Dibalik Seragam Sekolah
Peringatan Ulang Tahun Sekolah
Pagi itu, suasana sekolah benar-benar berubah. Sejak gerbang dibuka, warna-warni spanduk, balon dan umbul-umbul menyambut setiap langkah yang masuk. Musik terdengar dari pengeras suara, bercampur dengan suara tawa, teriakan kecil siswa, dan panggilan panitia yang sibuk mondar-mandir.
Hari ulang tahun sekolah akhirnya tiba, halaman sekolah dipenuhi keramaian. Tiket acara habis bahkan sebelum jam istirahat pertama, stand bazar berjajar rapi, aroma makanan menguar ke udara, bakso, sosis bakar, cilok, es cokelat, dan jajanan manis buatan siswa. Semua bekerja sesuai tugas masing-masing, saling membantu tanpa banyak keluhan.
Clara berdiri di area bazar dengan clipboard di tangannya, seragam panitia OSIS kaos berwarna putih abu-abu dengan logo sekolah di dada membuatnya tampak rapi dan dewasa. Ia mengecek daftar stand satu per satu, memastikan semuanya berjalan lancar.
“Clara!” panggil Resti dari ujung stand. “Voucher makanan tinggal sedikit!”
Clara segera menghampiri. “Oke, aku ambil lagi di meja pusat. Jangan dikeluarin dulu sebelum aku balik ya.”
Resti mengangguk. “Siap!”
Clara berjalan cepat, meski peluh mulai muncul di dahinya. Tubuhnya lelah tapi hatinya justru terasa ringan. Ia bangga. Semua kerja keras selama berminggu-minggu akhirnya terbayar.
Di dekat panggung utama, Raffi ketua OSIS berdiri bersama Bu Laudia dan beberapa guru. Ia memegang rundown acara, sesekali memberi arahan pada panitia sound system.
“Setelah sambutan kepala sekolah, langsung ke penampilan band, ya,” ujar Raffi tegas tapi tenang.
Bu Laudia tersenyum bangga. “Kalian luar biasa. Ibu benar-benar kagum.”
Raffi menunduk sopan. “Terima kasih, Bu. Ini kerja tim.”
Menjelang sore, suasana semakin meriah. Penonton mulai berkumpul di depan panggung. Sorak sorai terdengar ketika MC mengumumkan penampilan band sekolah.
“Dan sekarang, kita sambut… BAND ALEXAI!”
Teriakan langsung membahana.
Clara berdiri di antara kerumunan panitia bersama Viola. Ia ikut bertepuk tangan, meski matanya tanpa sadar mencari satu sosok tertentu.
Lampu panggung menyala. Rendi muncul lebih dulu, disusul Vino, Aldi, dan Raka.
Saat Raka melangkah ke depan dengan gitar di tangannya, Clara refleks menahan napas tidak sabar melihat penampilan cowok itu.
Viola tiba-tiba menyenggol lengan Clara.
“Ada apa?” tanya Clara mengernyitkan kening.
Viola mendekatkan wajahnya, matanya membulat tak percaya. “Lihat deh… Raka keren banget.”
Clara menoleh kembali ke panggung. Raka berdiri di bawah sorotan lampu, rambutnya sedikit basah oleh keringat, wajahnya fokus, jemarinya menekan senar gitar dengan percaya diri. Saat ia mulai bermain, tubuhnya bergerak mengikuti irama. Bukan Raka yang biasa pendiam, sederhana dan sering menunduk. Ini Raka yang lain.
Clara mengangguk pelan, hampir tanpa sadar. “Iya…”
Viola masih menatap panggung. “Aku nggak nyangka dia bisa sekeren itu.”
Clara tidak menjawab, matanya terpaku pada wajah Raka yang penuh konsentrasi.
Keringat yang mengalir di pelipisnya justru membuatnya terlihat… begitu menggoda.
Astaga…
Kenapa kamu bisa begini, Rak…
Sorak penonton semakin keras,agu demi lagu dimainkan, band itu tampil solid. Rendi tampak menikmati perannya, Vino sesekali tersenyum ke arah penonton, dan Raka… Raka seolah tenggelam dalam dunianya sendiri, dia bernyanyi bersama Rendi kadang fokus bermain gitar.
Clara merasakan dadanya hangat, ada rasa bangga yang tak bisa ia jelaskan.
Setelah lagu terakhir, tepuk tangan membahana, penonton bersorak beberapa bahkan meneriakkan nama band itu. Lampu panggung perlahan meredup dan para personel turun ke balik panggung.
Clara masih berdiri di tempatnya ketika Viola menepuk lengannya lagi. “Aku ke toilet dulu, jangan ke mana-mana.”
Clara mengangguk, tapi pandangannya sudah tertuju ke arah belakang panggung.
Entah kenapa, kakinya melangkah ke sana.
Di balik panggung, suasana lebih tenang. Hanya beberapa panitia dan pemain band yang berlalu-lalang, di sudut dekat dinding, Raka berdiri sambil meneguk air mineral. Kaos panitianya basah oleh keringat, dadanya naik turun, napasnya masih berat.
Clara berhenti beberapa langkah darinya, menatap cowok itu yang penuh pesona, jantungnya terasa tidak aman jika berada di dekatnya, ya dia harus menjaga jarak agar Raka tidak bisa mendengar degup jantungnya yang bergemuruh.
Raka menurunkan botolnya, lalu menyadari kehadiran Clara. “Oh… Clara.”
Clara tersenyum kecil. “Penampilan kamu… keren tadi.”
Raka terkekeh pelan, agak malu. “Serius?”
“Iya,” jawab Clara tanpa ragu. “Banget.”
Raka menggaruk tengkuknya. “Aku kira aku bakal grogi.” Sudah lama dia tidak pernah bernyanyi ataupun bermain gitar namun berkat latihan terus menerus dia jadi terbiasa.
“Tapi kamu kelihatan menikmati,” kata Clara lembut.
Raka menatap botol air di tangannya, lalu kembali menatap Clara. “Karena kalian nonton.”
Clara terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Kami?”
“Kamu,” koreksi Raka sambil tersenyum tipis, di atas panggung dia juga sempat mencari keberadaan Clara, entah kenapa dia ingin cewek itu melihat dirinya tampil keren di atas panggung.
Angin sore berembus masuk ke balik panggung, membawa udara sejuk. Beberapa detik berlalu dalam diam yang nyaman.
Mereka duduk berdampingan di bangku panjang dekat dinding tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain.
“Besok acaranya selesai,” ucap Clara pelan. “Rasanya… cepat banget.”
Raka mengangguk. “Iya. Tapi hari ini bakal jadi kenangan.”
Clara tersenyum. “Aku harap semuanya berjalan lancar sampai akhir.”
“Akan,” kata Raka yakin. “Kita sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Clara menoleh ke arahnya. “Terima kasih ya… udah bantu di mana-mana.”
Raka menggeleng. “Aku cuma ngelakuin apa yang bisa.”
Clara menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Dan itu lebih dari cukup.”
Raka tersenyum—senyum sederhana yang selalu berhasil membuat Clara merasa tenang.
Dari kejauhan, suara MC kembali terdengar, mengumumkan sesi berikutnya. Keramaian masih berlangsung, tawa dan musik bercampur menjadi satu.
Clara berdiri lebih dulu. “Aku harus balik ke bazar.”
Raka ikut berdiri. “Aku juga akan bantu yang lain lagi nanti.”
Clara mengangguk. “ Yaudah, hati-hati.”
Saat Clara melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi. Raka masih berdiri di sana, memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Menjelang penutupan acara, semua panitia dikumpulkan di depan panggung. Kepala sekolah kembali naik, memberikan apresiasi terakhir.
“Hari ini,” katanya lantang, “kalian bukan hanya menyukseskan ulang tahun sekolah, kalian sudah menciptakan kenangan indah untuk sekolah ini.”
Beberapa panitia terlihat berkaca-kaca, teringat saat proses dan perjuangan dalam mempersiapkan acara ini, bolak-balik print undangan, proposal, dekorasi tenda, hujan-hujanan, semuanya sudah terbayar dengan lancarnya acara hari ini.
Clara berdiri di samping Raka, bahu mereka hampir bersentuhan. Tidak ada kata, tidak ada sentuhan tapi kehadiran itu saja sudah cukup.
“Kamu capek?” tanya Raka akhirnya.
“Sedikit,” jawab Clara jujur. “Tapi senang.”
Raka menyerahkan botol air mineral yang baru. “Minum dulu.”
Clara menerimanya tanpa ragu “Makasih, Rak.”
Hari itu benar-benar melelahkan, tapi dibalik semua kesibukan, Clara sadar satu hal ulang tahun sekolah ini bukan hanya tentang panggung, bazar dan sorak sorai. Ini tentang perasaan-perasaan kecil yang tumbuh tanpa disadari.
Tentang tatapan singkat di tengah keramaian, tentang senyum sederhana di balik panggung. Dan tentang Raka yang hari itu, sekali lagi, berhasil membuat jantung Clara berdebar tanpa perlu berkata apa-apa.