Dibalik Secangkir Teh
Kembara Rasa
Aku percaya sepenuhnya kepada Dimas. Sayangnya, aku lupa dengan perasaan Yunita. Mungkin benar yang dikatakan Ajeng, “Bisa saja awalnya Dimas nggak punya perasaan ke cewek itu, tapi pas kamu enggak ada, mereka tiap hari bareng dan sekantor. Aku yakin banget kalau dari dulu Yunita udah suka sama Dimas. Tinggal nunggu waktu aja.”
Bayang-bayang Dimas sirna ketika aku merasakan ponselku bergetar. Aku mengambil ponsel di saku celana sambil melihat sekeliling, ternyata hotel yang aku tuju tinggal beberapa meter lagi.
‘Mau menikmati malam di Solo sama saya?’ pesan itu dari Mas Aji.
Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba saja hatiku berdebar hanya dengan membaca sebuah pesan?
‘Boleh. Tapi saya belum sampai hotel.’ Meski sempat bimbang, tidak urung aku mengiyakan ajakannya.
Di menit yang sama, balasan dari Mas Aji langsung aku terima, ‘Jam delapan saya jemput ya.’
***
Sesuai janjinya, jam delapan Mas Aji sudah di depan hotel untuk menjemputku. Dia melajukan motornya menuju keraton. Aku hanya diam saja karena aku sendiri tidak tahu destinasi wisata mana yang harus aku pilih. Mas Aji membelokkan motornya ke Keraton Kopi. Sebuah kafe yang aku lihat cukup ramai.
“Kita ngopi di sini enggak apa-apa kan, Mbak?” tanya Mas Aji.
“Iya enggak apa-apa, Mas.”
Aku sedikit berpikir, kalau aku menolak, memangnya kami akan pindah ke mana. Toh kami sudah di parkiran. Tinggal masuk saja.
Kami, tepatnya aku memilih tempat di salah satu sudut yang cukup sepi dan tersembunyi dari pengunjung lain. Rasanya tidak nyaman saja kalau harus duduk di tengah dan berbaur dengan keramaian pengunjung lain yang rata-rata anak muda.
Segelas latte dan seporsi kentang goreng menjadi pilihanku saat memesan menu. Sedangkan Mas Aji memilih kopi tubruk dan roti bakar.
“Mbak Ratih masih lama di Solo?”
“Saya belum tahu. Kenapa Mas? Mau ngusir saya ya?” candaku.
“Yo ndak lah, Mbak. Mana mungkin saya mengusir Mbak Ratih. Saya cuma heran, kok Mbak Ratih betah di sini. Apa nggak ada yang nyari atau nyuruh Mbak Ratih pulang?”
“Saya masih betah di sini.”
“Pacar Mbak Ratih nggak nyariin?”
“Saya enggak punya pacar, Mas.”
“Jangan bercanda toh, Mbak. Enggak mungkin perempuan secantik Mbak Ratih enggak punya pacar. Malah tadinya saya pikir Mbak Ratih sudah bersuami.”
“Iya, saya enggak punya pacar, Mas. Enggak ada yang mau sama saya kok.”
“Bukan enggak mau, mungkin Mbak Ratihnya yang menolak.”
Perbincangan kami terjeda saat pelayan datang membawakan pesanan kami. Aku meneguk latte yang kupesan dengan perlahan. Aku pencinta kopi. Tapi tiap kali datang ke Titilaras, lidahku malah ketagihan teh yang seakan sudah menjadi candu.
“Saya serius. Tiga tahun lalu, pacar saya yang meninggalkan saya karena harus menikahi sahabatnya. Setelah itu, saya males pacaran lagi. Saya memilih fokus mengurus toko kue milik nenek saya.”
“Jadi, ceritanya toko kue itu pelarian ya, Mbak?”
Aku diam. Benarkah Laras Rasa hanya pelarianku? Aku suka memasak dan membuat kue. Aku juga dapat dikatakan lebih dari bisa dalam urusan memasak dan membuat kue. Tapi, memang tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menekuni urusan kue dan katering. Aku lebih memilih karier yang pasti-pasti aja. Keputusan terjun di dapur Laras Rasa adalah karena aku yang saat itu sedang menganggur, belum punya pilihan pekerjaan lain, dan adanya paksaan dari emak yang jengah melihatku hanya bermalas-malasan.
Bahkan, ketika emak meninggal dan aku memegang kendali penuh atas Laras Rasa, aku masih belum berani mengatakan kalau Laras Rasa adalah akhir pencarian karierku. Aku malah berencana akan menyerahkan Laras Rasa ke saudaraku yang lain jika aku sudah diterima kerja sesuai keinginanku lagi.
“Mbak? Maaf ya Mbak kalau pertanyaan saya menyinggung Mbak Ratih.”
“Eh iya, enggak, Mas Aji nggak menyinggung saya kok. Saya hanya berpikir sepertinya ucapan Mas Aji benar. Toko kue itu hanya pelarian saya saja. Saya tidak sungguh-sungguh ada di dalamnya.”
“Memangnya Mbak Ratih enggak suka dengan toko kue itu?”
“Saya juga enggak tahu, Mas. Waktu mendengar Mas Aji cerita tentang Titilaras dan Pasar Gede, jujur saja saya merasa iri. Mas Aji bisa mengenal dengan sangat detail lalu menjelaskan kepada saya seolah-olah Titilaras dan Pasar Gede itu jiwa Mas Aji. Sedangkan saya? Kalau Mas Aji minta saya menceritakan tentang Laras Rasa, saya tidak bisa menjawabnya. Bagi saya, toko kue itu ya hanya sekadar tempat usaha dan mencari nafkah. Saya bahkan masih mencari dan membayangkan berkarier di kantoran seperti dulu.”
“Mbak, menurut saya, kalau kita berkarya atau mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, maka kita sendiri tidak akan menemukan kenyamanan. Hal ini akan berujung kepada karya yang kita hasilkan. Pasti tidak akan maksimal.”
“Sepakat. Yang saya rasakan seringkali hanya lelah. Saya juga jadi lebih sering marah-marah. Mendengar cerita-cerita Mas Aji, saya jadi lebih banyak merenung memikirkan hidup yang saya jalani. Tidak hanya di Laras Rasa, tetapi dalam dunia yang sebenarnya. Saya sadar, saya jarang sekali tersenyum. Semuanya dilakukan dengan terburu-buru karena mengejar target. Padahal, target itu ternyata keinginan saya semata. Tiga tahun fokus di Laras Rasa, saya malah lupa kapan terakhir kali saya liburan.”
“Saya bisa stres Mbak kalau seperti Mbak Ratih begitu. Walaupun tidak dijadikan rutinitas, liburan itu hal yang penting untuk saya. Kegiatan-kegiatan bersama para rencang nglaras pun sudah saya anggap liburan. Saya pernah mengadakan kegiatan yang diberi nama Kembara Rasa. Bagi saya, Kembara Rasa itu seperti cerita lama belum kelar yang seharusnya sudah saya ceritakan kepada rencang nglaras. Saya diminta Mbak Windy dari komunitas @patjarboekoe untuk mengantar mereka menelusuri dan mencari sesuatu yang jarang diketahui di Pasar Gede.
Tentu saja, saya senang bisa dipercaya untuk mengantarkan mereka menikmati beberapa kudapan khas di Pasar Gede. Awalnya acara Kembara Rasa hanya ada satu sesi, tetapi karena antusias para Patjarboekoe, akhirnya Kembara Rasa menjadi dua sesi di hari yang berbeda. Sering saya katakan, bagi saya sendiri, Pasar Gede bukan hanya sekedar tempat berdagang dan terjadinya transaksi jual beli. Banyak sekali interaksi dan cerita dari pedagang yang sudah lama bernaung serta mencari rezeki di Pasar Gede.
Di sini, seperti wadah yang menjadi tempat belajar bagaimana empati sosial antara pengunjung dengan pedagang. Seru dan menyenangkan saat menelusuri lorong-lorong pasar yang sangat jarang didatangi wisatawan dan kami mengenalkan mereka kepada beberapa pedagang yang menjajakan dagangan khas Pasar Gede. Saya bahagia sekali melihat teman-teman Patjarboekoe jajan serta nglarisi para pedagang pasar, bahkan mereka saling bertukar jajanan pasar satu dengan yang lainnya.
Di akhir acara, kami semua duduk untuk beristirahat di depan Jendela Titilaras sambil menikmati seduhan teh. Saya menyeduh Tea Blend Wajah Pasar Gede sebagai penutup acara Kembara Rasa. Sembari menyeruput teh, banyak sekali perasaan senang yang diungkapkan dari Patjarboekoe ketika menelusuri Pasar Gede. Saya berharap, semoga Pasar Gede dan Kota Solo selalu terkenang dan selalu menjadi tempat ternyaman untuk kembali walau hanya sekadar singgah.”
“Emak saya juga sering kumpul-kumpul dengan pera pelanggan yang akhirnya menjadi teman baik. Dulu, saya menilainya sebagai sesuatu yang nggak penting. Hanya buang-buang waktu. Ternyata nggak begitu. Berkumpul dan berbagi cerita membuat mereka saling bertukar energi positif.”
“Betul, Mbak. Apalagi kalau ada kisah di antara mereka.”
“Mas Aji percaya nggak dengan cinta pada pandangan pertama?” Aku memberanikan diri untuk membicarakan tentang perasaan.
“Percaya sekali, Mbak.”
“Pernah mengalaminya?”
“Pernah. Malah baru beberapa hari yang lalu. Tapi saya sadar, cinta saya itu tidak boleh berlanjut.”
“Memangnya kenapa, Mas?”
“Karena kami beda keyakinan. Saya tidak bisa memaksakan tentang keyakinan kepada siapa pun.”
“Oh, perempuan yang membuat Mas Aji jatuh cinta itu nonmuslim, ya?”
Ada setitik harapan dalam hatiku. Siapa tahu rasa yang aku miliki ke Mas Aji masih bisa tumbuh dengan subur.
“Bukan begitu, Mbak. Dia muslimah. Saya yang nonmuslim.”
“Dari mana Mas Aji tahu kalau dia muslimah?”
“Di pertemuan pertama, dia menanyakan letak musala.”
Dan, waktu seakan berhenti. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Mas Aji dan aku ternyata berbeda keyakinan? Apakah semesta sedang bercanda kepadaku? Haruskah aku membunuh tunas yang baru mulai tumbuh dan masih sangat rapuh ini? Mengapa jatuh cinta bisa serupa patah hati? Terasa begitu menyakitkan.
***