Dibalik Secangkir Teh
Buka dengan Senang
“Menarik memang,” Aji melanjutkan, “kalau ada tamu yang menanyakan tentang tulisan yang tertera pada papan di atas jendela Titilaras. Banyak tamu yang singgah memiliki beragam latar belakang dan domisili. Tak jarang pula banyak para pengunjung Pasar Gede yang lalu-lalang di depan jendela, melihat tulisan itu. Mereka saling melempar pertanyaan kepada teman atau sanak saudara, ‘Ngerti gak kuwi artine opo’ (tahu tidak itu artinya). Saya pun turut senang apa yang saya tampilkan walau dengan sederhana bisa ikut memperkenalkan sedikit tentang Aksara Jawa kepada para tamu dan pengunjung Pasar Gede, nguri-nguri budoyo Jowo (melestarikan budaya Jawa) memang harus tetap dilakukan, walau dengan cara sederhana, agar nantinya tidak semua terlahap oleh modernisasi zaman.”
“Termasuk budaya minum teh?”
“Nggih, Mbak. Minum teh itu sudah kita kenal sejak dulu. Ratusan tahun lalu saat bangsa Eropa masih berkuasa di sini. Kita mengenal budaya minum teh sore hari di kerajaan Inggris, nah tradisi itu banyak diadopsi dan dilakukan oleh leluhur kita.”
“Iya, Mas. Kakek saya juga dulu sering minum teh sore-sore sambil duduk di teras. Kalau ada tetangga lewat, selalu disuruh mampir untuk ngobrol.”
“Budaya minum teh itu bukan hanya milik satu suku saja, Mbak. Negara-negara yang pernah dijajah, pasti mengenal tradisi minum teh.”
“Saya agak penasaran, bagaimana Mas Aji bisa membuka kedai ini?”
“Saya sih gampang aja Mbak. Buka dengan senang bukan buka karena senang."
Melihat aku yang mengernyitkan dahi, Mas Aji memberikan penjelasan yang lumayan mudah untuk dicerna otakku. Analogi sederhana yang Mas Aji ambil ibarat membeli sebuah bibit tanaman. Kita harus tahu kita membeli tanaman itu untuk benar-benar ditanam dan dirawat agar bertumbuh besar serta rindang atau kita membeli tanaman itu hanya ikut tren seperti yang terjadi pada masa pagebluk kemarin, yaitu saat Covid menyerang. Tiba-tiba banyak sekali orang bercocok tanam di rumah untuk mengisi waktu senggang agar punya kegiatan dan sekarang nyatanya tanaman itu banyak yang tak terawat lalu layu dan mati.
“Nah, untuk membuka kedai ini, saya harus tahu apakah saya belajar untuk merawat dan menumbuhkan tempat ini atau saya sekadar mengikuti "fomo" karena ada uang berlimpah lalu buka kedai saja? Buka kedai dengan senang karena kita merawat serta menumbuhkan apa yang sudah kita tanam akan selalu banyak cerita yang terjadi dalam perjalanannya, bukan buka karena senang kalau punya sebuah kedai, ibaratnya sebagai bentuk pengakuan sosial saja. Tapi, ya balik lagi semua itu pilihan kok. Semoga niat baik yang sedang mengusahakan sebuah karya akan selalu bertumbuh besar dan menjadi rindang.”
“Apa masalahnya ketika kita membuka sebuah usaha dengan alasan karena kita memang senang kalau punya sebuah usaha yang kita dirikan sendiri?”
“Bagi saya, jelas beda, Mbak. Tadi sudah saya katakan, saya buka dengan senang karena saya ingin merawat dan menumbuhkan apa yang sudah saya tanam. Kalau saya buka kedai ini dengan alasan karena saya senang punya kedai, bisa saja saya abai dan tidak merawatnya.”
Penjelasan Mas Aji membungkam mulutku dengan telak. Ada perasaan marah karena ucapan Mas Aji seakan menyindirku. Aku kembali bertanya kepada diri sendiri, apa yang sedang aku lakukan dengan Laras Rasa? Buka dengan senangkah? Atau buka karena senang? Aku benar-benar ingin merawat dan menumbuhkan Laras Rasa atau malah untuk mencari pengakuan sosial?
“Mbak, loh kok malah melamun toh?”
“Saya punya toko kue di Bandar Lampung. Nama tokonya Laras Rasa. Sebetulnya itu toko kue peninggalan nenek saya. Toko itu sudah ada hampir tiga puluh lima tahun.”
“Luar biasa sekali, Mbak. Nggak gampang loh Mbak, bisa bertahan selama itu.”
“Bukan saya yang membuat toko kue itu bertahan lama.”
“Mbak juga punya andil. Kalau sekarang Mbak yang meneruskan, berarti toko itu bisa tetap berdiri karena campur tangan Mbak juga.”
“Itulah Mas. Selama dikelola emak, eh nenek saya, toko itu baik-baik saja. Entah kenapa, setahun terakhir ini masalah terus saja berdatangan. Padahal, saya sudah membuka dua cabang toko kue.”
Aku tidak mau mengakui, bahwa setelah mendengar ucapan Mas Aji tadi, aku jadi kepikiran alasanku mau melanjutkan toko kue itu apa.
“Mbak, dulu sempat juga ada rencang nglaras dari Kota Salatiga yang datang ke kedai di sore hari, mereka berempat datang ke kedai setelah jalan-jalan mencicipi beberapa coffee shop di Boyolali. Mereka bilang, sudah punya rencana minggu lalu untuk singgah di kedai saya, hanya saja saya saat itu libur menyeduh. Salah satu dari mereka punya kedai kopi juga di Salatiga. Kebetulan baru sebulan ini memutuskan untuk rehat sejenak. Beliau bercerita kalau keputusannya itu diambil karena ada berbagai hal yang harus diperhitungkan kembali. Salah satunya memikirkan ulang sebuah konsep kedai, tujuan, pelayanan, serta produk yang akan disajikan.
Ketika bertukar pikiran dengan saya, saya menanggapi bahwa keputusan yang dia ambil cukup berani dan itu harus dilakukan ketika sudah mentok untuk berbuat apa. Bagi saya, sebuah rehat bukan berarti berhenti berkarya, rehat bisa dimaknai dengan sebuah ‘pertapaan’ untuk memulai kembali, dan bagi saya rehat di sini adalah komunikasi diri antara pikiran, hati serta tindakan untuk lebih baik dalam sebuah usaha. Setiap perjuangan selalu ada hasil nyata. Jangan lupa berjuang terus, kalau capek istirahat tapi jangan terlena dengan kenyamanan saat rehat.”
“Apa saya harus rehat sejenak ya Mas?”
“Wah, saya ndak tahu Mbak kalau itu. Mbak Ratih sendiri yang bisa menjawab pertanyaan tadi. Wong Mbak Ratih yang jalanin.”
Rasanya ingin sekali membungkam mulut Mas Aji. Gampang banget dia bilang enggak tahu. Padahal aku cuma menanyakan pendapatnya.
“Saya malah nggak tahu harus melakukan apa. Semuanya kok berat banget.”
Malah keluhan yang keluar dari bibirku.
“Jelas, Mbak. Namanya berkarya, tidak ada yang mudah. Terhitung seminggu setelah membuka kedai ini, masih banyak orang yang belum tahu saya berjualan apa, karena saya belum memasang papan tanda nama yang sedang dalam proses lettering. Namun, saya berterima kasih untuk semua rencang nglaras yang sudah datang, beberapa orang tahu dari postingan saya atau dari teman sejawat.
Saat mulai membuka kedai ini, di awal perjumpaan dengan pelanggan, saya tak pernah lelah memperkenalkan produk baru, Titilaras. Titilaras berawal dari pengertian tangga nada dasar yang menjadi kesatuan dalam terciptanya harmonisasi musik (gamelan Jawa). Saya memilih nama tersebut dengan memaknai ‘meniti dengan selaras’. Produk perdana kedai ini, ‘kopi bubuk asli’ diharapkan bisa selaras dan mampu merangkul seluruh pecinta kopi tradisional yang menginginkan kopi praktis yang bisa dinikmati kapan pun, di mana pun, dengan teman sejawat.”
“Loh, sejak awal itu produk Titilaras bukan khusus teh ya?”
“Bersamaan, Mbak. Keduanya tumbuh sama-sama. Tidak bisa dipungkiri, bahwa orang Solo erat sekali dengan budaya ‘ngeteh’. Teh kerap kali disandingkan menjadi rencang nglaras oleh orang Solo. Saya memberanikan diri mengeluarkan produk racikan teh tradisional asli dari Kota Bengawan. Aromanya yang harum dan rasanya yang khas membuat teh Tjentjem Wangi produksi Titilaras, patut untuk dicoba rencang nglaras. Cita rasa teh Tjentjem Wangi Titilaras, pastinya mampu menghangatkan pembicaraan dan juga suasana rencang nglaras dengan keluarga, handai taulan, dan juga rekan sejawat. Secangkir teh Tjentjem Wangi Titilaras di musim hujan adalah salah satu cara terbaik bagi rencang nglaras melihat sesuatu yang lain di luar jendela rumah dengan lebih bermakna dan lebih berwarna juga lebih seksama.
Setiap yang memiliki aroma dan rasa, pasti memiliki nyawa di dalamnya. Begitu pun saya menaruh nyawa di setiap seduhan kopi dan teh Titilaras ini. Kalau Mbak suka kopi, Mbak bisa mencoba kopi bubuk Tansah Gesang. Ini ungkapan sederhana orang Jawa sebagai pengingat agar senantiasa hidup. Salah satu makna senantiasa hidup ini dengan tetap menjadi manusia yang berhati luhur dan baik kepada sesama maupun alam sekitar. Titilaras hadir untuk selalu menghidupkan kembali budaya ngopi sembari nglaras. Kita bisa saling bercumbu dan nglaras bersama bukan hanya di ruang rindu. Tapi, terlebih dahulu obati rasa rindu bersama. Ngopi kaliyan nglaras.”
Aku menganga setengah tak percaya. Bagaimana mungkin orang ini berbicara tentang rindu di pertemuan pertama kami? Bahkan, baru beberapa jam saja kami saling mengetahui nama masing-masing. Apakah dia menggombal seperti itu kepada setiap perempuan yang datang? Aku mulai menduga-duga.
“Saya memang suka kopi. Tapi, mungkin saya tidak bisa bicara di ruang rindu bersama Mas Aji,” jawabku sedikit ketus. “Oh iya, saya lupa menanyakan teh yang saya minum tadi itu apa ya Mas?”
“Itu namanya Wajah Pasar Gede, Mbak. Perpaduan teh hitam, jahe, kapulaga, daun pandan dan essential oil. Jika berkenan, besok akan saya ceritakan tentang Wajah Pasar Gede dalam secangkir teh.”
Aku pamit, mengayunkan kaki menjauh dari Jendela Titilaras. Setelah aku menyadari, ternyata Mas Aji lumayan menyebalkan.
Pelan, aku menyusuri trotoar sepanjang Jalan Urip Sumoharjo, Solo menuju Hotel Trio tempatku menginap. Aku masih tak percaya, akhirnya bisa datang ke sini hanya karena saran yang dilontarkan Ajeng.
***