Dibalik Secangkir Teh

Kebenaran Lainnya 1

Tol Jagorawi ditempuh Ajeng kurang dari satu jam. Begitu keluar tol Sentul Selatan, mau tidak mau Ajeng mulai menyesuaikan kecepatan. Macet dan banyaknya angkot seolah sudah menjadi ciri khas Bogor selain hujan dan kuliner. Ajeng memacu mobil ke arah Bubulak. Di perempatan Sindang Barang Jero, Ajeng berbelok ke kanan. Sekitar lima belas menit, rumah yang kami tuju pun nampak.

Tak banyak perubahan yang aku lihat sejak terakhir kali aku ke sini sebelum berangkat ke Kalimantan Timur. Rumah yang lumayan megah dengan cat putih itu tampak sangat asri. Ada pohon rambutan dan pohon mangga yang menjadi peneduh. Harus aku akui, ibu sangat pandai menghidupkan rumah dengan aneka macam tanaman.

Ajeng memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuaku. Sedangkan aku sudah masuk duluan ke dalam rumah.

Aku menyalami ibu dan bapak sambil mencoba memeluk mereka. Namun, seperti biasanya, aku tidak bisa merasakan kedekatan layaknya anak dan orang tua. Aku kangen, tetapi ya hanya sebatas kangen seperti rasa kangenku kepada uwa dan tanteku. Tidak lebih.

Kami berempat langsung menuju meja makan karena ibu sengaja masak dan sudah wanti-wanti agar aku makan di rumah. Meski tidak sehebat emak, sebagai anak emak, masakan ibu tetap saja terasa sangat enak. Aku dan Ajeng sampai kekenyangan. Ajeng bahkan dengan tak tahu malunya minta dibungkuskan beberapa lauk dan sayur.

Kini kami sudah duduk di ruang tengah. Ada rasa canggung yang kerap menyergapku jika sudah berada di tengah bapak dan ibu.

 “Gimana kabar kamu?” bapak mulai bertanya.

“Baik, Pak. Ratih kemarin sempat ke Solo seminggu.”

“Bapak tahu. Mbak Ani sudah cerita. Lalu gimana dengan toko?”

Ah, kenapa aku melupakan Mbak Ani? Aku di Solo selama seminggu, pasti Mbak Ani akan melaporkannya ke ibu.

“Toko masih buka Pak. Menyelesaikan pesanan-pesanan yang udah masuk dari jauh-jauh hari. Enggak mungkin Ratih cancel.”

“Rencana kamu mau menjual toko itu jadi enggak?” Kali ini ibu yang bertanya.

“Itu yang mau Ratih bicarakan ke bapak sama ibu. Ratih sudah berpikir matang, sepertinya Ratih mau melepas ruko. Habis itu, Ratih mau buka Laras Rasa di rumah abah aja. Kan rumah juga kosong. Para pelanggan juga sudah tahu rumah abah.”

“Kamu enggak ada rencana untuk nutup toko? Sudah yakin mau meneruskan Laras Rasa?” Bapak menelisik menunggu jawabanku.

“Ratih yakin, Pak. Ratih mau meneruskan Laras Rasa peninggalan emak. Kali ini keputusan Ratih sudah bulat. Ratih juga udah tahu alasan emak membuka Laras Rasa.”

“Apa yang emak ceritakan? Ibu mau tahu sejauh mana emak bercerita sama kamu.”

“Emak bilang, alasan utama emak membuka Laras Rasa karena saat itu ada seorang perempuan yang datang ke rumah. Perempuan itu mengaku sebagai istri siri abah. Dia juga membawa bayi yang diakuinya sebagai anak abah. Emak berpikir, suatu hari nanti bisa saja abah benar-benar pergi meninggalkan emak. Emak harus mandiri secara finansial. Tidak boleh hanya mengandalkan abah. Jadi emak memilih menyembuhkan lukanya dengan membuka Laras Rasa.”

“Ada yang tidak emak ceritakan. Bapak pikir, sudah waktunya Ratih tahu, Bu. Lebih baik ibu yang cerita ke Ratih. Bapak mau ke depan dulu.”

Bapak berdiri dan berlalu tanpa menunggu jawaban ibu.

Aku memandang punggung bapak. Perasaan sedih dan kecewa tiba-tiba saja menelusup ke hatiku. Kenapa bapak malah pergi? Padahal bapak tahu aku enggak lama di sini.

“Tih, ibu minta maaf sebelumnya karena apa yang mau ibu sampaikan ini rahasia besar keluarga kita. Menyangkut hidup kamu. Masa depan kamu juga. Ibu pikir, emak sudah mengatakan semuanya. Tapi, ya sudahlah, emak mungkin enggak punya keberanian. Atau emak enggak sanggup melihat kamu terguncang.”

“Ini, ada apa sebenarnya, Bu?”

Aku makin penasaran.

“Tih, kayaknya aku keluar aja deh. Ini obrolan keluarga kalian.”

Ajeng mulai merasa tidak enak berada dalam situasi tegang seperti itu.

“Kamu di sini aja. Ratih pasti butuh kamu.”

Suara ibu membuat Ajeng kembali duduk dengan tenang.

“Laras Rasa itu punya kamu,” ibu melanjutkan ceritanya. “Emak memberikan wasiat kepada kami bahwa Laras Rasa harus diserahkan kepada kamu. Itulah alasan kenapa kami tidak ada yang pernah menyinggung tentang Laras Rasa. Selain itu, ada hal lain yang harus kamu ketahui. Fakta tentang siapa sebenarnya kamu. Ibu rasa, ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Ibu bisa mengerti jika emak tidak memiliki keberanian mengungkapkan semuanya. Emak sudah telanjur menyayangimu.”

“Maksud ibu?”

“Emak sudah cerita tentang perempuan yang membawa seorang bayi kan?”

Aku mengangguk.

“Perempuan itu, namanya Kemala. Dia adalah istri siri abah. Dia datang menyerahkan bayinya karena saat itu dia sendiri sedang berjuang melawan kanker yang dia derita. Dia meyakini kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Sebelum meninggal, dia ingin memastikan bahwa anaknya berada di tangan yang tepat, bapak kandungnya. Itulah kenapa dia nekad menemui abah. Awalnya emak menolak. Emak marah, itu hal yang wajar. Setiap istri pasti tidak akan bisa menerima perselingkuhan suaminya. Apalagi sampai memiliki anak. Tapi setelah melihat bayi itu, emak merasa kasihan. Dengan alasan kemanusiaan, emak mau merawat dan membesarkan bayi itu. Ratih, sebenarnya kamu bukan anak bapak dan ibu. Kamu adalah bayi yang dibawa istri siri abah hampir tiga puluh tahun lalu.”

“Bu...”

Lidahku mendadak kelu. Aku? Bukan anak bapak dan ibu?

“Iya. Kamu anak kandung abah. Ketika ibumu datang mengantarkanmu, emak tidak langsung memutuskan untuk merawat kamu. Emak sempat depresi. Kami anak-anaknya dipanggil semua. Kamu pasti bisa membayangkan suasana saat itu. Kami sebagai anak abah jelas tidak bisa menerima kehadiran adik yang tak pernah kami harapkan. Apalagi lahir dari hubungan gelap abah dengan perempuan lain.”

Aku masih diam. Semuanya terasa tak nyata. Bayangan abah hadir tanpa kupanggil. Puzzle yang selama ini bermain-main di benakku mulai bisa aku lihat bentuknya. Kedekatanku dengan abah, sifat dan karakterku yang mirip abah, bahkan perhatian abah kepadaku yang jelas berbeda dibandingkan perhatiannya kepada cucu lain. Siapa yang menduga kalau darah abah mengalir begitu kuat dalam tubuhku. Aku anak abah. Darah daging lelaki yang selama ini aku anggap sebagai kakekku.

“Beberapa bulan kemudian, beberapa hari habis Lebaran, ibumu datang lagi. Kebetulan kami sedang kumpul karena memang sengaja berlebaran di rumah abah. Emak yang mengajak ibumu bicara. Dari situ, emak dapat kabar kalau ibumu sedang berjuang untuk sembuh dari kanker. Dia enggak bisa kalau harus mengurus kamu. Emak akhirnya bersedia merawatmu karena tidak tega melihat kamu yang masih bayi dan tidak ada yang mengurus. Sampai hari ini, kami enggak pernah tahu ada di mana keluarga besar ibumu. Saat itu, ibu dan bapak sudah menikah hampir setahun. Kamu dimasukkan ke dalam kartu keluarga kami sehingga orang-orang tahunya kamu adalah anak bapak dan ibu...Tunggu sebentar.”

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!