Dibalik Seragam Sekolah

Retakan Yang Tak Terucap

Latihan band kembali berjalan rutin setelah libur sekolah berakhir.

 

Ruang musik di belakang aula kembali dipenuhi suara dentingan gitar, ketukan drum yang stabil dan nada bass yang mengalir pelan dari luar, semuanya terdengar rapi bahkan lebih rapi dari sebelumnya. Tidak ada teriakan, tidak ada debat, tidak ada amarah, namun justru di situlah letak perubahannya.

 

Rendi berdiri di posisinya, memegang gitar dengan sikap yang nyaris sempurna. Gerakannya presisi, ekspresinya datar. Ia memainkan bagiannya tanpa cela, tanpa improvisasi berlebihan, tanpa candaan seperti dulu. Profesional, terlalu profesional.

 

Raka memperhatikannya dari sudut matanya.

Dulu, Rendi adalah orang yang paling banyak bicara saat latihan memberi saran, bercanda, kadang memancing emosi. Sekarang ia hanya berbicara jika perlu. Tidak lebih. Tidak kurang.

 

“Masuk di reff kedua,” ucap Rendi singkat.

“Iya,” jawab Raka.

Tidak ada tatapan. Tidak ada senyum kecil.

 

Latihan berlanjut seperti mesin yang berjalan mulus, tapi tanpa hangat.

Vino dan Aldi saling bertukar pandang beberapa kali, merasakan hal yang sama. Ada jarak yang tak terlihat, namun terasa jelas.

 

Selesai latihan, Rendi langsung menyimpan gitarnya.

“Besok jam yang sama,” katanya singkat.

Lalu ia keluar ruangan tanpa menoleh.

 

Raka berdiri diam beberapa detik. Tangannya masih menggenggam mic, dadanya terasa sedikit sesak bukan karena lelah tapi karena perasaan yang sulit ia jelaskan.

 

Di koridor sekolah, Clara melangkah dengan langkah tenang. Senyumnya masih sama, sikapnya tetap ramah, namun ada perubahan kecil yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar memperhatikannya.

 

Ia tidak lagi menunggu Raka di balkon, tidak lagi berjalan berdampingan terlalu lama, tidak lagi mencari-cari alasan untuk duduk berdekatan.

 

Bukan karena perasaannya menghilang justru karena perasaannya semakin jelas. Clara tahu, setiap langkah kecilnya bisa berarti besar bagi orang lain terutama Rendi dan ia tidak ingin menjadi alasan konflik baru, apalagi setelah semua yang terjadi.

 

Saat berpapasan dengan Raka di lorong, mereka hanya saling tersenyum singkat.

“Habis latihan?” tanya Clara.

 

“Iya,” jawab Raka.

“Capek?”

“Lumayan.”

 

Mereka saling tersenyum singkat, percakapan sederhana yang dulu bisa berkembang menjadi obrolan panjang, kini berhenti di sana, keduanya sama-sama menyadari jarak itu dan sama-sama memilih untuk tidak menyentuhnya.

 

Raka menatap punggung Clara yang menjauh, ada rasa kehilangan kecil yang mengendap tapi juga pemahaman diam-diam bahwa mungkin inilah cara paling aman saat ini.

 

Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.

 

Guru Matematika berdiri di depan kelas, menjelaskan materi dengan suara datar yang berulang-ulang. Spidol berdecit di papan tulis, menuliskan rumus-rumus panjang yang biasanya mudah dipahami Clara. Tapi hari ini, pikirannya melayang.

Pandangan Clara tanpa sadar tertuju ke arah bangku Raka di seberang kelas.

 

Raka duduk tegak, mencatat dengan rapi, sesekali mengangguk kecil saat guru menjelaskan, wajahnya terlihat serius terlalu serius, tidak ada lagi senyum kecil saat mata mereka bertemu, tidak ada tatapan singkat yang biasanya membuat Clara gugup tanpa alasan. Sekarang, bahkan tatapan itu pun nyaris tidak ada.

 

“Clara.”

Suara guru memanggil membuat Clara tersentak.

 

“Coba kamu jelaskan langkah nomor tiga.”

Beberapa pasang mata menoleh. Clara menarik napas, berdiri, dan menjelaskan dengan tenang. Jawabannya tepat. Guru mengangguk puas.

 

“Bagus. Duduk.”

Clara duduk kembali, tapi dadanya terasa sesak. Ia berhasil di pelajaran, tapi gagal memahami isi hatinya sendiri.

 

Dari sudut matanya, ia melihat Raka menoleh sebentar cukup untuk memastikan ia baik-baik saja lalu kembali fokus ke catatannya. Isyarat kecil itu sederhana tapi cukup membuat jantung Clara berdetak lebih cepat.

 

Di kelas lain, Rendi duduk bersandar di kursinya. Ia mencatat seperlunya, menjawab saat ditanya, lalu kembali diam. Tidak ada masalah, tidak ada teguran, hanya perubahan ritme yang terasa oleh orang-orang terdekatnya.

 

**** 

 

Di kantin, Bayu duduk di hadapan Raka sambil mengaduk es tehnya.

 

“Lu kelihatan mikir terus akhir-akhir ini,” kata Bayu tanpa basa-basi.

 

Raka menghela napas. “Keliatan banget ya?”

“Banget,” jawab Bayu jujur. “Sejak latihan band mulai lagi, lu berubah.”

 

Raka terdiam.

Bayu melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Gue tahu posisi lu nggak gampang. Satu band sama Rendi, deket sama Clara dan lu bukan tipe orang yang mau nyakitin siapapun.”

 

Raka menatap meja. “Gue cuma pengen semuanya baik-baik aja.”

 

“Nah,” Bayu mengangguk. “Tapi hidup nggak selalu ngasih pilihan itu.”

Raka tersenyum pahit.

 

Bayu menyandarkan punggungnya. “Dengerin gue ya. Fokus utama lu apa?”

“Sekolah,” jawab Raka cepat. “Beasiswa. Ibu.”

 

“Bagus,” kata Bayu mantap. “Jangan sampai urusan perasaan bikin lu kehilangan arah. Bukan berarti lu harus dingin, tapi lu harus jelas.”

 

Raka mengangguk pelan, kata-kata Bayu terdengar sederhana, tapi menancap tepat di tempat yang ia butuhkan.

 

Di meja lain, Rendi duduk bersama Vino dan Aldi, obrolan mereka singkat, kebanyakan soal teknis latihan dan jadwal ke depan, tidak ada candaan panjang seperti dulu tapi juga tidak tegang.

 

Clara duduk bersama Viola dan teman-temannya. Ia ikut tertawa, ikut berbincang, sesekali menyela obrolan, dari luar tidak ada yang tampak berubah.

 

Saat berdiri hendak membuang sampah, Clara kembali berpapasan dengan Raka.

 

“Oh, hati-hati,” ucap Clara saat hampir bertabrakan.

“Iya, maaf,” jawab Raka cepat.

 

Mereka tersenyum kecil sebelum berjalan lagi ke arah masing-masing.

 

Sore hari, Clara duduk sendirian di taman kecil dekat perpustakaan, buku terbuka di pangkuannya tapi matanya tidak benar-benar membaca.

 

Ia memikirkan banyak hal tentang Raka, tentang Rendi, tentang dirinya sendiri.

 

“Aku pengecut ya?” gumamnya pelan.

Menjaga jarak terasa seperti solusi paling aman, tapi juga paling menyakitkan. Ia tidak ingin memberi harapan palsu, tidak ingin menumbuhkan kecemburuan dan tidak ingin menjadi sumber konflik.

 

Namun disisi lain, ia juga lelah berpura-pura biasa saja.

Viola datang dan duduk di sampingnya tanpa suara.

 

“Kamu lagi menjauh,” ujar Viola tiba-tiba.

Clara menoleh, terkejut. “Kelihatan ya?”

Viola mengangguk. “Banget.”

 

Clara tersenyum lemah. “Aku cuma nggak mau bikin keadaan makin rumit.”

 

“Clara,” kata Viola lembut, “Menjaga jarak itu bukan salah tapi jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri.”

 

Clara terdiam, kalimat itu menohok, Clara terdiam, kalimat Viola menancap lebih dalam dari yang ia kira. Ia menutup bukunya perlahan, menatap halaman kosong tanpa benar-benar melihat apa pun, angin sore menggerakkan daun-daun di sekitar taman kecil itu, membuat suasana terasa semakin sepi.

 

“Aku cuma takut salah,” ucap Clara akhirnya, suaranya pelan. “Takut kalau apa pun yang aku lakukan, akan melukai seseorang.”

 

Viola menatap sahabatnya lama. “Kadang, Clara… yang bikin luka itu bukan perasaan kita, tapi ketidakjujuran kita pada diri sendiri.”

Clara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.

 

Bel masuk berbunyi, memecah percakapan mereka, keduanya bangkit dan berjalan menuju kelas masing-masing, langkah Clara terasa lebih berat dari biasanya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!