjemur pakaian. Bayu memarkir sepeda dan mengetuk pintu.

 

“Assalamualaikum!”

 

Tidak lama, ibu Raka membuka pintu. “Wa’alaikumussalam, Bayu. Ada perlu? Raka lagi di kamar.”

 

“Boleh saya lihat Raka, Bu?”

 

“Tentu, Nak. Masuk aja.”

 

Bayu masuk perlahan, menemukan Raka sedang duduk bersandar di kasur dengan selimut menutupi kakinya. Wajahnya masih pucat, tapi lebih baik dari kemarin.

 

“Yu…” Raka tersenyum lemah. “Kok dateng?”

 

Bayu duduk di kursi dekat kasur. “Dateng lah. Banyak cerita di sekolah.”

 

Raka menegakkan tubuh. “Cerita apa?”

 

Bayu menghela napas panjang. “Banyak banget yang terjadi setelah kamu nggak masuk. Dan… Rendi ketahuan.”

 

Raka membelalakkan mata. “Ketahuan?”

 

“Clara yang minta cek CCTV,” jelas Bayu. “Ketahuan kalau yang ngunci pintu itu Rendi dan dua temannya.”

 

Raka tenggelam dalam diam. Bukan kaget, ia sudah menduga tapi mendengar langsung membuat hati kecilnya mencelus.

 

Bayu melanjutkan, “Mereka dihukum. Piket kamar mandi satu bulan. Lari keliling lapangan juga dan orang tua mereka bakal dipanggil.”

 

Raka menelan ludah. “Astaga, kasihan sekali mereka."

 

“Ngapain harus kasihan! Lo hampir pingsan, Rak! Kalo telat sedikit, siapa yang tau apa yang terjadi.”

 

Raka menunduk. “Aku cuma nggak nyangka Clara mau repot sampai cek CCTV.”

 

Bayu mengangguk. “Iya. Dia kelihatan cemas banget tadi pagi, dan dia… ya, dia bela lo.”

 

Raka terdiam lama. Di hatinya ada rasa hangat, tapi ia menahan diri. Tidak ingin salah paham, tidak ingin berharap terlalu jauh.

 

“Viola juga bantu. Kelas heboh banget… gosip di mana-mana.” Bayu mengangkat bahu.

 

Raka menghela napas. “Sampai Clara digosipin juga ya?”

 

“Banget,” jawab Bayu tanpa tedeng aling-aling. “Tapi Viola bela habis-habisan.”

 

Raka memejamkan mata sebentar. “Kasihan mereka berdua kena imbasnya.”

 

Bayu menepuk bahu Raka. “Yang penting sekarang, lo istirahat. Besok kalau kuat, masuk aja. Kelas udah chaos tanpa lo.”

 

Raka tersenyum kecil. “Chaos apaan. Justru aku takut makin banyak gosip.”

 

“Cuekin. Yang penting lo balik. Kita hadapi bareng-bareng.”

 

Raka mengangguk dan dalam hati, ia tahu satu hal:

Kejadian ini bukan hanya membuka kebenaran, tapi juga membuka matanya kepada siapa yang benar-benar peduli.

Di luar sana, kelas masih dipenuhi bisik-bisik. Rendi masih dirundung amarah dan malu. Clara masih harus menahan tatapan yang menghakimi. Raka memang hendak masuk sekolah hari ini, namun ibunya melarang karena tubuhnya masih demam. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!