Dibalik Secangkir Teh

Sebuah Perjalanan

Siang itu, seminggu lalu. Aku menelepon Ajeng. Masalah di Toko Kue Laras Rasa benar-benar menguras emosi dan energiku. Aku butuh seseorang yang mau mendengarkan segala kesah. Pilihan utamaku tentu saja Ajeng.

...

“Cukup. Sekarang kamu beli tiket, kita berangkat.”

“Kamu dibayar berapa?”

“Maksudnya?”

“Iya, kamu dibayar berapa sampai mau jadi marketing Titilaras?”

“Aku berani taruhan, kalau kamu sudah ke sana, kamu pasti enggak mau pulang. Awas, jangan sampai kamu jatuh cinta sama orang sana.”

“Enggak usah mikir kejauhan deh. Aku masih sibuk.”

“Sekali ini aja, kamu nurut deh sama aku. Tinggalin dulu semua urusan di sana.”

“Kamu aneh. Mana bisa aku ninggalin kerjaan di sini.”

“Bisa. Asal kamu mau dan merasa semuanya sudah cukup, pasti bisa.”

“Gayamu. Kamu bisa ngomong gitu karena kamu enggak pusing kayak aku.”

“Makanya, kali ini aja kamu dengerin aku. Tinggalin dulu semuanya, kamu pergi deh ke Titilaras. Aku jamin, nggak bakalan nyesel.”

“Kenapa harus Titilaras?”

“Udah, cukup ikut apa yang aku bilang. Enggak usah banyak tanya. Otak rumit kamu itu yang sering bikin kamu susah sendiri.” 

“Iya iya, aku nurut. Awas aja kalau sampai enggak sesuai ekspektasi. Aku pecat kamu jadi sahabat.”

Tawa Ajeng mengakhiri obrolan kami di siang itu. Aku mematikan sambungan telepon. Pertemananku dengan Ajeng yang sudah terjalin hampir lima belas tahun sejak kami bertemu di SMA, membuat kami bisa saling memahami bagaimana karakter masing-masing. Kadang tak perlu bibir yang bicara, saling pandang pun sudah membuat kami paham apa yang harus kami lakukan.

Solo. Ajeng menyuruhku untuk ke sana. Datang ke Titilaras. Kedai teh dan kopi di Pasar Gede yang menurut Ajeng akan menjadi tempat yang tepat untukku. Benar atau tidak bahwa tempat itu adalah tempat yang aku butuhkan, aku sudah tidak peduli. Isi kepalaku terlalu riuh memikirkan bagaimana mempertahankan toko kue peninggalan emak.

“Ibumu tidak mau meneruskan toko kue ini. Dia selalu bilang pendapatan bapakmu sudah lebih dari cukup untuk membiayai kalian. Satu-satunya harapan Emak, ya cuma kamu.” Ucapan emak seakan menjadi mantra yang dirapalkan terus menerus hingga menancap begitu dalam di pikiranku.

Wajar jika emak berharap seperti itu kepadaku. Dari empat anak dan sembilan cucunya, hanya aku yang memiliki ketertarikan dengan dapur. Aku yang selalu menemani emak membuat kue dan memasak. Kebetulan juga sejak usia TK, aku memilih tinggal bersama emak dan abah di Bandar Lampung. Tidak ikut kedua orangtuaku yang saat itu pindah ke Bogor karena bapak dipindahtugaskan ke Jakarta.  

Abah dan emak yang asli dari Sumedang, tetap di Bandar Lampung menghabiskan hari tua mereka. Tidak seperti teman-teman abah yang pulang ke kampung halaman saat memasuki usia pensiun.

Abah mau ngapain di Sumedang? Udah enak di sini. Itu alasan abah saat ditanya kenapa tidak pulang ke Sumedang. Malas memulai lagi dengan lingkungan baru. Hampir tiga puluh tahun tinggal di Bandar Lampung, cukup untuk membuat abah dan emak merasa terasing di kampung halaman sendiri.

Aku kembali membuka gawai. Mulai mencari tiket kereta api ke Solo. Ajeng sudah mewanti-wanti agar aku tidak menggunakan pesawat. Ajeng memintaku untuk mampir dulu ke Jakarta. Tempat dia tinggal saat ini. Sudah jelas kalau itu bukan permintaan, melainkan perintah yang tak bisa aku bantah. Kecuali, aku siap mendengar omelannya berhari-hari.

Seminggu setelahnya, aku pun berangkat ke Jakarta. Untuk sementara waktu, aku menutup toko kue. Namun, para karyawan tetap masuk untuk menyelesaikan semua pesanan yang sudah terlanjur kami terima. Aku menyerahkan urusan toko kepada Mbak Ani. Salah satu karyawan yang sudah bekerja sejak toko masih dipegang emak. Loyalitasnya tak perlu diragukan lagi. Mbak Ani lebih paham urusan toko dibandingkan aku.

Mataku masih betah memandangi bangunan yang menurut emak, menjadi saksi jatuh bangun emak memperjuangkan hidup dan masa depan anak-anaknya. Sungguh, aku tak sanggup membayangkan reaksi emak jika masih hidup dan tahu bahwa toko kuenya tidak bisa aku pertahankan lagi. Emak dan Laras Rasa, nama toko kue ini, adalah satu jiwa yang hanya terpisah raga. Laras Rasa berdiri menjadi penopang hidup emak.

Perlahan, air mata mulai bergulir tanpa bisa aku bendung. Melepaskan, apa pun bentuk dan alasannya, tetap saja akan meninggalkan duka yang bermetamorfosis menjadi luka. Tak ada yang pernah bisa menjalani dan menikmati proses melepaskan dalam balutan tawa.

Aku mengusap air mata dengan punggung tangan kananku sambil memikirkan apa yang akan aku katakan kepada para pekerja nanti. Baru beberapa tahun aku menggantikan emak memegang kendali di toko kue ini, semua malah menjadi makin rumit.

***

            Hampir pukul setengah delapan malam. Aku menjatuhkan tubuhku di kursi bagian depan Bus Damri yang akan membawaku ke Jakarta. Aku sengaja memilih kursi bagian depan agar lebih lega.

            Tak lama, bus yang aku tumpangi mulai bergerak meninggalkan Stasiun Kereta Tanjungkarang. Aku berdiri sejenak menutup lubang AC yang ada di kepalaku. Sejak kecil, aku tidak tahan jika terkena AC secara langsung. Hidungku bisa tiba-tiba mimisan dan rasanya perih sekali. Bahkan, untuk sekadar bernapas pun terasa tidak nyaman.

            Di sebelahku, seorang ibu berusia awal lima puluhan sibuk menyelimuti kakinya dengan selimut yang tersedia di tiap bangku penumpang. Ibu itu tersenyum saat mata kami bertemu. Aku membalas senyum ramahnya sambil menganggukkan kepala.

Aku kembali duduk dan mencari posisi paling nyaman. Aku menaikkan bagian ujung kursi agar bisa meluruskan kaki. Inilah salah satu kenyamanan yang aku dapat saat naik Damri eksekutif. Meski aku harus membayar lebih mahal, rasanya sepadan dengan kenyamanan yang aku dapatkan. Perlahan, aku memejamkan mata. Mencoba untuk tidur. Tapi, gagal.

Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang bagi otakku yang sudah mulai mengembara. Mengingat obrolanku dengan emak tiga tahun lalu saat emak baru saja keluar dari ruang isolasi Rumah Sakit Urip Sumohardjo, Bandar Lampung.

Selama delapan belas hari emak diisolasi karena terserang Covid-19. Untunglah emak pulih dengan cepat. Meski begitu, untuk beberapa hari emak masih harus tetap istirahat. Asma yang sudah menemani emak lebih dari separuh hidupnya membuat emak harus berjuang ekstra melawan si Covid.

“Ratih, sini. Duduk sini dekat emak.”

Emak menunjuk sisi sebelah kanan kasur tempatnya berbaring. Aku menuruti permintaan emak. Duduk di sebelahnya sambil terus menatap wajah emak yang tak bisa melawan usia.

Aku diam. Merutuk dalam hati. Aku benci keadaan ini. Terakhir aku duduk di sisi tempat tidur begini adalah saat meninggalnya abah. Aku tak pernah berharap akan kehilangan emak begitu cepat. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersama emak. Berulangkali aku menyesali keputusanku, memilih pergi ke Kalimantan Timur demi mengejar karier yang pada akhirnya tidak bisa aku gapai juga.

“Ratih, kayaknya waktu emak sudah tidak lama lagi.”

Tangan emak menggapai jemari kananku dan menggenggamnya dengan sangat erat.

“Sssstttt, emak enggak boleh bicara seperti itu. Emak kan sudah sehat. Sekarang tinggal pemulihan.”

“Kita enggak bisa melawan takdir, Nak. Ketetapan yang sudah ditetapkan Allah akan tetap seperti itu. Emak mau cerita tentang Laras Rasa yang selama ini belum pernah kamu dengar. Bahkan ibumu, uwamu, tantemu, dan sepupu-sepupumu yang lain juga enggak ada yang tahu. Emak harap, setelah mendengar cerita ini, kamu bisa memiliki sedikit saja cinta yang emak punya untuk Laras Rasa.”

Aku diam mendengarkan. Mata emak menerawang seperti menyingkap tabir demi tabir yang menjadi penghalang antara emak dengan masa lalu.

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!