Dibalik Seragam Sekolah

Liburan Yang Membawa Jarak

Liburan selalu terdengar menyenangkan bagi banyak orang. Pergi ke luar kota, menghirup udara berbeda, menjauh sejenak dari rutinitas sekolah tapi bagi Clara, liburan kali ini terasa lebih seperti jeda bukan hanya dari sekolah, melainkan dari pikirannya sendiri.

 

Mobil ayahnya melaju stabil di jalan antar kota. Di luar jendela, pepohonan berganti dengan sawah yang terbentang luas. Langit biru tampak bersih, seolah ikut merayakan libur panjang. Clara duduk di kursi belakang, memeluk tas kecilnya, sesekali melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya.

 

Belum ada pesan baru.

 

Ia menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangan ke keponakannya yang duduk di sebelah ibu, sibuk memainkan mainan kecil sambil bersenandung tidak jelas.

 

“Kak Clara, nanti kita ke pantai, ya?” tanya bocah itu dengan mata berbinar.

 

Clara tersenyum. “Iya, kalau cuacanya bagus.

 

Jawaban itu diiringi tawa kecil sang keponakan, membuat hati Clara terasa sedikit lebih ringan. Ada sesuatu yang menenangkan saat berada di sekitar anak-anak mereka jujur, sederhana dan tidak memikirkan hal rumit seperti perasaan orang dewasa.

 

Rumah yang mereka kunjungi adalah rumah saudara ibunya di kota kecil dekat pantai. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi, udara sore terasa hangat, berbeda dari suasana sekolah yang sering penuh hiruk pikuk.

 

Clara membantu ibunya menurunkan barang, lalu segera diseret keponakannya ke halaman belakang.

 

“Kak, main kejar-kejaran!” serunya.

 

Clara tertawa kecil, melepas sandalnya, dan ikut berlari di halaman. Rambutnya terurai, kemeja santainya sedikit kusut, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia tidak terlalu memikirkan apa pun.

 

Tidak memikirkan latihan.

Tidak memikirkan lomba 

Tidak memikirkan tatapan Rendi yang sulit ia baca.

Dan yang paling ia hindari tidak memikirkan Raka terlalu dalam.

 

Namun perasaan memang tidak bisa diatur semudah itu.

 

“Nenek!” seru Clara begitu melihat neneknya yang datang.

 

Seorang perempuan tua menghampiri Clara dan keponakannya yang sedang bermain, dengan rambut memutih dan senyum hangat melangkah mendekat. Tubuhnya tidak setegap dulu, tapi matanya tetap berbinar saat melihat Clara.

 

“Cucu kesayangan Nenek pulang,” ucapnya sambil membuka tangan.

 

Clara memeluk neneknya erat. Aroma minyak kayu putih dan bedak bayi yang khas membuat hatinya menghangat. “Clara kangen banget, Nek.”

 

“Nenek juga,” jawabnya lembut. “Udah tambah tinggi, tapi masih kurus, kamu makannya jangan pilih-pilih.”

 

Clara tertawa kecil. “Iya, Nek.”

 

Mereka masuk ke dalam rumah, suasana seketika terasa berbeda lebih tenang, lebih sederhana. Nenek duduk di kursi kayu favoritnya sementara Mamanya membantu di dapur dan Papah berbincang ringan soal perjalanan tadi.

 

“Kamu kelihatan capek,” kata nenek sambil menepuk tangan Clara yang duduk di sampingnya.

 

“Sedikit,” jawab Clara jujur. “Sekolah lagi banyak kegiatan.”

 

Nenek menatapnya lama, seolah membaca sesuatu yang tak diucapkan. “Capek di badan atau di hati?”

 

Pertanyaan itu membuat Clara terdiam sejenak. Ia tersenyum tipis. “Dua-duanya, Nek.”

 

Nenek mengangguk pelan. “Kalau hati capek, jangan dipaksa kuat terus, kamu masih muda, Clara. Wajar kalau bingung.”

 

Nenek kembali bicara, suaranya pelan namun tegas. “Ingat satu hal ya, Clara. Jangan terlalu sibuk menyenangkan orang lain sampai lupa sama dirimu sendiri.”

 

Clara menatap neneknya. “Nenek yakin?”

 

“Yakin,” jawabnya sambil tersenyum bijak. “Orang yang tepat nggak akan pergi hanya karena kamu jujur dengan perasaanmu.”

 

Clara menarik napas panjang. Ada sesuatu yang terasa lebih ringan setelah mendengarnya.

 

Saat sore menjelang, Clara duduk di teras sambil menemani keponakannya menggambar, tangannya memegang krayon warna biru tapi pikirannya melayang.

 

Ia teringat bagaimana Raka berdiri di balik panggung tempo hari, keringat di dahinya, senyum kecil yang tidak dibuat-buat. Terlalu sederhana, terlalu tulus dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.

 

Clara menunduk, menekan krayon lebih keras dari seharusnya.

“Kak, ini lautnya kok birunya jelek?” protes keponakannya.

 

Clara tersadar, lalu tersenyum. “Salah kakak. Nih, kita ulang.”

 

****

 

Malam harinya, setelah semua terlelap, Clara duduk di kamar tamu dengan lampu meja menyala redup. Ponselnya kembali ia ambil. Kali ini, ia memberanikan diri membuka chat Viola.

 

Belum sempat mengetik, panggilan masuk lebih dulu muncul di layar.

 

Viola calling.

Clara tersenyum kecil, lalu mengangkatnya.

 

“HALO IBU, Cie yang lagi liburan,” suara Viola langsung memenuhi telinganya.

 

“Kamu nggak tidur?” tanya Clara pelan.

 

“Tidur apaan, jam segini masih pagi buat orang yang penuh gosip,” jawab Viola cepat.

 

Clara terkekeh. “Lebay.”

 

“Gimana liburanmu? Aman? Bahagia?” tanya Viola, nadanya berubah sedikit lebih lembut.

 

Clara menghela napas, bersandar ke sandaran kursi. “Tenang, sepi. Aku ikut orang tua ke luar kota.”

 

“Dan…?” Viola sengaja menggantungkan kalimatnya.

 

“Dan aku main sama keponakanku,” jawab Clara singkat.

 

“Hanya itu?” Viola mendesak, dia terus mengulik kejujuran sahabatnya.

 

Clara diam sejenak. Ia tahu sahabatnya itu mengenalnya terlalu baik. Tidak ada gunanya mengelak.

 

“Dan aku kepikiran banyak hal,” ucap Clara akhirnya.

 

“Raka?”

Clara tersenyum pahit. “Kamu nggak pernah salah.”

 

Viola tertawa kecil di seberang sana. “Ya iyalah. Dari cara kamu ngetik aja aku udah tau.”

 

“Aku nggak mau bikin keadaan makin rumit, Vi,” kata Clara lirih. “Aku tahu… aku salah. Dulu aku dekat sama Rendi. Sekarang… perasaanku berubah.”

 

“Perasaan bukan kejahatan,” sahut Viola cepat.

 

“Tapi sikap bisa melukai,” Clara menimpali.

Sunyi sesaat di antara mereka.

 

“Rakanya gimana?” tanya Viola.

 

Clara memejamkan mata sebentar. “Dia baik. Selalu baik. Dan itu yang bikin aku takut.”

 

“Takut kenapa?”

“Takut berharap terlalu banyak,” jawab Clara jujur.

 

Viola menghela napas panjang. “Clara, dengerin aku ya. Kamu nggak harus menentukan segalanya sekarang. Kadang… jarak itu perlu, bukan buat menjauh, tapi buat ngerti perasaan sendiri.”

 

Clara mengangguk meski tahu Viola tak bisa melihatnya. “Makanya aku ikut pergi.”

 

“Nah, itu dia. Keputusan cerdas,” kata Viola. “Lagipula, cowok yang baik nggak akan hilang cuma karena jarak sebentar.”

 

Kalimat itu membuat dada Clara terasa hangat.

 

Keesokan paginya, mereka benar-benar pergi ke pantai. Clara berjalan menyusuri pasir sambil menggandeng tangan mungil keponakannya. Ombak kecil menyentuh kaki mereka, membuat bocah itu tertawa kegirangan.

 

Clara berhenti sejenak, memandang laut lepas. Angin pantai meniup rambutnya, membawa aroma asin yang menenangkan.

 

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri dan tanpa sadar melihat foto panggung ulang tahun sekolah. Raka berdiri di sana, memegang alat musik, fokus dan terlihat keren.

 

Clara menatap foto itu lama, lalu tersenyum kecil.

 

“Aku cuma butuh waktu,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

 

Ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Tidak ingin menjadi alasan perpecahan. Yang ia inginkan hanya satu kejujuran, pada dirinya sendiri dan orang lain.

 

Saat matahari mulai condong ke barat, Clara merasa pikirannya sedikit lebih ringan. Liburan ini tidak menjawab semua pertanyaan, tapi setidaknya memberi ruang untuk bernapas.

 

Dan mungkin… itu sudah cukup untuk sekarang.

 

Di malam hari, sebelum tidur, Clara mengirim satu pesan singkat bukan kepada Raka tapi kepada Viola.

 

“Makasih ya, Vi. Aku baik-baik aja. Doain aku bisa jadi lebih berani.”

 

Tak lama, balasan masuk dari Viola 

“Selalu. Dan ingat, kamu nggak sendirian.”

 

Clara tersenyum, mematikan layar ponselnya, lalu memejamkan mata.

 

Di luar kota yang tenang itu, jauh dari sekolah dan segala hiruk pikuknya, Clara belajar satu hal penting kadang, untuk memahami perasaan, seseorang memang perlu pergi sebentar bukan untuk lari tapi untuk kembali dengan hati yang lebih jujur.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!