Dibalik Seragam Sekolah
Awal Perubahan Yang Baik
Jam istirahat hari itu terasa berbeda dari biasanya. Angin yang bertiup dari sela-sela bangunan membawa aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan kantin. Suara keramaian siswa bercampur dengan dentingan gelas dan seruan pedagang, namun di antara hiruk pikuk itu, Raka duduk tenang bersama Bayu di pojok kantin tempat yang selalu mereka pilih karena sedikit lebih teduh dan jarang dilewati orang.
Bayu sibuk mengaduk es teh, wajahnya tampak gelisah. “Kayaknya ada yang aneh hari ini,” gumamnya.
Raka hanya tersenyum kecil. “Kamu tuh, apa-apa dicurigai.”
Belum sempat Bayu membalas, suara langkah beberapa orang mendekat. Raka langsung mengenali suara itu ada tiga pasang langkah, satu diseret pelan, satu cepat, satu berat. Langkah yang sudah ia hafal karena setiap hari mendengarnya dari jarak yang tidak menyenangkan.
Bayu spontan menegang. “Nah, kan! Gue udah bilang. Ini fix ada sesuatu.”
Raka hanya menarik napas panjang.
Rendi berhenti tepat di depan meja mereka. Wajahnya tampak kaku, seperti sedang memaksa dirinya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan lamanya. Aldi berdiri di belakangnya, sementara Vino memegang nampan berisi minuman yang entah sejak kapan sudah ia beli.
“Gue boleh duduk di sini?” tanya Vino, suaranya pelan, seperti takut ditolak.
Bayu menyipitkan mata. “Tumben banget mau duduk sama kita. Ada maunya nih.”
“Syutt!” Raka menepuk lengan Bayu. “Nggak apa-apa, silakan duduk Ren, Vin, Al.”
Rendi yang biasanya sok keren dan duduk dengan gaya santai, kini hanya menunduk. Ada canggung yang jelas terlihat dari cara ia menarik bangku. Aldi bahkan menelan ludah beberapa kali, sementara Vino duduk paling ujung dan memainkan sedotan minumannya.
Mereka bertiga bergerak seperti orang yang sedang menanggung rasa bersalah dan Raka tahu itu.
Sore kemarin, Clara menghubunginya dan mengatakan bahwa Rendi ingin berubah. bahwa Rendi ingin memperbaiki segala sesuatu yang sudah ia rusak termasuk hubungan dengan dirinya. Clara bahkan meminta Raka untuk bersikap terbuka sedikit saja.
“Rendi itu sebenarnya nggak seburuk itu, Rak,” kata Clara semalam. “Dia cuma… tersesat sama lingkungannya. Kalau kamu bisa memaafkan dia, mungkin dia bisa mulai berubah.”
Suara Clara terngiang hingga kini.
Rendi duduk diam beberapa detik, lalu mengusap tengkuknya gugup. “Gue… gue mau ngomong sesuatu.”
Bayu langsung memasang wajah waspada. “Jangan macem-macem ya kalian, mau ngerjain Raka lagi? Buat pura-pura baikan gitu biar dia ikut kalian, terus—”
“Bayu.” Raka menggenggam tangan Bayu pelan. Isyarat kecil yang berarti tenanglah, gue bisa mengatasi ini.
Bayu mendengkus tapi akhirnya diam.
Rendi menatap Raka dengan pandangan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya bukan sinis, bukan sombong, melainkan sungguh-sungguh.
“Aku… gue mau minta maaf.”
Aldi dan Vino saling melirik. Bahkan mereka tidak menyangka kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Rendi.
Raka mengerjap pelan. Suaranya serak. “Maaf… untuk apa?”
“Untuk semuanya.” Rendi menunduk lagi.
“Untuk nge-bully lo… untuk ngunci lo di kamar mandi… untuk bikin lo malu… untuk semua hal bodoh yang gue lakuin.”
Keheningan jatuh ke meja itu.Bayu bahkan berhenti bernapas beberapa detik.
Vino ikut bicara, “Gue juga… gue pernah marah sama lo, dan itu salah.”
Aldi mengangguk kecil. “Iya, gue juga minta maaf.”
Raka menatap ketiga orang itu, satu per satu. Ada rasa yang sulit dijelaskan antara terkejut, lega, dan penuh kehati-hatian. Tidak mudah mempercayai mereka kembali, namun kata-kata Clara semalam kembali mengalun dalam memorinya.
Rendi menghembuskan napas pelan. “Dan satu lagi… gue—gue pengen ngajak lo gabung ke band gue. Lo jadi vokal.”
Kalimat itu membuat Bayu membelalak. “Hah!? Kalian seriusan!? Jangan-jangan kalian mau menjeb—”
“Bayu…” Raka menahan lagi. “Tenang.”
Raka menatap Rendi dengan mata yang penuh selidik. “Tapi suara gue nggak sebagus itu. Kenapa kalian… mau gue gabung?”
Rendi mengangkat wajahnya. Ada ketulusan yang jarang terlihat darinya.
“Kami butuh suara yang punya… perasaan.”
Dia menghela napas. “Gue udah dengar lo nyanyi waktu ikut lomba kelas. Suara lo halus tapi kuat. Pas banget buat lagu-lagu yang bakal kita bawain buat acara ulang tahun sekolah.”
Vino menambahkan, “Kita udah denger rekaman suara lo dari Bayu. Dia pernah nyimpen suara lo pas karaoke waktu ulang tahun dia. Suara lo cocok.”
Bayu memalingkan wajah. “Itu—itu harusnya rahasia woy…”
Aldi mengangguk cepat. “Dan… kita pengen band kita bukan cuma keren, tapi punya rasa. Dan suara lo punya itu.”
Raka terdiam lama.
Ia tidak pernah membayangkan ditawari hal seperti itu, apalagi oleh orang-orang yang dulu begitu membencinya.
Rendi mencondongkan tubuh, suaranya pelan. “Lo nggak harus jawab sekarang. Tapi… gue bener-bener pengen berubah, Rak. Gue pengen mulai lagi dari awal, dan itu… mungkin bisa dimulai dari lo.”
Raka menarik napas panjang. Ada sesuatu yang hangat tumbuh di dadanya, bukan karena pujian, tapi karena keberanian seseorang untuk berubah. Itu hal yang tidak semua orang bisa lakukan.
“Baik,” kata Raka akhirnya.
“Aku… mau coba.”
Bayu hampir tersedak es tehnya. “Apa!? Rakaaa—”
Raka menepuk pundak Bayu sambil tersenyum. “Tenang. Gue percaya sama mereka kali ini.”
Rendi tampak menahan senyum lega.
“Besok latihan, ya. Setelah pulang sekolah. Di studio musik belakang koperasi.”
Vino mengangkat dua jempol. “Gue bakal siapin musiknya.”
Aldi ikut tersenyum. “Kita bakal mulai dari lagu yang gampang dulu.”
Makan siang itu berubah suasana.
Meja yang biasanya hanya berisi Raka dan Bayu kini dipenuhi tawa yang masih kaku, tapi nyata. Vino mulai bercanda soal ekspresi Bayu. Aldi bertanya suka lagu apa. Rendi bahkan sesekali mendorong bahu Raka dengan cara yang lebih bersahabat.
Bayu tetap cemberut, tapi pipinya bergerak-gerak seperti menahan tawa. “Kalau kalian aneh-aneh sama Raka… gue sumpahin kalian botak semua!”
Rendi terkekeh. “Tenang aja, gue udah berhenti nyari masalah, mulai sekarang gue fokus ke band… dan ke perubahan diri gue.”
***
Keesokan Harinya
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Raka menunggu di gerbang sambil memegang tas gitar yang sudah lama tidak ia gunakan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di studio nanti apakah mereka benar-benar serius, atau apakah ia bisa cocok dengan gaya mereka.
Rendi, Vino, dan Aldi sudah menunggu di depan koperasi.
Rendi melambaikan tangan.
“Rak! Sini!”
Raka berjalan mendekat. Bayu yang biasanya menemaninya pulang memilih ikut menonton latihan. Katanya, “Gue mau memastikan mereka nggak macem-macem.”
Studio musiknya tidak besar, tapi cukup rapi. Ada drum, keyboard, gitar listrik, dan beberapa microphone. Suara gemuruh bass dari speaker memenuhi ruangan.
Vino mengutak-atik keyboard.
Aldi memegang gitar bass.
Rendi mengambil mic dan berdiri di depan.
“Siap, Rak?” tanya Rendi.
Raka mengangguk. “Siap.”
Mereka memulai dengan lagu yang cukup sederhana.
Musiknya pelan, agak sendu. Vino memainkan intro piano lembut, diikuti petikan gitar Aldi. Rendi memberi aba-aba.
“Masuk di bagian reff, ya.”
Raka menarik napas, lalu membuka suara.
Dan seketika… Studio itu menjadi hening selain suara musik.
Suara Raka mengalir jernih, lembut, tapi penuh tenaga di bagian yang membutuhkan. Vokalnya membawa rasa yang tidak bisa diberikan oleh siapapun di band itu. Ada emosi, ada cerita, ada luka dan ada harapan.
Rendi menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Aldi sampai berhenti memetik sebentar. Vino memandang Raka seperti melihat sesuatu yang sangat langka.
Bayu dari sudut studio bergumam, “Gue udah bilang suara dia bagus kan…”
Ketika lagu selesai, tidak ada yang langsung bicara. Hingga akhirnya Rendi menepuk bahu Raka.
“Lo gila sih, Rak… suara lo… cocok banget! Ini—ini yang gue cari dari dulu.”
Vino mengangguk cepat. “Perfect banget! Lo beneran harus jadi vokalis kita.”
Aldi ikut berseru, “Gue setuju! Ini baru band keren!”
Raka tertawa kecil, pipinya memerah. “Serius banget kalian…”
Rendi tersenyum lebar. “Kita akan bikin sesuatu yang beda tahun ini. Bukan tentang keren-kerenan, tapi tentang perubahan.”
Raka mengangguk. Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk sekolah itu… ia merasa benar-benar diterima.
Dan mungkin… ini memang benar-benar awal dari perubahan. Bukan hanya untuk Rendi dan teman-temannya, tapi juga untuk dirinya sendiri akhirnya mimpinya terwujud bisa bermain musik.