Dibalik Secangkir Teh

Perjalanan Pulang

Tak jarang keinginan itu muncul karena alasan untuk lebih dekat dengan keluarga di rumah. Bahkan, beberapa orang berani untuk keluar dari pekerjaan sekarang seperti Ejha.

“Mas, saya jadi ingat salah satu kalimat Jiraiya Sensei yang dia ucapkan kepada muridnya, ‘Tempatmu untuk pulang adalah tempat di mana ada seseorang yang memikirkanmu.’ Mas Ejha berani memutuskan untuk pulang, mungkin karena ada ibu yang sedang menunggu dan memikirkan Mas Ejha.”

Hari demi hari pertemuan Aji dengan Ejha berlanjut. Cerita demi cerita tertuang seperti dalam rangkaian acara menikmati sajian kopi tubruk kesenangannya.

Hingga di suatu sore, pecah sudah kesedihan terpancar dari wajah Ejha saat mendengar bahwa ibunya sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Sungguh di sinilah momen emosional mereka berdua. Bagi Aji, Ejha sudah menjadi salah satu orang yang berada di lingkaran ekosistem Titilaras. Hampir setiap hari bersua, banyak sekali berbagi cerita, kritik, saran, pertemanan dengan yang lain hingga menyadarkan Aji bahwa hal terkecil yang kita bagi bisa menjadi sebuah ikatan batin dan saling percaya untuk bertumbuh bersama.

“Saya pamit, Mas Aji. Terima kasih untuk kebersamaan kita selama hampir empat bulan ini.” Suara Ejha terdengar lirih.

“Mas Ejha mau ke Jakarta lagi?”

“Iya, Mas. Ibu sudah pulang. Rasanya tidak ada alasan lagi untuk saya tetap di sini. Saya mau memulai lagi di Jakarta sambil mencari tempat pulang berikutnya.”

Siang ini, Aji melepas Ejha dalam diam. Berat sekali untuk mengucapkan kata perpisahan, karena Aji tahu, sejatinya apa yang telah mereka pupuk bersama akan terus bertumbuh hingga nanti diberi kesempatan oleh semesta untuk bersua kembali.

Matur suwun Mas Ejha, empat bulan ini hanya dalam hitungan hari, Titilaras masih utang rasa denganmu.

Hanya beberapa menit setelah Ejha pergi, mata Aji menangkap seraut wajah yang kemarin siang sempat mengusiknya.

“Loh Mbak Ratih, ke sini lagi toh?” Mas Aji menyapaku.

Tangannya ingin mengajakku salaman, tetapi batal dilakukan saat dia menyadari ada dua buah gelas yang sedang dia pegang.

“Iya, Mas. Mudah-mudahan masih ada nomor antrean untuk saya.”

“Ada, Mbak. Masih ada dua antrean. Sebentar saya ambil ya, Mbak. Silakan Mbaknya duduk dulu.”

Aji kembali ke balik Jendela Titilaras. Ia mengambil nomor antrean dan menyerahkannya ke Ratih, lalu mulai menyiapkan diri untuk menyeduh pesanan para pelanggan yang sudah mengambil nomor antrian. Seorang ibu menghampiri jendela dan menunjukkan nomor antrean yang sejak tadi dia pegang.

“Saya mau pesen teh panas ya Mas. Boleh enggak saya minta diracikan sesuatu yang bisa bikin tenang sore ini?"

"Bisa, mau basic teh hijau?"

"Boleh Mas, pokoknya saya manut Mas saja mau diracikan apa."

"Siap."

Sambil meracik, Aji mencoba membangun beberapa interaksi dengan para pembeli yang lain. Setelah pesanannya jadi dan dihaturkan ke ibu tersebut, Aji melihat wajah yang tadinya lelah sedikit berubah riang saat menghirup aroma teh yang dia buat tadi.

"Mas, mbok kamu bukanya lebih pagi saja, kan aku bisa ngeteh tiap pagi kayak gini setelah berbelanja di pasar, enak Mas. Rasanya di badanku nenangin banget nyruput teh racikanmu setelah blonjo."

"Matur suwun Bu. Wah, kalau untuk buka pagi saya usahakan nggih."

Aji menghembuskan nafas lega. Senang rasanya melihat si ibu tersenyum ringan sekali setelah menyeruput teh tersebut, seperti ada kepuasan batin tersendiri ketika bisa menghadirkan racikan teh yang setelah diminum memiliki kesan tersendiri bagi penikmatnya.

“Mas, kenapa rasa tehmu beda dari yang lain ya?” Ibu itu lanjut bertanya.

“Mungkin karena saya menyeduhnya dengan hati, Bu.”

Beri hati pada setiap kerja kerasmu, karya-karyamu. Penggalan lirik lagu karya Tulus menjadi salah satu inspirasi Aji dalam menghasilkan sebuah produk yang dia sajikan ke rencang nglaras. Berbicara produk, menurut Aji, produk itu sendiri adalah sebuah karya. Yang tidak bisa lepas dari sebuah ide pikiran nalar manusia dan tidak lepas juga dari ‘kenyamanan’ panca indra manusia. Teh dan kopi adalah karya. Bagi Aji, menyeduh teh dan kopi bukanlah suatu pekerjaan. Tapi proses kreatif menghasilkan karya.

“Mbak Ratih mau pesan apa?”

Kali ini perhatian Mas Aji tertuju sepenuhnya kepadaku yang sejak tadi menjadi pengamat setia kesibukannya dari balik jendela.

“Wajah Pasar Gede, Mas.”

“Seperti kemarin? Tidak mau mencoba yang lain?”

“Iya, Wajah Pasar Gede seperti kemarin, Mas. Besok-besok saya mau pesan yang lainnya.”

Titilaras punya tiga akses jendela untuk berinteraksi, Mas Aji selalu mempersilakan tamu untuk duduk terlebih dahulu karena untuk sementara menu belum tertulis. Apabila nanti ada tamu yang mengantre di belakang dan kondisi tiga jendela penuh, maka Mas Aji dengan sopan meminta agar bisa bergantian.

“Bagaimana Jendela Titilaras menawarkan sebuah suasana yang berbeda? Padahal, berada di dalam pasar tradisional.”

Aku menatap senyum Mas Aji. Makin dilihat, aku makin terseret ke dalam pusaran tak kasat mata. Dan, aku tak mampu melepaskan diri dari kelindan pusaran itu.

“Sebuah ‘ruang’ yang tercipta itu selalu sejalan dengan tekad kuat dan apa yang kita ‘tanamkan’ dalam sebuah pikiran serta tindakan. Bila dilihat secara seksama, sebuah visual yang saya tangkap dari mata kamera menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang selalu akan ada bila sebuah ‘permintaan’ tentang ruang tersebut selalu bertumbuh. Bagaimana terlihat anak-anak kecil dengan leluasa memainkan dolanan jadul tanpa sedikit pun kepikiran layar yang disentuh.

Begitu pula saya. Sebuah ruang yang saya tumbuhkan ini adalah sebagian kecil dari ruang yang kemungkinan diinginkan oleh beberapa orang tentang keresahan manusia sebagai makhluk hidup sosial yang mulai kehilangan kemampuan dasarnya tentang interaksi. Ruang Jendela Titilaras bertumbuh karena sama-sama saling menghidupi antara manusia satu dengan manusia lainnya, dan kami sama-sama saling belajar. Sadar karena kami butuh ruangan seperti itu. Ternyata dengan sendirinya ruang tersebut tumbuh berada di sekitar kami. Tinggal bagaimana sebuah ruangan yang sudah bertumbuh itu dirawat ke depannya. Baru saja saya kehilangan seorang teman di ruang ini.”

“Kehilangan teman? Maksudnya bagaimana, Mas?”

“Mungkin lebih tepat kalau saya katakan, saya baru saja melepas seorang teman untuk kembali pulang. Dia menemani saya selama empat bulan. Hampir setiap hari dia mampir ke sini, kecuali kalau saya tutup.”

Lalu cerita tentang Ejha kembali meluncur dari bibir Aji. Meski sedikit bosan, Ratih bertahan untuk tetap mendengarkan. Perjalanan pulang selalu punya cerita yang sangat dalam.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!