Dibalik Seragam Sekolah

Bisik-bisik Yang Membelah Kelas

Pagi itu, suasana kelas X-2 tidak seperti biasanya, tidak ada suara tawa kecil dari pojok belakang tempat Bayu sering bercanda, tidak ada sapaan ceria dari beberapa murid yang biasanya memulai hari dengan obrolan ringan. Sebaliknya, kelas dipenuhi gumaman pelan, namun cukup untuk membuat udara terasa berat.

 

“Katanya Raka pingsan di toilet?” bisik seorang anak perempuan dengan nada penuh rasa ingin tahu.

 

“Iya, katanya terkunci lama… siapa ya yang iseng begitu?” sambung temannya.

 

Dua bangku dari mereka, sekelompok anak lelaki sudah membicarakan hal yang sama, dengan nada lebih panas.

 

“Gila, itu kejadian beneran? Makanya kok nggak masuk hari ini.”

 

“Yang buka pintunya katanya Guru BK sendiri. Parah sih…”

 

Gosip itu menyebar seperti api yang menyambar daun kering, satu murid mengulang cerita ke murid lain, menambah bumbu seolah itu hal lumrah dalam gosip sekolah. Dalam hitungan menit, semua sudah mendengar.

 

Semua… termasuk Clara.

 

Clara duduk di tempatnya, mencoba fokus membuka buku pelajaran, tapi tatapannya kosong. Rasa cemas menempel di dadanya sejak pagi tadi ketika melihat bangku Raka kosong. Ia sudah menduga Raka tidak mungkin masuk sekolah, tapi mendengar gosip teman-temannya membuat cemas itu berubah menjadi rasa perih.

 

“Apa mereka harus membicarakannya sekeras itu…” gumam Clara pelan.

 

Viola, yang duduk di sebelahnya, langsung menepuk lengannya lembut.

 

“Biarkan saja. Mereka cuma ribut sebentar, nanti juga bosan,” kata Viola menenangkan.

 

Clara menunduk. “Tapi kenapa aku juga ikut-ikutan digosipkan, Vi? Tadi aku lewat, terus ada yang bilang aku sengaja ikut Raka ke puskesmas. Mereka pikir… tahu lah. Padahal aku cuma—”

 

“Clara,” potong Viola halus, “kamu cuma peduli. Dan itu bukan salah.”

 

Tapi gosip memang tidak pernah peduli mana yang benar, mana yang tidak. Di sudut lain kelas, dua anak perempuan sedang berbisik sambil melirik ke arah Clara.

 

“Kamu lihat nggak? Waktu itu Clara ikut ngantar Raka. Dekat banget mereka ya…”

 

“Pantes Rendi marah-marah terus. Clara sama Raka, hmm…”

 

Clara mendengarnya meski mereka mencoba pelan. Viola terlihat geram.

 

“Kalau mereka ngomong macam-macam lagi, aku samperin,” gumamnya, nada suaranya meninggi.

 

Clara buru-buru menggeleng. “Jangan, Vi. Nanti malah tambah heboh.”

 

Di sisi lain kelas, Bayu masuk tergesa-gesa. Wajahnya murung, dan ia langsung menuju meja Clara.

 

“Clara.” Suaranya rendah, lebih serius dari biasanya.

 

Clara menoleh pelan. “Ya, Yu?”

 

“Apa yang terjadi sama Raka? Aku denger-denger… tapi aku pengen tahu dari kamu.”

 

Clara menjelaskan pelan, tidak memberi detail berlebihan. Ia hanya mengatakan bahwa Raka terkunci, tidak bisa keluar, dan ketika ditemukan tubuhnya lemah dan menggigil. Bayu mendengarkan dengan mata membesar.

 

“Siapa yang tega banget ngelakuin begitu?” desis Bayu, suaranya menahan marah.

 

Clara tak menjawab. Tapi dari sorot matanya, Bayu bisa menebak arah pikirannya.

 

Bayu mengepalkan tangan. “Rendi, ya?”

 

Clara cepat menggeleng. “Aku nggak bilang begitu! Dan kita nggak punya bukti—”

 

“Clara.” Bayu menatapnya, rahangnya mengeras. “Yang paling dendam sama Raka cuma dia. Udah jelas.”

 

Before Clara sempat menahan, Bayu sudah berbalik. Langkahnya cepat, matanya telah mencari sosok Rendi.

 

Dan sialnya, ia menemukannya dengan mudah Rendi sedang tertawa bersama dua temannya di dekat loker.

 

Jam istirahat.

Koridor belakang sekolah biasanya sepi, tapi hari ini justru menjadi saksi amarah yang lama tertahan.

 

“REN!” Bayu memanggil keras.

 

Rendi menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Apa?”

 

Bayu berjalan cepat mendekat. “Gue mau nanya. Loe yang ngunci Raka di toilet, kan?”

 

Dua teman Rendi menoleh satu sama lain, tampak tidak nyaman. Rendi tertawa kecil.

 

“Ngaco. Ngapain gue ngelakuin hal bodoh kayak gitu?”

 

“Muka lo bilang sebaliknya,” kata Bayu tajam.

 

“Oh? Atau lo yang terlalu percaya sama cerita cewek itu?” ejek Rendi, matanya melirik sinis ke arah kelas seolah menyebut nama Clara tanpa perlu mengucapkannya.

 

Kalimat itu memantik api.

 

Bayu langsung menarik kerah baju Rendi. “Hati-hati kalo ngomong!”

 

Rendi membalas mendorong. “Lo yang mulai duluan!”

 

Benturan bahu, dorongan tangan, lalu… pukulan. Satu. Dua.

 

Keributan itu cepat memicu perhatian siswa lain. Beberapa menjerit, beberapa menonton tanpa berusaha melerai. Nama dua anak itu memang terkenal kuat—tak seorang pun mau ikut campur.

 

Hingga akhirnya seorang guru melihat pertengkaran itu dan berteriak,

 

“HEY! BERHENTI!!”

 

Keduanya dipisahkan dengan paksa. Napas keduanya terengah-engah, wajah merah oleh emosi.

 

“Ke kantor sekarang juga!!” bentak guru tersebut.

 

Dengan wajah geram dan tubuh panas oleh kemarahan, Bayu dan Rendi diseret menuju ruang guru.

 

Di dalam kelas, Clara hanya bisa menggenggam buku erat-erat ketika mendengar kabar bahwa Bayu dan Rendi bertengkar dan sekarang berada di kantor guru.

 

“Bayu kenapa sih bisa sampai segitunya?” desah Clara, menatap ke meja kosong Raka dan Bayu.

 

Viola menepuk bahunya lagi. “Karena dia sayang sama temannya. Dia nggak suka Raka diperlakukan nggak adil. Dan dia tau kamu sedih.”

 

Clara menutup wajahnya dengan tangan. “Tapi aku nggak mau semuanya jadi besar begini… aku cuma—”

 

“Kamu cuma khawatir sama Raka,” sela Viola lembut. “Dan itu manusiawi, Cla.”

 

Di kantor guru, suasana tegang. Bayu berdiri dengan napas masih naik turun, sementara Rendi mencoba menahan rasa sakit di bibirnya yang pecah.

 

Guru BK menatap mereka serius. “Kalian berdua, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

 

Bayu ingin menjawab, tapi guru BK menghentikannya.

 

“Bayu, kamu dulu.”

 

Bayu menelan ludah. Suaranya berat. “Saya marah, Bu. Karena ada orang yang ngelakuin hal jahat ke Raka. Dia terkunci di toilet kemarin. Dan saya yakin… Rendi punya andil.”

 

Rendi langsung memprotes. “Fitnah! Saya cuma… saya cuma—”

 

Guru BK mengangkat tangan. “Rendi, nanti giliranmu.”

 

Rendi mengepalkan tangan, tapi diam.

 

Guru BK menatap keduanya bergantian. “Saya sudah dengar beberapa gosip. Tapi saya ingin kalian tau satu hal apapun masalah kalian, kekerasan bukan solusi.”

 

Hening sejenak.

 

Guru BK melanjutkan, “Dan soal Raka… sekolah akan menyelidiki siapa pelakunya. Jika ada bukti, akan ada konsekuensi.”

 

Rendi menunduk, tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takut maupun kesal.

 

Sementara Bayu menarik napas panjang. “Baik, Bu…”

 

Pertemuan itu berlangsung lama, hingga akhirnya keduanya diberi surat panggilan untuk orang tua. Denda poin pelanggaran diberikan, meski Bayu lebih merasa puas daripada menyesal.

 

Di kelas, Clara memandangi pintu dengan cemas. Ketika Bayu kembali dengan wajah sedikit lebam, Clara berdiri.

 

“Yu… kamu nggak apa-apa?”

 

Bayu tersenyum kecil. “Dikit doang kok.”

 

“Tapi kamu harusnya nggak perlu—”

 

“Clara,” Bayu memotong dengan nada tenang, “gue nggak bisa diem. Raka temen gue. Lo juga tau dia nggak pernah cari masalah.”

 

Clara terdiam, menahan rasa haru. Viola, yang sejak tadi mendengarkan, tiba-tiba berkata, “Sudahlah. Semoga Raka cepat masuk sekolah. Biar semua gosip aneh ini berhenti.”

 

Clara mengangguk pelan. “Iya… aku juga berharap begitu.”

 

Namun harapan itu tidak menghentikan bisik-bisik yang terus terdengar sepanjang hari. Gosip bukan hanya tentang Raka yang terkunci di toilet, tetapi juga Clara yang mereka anggap “punya hubungan spesial” dengan Raka. Clara memilih diam, tapi hatinya terasa perih.

 

Sementara itu, Bayu duduk sambil memandangi bangku kosong Raka, gusar karena temannya menderita oleh perbuatan yang belum tentu bisa dimaafkan.

 

Dan di sisi lain, Rendi duduk dengan wajah muram, bukan hanya karena lebam di bibirnya, tapi karena bayang-bayang takut menyelimuti pikirannya.

 

Gosip telah membelah kelas menjadi dua mereka yang membela, mereka yang menghakimi. Dan belum ada yang tahu bahwa badai yang lebih besar masih menunggu di depan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!