Dibalik Secangkir Teh

Wajah Pasar Gede 2

Sebuah pasar tradisional yang sudah ada sejak tahun 1927 dan bahkan geliat aktivitas perdagangannya sudah tampak lebih dari 200 tahun sebelum bangunan Pasar Gede sendiri ada. Para pedagang bahu-membahu untuk terus bergotong-royong tetap menghidupi dan merawat Pasar Gede. Mereka juga tak tinggal diam jika ada suatu hal yang tak elok dipandang misalnya sampah.

“Pasar Gede adalah wajah sederhana Kota Solo. Itu yang bisa saya simpulkan, Mbak. Saya juga punya pengalaman yang sangat emosional. Sesuatu yang tidak terlihat tentang Pasar Gede. Selama ini saya bisa melihat dengan jelas keriuhan Pasar Gede. Saya bisa mendengar semua percakapan yang terjadi di sini. Indra penciuman saya bisa membaui semua aroma yang terbawa angin. Saya juga bisa meraba dengan jelas tiap struktur ornamen. Namun, saya tidak bisa mencecap bagaimana rasanya Pasar Gede. Satu-satunya indra yang tidak bisa bercerita tentang Pasar Gede dengan gamblang adalah indra perasa saya. Sejak itu, saya mencoba meracik bahan-bahan seperti teh hitam, jahe, kapulaga, daun pandan, dan essential oil bergamot yang ada di sini untuk menciptakan Wajah Pasar Gede versi saya.”

“Sepertinya keinginan Mas Aji terkabul. Saya bisa merasakan betapa dinamisnya Wajah Pasar Gede. Tapi, tidak mengurangi nuansa magis yang ada di dalamnya. Saya menemukan bagaimana Wajah Pasar Gede itu ibarat perjalanan seseorang.”

“Benar, Mbak. Semua kondimen yang ada dalam Wajah Pasar Gede menciptakan lorong waktu dalam sebuah lingkungan. Seperti itulah cara saya membawa Wajah Pasar Gede yang saya nikmati dari balik Jendela Titilaras.”

“Pernahkah Pasar Gede berubah wajah?”

“Pernah, Mbak. Aneh rasanya ketika kekhawatiran akan sesuatu terulang kedua kalinya, padahal yang pertama sudah terjadi. Sebuah kekhawatiran tentang pelancong dan wisatawan yang menganggap bahwa pedagang lantai dua Pasar Gede Barat merupakan bagian dari salah satu nama saja. Padahal, tanpa adanya sebuah nama lain, lantai dua Pasar Gede Barat sudah bertumbuh secara organik dan secara alami pun tumbuhnya tak melawan ekosistem pasar yang sudah ada sejak 1930, bahkan mungkin geliat perdagangan jauh sebelum itu. Hal ini  terbukti dengan adanya bekas pelabuhan kapal dagang di sungai sisi Barat Pasar Gede.

Biarkan Pasar Gede yang menjadi wajah terakhir pasar tradisional di Kota Solo ini tetap lestari, kita semua yang bernaung di dalamnya harus senantiasa merawat raos dan geliat tersebut. Kita sebagai napas baru seyogyanya juga harus mawas diri untuk senantiasa mengikuti arus Pasar Gede, bukan malah melawan arus. Napas baru ini sebisa mungkin untuk memperkuat akar agar tetap bisa eksis ke depan. Sudah seharusnya kita membiarkan Pasar Gede tetap menjadi Pasar Gede, karena pada dasarnya berbicara tentang pasar tradisional itu adalah berbicara tentang identitas yang original dan bertumbuh secara organik.”

Pasar Gede adalah wajah sederhana Kota Solo." Aku merapalkan kembali ucapan Aji sambil merasakan Wajah Pasar Gede yang tersaji di depanku.

“Betul sekali, Mbak. Coba lihat di sana, Mbak.” Aji menunjuk seseorang yang sedang duduk di sudut anak tangga. “Beliau bisa disebut sebagai pembawa pesan di tengah zaman yang semua bisa didapat melalui genggaman.”

Namanya adalah Pak Slamet. Salah seorang loper koran yang selalu berkeliling di sekitar Pasar Gede. Pak Slamet menjajakan dan menawarkan sebuah pesan cetak dari berbagai sumber terbitan kepada tamu yang singgah di setiap kios pedagang. Beliau selalu senantiasa berkeliling, bahkan beliau tak ragu untuk mengantarkan tamu jika ada yang bertanya, ‘Pak, yang jual ini di mana nggih?’ sampai ke kios yang dimaksud tamu.

Sekarang sebuah informasi lebih mudah dan cepat didapat, tetapi nyatanya banyak di antara tamu Pasar Gede yang masih berkenan membaca koran atau majalah. Mungkin lebih bisa disebut memoriable, tentang aroma kertas ketika membuka koran. Zaman dulu sebuah informasi bisa didapat hanya lewat surat kabar maupun informasi yang tercetak di kertas lain.

Aku mengedarkan pandang. Teringat pepatah Jawa yang mengatakan ‘desa mawa cara, negara mawa tata’ (setiap tempat atau daerah mempunyai adat dan aturan sendiri-sendiri) yang kemarin dijelaskan salah satu rencang nglaras. Pepatah Jawa tersebut mengandung arti yang sangat dalam ketika kita melihat berbagai keragaman di sekeliling kita. Sejak kemarin, aku melihat banyak sekali tamu yang berdatangan dari luar kota. Bahkan, menurut beberapa pedagang, bila bertepatan dengan liburan, tak jarang mereka juga mempelajari tata cara berkunjung ke Pasar Gede.

Mulai dari menyapa, tata bercerita, membeli dan menawar barang, cara berjalan, bahkan sampai cara mereka membuang sampah secara mandiri. Banyak sekali kebiasaan yang beragam dari para tamu.

Perlahan, aku mulai bisa menikmati suasana Pasar Gede. Atmosfer yang memenuhi lantai dua ini seolah memaksaku untuk sedikit santai.

***

Hari ini Mas Aji mulai membuka Jendela Titilaras jam dua belas siang. Hanya ada lima belas nomor antrean yang dia sediakan. Meski begitu, tidak ada batasan berapa porsi dalam satu antrean. Selama bahan baku masih tersedia, Mas Aji pasti akan menyeduh dengan hati yang senang.

Jendela Titilaras baru saja dibuka ketika datang laki-laki sebaya Aji yang menghampirinya. Dia adalah Ejha, seorang rencang nglaras yang dipertemukan sekitar empat bulan lalu. Ejha asli Solo yang memilih untuk merantau di Jakarta. Di pertemuan pertama mereka dulu, Akrha menyeduh Bunisora untuk Ejha. Bunisora adalah kopi yang diseduh dengan metode tubruk dan lebih tebal body-nya.

Dari secangkir kopi tubruk itulah mereka memulai cerita satu demi satu apa yang mereka lalui. Pertemuan kedua membuka lembar cerita baru dari seorang Ejha tentang keadaan ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit. Itulah alasan utama Ejha kembali pulang.

“Saya sebetulnya bingung, Mas. Kalau saya tetap di sini, saya enggak punya pekerjaan. Sedangkan di Jakarta, pekerjaan saya sudah bisa dikatakan lumayan. Saya bisa membiayai hidup saya dan ibu,” Ejha menjelaskan kegundahannya.

“Lalu kenapa akhirnya memilih pulang, Mas?”

“Kita tidak pernah tahu perjalanan seseorang akan seperti apa. Seperti halnya daun yang jatuh tertiup angin dan tak tahu di mana tepatnya dia akan terjatuh. Tapi, rasanya semua orang punya keinginan yang sama, ingin pulang. Apa pun alasannya.”

Aji tersenyum. Tangannya masih sibuk menyeduh Wajah Pasar Gede pesanan Ejha. Banyak sekali rencang nglaras yang singgah sebagai perantau di kota lain, terutama Jakarta. Mereka selalu bercerita perihal pekerjaan yang mereka jalani setiap harinya, mulai aktivitas bangun pagi lalu bekerja hingga pulang di malam hari. Sungguh menarik cerita tentang sisi kehidupan dan hiruk-pikuk ibukota, bagaimana harus bergerak cepat, terpola paten, alur yang sama dan begitu seterusnya besok.

Kesamaan cerita di antara mereka adalah tentang kesehatan mental. Stres menjadi sebuah kebiasaan, banyak di antara mereka yang malah sudah sangat bersahabat dengan stres. Cerita lainnya adalah masa depan yang ingin mereka raih. Mereka banyak mempunyai mimpi untuk kelak bisa lepas dari pola kehidupan seperti itu, sebuah tekad yang menurut Aji harus dilakukan dengan berani serta perhitungan matang.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!