Dibalik Secangkir Teh

Wajah Pasar Gede 1

Kali kedua aku datang ke Jendela Titilaras. Lagi-lagi aku harus memantau jam buka Jendela Titilaras melalui Story Instagram. Tapi, sejauh ini, tidak ada yang mengeluhkan cara Mas Aji memberitahu kapan dia akan menyeduh. Setidaknya, itu yang aku lihat dari postingan dan komentar di Instagram.

“Mbak, jika berkenan, saya mau mengajak Mbak Ratih menyelami racikan Temuipeluk.” Aji menawarkan sebuah menu yang baru aku dengar. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Tidak sampai setengah jam, segelas Temuipeluk sudah tersaji di depanku. Aku menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari racikan Temuipeluk. Berbeda dengan Wajah Pasar Gede yang kemarin aku nikmati. Aroma ini lebih menenangkan. Memanggil ingatan akan tiap hangatnya pelukan dalam kenangan. Sedangkan Wajah Pasar Gede, terasa sangat dinamis penuh nuansa magis.

“Bagaimana rasanya, Mbak?”

Aji menarik kursi kayu kecil yang ada di depanku. Kami duduk berseberangan terhalang sebuah meja yang sepertinya terbuat dari kayu jati. Lantai dua Pasar Gede Barat tampak lengang. Ada lima meja di depan Jendela Titilaras. Masing-masing meja dikelilingi empat buah kursi tanpa senderan. Mungkin karena aku datang awal, jadi belum terlalu ramai pengunjung. 

“Lebih menenangkan, Mas. Dua-duanya enak. Tapi, Wajah Pasar Gede kemarin lebih kuat jejaknya.”

“Wajah Pasar Gede itu lahir dari keinginan saya untuk menceritakan tentang Pasar Gede. Mbak sudah keliling ke mana aja di Pasar Gede?”

“Hampir semuanya sudah saya kelilingi, Mas. Tadi pagi sebelum ke sini saya sempat keliling di bagian Timur. Di sini saya banyak menemukan buah-buahan, tapi di Timur sana lebih ke pasar tradisional. Semuanya ada.”

“Itulah Wajah Pasar Gede yang saya racik dan saya seduh. Wajah Pasar Gede mewakili dua gedung di Pasar Gede. Bagian Barat yang terkenal dengan pasar buah, saya mulai dengan aroma lemon kering yang mewakili keceriaan Pasar Gede. Sementara Timur, terkenal dengan pasar tradisional baik dari bahan baku, pernak-pernik maupun aromanya, diwakili aneka rempah yang saya campur.”

Bagi Aji, Pasar Gede adalah rumah. Sudah banyak tempat yang dia kunjungi, tetapi sering tak bisa dia nikmati. Aji percaya, setiap tempat pasti mempunyai sebuah keunikan tersendiri atau istilah yang sering terucap adalah autentik.

Keunikan tersebut bisa berupa apa pun yang terdapat di suatu tempat, seperti bentuk bangunan, ornamen pendukung, suasana, pelayanan, menu, dan masih banyak yang lainnya. Banyak sekali tempat yang membenahi diri, berlomba untuk menjadi unik. Syukur-syukur bisa Instagramable kalau kata anak sekarang.

Berkunjung ke Pasar Gede, mata kita akan disuguhi berbagai ragam keunikan para pedagang, setiap kios memiliki tema serta ornamen pendukung sendiri sebagai ciri khasnya agar setiap calon pembeli melirik dagangan yang mereka tawarkan.

Tak hanya tentang sebuah aksen kios semata, hal tersebut juga mempunyai maksud dan tujuan sebagai identitas kios agar ketika nanti para pembeli kembali lagi, mereka tak bingung untuk mencari tempat para penjual yang mereka temukan sebelumnya, walaupun dalam satu baris kios menawarkan dagangan yang sama.

Keunikan ini menjadi ciri khas yang sudah ada sejak lama, bahkan mencerminkan bahwa ekosistem pasar tersebut terus hidup dan bertumbuh. Pun, sama halnya dengan Titilaras. Sejak awal membangun Titilaras, Aji hanya ingin menampilkan sebuah ‘kejujuran’ yang terdapat dari kios yang dia sewa selama ini. Dengan cara yang sederhana, Aji mengolah tempatnya agar ketika ada rencang nglaras yang berkunjung bisa merasakan kesederhanaan yang dia jadikan sebagai ekosistem Titilaras.

Seiring berjalannya waktu, Aji selalu sadar terhadap berbagai hal yang bisa menjadi pembelajaran baru bagi ekosistem Jendela Titilaras. Seperti halnya saat Pasar Gede padat dikunjungi wisatawan, terlihat sudah banyak kios yang sibuk melayani pelanggan. Namun, di Jendela Titilaras masih lengang belum ada yang singgah. Hingga salah satu pedagang lewat menyapa dan nyeletuk, "Piye Mas wes kepayon durung? Koe sih buka e awan kudu ne buka kaet isuk mau (Bagaimana Mas sudah ada yang beli belum? Kamu sih bukanya siang, harusnya buka sedari pagi tadi).”

"Rapopo Mas, ben liyane sing mulai sik. Rezeki ne lakon ra bakal luput (Tidak apa Mas, biar yang lain mulai duluan. Rezekinya orang tidak bakal lolos),” Aji menjawab dengan tetap tersenyum.

Senda-gurau dan percakapan seperti itu sering terjadi semata-mata karena mereka sesama pedagang seperti sedang memberi semangat satu dengan lainnya. Ya, dalam benak Aji sebagai manusia ada pertanyaan mendasar, ‘Kok belum ada yang singgah ya’. Tapi, dari hal tersebut Aji selalu yakin bahwa itu adalah salah satu bentuk lain dari cara mengasah rasa legowo-nya. Selain itu Aji juga selalu yakin rezeki enggak bakal ke mana dan rezeki banyak sekali wujudnya. Yang penting, sudah diusahakan semuanya.

Aji kembali menjeda ceritanya saat seorang pengunjung datang ke Titilaras. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kekecewaan si pengunjung karena kehabisan nomor antrean. Aku juga melihat Aji berkali-kali menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf. Aku melihat ada sebuah interaksi hangat yang dibangun Aji. Setelah pengunjung tersebut pergi, Aji duduk lagi di seberangku.

"Apakah setiap tamu yang singgah akan diperlakukan dengan cara yang sama, Mas?”

“Sama bagaimana, Mbak?”

“Bercerita atau ngobrol dengan begitu hangat.”

“Ya. Saya akan melakukan hal yang sama, berusaha sebaik mungkin dan tidak membedakan siapa yang akan datang. Itu tentang membangun kepercayaan dan mempercayakan sesuatu dengan manusia lainnya.”

“Apa tidak capek Mas?"

“Capek tidaknya semua bergantung pada kondisi yang ditawarkan. Kalau ada tamu yang melakukan interaksi dengan saya sampai dua jam lebih pun saya tak akan merasa capek. Mungkin itu dipengaruhi dari energi yang ditumbuhkan sama baik adanya. Tapi, tak memungkiri juga ada tipe tamu yang sangat ‘dingin’ saat berinteraksi, atau istilahnya feedback-nya sangatlah kurang. Biasanya saya akan merasa energi ini cepat sekali terkuras. Ya, kembali lagi itu sebuah pilihan dan saya tidak bisa memaksa. Saya hanya meyakini ekosistem yang baik itu tumbuh dari apa yang kita berikan juga.”

Obrolan kami berlanjut membahas Wajah Pasar Gede yang tadi sempat tertunda. Menurut Aji, banyak yang mengatakan Pasar Gede kotor, Pasar Gede bau. Itu adalah beberapa perkataan netizen yang meninggalkan jejak di kolom komentar yang ditemuinya dari beberapa hasil karya vidio reels atau Tiktok dan X yang mengulas tentang Pasar Gede.

Kalau ditanya apakah Aji marah mengetahui komentar-komentar tersebut, ya Aji marah. Aji adalah salah satu pedagang yang menjadi bagian dari Pasar Gede. Dia dan pedagang lainnya sudah berusaha setiap hari merawat Pasar Gede sebagai ladang tempat mencari rezeki.

Pasar Gede bisa dikatakan sebagai pasar tradisional terakhir di Kota Solo yang wujud dan citranya masih sama seperti dulu.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!