Dibalik Seragam Sekolah
Janji Rendi Akan Berubah
Hukuman yang dijalani Rendi, Vino, dan Aldi selama hampir dua minggu mulai terlihat hasilnya. Setiap pagi mereka berlari keliling lapangan dua puluh kali, lalu membersihkan kamar mandi sebelum bel masuk berbunyi. Awalnya, Rendi melakukannya dengan penuh amarah mengumpat dalam hati, menyalahkan keadaan, bahkan sempat berniat melakukan balasan kepada siapa pun yang membuatnya merasa kalah.
Namun ada satu momen yang perlahan mengubahnya.
Itu terjadi ketika akhir pekan lalu, saat ia dan Vino sedang mengepel lantai toilet laki-laki. Di tengah kerja paksa itu, Raka datang mendekati mereka dengan membawa tiga botol air mineral dan berkata dengan nada tulus:
“Nih air buat kalian. Maaf kalau gara-gara aku kalian kena hukuman. Kalau mau… kita bisa mulai dari awal.”
Kalimat itu menghantam Rendi lebih keras daripada hukuman apa pun.
Seumur hidup, tidak ada orang yang ia buat repot yang justru kembali menawarkan tangan persahabatan. Sejak saat itu, sesuatu di dalam dirinya goyah.
Ia mulai berpikir bahwa rasa marahnya selama ini mungkin hanya cara buruk untuk menyembunyikan ketakutan kalah, takut tidak menjadi yang terbaik, takut tidak menjadi orang yang bisa dibanggakan orang tuanya. Takut tersingkir, terutama di depan Clara, seseorang yang sejak lama ia perhatikan diam-diam.
Dan kini, setelah semua yang terjadi, Rendi menyadari: ia tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan perhatian Clara.
Maka pagi ini, sebelum bel masuk, ia berdiri di tengah lapangan yang masih basah oleh embun. Sambil mengatur napas setelah berlari, ia berkata pada Vino dan Aldi:
“Mulai hari ini, gue mau berhenti berbuat ulah kepada anak-anak. Gue mau fokus latihan band buat acara ulang tahun sekolah. Lu berdua mau ikut atau enggak, terserah. Tapi gue capek bikin masalah.”
Vino menatapnya ragu. “Lu serius?”
“Serius,” jawab Rendi. “Hukuman ini yang terakhir. Gue bukan mau jadi baik-baik amat, tapi… gue gak mau kelihatan bodoh lagi.”
Aldi terkekeh lirih. “Akhirnya sadar juga, bos.”
Itu kali pertama dalam waktu lama mereka bercanda tanpa ada niat buruk dalam nada suara mereka. Sebuah awal baru yang kecil, tetapi nyata.
***
Rapat OSIS
Siang itu, Clara bergegas menuju ruang OSIS sambil membawa buku catatan tebal. Ia baru selesai kelas matematika dan sengaja tidak mampir ke kantin karena harus menyiapkan daftar kehadiran rapat.
Saat membuka pintu, Raffi si ketua OSIS, sudah berdiri di depan whiteboard dengan spidol di tangan.
“Clara, pas banget. Duduk ya, nanti kalau semua kumpul kita mulai,” katanya ramah.
Clara mengangguk, duduk di kursi sebelah Viola, dia pun menyenggol lengannya perlahan.
“Kamu bawa semua catatannya?” bisiknya.
“Bawa kok. Hari ini pasti panjang,” jawab Clara sambil membuka buku.
Tak lama kemudian, satu persatu anggota OSIS lainnya masuk. Rasti datang sambil membawa laptop, Aldi dengan wajah lelah karena baru selesai piket, dan kemudian Vino, yang tampak lebih tenang dibanding kemarin.
Lima menit setelah rapat hampir dimulai, pintu kembali terbuka. Rendi masuk.
Ia melihat Clara sebentar, lalu segera duduk di sisi paling ujung agar tidak mencolok. Tidak ada yang menyapanya lebih dulu, tapi tidak pula ada yang mencibir seperti biasanya. Semua sibuk mempersiapkan rapat hari ini.
Raffi menepuk meja. “Baik, semuanya sudah lengkap. Clara, tolong catat ya siapa saja yang hadir.”
Clara mengangguk. “Ya, Kak.”
Raffi lalu menuliskan judul besar dengan huruf tebal di papan: AGENDA RAPAT PERSIAPAN HUT SEKOLAH KE-32
Suasana ruangan menjadi fokus.
“Kita perlu membahas konsep acara, pembagian tugas panitia, jadwal latihan band, pameran ekstrakurikuler, dan… bazar.”
Ia menatap Rasti. “Rasti, kamu urus dekorasi panggung, ya.”
“Siap.”
“Kemudian bagian acara inti akan dipandu oleh Vino dan Aldi sebagai MC.”
Aldi mengangkat tangan. “Serius, Kak? Gue? Soalnya gue—”
“Gue bisa kok,” potong Vino cepat.
Namun suaranya terdengar datar, tidak setegang biasanya.
Raffi tersenyum. “Bagus. Aldi kamu dampingi, ya.”
Aldi mengangguk meski terlihat canggung.
Setelah itu, Raffi beralih pada Clara.
“Clara, kamu sekretaris sekaligus penanggung jawab catatan semua jadwal. Pastikan semua tim hadir sesuai waktu. Dan… kamu nanti bantu aku di panitia inti.”
Clara mencatat sambil mengangguk.
Lalu, tiba saatnya pembahasan yang paling ditunggu beberapa anak: band.
“Sebelumnya, kita perlu konfirmasi siapa saja anggota band sekolah yang tampil,” kata Raffi. “Rendi, kamu kan ketua band 'The Corner'? Siapa aja yang fix tampil?”
Semua kepala menoleh.
Rendi mengecap bibirnya, gugup, tapi ia berdiri.
“Ehm… iya. The Corner siap tampil, Kak. Kami akan bawain tiga lagu. Aku gitar rhythm, Vino lead guitar, Aldi drum, dan Raka… eh—”
Suasana tiba-tiba mendadak senyap. Nama itu membuat Clara spontan menatap ke buku catatannya.
“Raka?” tanya Raffi. “Dia anak baru itu kan?”
“Iya.” Rendi meremas ujung meja, mencoba tetap tenang.
“Dia jago main keyboard. Gue… ngeliat dia jari-jarinya luwes waktu ngetik di perpustakaan. Gue tanya Bayu teman dekatnya katanya memang bisa bernyanyi dan bermain alat musik.”
Clara tersenyum kecil tanpa sadar.
Viola, yang duduk di sebelahnya, menoleh curiga. “Kenapa senyum?”
Clara buru-buru menutup senyumnya dan kembali menunduk.
Raffi menepuk tangan. “Wah bagus dong! Raka harus ikut. Nanti aku buatkan jadwal latihan khusus di aula.”
Setelah itu, pembina OSIS yaitu Bu Laudia, beliau masuk dengan tumpukan kertas.
Ia menebarkan senyum sebelum duduk.
“Baik anak-anak, Ibu ingin mengingatkan bahwa HUT sekolah tahun ini akan lebih besar. Kita akan mengadakan bazar, panggung seni, dan pameran karya. Pastikan semua kelas ikut berpartisipasi. Tanggalnya sudah fix di hari Sabtu, dua minggu lagi.”
Suasana langsung riuh kecil.
Bazar berarti peluang keusilan baru, peluang bisnis kecil-kecilan, dan juga… banyak keributan. Namun dibalik itu semua, antusiasme terlihat jelas.
Raffi kembali mengambil alih.
“Oke, kita lanjut pembagian tugas bazar. Yang jaga stand makanan—”
“Aku bagian dekor stand kelas 8B!” potong Rasti cepat.
“Baik. Clara dan Viola bisa bantu catat jadwal piket stand?”
“Siap,” jawab keduanya bersamaan.
Rapat berjalan hampir satu jam.
Diskusi, pembagian tugas, jadwal, anggaran dana, konsep acara—semuanya dimatangkan.
Dan sepanjang waktu itu, Rendi tidak mencari perhatian Clara.
Ia hanya fokus mencatat, merespon dengan sopan, dan beberapa kali terlihat berpikir keras tentang konsep band.
Perubahan itu tidak luput dari perhatian Clara.
Meski ia tidak menatap langsung, ia tahu Rendi sedang sungguh-sungguh mencoba berubah.
***
Setelah Rapat, semua keluar ruangan, menyimpan catatan masing-masing. Clara baru menutup pintu ketika mendengar langkah pelan di belakang.
“Cla…” suara itu berat dan hati-hati.
Ia menoleh. Rendi berdiri beberapa langkah darinya.
“Hmm?” Clara tidak tegang, tapi juga tidak sepenuhnya santai.
“Aku cuma mau bilang… makasih.”
Rendi mengusap tengkuk lehernya. “Karena kamu… aku bisa ngomong ke OSIS soal band lagi. Aku mau jadi… orang yang lebih baik.”
Clara tidak menjawab langsung.
Rendi melanjutkan, “Aku ngomong jujur: Aku iri sama Raka. Aku pernah marah banget sama dia tapi sekarang… aku ngerti. Dia bukan musuh aku.”
Ia menatap Clara, namun dengan cara yang lebih dewasa.
“Aku cuma nggak mau kamu menjauh,” katanya lirih.
Clara terdiam. “Rendi… aku nggak menjauh.” Ia tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau ada masalah lagi.”
Rendi mengangguk. “Kamu bener. Dan… aku bakal buktiin. Kali ini beneran.”
Untuk pertama kalinya, Rendi tidak meminta apa pun. Ia hanya mengangguk dan berjalan pergi. Clara menatap punggungnya, melihat seseorang yang benar-benar ingin berubah. Namun di sudut lain hatinya, ada nama lain yang tiba-tiba muncul dan membuat ia menunduk yaitu Raka.