Dibalik Seragam Sekolah

Awal dari Alasan Sunyi

Sejak kejadian buku Raka yang hilang tempo hari, suasana di kelas berubah. Tidak ada yang benar-benar membicarakannya secara langsung, tapi bisikan-bisikan kecil masih terdengar. Beberapa siswa berbisik di belakang, beberapa hanya menatap sekilas setiap kali Raka lewat.

Namun Raka tidak lagi menunduk seperti dulu. Ia mulai belajar menegakkan kepala, meski dadanya masih berat setiap kali mendengar tawa kecil dari geng Rendi. Diam-diam, ia menyimpan luka itu dalam diam seperti hujan yang menetes tanpa suara di balik kaca jendela.

Pagi itu, Clara sedang duduk di bangkunya ketika melihat Raka masuk ke kelas. Anak laki-laki itu tampak sedikit pucat, tapi senyum tipis masih berusaha ia tunjukkan ketika menyapa beberapa teman. Tak ada yang membalas. Kecuali satu hal kecil: tatapan singkat dari Clara yang menyiratkan, “Kau tidak sendirian.”

“Clara,” suara lembut memecah lamunannya. Viola, sahabat dekatnya sejak SMP, baru saja duduk di sampingnya sambil membuka buku. “Kamu tuh akhir-akhir ini aneh. Setiap Raka masuk, kamu selalu ngelihat dia.”

Clara menutup bukunya pelan. “Aku cuma... kasihan, Vi. Kamu lihat sendiri kan? Nggak ada yang mau deketin dia.”

Viola menatap sahabatnya heran. “Kasihan boleh, tapi jangan kebawa terlalu jauh. Kamu tahu sendiri, Rendi itu gampang tersulut. Kalau dia tahu kamu bela-bela Raka, bisa ribet, Clara.”

Clara hanya menghela napas kecil. “Aku nggak bela siapa-siapa, aku cuma nggak suka kalau orang baik terus diinjak.”

Viola menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Clara tidak akan mengubah pendapatnya. Sejak dulu gadis itu punya hati yang sulit diam kalau melihat ketidakadilan. Tapi kali ini, lawannya bukan hal sepele. Ini Rendi ketua geng paling berpengaruh di sekolah, anak orang kaya yang bisa membuat siapa pun menunduk.

Bel masuk. Bu Laila masuk membawa setumpuk buku tugas. “Baik, anak-anak, hari ini kita mulai dengan mengulas PR kemarin. Tapi sebelum itu, tolong Raka dan Clara bantu ibu, kumpulkan semua buku tugas teman-teman dan bawa ke kantor, ya?”

Clara menatap Raka sekilas, sementara Raka tampak kaget mendengar namanya disebut. “Baik, Bu,” jawab keduanya hampir bersamaan.

Setelah pelajaran selesai, kelas mulai riuh. Anak-anak berhamburan keluar untuk istirahat, sementara Raka dan Clara sibuk mengumpulkan buku dari meja ke meja. Viola yang masih di kelas memperhatikan dari bangkunya, wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran.

“Clara, aku bantu aja deh,” katanya sambil berdiri.

Clara menggeleng. “Nggak usah, Vi. Aku sama Raka aja.”

Viola mendesah. “Ya udah, tapi hati-hati. Rendi tadi aku liat keluar sambil bisik-bisik sama Vino. Kayaknya mereka ngomongin sesuatu.”

Clara menatap sahabatnya sebentar lalu mengangguk. “Aku tahu, Vi. Makasih ya.”

Ketika mereka hendak mengambil buku dari meja belakang, tangan Clara dan Raka hampir bersentuhan. Keduanya saling terkejut dan buru-buru menarik tangan. Raka terlihat salah tingkah, sementara Clara berusaha menutupi senyum kecil di bibirnya.

“Eh… makasih ya udah bantu,” kata Raka pelan

Clara tersenyum tipis. “Sama-sama. Kamu nggak perlu terus diam, tahu? Kadang diam malah bikin mereka makin berani.”

Raka menatapnya sebentar, lalu berkata lirih, “Aku tahu… tapi aku cuma nggak mau bikin masalah.”

Clara hendak menjawab, tapi sebelum sempat bicara, Rendi masuk ke kelas lagi. Pandangannya langsung jatuh pada keduanya yang sedang berdiri di depan meja dengan tumpukan buku di tangan. Senyum miring muncul di wajah Rendi

“Wah, wah… pemandangan menarik nih,” katanya lantang. Beberapa siswa yang masih di kelas ikut menoleh. “Si anak beasiswa bareng bintang kelas. Cocok banget, ya?

Raka terdiam. Clara menatap Rendi tajam, tapi belum sempat berkata apa-apa, Viola berdiri dari kursinya.

“Udah deh, Ren. Mereka cuma disuruh Bu Laila ngumpulin buku, nggak usah nyindir,” kata Viola cepat, mencoba menengahi.

Rendi mengangkat alis, menatap Viola dengan pandangan mengejek. “Santai aja, Vi. Aku cuma bercanda kok.”

Tapi nada suaranya jelas bukan bercanda. Clara menahan diri, lalu menarik Raka untuk segera keluar membawa tumpukan buku. Mereka berlalu tanpa menoleh lagi.

Begitu di luar kelas, Raka menghela napas berat. “Makasih, Clara… dan Viola juga,” katanya pelan.

Viola yang ikut keluar tersenyum kecut. “Nggak apa-apa. Tapi lain kali hati-hati ya. Rendi bisa cari gara-gara kapan aja.

Clara menatap Viola, lalu berkata lembut, “Kalau kita semua terus takut, dia nggak bakal berhenti, Vi.”

Viola terdiam. Di balik kekhawatiran, ia mulai mengerti kenapa Clara bersikap seperti itu. Mungkin memang harus ada seseorang yang berani, meski kecil langkahnya.

Siang itu, ketika Raka lewat di halaman sekolah, ia membuka tasnya dan menemukan selembar kertas kecil terselip diantara buku. Tulisan tangan yang rapi dan lembut:

“Tetaplah seperti ini. Diam bukan berarti kalah, tapi jangan biarkan mereka mencuri keberanianmu.”

Tidak ada nama tapi ia tahu tulisan siapa itu, untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah itu, Raka tersenyum tulus. Ada rasa hangat yang pelan-pelan menghapus lelahnya.

Di lantai dua, di balik jendela kelas, Clara dan Viola sedang memperhatikan halaman di bawah. Viola menatap sahabatnya dan berkata pelan, “Kamu tahu, Clara… kadang aku iri. Kamu selalu bisa berani meski sendirian.”

Clara tersenyum samar. “Aku nggak berani, Vi. Aku cuma nggak mau diem waktu orang lain disakiti.

Viola memandangi sahabatnya lama. Ia tahu Clara berbeda. Mungkin, keberanian Clara adalah jenis yang sunyi tidak perlu sorotan, tidak butuh pengakuan, tapi bisa mengubah sesuatu.

Dan dari tempatnya berdiri, di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga, Raka menatap gedung kelas lantai dua itu dengan senyum yang sama sekali baru.

Ia tak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi hari itu ia tahu satu hal: masih ada orang yang melihatnya bukan karena kasihan, tapi karena percaya.

Mungkin… disitulah awal dari balasan sunyi itu dimulai. Bukan perlawanan besar, bukan teriakan marah, tapi keberanian lembut yang datang dari seseorang yang memilih peduli ketika dunia memilih diam.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!