Dibalik Seragam Sekolah

Viola Memberikan Solusi

Sore itu langit tampak redup, seperti menyimpan hujan yang sengaja ditahan agar tidak jatuh. Clara memandangi layar ponselnya sambil menggigit bibir bawah, pesan-pesan dari Rendi yang belum ia balas memenuhi notifikasi, tetapi ia terlalu bingung untuk sekadar mengetik satu kalimat balasan. Di ruangan latihan musik tadi, wajah Rendi sempat ia lihat penuh kebingungan, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin meledak. Sementara itu, Raka… entah mengapa harus selalu terlihat begitu tenang meski situasi mulai rumit.

 

Clara membaringkan dirinya di kasur, menutup wajah dengan bantal.

“Aku salah apa sih…?” gumamnya pelan.

 

Pikiran itu terus berputar sampai suara ketukan pintu membuatnya bangun.

 

Tok. Tok. Tok.

 

“Cla, ini aku!” suara Viola terdengar nyaring dari balik pintu.

 

Clara segera bangun dan membuka pintu. Viola berdiri dengan kaos oversized putih dan celana training abu-abu, rambutnya masih agak basah seperti baru selesai mandi kilat. Di tangannya, ia membawa dua bungkus camilan.

 

“Aku datang lengkap dengan logistik,” kata Viola masuk sambil menutup pintu dengan kakinya. “Karena kalau kamu curhat sambil nangis, aku butuh snack sebagai bekal bertahan hidup.”

 

Clara tidak bisa menahan tawa kecil. “Kamu norak banget, sumpah.”

 

“Sudah biasa. Sekarang ayo, jelaskan semuanya sebelum filmnya mulai. Aku tahu kamu pasti nggak fokus nonton kalau isi kepalamu berantakan.”

 

Mereka duduk di lantai, membelakangi tempat tidur, sementara TV di kamar Clara sudah menampilkan halaman awal film The Conjuring 2 yang masih dijeda.

 

Clara mengambil napas panjang. Ia tahu Viola adalah orang yang paling realistis dan blak-blakan. Jika ada yang bisa menetralkan pikirannya, itu pasti Viola.

 

“Aku… bingung, Vi.”

“Bingung karena siapa?”

“Tiga orang,” jawab Clara lesu.

 

Viola mendelik. “TIGA? Aku udah tahu dua, yaitu Rendi dan Raka. Satunya siapa lagi?”

Clara menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Bukan orang ketiga, maksudku aku bingung sama diri aku sendiri juga.”

 

Viola menepuk bahu Clara pelan. “Oke, sekarang ceritakan pelan-pelan.”

 

Clara menatap layar TV yang masih beku, cahaya birunya menyinari wajah mereka. “Waktu latihan tadi… Rendi nyamperin aku. Dia nanya soal aku sama Raka. Awalnya aku kira dia cuma khawatir band mereka terganggu atau gimana. Tapi ternyata dia cemburu, Vi.”

 

“Makes sense,” Viola mengangguk santai. “Dari dulu cowok itu emang naksir berat sama kamu.”

 

“Tapi dia udah berubah sekarang. Nggak kayak dulu yang agresif, suka ribut sama anak-anak. Dia lebih tenang. Dan aku tahu… perubahan dia itu sebagian karena aku.” Suara Clara melemah. “Itu bikin aku ngerasa bersalah.”

 

“Karena kamu sekarang punya rasa sama orang lain?” tegur Viola pelan.

 

Clara menghindari tatapannya. Itu sudah cukup sebagai jawaban.

 

Viola merapatkan duduknya, menatap Clara serius. “Oke, aku mau tanya jujur. Kamu punya perasaan sama Raka, iya?”

 

Clara menunduk, jari-jarinya saling bertaut.

 

“Entahlah… aku cuma nyaman. Kayak dia tuh selalu ada di momen yang tepat. Dia nggak pernah maksa, nggak pernah marah, cuma… ada. Dan itu bikin aku tenang.” Clara menghela napas, suaranya bergetar. “Tapi aku juga nggak pengen bikin hubungan aku sama Rendi rusak. Apalagi sekarang dia udah berusaha buat jadi lebih baik.”

 

Viola memutar mata. “Clara, kamu bukan diberi misi untuk menjaga perasaan semua cowok di planet ini.”

 

“Tapi—”

 

“Enggak ada tapinya.” Viola memotong tegas. “Dengar aku. Kamu baik, terlalu baik bahkan. Tapi kalau kamu terus-terusan mempertahankan hubungan hanya karena takut menyakiti seseorang, kamu ujung-ujungnya akan menyakiti dirimu sendiri.”

 

Clara terdiam. Ucapan itu mengenai tepat sasaran.

 

“Rendi memang berubah, dan itu bagus. Tapi perubahan seseorang harusnya karena dirinya sendiri, bukan karena dia ingin mempertahankan seseorang yang nggak punya rasa sama dia.”

Clara menatap Viola bingung. Viola melanjutkan, “Kalau memang kamu tidak punya perasaan untuk balik ke Rendi, jangan beri dia harapan melalui sikapmu yang ambigu.”

 

“Ambigu bagaimana?”

 

Viola mengangkat bahu. “Kamunya selalu ada buat dia, selalu membela dia, selalu jadi alasan dia bangkit. Tapi kamu sendiri mulai suka sama Raka. Itu bertentangan.”

 

Clara memijat pelipisnya. “Aku nggak mau bikin salah paham. Tapi aku juga nggak mau hubungan mereka berdua rusak gara-gara aku.”

 

“Tugas kamu bukan menyatukan dua cowok itu,” ujar Viola lirih. “Tugas kamu cuma jujur sama diri sendiri.”

 

Clara menggigit bibir. “Kalau Rendi marah?”

“Itu konsekuensi. Cowok boleh cemburu, boleh kecewa. Tapi dia harus belajar menerima kalau kamu bukan miliknya.”

 

“Dan Raka?”

Viola terkekeh. “Yang itu gampang. Raka bukan tipe yang nuntut. Dia ngerti kondisi kamu. Justru kalau kamu terus bingung, dia yang bakal mundur duluan supaya nggak bikin masalah.”

 

Clara meremas bantal di pangkuannya.

 

Viola meraih tangan Clara. “Untuk sekarang… jauhin drama dulu. Kalau Rendi benar-benar mau tahu kebenaran, biarkan dia tanya langsung. Jangan beri kode. Jangan juga menghindar berlebihan. Tapi jangan kasih harapan palsu.”

 

Clara mengangguk pelan. “Aku takut…”

“Semua orang takut kalau soal hati.”

 

Saat itu pintu kamar terbuka sedikit. Mamah Clara muncul sambil membawa nampan berisi pisang goreng, keripik pedas, dan dua cangkir cokelat panas.

 

“Nah, dua gadis cantik ini butuh cemilan dulu apa nunggu kamu selesai cerita?” tanya mamahnya sambil tersenyum lembut.

 

Clara langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “Mah! Aku malu!”

 

Viola tertawa keras. “Biarin, Aunty… Clara memang sedang tersiksa oleh cinta segitiga.”

 

“VIOLA!” Clara memukul lengan sahabatnya.

 

Mamah Clara tertawa kecil. “Namanya juga remaja. Tapi ingat ya, hati itu harus dijaga. Jangan biarkan orang lain mengatur apa yang kamu rasakan.”

 

Clara terdiam.

Ucapan itu… entah kenapa semakin menusuk.

 

Setelah mamahnya keluar, Clara dan Viola membuka semua cemilan itu. Aroma pisang goreng yang hangat membuat ruangan terasa lebih nyaman.

 

Viola mencondongkan tubuh ke arah Clara. “Satu lagi solusi.”

 

“Apa?”

 

“Besok, kamu harus bicara sama Rendi. Kasih kejelasan, tanpa marah, tanpa menyalahkan. Tapi kalau dia mulai melibatkan Raka lagi dalam emosinya, stop. Kamu nggak bertanggung jawab atas kecemburuannya.”

 

Clara mengangguk. “Aku takut dia balik lagi ke sifatnya yang dulu…”

 

“Dia sedang mencoba berubah. Dan kalau dia benar-benar berubah, dia nggak akan marah-marah tanpa alasan.”

 

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

 

Viola melirik TV. “Oke, sekarang kita nonton. Supaya kamu nggak kepikiran terus.”

 

Clara meraih remote dan menekan play. Suara mengerikan dari film langsung memenuhi ruangan, membuat keduanya refleks saling menatap.

 

Baru lima menit film berjalan, Viola sudah memeluk bantal erat-erat.

“Aku nyesel setuju nonton ini,” gumamnya.

 

Clara tertawa.

“Padahal kamu sendiri yang pilih film horor.”

 

“Karena aku pikir ini bisa mengalihkan pikiran. Tapi aku malah takut setengah mati.”

 

Meski begitu, Clara merasa hatinya sedikit lega. Ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi: Viola.

Sahabat yang selalu menemani, bahkan dalam kekacauan terbesar di hidupnya.

 

Setelah film berjalan cukup jauh, Clara tiba-tiba bersuara lirih, “Viola… kamu yakin aku nggak jahat? Maksudku… aku takut menyakiti perasaan orang.”

 

Viola menoleh, menatap Clara dalam.

“Kamu jahat kalau kamu membohongi diri sendiri, tapi kalau kamu jujur dan tetap berusaha tidak menyakiti siapapun, itu bukan jahat. Itu dewasa.”

 

Clara memeluk lutut dan membiarkan kata-kata itu menyelinap ke hatinya.

 

Di luar, angin mulai bertiup lebih kencang, pertanda hujan sedang menuju, bersamaan dengan itu, Clara menyadari satu hal: Mungkin sudah waktunya berhenti lari dari perasaannya sendiri.

 

Dan entah bagaimana, di dalam hatinya diam-diam ada harapan… harapan bahwa setelah semua ini selesai, hubungan Rendi dan Raka tidak akan memburuk, bahwa semuanya bisa baik-baik saja. Meskipun ia tahu, dunia tidak sesederhana itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!